RSS

inkar sunnah

14 Okt

Oleh : Syamsuddin Ramadhan

Kehujjahan sunnah sebagai dalil syara’ telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qath’iy yang menuturkan tentang kenabian Mohammad saw.  Selain itu, keabsahan sunnah sebagai dalil juga ditunjukkan oleh nash-nash qath’iy yang menyatakan, bahwa beliau saw tidak menyampaikan sesuatu (dalam konteks syariat) kecuali berdasarkan wahyu yang telah diwahyukan.  Semua peringatan beliau saw adalah wahyu yang diwahyukan.   Oleh karena itu, sunnah adalah wahyu dari Allah swt, dari sisi maknanya saja, tidak lafadznya.   Sunnah adalah dalil syariat tak ubahnya dengan al-Quran.   Tidak ada perbedaan  antara al-Quran dan Sunnah dari sisi wajibnya seorang Muslim mengambilnya sebagai dalil syariat.   Ketentuan semacam ini didasarkan pada nash-nash berikut ini: وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ          “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”[al-Hasyr:7] مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا          “Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.[al-Nisaa': 80] فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ          “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [al-Nuur:63] وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا          “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.[al-Ahzab:36] فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا          “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.[al-Nisaa':65] قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ          “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[Ali Imron:31] فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا          “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.[al-Nisaa':59]          Ayat-ayat di atas tsubut dan dilalahnya qath’iy.   Dilalah ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, wajibnya kaum Muslim mengambil sunnah sebagai dalil syariat, tak ubahnya dengan al-Quran.  Siapa saja yang menolak menjadikan sunnah sebagai dalil syariat, alias ingkar sunnah, tidak diragukan lagi, ia telah terjatuh kepada kekafiran.[Taqiyyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah, juz 3, hal. 68]          Tidak boleh dinyatakan, bahwa kita hanya berpegang teguh kepada al-Quran saja, dan tidak perlu memakai sunnah lagi; dengan alasan al-Quran telah sempurna, jelas, dan menjelaskan segala sesuatu.  Sebab, kenyakinan semacam ini justru akan berakibat munculnya penolakan terhadap penjelasan-penjelasan Rasulullah saw terhadap al-Quran.   Dengan kata lain, akan muncul penafsiran-panafsiran pribadi yang bertentangan dengan penjelasan Rasulullah saw.   Atas dasar itu, menolak sunnah –baik yang menyeluruh maupun sebagian— sama artinya menolak al-Quran itu sendiri.   Argumentasi Para Penolak Sunnah (Ingkar Sunnah)          Pertama, mereka menyatakan, bahwa agama harus dibangun di atas dalil yang pasti (menyakinkan).  Apabila kita mengambil dan memakai sunnah, berarti, landasan agama Islam tidak lagi pasti.  Al-Quran yang dijadikan landasan agama bersifat pasti.   Allah swt berfirman: الم(1)ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ(2)          “Alif, Laam, Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”[al-Baqarah:1-2] وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ          “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”.[Fathiir:31]          Selanjutnya, mereka menyatakan, bahwa hadits itu terbagi menjadi dua, mutawatir dan ahad.  Hadits mutawatir jumlahnya sangat sedikit, dan selebihnya adalah hadits ahad.  Sedangkan hadits ahad hanya menghasilkan dzann (dugaan kuat) belaka, dan tidak menghasilkan keyakinan. Jika landasan agama berujud gabungan antara yang pasti (qath’iy) dan dugaan (dzanniy), hasilnya akan dzanniy juga.  Sebab, gabungan antara yang pasti dan tidak pasti adalah ketidakpastian juga.   Padahal al-Quran telah mencela orang-orang yang menggunakan dzan dan meninggalkan yang pasti. Allah swt berfirman: وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ        “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”[Yunus:36] وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا        “..Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa….”[al-Nisâ’:157] إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا        “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”[al-Nisâ’:116] كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ        “Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.”[Al-An’am:148]          Hadits itu bersifat dzanniy, sehingga tidak layak digunakan sebagai landasan agama.  Atas dasar itu, landasan agama hanyalah al-Quran semata.   Argumentasi ini sering diketengahkan oleh para pengingkar sunnah, baik tempo dahulu maupun sekarang (misalnya, Taufiq Sidqiy, dan kelompok Ahlul Quran). Koreksi Atas Argumentasi Pertama:          Benar, masalah ushuluddin, harus ditetapkan berdasarkan dalil yang qath’iy, baik tsubut maupun dilalah.  Artinya, sesuatu itu baru absah digunakan dalil jika ia ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang qath’iy, baik tsubut maupun dilalahnya.   Pada dasarnya, keabsahan sunnah sebagai dalil syariat (landasan agama) telah ditetapkan oleh nash-nash yang tsubut dan dilalahnya qath’iy. Dengan kata lain, kita tidak memakai dzann yang bertentangan dengan yang haq (al-Quran), akan tetapi memakai dzann yang diperintahkan oleh Allah swt sendiri; atau dzann yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qath’iy.           Pengingkar sunnah di jaman dahulu, pernah mengkritik Imam Syafi’iy dengan menyatakan, “Apakah ada dalil yang bersifat dzanniy yang dapat menghalalkan suatu masalah yang sudah diharamkan dengan dalil yang qath’iy? Imam Syafi’iy menjawab, “Ya, ada.”   Mereka bertanya, “Apa itu?”  Imam Syafi’iy menjawab dengan mengajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana pendapat anda terhadap orang membawa harta yang ada di sebelah saya ini, apakah orang itu haram dibunuh dan hartanya dirampas?  Mereka menjawab, “Yang demikian, ia haram dibunuh, dan hartanya dirampas”.  Imam Syafi’iy bertanya lagi, “Apabila ada dua orang saksi yang mengatakan, bahwa orang tersebut baru saja membunuh orang lain dan merampok hartanya, bagaimana pendapat anda?”  Mereka menjawab, “Ia mesti diqishash dan hartanya harus dikembalikan kepada ahli waris orang yang terbunuh tadi.” Imam Syafi’iy bertanya lagi,”Apakah tidak mungkin dua orang saksi tadi berbohong?”  Mereka menjawab,”Ya, mungkin”. Imam Syafi’iy berkata, “Kalau begitu, anda telah membolehkan membunuh (qishash) dan merampas harta dengan dalil dzanniy, padahal dua masalah itu sudah diharamkan berdasarkan dalil yang pasti.”  Mereka berkomentar, “Ya, karena kita diperintahkan untuk menerima kesaksian”.          Al-Quran sendiri, meskipun dari sisi tsubutnya pasti, namun tidak semua ayatnya menunjukkan pengertian (dilalah) yang pasti pula.  Banyak ayat yang dilalahnya dzanniy, dan tidak menunjukkan pada satu pengertian saja.   Oleh karena itu, tanpa disadari, para pengingkar sunnah, juga mengikuti sesuatu yang bersifat dzanniy, tak ubahnya dengan sunnah.  Lalu, mengapa mereka menolak sunnah, dan hanya berpegang kepada al-Quran saja, padahal, sebagian ayat al-Quran juga tidak pasti menunjukkan kepada satu pengertian saja, alias dzanniy dilalah?          Adapun ayat-ayat yang mencela penggunaan dzann, sesungguhnya ayat ini, berbicara pada konteks sesuatu yang sudah jelas-jelas pasti kebenarannya (masalah ‘aqidah).  Masalah ini tentu saja berbeda dengan masalah mengambil hadits (sunnah) sebagai dalil syariat.  Sebab, kewajiban mengambil hadits atau sunnah sebagai dalil telah ditetapkan berdasarkan nash-nash al-Quran yang dilalahnya qath’iy.             Kedua, para pengingkar sunnah menyatakan, bahwa dalil syariat hanyalah satu, yakni al-Quran.   Allah swt berfirman: مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ          Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. [al-An'aam:38]          Para pengingkar sunnah menyatakan, bahwa menyakini al-Quran masih memerlukan penjelasan sama artinya mendustakan al-Quran; sekaligus mengingkari kedudukan al-Quran yang membahas segala sesuatu secara tuntas.  Ayat di atas, jelas-jelas membantah bahwa al-Quran masih mengandung kekurangan.  Sebab, keyakinan semacam ini, menurut mereka, sama artinya menuduh bahwa al-Quran telah melupakan sesuatu, dan tentu saja, bertentangan dengan kandungan surat al-An’am ayat 38.  Argumentasi ini diajukan oleh Abu Rayyah dan Dr. Taufiq Shidqiy.          Koreksi Atas Argumentasi Kedua:           Sesungguhnya, argumentasi di atas sama sekali prematur dan tidak pada tempatnya. Sebab, Allah swt juga memerintahkan kepada kita untuk mengambil dan memakai apa yang disampaikan oleh Nabi saw kepada kita semua; seperti dalam firmanNya: وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ          “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”[al-Hasyr:7] وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا          “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.[al-Ahzab:36]          Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Rasulullah saw sajalah yang diberi tugas untuk menjelaskan kandungan al-Quran; sedangkan kita diwajibkan untuk menerima dan mematuhi penjelasan-penjelasan beliau, baik yang berupa perintah maupun larangan.  Sebab, semua ini pada dasarnya bersumber dari al-Quran.  Sesungguhnya, ketika kita mengambil sunnah, kita tidak memasukkan unsur lain ke dalam al-Quran, sehingga al-Quran masih dianggap memiliki kekurangan.  Ketiga, mereka juga berargumentasi, bahwa al-Quran tidak perlu penjelasan, justru ia menjelaskan segala sesuatu.  Allah swt berfirman:  وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ           “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.[al-Nahl:89]          Berdasarkan ayat ini, para pengingkar sunnah berpendapat, bahwa al-Quran tidak lagi memerlukan penjelasan dari Sunnah; sebaliknya ayat ini justru menyatakan, bahwa al-Quran telah menjelaskan segala sesuatu.   Para pengingkar sunnah juga membangun argumentasi mereka berdasarkan ayat berikut ini:  مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ          Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. [al-An'aam:38]          Mereka menyatakan, bahwa menyakini al-Quran masih memerlukan penjelasan sama artinya mendustakan al-Quran.  Sebab, keyakinan semacam ini, menurut mereka, sama artinya menuduh bahwa al-Quran telah melupakan sesuatu, dan tentu saja, bertentangan dengan kandungan isi dari surat al-An’am ayat 38. Koreksi Atas Argumentasi Ketiga          Alasan-alasan semacam ini jelas-jelas alasan yang salah, sesat dan menyesatkan.   Adapun kesalahan argumentasi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.          Sesungguhnya, kita tidak boleh mencukupkan diri hanya berpegang kepada surat al-Nahl ayat 89, untuk menolak sunnah.  Sebab, al-Quran telah menyatakan dengan sangat jelas pula, bahwa Nabi Mohammad saw telah diberi tugas untuk menjelaskan kandungan isi al-Quran; dan kita wajib mengikuti dan melaksanakan penjelasan beliau saw.    Allah swt berfirman:“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”[al-Nahl:44]Ayat ini dengan sharih menyatakan, bahwa Allah swt telah menurunkan al-Quran kepada Nabi Mohammad saw, sekaligus membebani NabiNya untuk menjelaskan kandungan isi al-Quran.   Jika Allah swt telah menurunkan al-Quran kepada Nabi Mohammad saw, sekaligus menugaskan kepada beliau untuk menjelaskan al-Quran kepada umat manusia, lantas, pantaskah seorang Mukmin menolak penjelasan dan keterangan dari Rasulullah saw, dan memakai penafsiran dan penakwilannya sendiri?   Sesungguhnya, penolakan terhadap penjelasan Rasulullah saw terhadap ayat-ayat al-Quran, sama artinya dengan menyakini sebagian ayat dan ingkar terhadap ayat yang lain.  Sunnah (Hadits) Bukan Wahyu?          Para pengingkar sunnah  –kelompok Ahlu Quran— menyatakan, bahwa pembagian wahyu menjadi dua bagian; wahyu terbaca (al-Quran) dan tak terbaca (sunnah) adalah pemikiran Yahudi yang menyusup ke dalam Islam.  Lantas, benarkah wahyu yang disampaikan Allah swt kepada Nabi Mohammad saw hanyalah wahyu terbaca saja (al-Quran); ataukah ada wahyu lain yang tak terbaca?              Pendapat yang benar adalah, Allah swt telah menurunkan wahyu terbaca dan tak terbaca.  Sedangkan tuduhan pengingkar sunnah yang menyatakan, bahwa pembagian wahyu semacam ini merupakan infiltrasi pemikiran Yahudi ke dalam Islam, jelas-jelas salahnya, sekaligus menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadap maksud yang terkandung di dalam ayat-ayat al-Quran.    Berikut ini akan dipaparkan bukti-bukti adanya wahyu yang tidak terbaca (wahyu selain al-Quran).   Allah swt berfirman:1.                 Surat al-Tahrim ayat 3.  Allah swt berfirman:“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.[al-Tahrim:3]Ayat ini menunjukkan, bahwa Rasulullah saw telah berbicara hal-hal rahasia kepada sejumlah isterinya.  Akan tetapi, isteri yang diajak bicara itu tidak menganggapnya sebagai sebuah rahasia, sehingga tidak ada salahnya menceritakannya kepada orang lain.   Lalu, Allah swt memberitahukan masalah itu kepada beliau saw.   Nabi saw juga diberi tahu kalimat-kalimat yang dibocorkan.  Ketika isteri tadi ditegur oleh Nabi saw, ia bertanya,”Siapakah yang memberitahukan hal itu kepadamu?”  Nabi menjawab, “Allahlah yang telah memberitahukan hal itu kepadaku.”Semua ini menunjukkan, bahwa Allah memberitahu Nabi saw tentang pembicaraan yang dibocorkan oleh isteri beliau.   Namun, al-Quran tidak menyebutkan apa yang diceritakan Nabi saw kepada isterinya, sebagaimana juga tidak menjelaskan apa yang dibocorkan oleh isterinya itu.   Pertanyaan selanjutnya adalah, mungkinkah ada ayat yang tertinggal, sehingga tidak tertulis di dalam al-Quran, ataukah Nabi saw diberi wahyu namun tidak tertulis?  Jika kita menyatakan ada ayat yang tertinggal, berarti al-Quran tidaklah terjaga.  Padahal Allah swt telah berfirman;“Sesungguhnya, Kami telah menurunkan al-Quran dan Kami jualah yang memeliharanya.”[al-Hijr:9]Berarti tinggal satu kemungkinan lagi, yakni adanya wahyu tak tertulis, alias ada wahyu selain al-Quran.     2.                 Surat al-Hasyr ayat 5.  Allah swt berfirman:“Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka semua itu adalah dengan ijin Allah swt.”[al-Hasyr:5]Ayat ini dengan jelas diturunkan sesudah penebangan pohon kurma.  Dan dari al-Quran pula kita memahami bahwa ijin penebangan itu berasal dari Allah swt.   Akan tetapi, kita tidak menemukan ayat yang menerangkan penebangan itu.  3.                 Surat al-Qiyamah ayat 17”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkan al-Quran itu, dan membuatmu pandai membacanya.”[al-Qiyamah:17]          Pada dasarnya, al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur, tidak dengan seketika.  Sejarah turunnya al-Quran juga tidak berpengaruh terhadap urut-urutan ayatnya.   Para shahabat membaca al-Quran dengan urut-urutan yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.   Akan tetapi, kita tidak pernah mendapati hal ini tertulis di dalam al-Quran.   Ini menunjukkan, bahwa urut-urutan yang telah diajarkan Rasulullah saw kepada kita adalah diwahyukan, namun tidak tertulis di dalam al-Quran.
Kesimpulan          Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa argumentasi yang diketengahkan para pengingkar sunnah jelas-jelas bathil, dan sesat.   Sebab, kewajiban mengambil sunnah dan hadits Nabi jelas-jelas telah ditetapkan oleh dalil-dalil qath’iy (al-Quran).  Mengingkari sunnah, tak ubahnya dengan mengingkari al-Quran.   Adapun hukum bagi orang yang mengingkari sunnah adalah murtad.

http://nahdhah.wordpress.com/2007/09/27/ingkar-sunnah/

 

INGKAR SUNNAH

BAB I
PENDAHULUAN

Secara paradigma pemikiran dan pemahaman, sejarah inkar Sunnah memang sangat erat dengan golongan Khawarij, Muktazilah, dan Syiah . Dan dari segi benih kemunculan, mereka sudah tampak sejak masa sahabat. Bahkan, kabar tentang akan adanya orang yang mengingkari Sunnah sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tetapi, dari segi golongan atau kelompok yang terpisah dan berdiri sendiri, inkar Sunnah ini sesungguhnya tidak pernah eksis kecuali pada masa penjajahan kolonial Inggris di India sekitar abad delapan belas.
Barangkali, satu-satunya kitab terdahulu yang di dalamnya ada pembahasan khusus yang membantah pemahaman orang-orang inkar Sunnah yang menunjukkan keberadaannya adalah kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’i, yang memang waktu itu sempat berhadapan dengan mereka. Adapun kitab-kitab terdahulu lain, biasanya hanya membahas masalah kedudukan Sunnah dalam syariat Islam serta hukum orang yang mengingkarinya. Misalnya, Al-Kifayah fi ‘Ilm Ar-Riwayah (Imam Al-Khathib Al-Baghdadi), Syarh As-Sunnah An-Nabawiyyah (Imam Abu Muhammad Al-Baghawi), dan Miftah Al-Jannah fi Al-Ihtijaj bi As-Sunnah (Imam Jalaluddin As-Suyuthi).
Semestinya, apabila kelompok inkar Sunnah benar-benar pernah ada wujudnya dalam perjalanan sejarah Islam, tentu akan mudah ditemui kisahnya dalam kitab-kitab tarikh yang besar semacam; Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk (Ibnu Jarir Ath-Thabari), Tarikh Al-Islam (Imam Adz-Dzahabi), Al-Bidayah wa An-Nihayah (Ibnu Katsir), Tarikh Dimasyq (Ibnu Asakir), Al-Kamil fi At-Tarikh (Ibnul Atsir), dan Tarikh Baghdad (Al-Khathib Al-Baghdadi).
BAB II
INGKAR SUNNAH

A. Pengertian Ingkar Sunnah
Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah. Ada tiga jenis kelompok Inkar Sunnah. Pertama kelompok yang menolak hadits-hadits Rasulullah saw secara keseluruhan. Kedua, kelompok yang menolak hadits-hadits yang tak disebutkan dalam al-Qur’an secara tersurat ataupun tersirat. Ketiga, kelompok yang hanya menerima hadits-hadits mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang setiap jenjang atau periodenya, tak mungkin mereka berdusta) dan menolak hadits-hadits ahad (tidak mencapai derajat mutawatir) walaupun shahih. Mereka beralasan dengan ayat, “.sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun terhadap kebenaran” . Mereka berhujjah dengan ayat itu, tentu saja menurut penafsiran model mereka sendiri.
B. Pendiri Ingkar Sunnah
Pemahaman anti-Hadis atau Ingkarul Sunnah di dirikan oleh Profesor Dr Goldziher, kelahiran Yahudi Hungary pada tahun 1870 dan meninggal pada tahun 1921. Goldziher mendapat beasiswa Zionis International Jerman untuk melanjutkan pelajaran di al Universiti Azhar pada tahun 1873. Dia diutus khas mendalami bidang Sunnah dan akhirnya dia mencetuskan ajaran mengingkari Sunnah dengan slogan “Pembaharuan Islam.”
Pada tahun 1876 sekembali dari Mesir, beliau memegang jawatan Setiausaha Zionis Antarabangsa cawangan Budapest. Kemudian selama 15 tahun dia mengajar di maktab Zionis Budapest untuk melahirkan graduan-graduan Zionis yang akan bertebaran di seluruh dunia mengembangkan ajaran mengingkari sunnah ini bertujuan melemahkan ajaran ! Islam dari dalam. Pengasas ajaran Ingkarus Sunnah ini meninggalkan hampir 200 judul karya khas dalam jurusan Mengingkari Sunnah dan melahirkan beratus ribuan graduan yang telah dirosakkan kefahaman mereka tentang Sunnah. Profesor Goldziher adalah salah satu agenda Zionis Antarabangsa.
Kebanyakan cendikiawan islam yang menuntut di Eropah telah terpengaruh dengan ajaran Goldziher ini. Di antara murid-murid Goldziher termashyur dari Mesir ialah Dr Ali Hasan Abdul Kadir, Toha Hussin, Dr Ahmad Amin, Rasyad Khalifa, dan Dr Abu Rayyah.
C. Ingkar Sunnah di Indonesia
Inkar Sunnah di Indonesia muncul tahun 1980-an ditokohi Irham Sutarto. Kelompok Inkar Sunnah di Indonesia ini difatwakan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai aliran yang sesat lagi menyesatkan, kemudian dilarang secara resmi dengan Surat Keputusan Jaksa Agung No. Kep-169/ J.A./ 1983 tertanggal 30 September 1983 yang berisi larangan terhadap aliran inkarsunnah di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Berikut kutipan asli dari Fatwa MUI tersebut :
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya di Jakarta pada Tanggal 16 Ramadhan 1403 H. bertepatan dengan tanggal 27 Juni 1983 M., setelah :
Memperhatikan :
Di sementara daerah Indonesia dewasa ini diketahui adanya aliran yang tidak mengakui hadits Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum Syariat Islam seperti yang ditulis antara lain oleh saudara Irham Sutarto (Karyawan PT Unilever Indonesia di Jakarta).
Menimbang :
1. Bahwa Hadis Nabi Muhammad SAW adalah salah satu sumber Syari’at Islam yang wajib dipegang oleh Umat Islam, berdasarkan :
a. Ayat-ayat al-Qur-’ an antara lain :

1. Surat al-Hasyr : 7
“apa yang diberikan Rasul kepadarnu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maku tinggalkanlah, dan bertaqwalah kepada Allah Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya “.
2. Surat an-Nisa: 80
“Barang siapa yarg mentaati Rasul itu, sesungguhnva ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari mentaati itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka “.
3. SuratAl-Imran, ayat: 31-32
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah : Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir. “
4. Surat An Nisa , ayat : 59
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi), dan Ulul amri diantara kami. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah (AIQur’an dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baikakibatnya. “
5. Surat An Nisa, ayat : 65
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak berimcm hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa diri mereL tidak keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereti, menerima dengan sepenuhnya. “
6. Surat An Nisa’, ayat : 105
“Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengumembawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusi., dengan apa yang Allah Wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orangyang Khianat. “
7. Surat An Nisa’, ayat : 150-151
“Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan Rasulnya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan Rasul-rasulnya, dengan mengatakan “Kami beriman kepada sebagian dari (Rasulrasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain) serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) diantara yang demikian (iman dan kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yangmenghinakan.
8. Surat An Nahi : 44
“Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. “
b. Hadits Rasul SAW Antara lain:
“Dikhawatirkan seseorang yang duduk menyampaikan satu hadits dariku lalu ia berkata antara kami dan antara kamu kitab Allah, maka tidaklah kami perdapat padanya dari batang halal yang kami halalkan dan tidak kami dapati padanya barang haram yang kami haramkan kecuali sesungguhnya apa yang diharamkan Rasulullah SAW seperti yang diharamkan Allah. “(RiwayatAlHakim). “Ikutilah Sunatku dan sunat Khulaf’aur Rasyidin vang diberi petunjuk sesudahku dan pegang teguhlah padanya. “(RiwaYat A1-Hakim dalami Mustadrak). “Aku telah meninggalkan pada kamu dua hal. Kitab Allah dan sunnatku, tidak kamu sesat selama berpegang padanya. (Riwayat Tirmidzi) “Hendaklah menyampaikan yang menyaksikan dari kamu kepada yarrg tak hadir. Ada kalanva orang yang tablighi lebih kuat rnemelihara (menghafal) dari pada yang mendengar: “(Riwayat Bukhari). c. Ijma’ para sahabat Rasulullah baik selama hayatnya maupun setelah wafatnya.
2. Adanya aliran tersebut ditengah-tengah masyarakat akan menodai murninya agama Islam dan menimbulkan keresahan dikalangan Ummat Islam, yang pada gilirannya akan mengganggu stabilitas/ketahanan nasional.
Mengingat :
Pendapat-pendapat para anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.
MEMUTUSKAN
1. Aliran yang tidak mempercayai hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum syari’at Islam, adalah sesat menyesatkan clan berada di luar agama Islam.
2. Kepada rnereka yang secara sadar atau tidak, telah mengikuti aliran tersebut. agar segera bertaubat.
3. Menyerukan kepada ummat Islam untuk tidak terpengaruh dengan aliran yang sesat itu.
4. Mengharapkan kepada para Ulama untuk memberikan bimbingan dan petunjuk bagi mereka yang ingin bertaubat.
5. Meminta dengan sangat kepada pemerintah agar mengambil tindakan tegas berupa larangan terhadap aliran yang tidak mempercayai Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai sumber Syari’at Islam
Ditetapkan :
Jakarta, 16 Ramadhan 1403 H.
27 Juni 1994
DEWAN PIMPINAN MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua Sekretaris
Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML H. Musytari Yusuf, LA

D. Alqur’an Suci dan Ingkar Sunnah
Sekilas pernah mendengar berita atas kehilangan dua orang mahasiswi Bandung yang pergi entah berantah. Dari sumber-sumber ada mengatakan bahwa si mahasiswi tersebut ikut pengajian Al Quran, namun apa yang terjadi adalah sebuah kemalangan bagi keluarganya. Karena sampai berapa hari si mahasiswi tersebut tidak kungjung pulang ke rumahnya.
Hingga sekarang kasus kehilangan ini, telah dilaporkan kepada pihak berwajib terkait dengan hilangnya dua orang mahasiswi yang ikut pengajian Al Quran Suci. Dari sebuah sumber ternyata aliran AS ini berhubungan khusus dengan aliran Ingkar Sunnah (anti hadist) dari penyataan tersebut sangat jelas aliran AS merupakan aliran yang sesat dari Al Quran bahkan Hadist. Ada keganjilan dalam kelompok pengajian Alquran Suci itu, di antaranya tidak percaya hadis Nabi dan membaca Alquran tidak boleh dilagukan (qiroah). Selain itu, wanita haid boleh pegang Alquran dan memperbolehkan salat tanpa wudu. Ajaran itu juga menekankan bahwa harta dan raga harus dikorbankan untuk ajarannya tersebut. Namun, sangat disayangkan pihak MUI Jabar belum bisa mengklarifikasi bahwa aliran AS adalah sesat. Sampai detik ini, belum ada pihak yang berhasil mengidentifikasi masalah tersebut, sehingga dari kepolisian dan MUI juga sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut.
E. Pokok-Pokok Ajarannya
1. Dasar hukum mereka hanya Al-Quran, Tidak percaya kepada hadits Rosulullah,
2. Syahadat mereka Âsyhadu biannana muslimin,
3. Shalat mereka bermacam2, ada yang shalatnya dua rakaat dua rakaat ada juga yang bila ingat saja,
4. puasa wajib bagi orang yg melihat bulan saja, haji boleh dilakukan selama bulan muharam, rajab, julqaidah dan julhijjah.
5. Pakaian Ihrom adalah pakaian orang arab yg bikin repot, oleh sebab itu boleh memakai celana panjang dan baju biasa serta memakai jas/dasi;
Nabi Muhammad tidak berhak untuk menjelaskan isi kandungan al quran, dan rosul diutus sampai hari kiamat.
6. Dan lain-lain yang aneh-aneh.

BAB III
KESIMPULAN

Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah. Ada tiga jenis kelompok Inkar Sunnah. Pertama kelompok yang menolak hadits-hadits Rasulullah saw secara keseluruhan. Kedua, kelompok yang menolak hadits-hadits yang tak disebutkan dalam al-Qur’an secara tersurat ataupun tersirat. Ketiga, kelompok yang hanya menerima hadits-hadits mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang setiap jenjang atau periodenya, tak mungkin mereka berdusta) dan menolak hadits-hadits ahad (tidak mencapai derajat mutawatir) walaupun shahih.
Aliran/faham sesat ini muncul di Indonesia sekitar tahun 1980-an yang lalu dengan menamakan pengajian yang mereka adakan tersebut adalah kelopok Qur´ani.
Beberapa masjid di jakarta dikuasai oleh mereka, seperti mesjid As Syifa RSCM (rumah sakit terbesar dan rumah sakit pusat di Indonesia). Rumah sakit tsb bersatu dengan Universitas Indonesia. Pengajian tersebut dipimpin oleh Haji Abdurrahman. Pengajian dimulai ba”da maghrib serta pengikutnya banyak. Lama kelamaan pengajian tersebut tidak mau memakai adzan dan qomat karena tidak ada dalam qur’an, serta seluruh sholat menjadi dua raka´at. Diproyek pasar rumput yaitu dimesjid Al Burhan muncul pula pengajian yg dipimpin oleh Ust. H.Sanwani guru masyarakat di sekitarnya.
Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa pengajian tersebut muncul dimana-mana. Mereka juga mencetak buku-buku yang banyak untuk menyebarkan faham mereka di masyarakat. Setelah dilacak tokoh nya adalah orang Indonesia yang mengeluarkan biaya cukup besar untuk pengajian tersebut, yaitu Lukman Saad. Dia berasal dari Pajang Panjang Sumatra Barat dan lulusan IAIN Yogyakarta sampai sarjana muda/BA serta sebagai direktur sebuah percetakan dan penerbitan. Penelitian terus dilakukan dan ternyata Lukman Saad ini berhubungan dengan Ir. Irham Sutarto ketua Serikat Buruh PT Unilever Imdonesia. Ir. Irham adalah tokoh ingkar sunnah yg juga pertama menulis buku ajaran ingkar sunah dengan tulisan tangan.
Peran Ir. Irham ini sangat besar, sedang pemilik PT. Unilever ini adalah orang Belanda dan Lukman saad Direktur PT. Ghalia Indonesia mendapat mesin percetakan modern dari Belanda. Tidak kah dibalik permainan ini ada tangan orang yahudi yang coba menghancurkan Islam di Indoneria. Akhirnya penelitian menemukan bahwa kegiatan kelompok imgkar sunnah ini adalah MARIMUS TAKA keturunan indo jerman yang tinggal di Depok Jawa Barat. Marimus mengaku dirinya bisa membaca Al quran tanpa belajar terlebih dahulu. Dia mengajarkan ajaran sesat ini dimana-mana di Jakarta. Akhirnya pada hari jum´at tanggal 4 juni 1983 Marimus Taka ditangkap ramai-ramai ketika sedang mengadakan pengajian di jln Bakti Tanjung Priok. Ketika diperiksa di Kodim Dia menangis-nangis dan terbongkarlah kegitan yang dilakukan nya tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran Al-kariim
http://media-islam.or.id/2007/09/26/fatwa-mui-ingkar-sunnah-sesaat/
http://peperonity.com/go/sites/mview/ingkarsunnah
http://antibidah.org/
http://aulia87.wordpress.com/2007/10/08/al-quran-suci-cs-ingkar-sunnah/

http://www.e-bacaan.com/artikel_antihadis.htm

Diposkan oleh ibnu akhir

 

http://khairuddinhsb.blogspot.com/2009/04/ingkar-sunnah.html

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hadis Nabi saw telah disepakati oleh mayoritas ulama dan umat Islam sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah kitab suci al-Qur’an. Berbeda dengan al-Qur’an yang semua ayat-ayatnya disampaikan oleh Nabi saw secara mutawatir dan telah ditulis serta dikumpulkan sejak zaman Nabi saw masih hidup, serta dibukukan secara resmi sejak zaman khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, sebagian besar hadis Nabi saw tidaklah diriwayatkan secara mutawatir dan pengkodifikasiannya pun baru dilakukan pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis, salah seorang khalifah Bani Umayyah. Hal yang disebutkan terakhir, didukung oleh beberapa faktor lainnya, oleh sekelompok kecil (minoritas) umat Islam dijadikan sebagai alasan untuk menolak otoritas hadis-hadis Nabi saw sebagai hujjah atau sumber ajaran Islam yang wajib ditaati dan diamalkan. Dalam wacana ilmu hadis, dikenal dangan kelompok inkar al-sunnah.

Secara paradigma pemikiran dan pemahaman, sejarah inkar Sunnah memang sangat erat dengan golongan Khawarij, Muktazilah, dan Syiah . Dan dari segi benih kemunculan, mereka sudah tampak sejak masa sahabat. Bahkan, kabar tentang akan adanya orang yang mengingkari Sunnah sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah yang dimaksud dengan Inkarussunnah?
  2. Bagaimana sejarah Inkarussunnah?
  3. Apa argumentasi dan bantahan para ulama mengenai Inkarussunnah?
  4. Bagaimana Inkarussunnah di Indonesia?

C. Tujuan Masalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah semata untuk menambah khazanah keilmuan kita sebagai umat manusia yang beragama untuk mengetahui tentang apa yang dulu pernah dilakukan tentang perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi yang bisa disebut dengan hadis.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Inkarussunnah

Kata “Inkar Sunnah” terdiri dari dua kata yaitu “Ingkar” dan “Sunnah”. Kata “Ingkar” mempunyai beberapa arti di antaranya: “Tidak mengakui dan tidak meneri,a baik di lisan dan di hati, bodoh atau tidak mengetahui sesuatu (antonim kata al-irfan, dan menolak apa yang tidak tergambarkan dalam hati).[1]

Menurut istilah ada beberapa definisi Ingkar Sunnah yang sifatnya masih sangat sederhana pembatasannya di antaranya sebagai berikut:

  1. Paham yang timbul dalam masyarakat Islam yang menolak hadis atau sunnah sebagai sumber ajaran agama Islam kedua setelah Alqura.
  2. Suatau paham yang timbul pada sebagian minoritas umat Islam yang menolak dasar hukum Islam dari sunnah shahih baik sunnah praktis atau secara formal d kodifikasikan para ulama, baik secara totalitas muttawatir maupun ahad atau sebagian saja, tanpa ada alasaan yang dapat diterima.[2]

Paham Ingkar Sunnah bisa jadi menolak keseluruhan sunnah baik sunnah muttawatir dan ahad atau menolak yang ahad saja dan atau sebagian saja. Demikian juga penolakan sunnah tidak ddasari alasan yang kuat, jika dengan alasan yang dapat diterima oleh akal yang sehat, seperti seorang muktahid yang menemukan dalil yang lebih kuat dar pada hadis yang ia dapatkan, atau hadis itu tidak sampaikepadanya, atau karena kedhaifannya, atau karena ada tujuan syar’i yang lain, maka tidak digolongkan Ingkar Sunnah.

Ingkar as-sunnah adalah sebuah sikap penolakan terhadap sunnah Rasul, baik sebagian maupun keseluruhannya. Mereka membuat metodologi tertentu dalam menyikapi sunnah. Hal ini mengakibatkan tertolaknya sunnah, baik sebagian maupun keseluruhannya.

Penyebutan Ingkar as-sunnah tidak semata-mata berarti penolakan total terhadap sunnah. Penolakan terhadap sebagian sunnah pun termasuk dalam kategori ingkar as-sunnah, termasuk di dalamnya penolakan yang berawal dari sebuah konsep berpikir yang janggal atau metodologi khusus yang diciptakan sendiri oleh segolongan orang baik masa lalu maupun sekarang sedangkan konsep tersebut tidak dikenal dan diakui oleh ulama hadis dan fiqh.[3]

B. Sejarah Ingkar Sunnah

Sejarah perkembangan Ingkar Sunnah hanya terjadi dua masa, yaitu masa klasik dan masa modern, diantaranya sebagai berikut:

  1. Ingkar Sunnah Klasik

Ingkar Sunnah klasik terjadi pada masa Imam Asy-Syafi’i (wafat 204 H) yang menolak kehujjahan sunnah dan menolak sunnah sebagai sumber hukkum Islam baik muttawatir atau ahad. Imam Asy-Syafi’i yang dikenal sebagai Nashir As-Sunnah (pembela Sunah) pernah didatangi oleh seseorang yang disebut sebagai ahli tentang mazhab teman-temannya yang menolak seluruh sunnah, baik muttawatir maupun ahad. Ia datang untuk berdiskusi dan berdebat dengan Asy-Syafi’i secara panjang lebar dengan berbagai argumentasi yang ia ajukan. Namun, semua argumentasi yang dikemukakan orang tersebut dapat ditangkis oleh Asy-Syafi’i dengan jawaban yang argumentatif, ilmiah, dan rasional sehingga akhirnya ia mengakui dan menerima sunnah Nabi.[4]

Secara garis besar, Muhammad Abu Zahrah berkesimpulan bahwa ada tiga kelompok pengingkar sunah yang berhadapan denga Asy-Syafi’i, yaitu sebagai berikut:

  1. Menolak sunnah secara keseluruhan, golongan ini hanya mengakui Alquran saja yang dapat dijadikan hujjah.
  2. Tidak menerima sunnah kecuali yang semakna dengan Alquran.
  3. Hanya menerima sunnah muttawatir seja dan menolak selain muttawatir yakni sunnah ahad.[5]

Kesimpulannya, ingkar sunnah klasik diawali akibat konflik internal umat Islam yang dikobarkan oleh sebagian kaum Zindik yang berkedok pada sekte-sekte dalam Islam, kemudian diikuti oleh para pendukungnya, dengan cara saling mencari para sahabat dan melemparkan hadis palsu. Penolakan sunnah secara keseluruhan bukan karakteristik umat Islam. Semua umat Islam menerima kehujjahan sunnah. Namun, mereka berbeda dalam memberikan kriteria peresyaratan kualitas sunnah. Ingkar sunnah klasik hanya terdapat di Bahrah Irak karena ketidaktahuannya tentang kedudukan sunnah dalam syari’ah Islam, tetapi setelah diberikan penjelasan akhirnya menerima kehujahannya.[6]

  1. Ingkar Sunnah Modern

Sebagaimana pembahasan di atas, bahwa Ingkar Sunnah Klasik lahir di Irak (kurang lebih abad 2 H/7 M), kemudian menetas kembali pada abad modern di India (kurang lebih abad 19 M/ 13 H), setelah hilang dari peredarannya kurang lebih 11 abad. Baru muncul ingkar sunnah di Mesir (pada abad 20 M).

Sebab utama pada awal timbulnya Ingkar Sunnah modern ini ialah akibat pengaruh kolonialisme yang semakin dahsyat sejak awal abad 19 M di dunia Islam, terutama di India setelah terjadinya pemberontakan melawan kolonial Inggris 1857 M. Berbagai usaha-usaha yang dilakukan kolonial untuk perdangkalan ilmu agama dan umum, penyimpangan aqidah melalui pimpinan-pimpinan umat Islam dan tergiurnya mereka terhadap teori-teori Barat untuk memberikan interpretasi hakekat Islam. Seperti yang dilakukan oleh Ciragih Ali, Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadliyani dan tokoh-tokoh lain yang menghindari hadis-hadis jihad dengan pedang, dengan cara mencela-cela hadis tersebut. Di samping ada usaha dari pihak umat Islam menyatukan berbagai Mazhab hukum Islam, Syafi’i, Hanbali, Hanafi, dan Maliki ke dalam satu bendera yaitu Islam, akan tetapi pengetahuan keislaman mereka kurang mendalam.

  1. Pokok-Pokok Ajaran Ingkar Sunnah

Di antara ajaran-ajaran pokoknya adalah sebagai berikut:

  • Tidak percaya kepada semua hadis Rasulullah. Menurut mereka hadis itu karangan Yahudi untuk menghancurkan Islam dari dalam.
  • Dasar hukum Islam hanya Alquran saja.
  • Syahadat mereka; Isyhadu bi anna muslimin.
  • Shalat mereka bermacam-macam, ada yang shalatnya dua rakaat – dua rakaat dan ada hanya elling saja (ingat).
  • Puasa wajib hanya bagi orang yang melihat bulan saja, kalu seorang saja yang melihat bulan, maka dialah yang wajib berpuasa.
  • Haji boleh dilakukan selama 4 bulan haram yaitu Muharram Rajab, Zulqai’dah, dan Zulhijjah.
  • Pakaian ihram adalah pakaian Arab dan membuat repot. Oleh karena itu, waktu mengerjakan haji boleh memakai celana panjang dan baju biasa serta memakai jas/dasi.
  • Rasul tetap diutus sampai hari kiamat.
  • Nabi Muhammad tidal berhak menjelaskan tentang ajaran Alquran (kandungan isi Alquran).
  • Orang yang meninggal dunia tidak dishalati karena tidak ada perintah Alquran.

Demikian di antara ajaran pokok ingkar sunnah yang intinya menolak ajaran sunnah yang dibawa Rasulullah dan hanya menerima Alquran saja secara terpotong-potong.[7]

C. Argumentasi dan Bantahan Para Ulama Terhadap Ingkarussunnah

  1. 1. Argumentasi Ingkarussunnah

a)      Agama Bersifat Konkret dan Pasti

Mereka berpendapat bahwa agama harus dilandaskan pada suatu hal yang pasti. Apabila kita mengambil dan memakai Sunnah, berarti landasan agama itu tidak pasti. Sementara apabila agama Islam itu bersumber dari hadis –khususnya hadis Ahad- bersifat dhanni (dugaan yang kuat), dan tidak sampai pada peringkat pasti. Karena itu, apabila agama Islam berlandaskan hadis di samping Al-Quran Islam akan bersifat ketidakpastian.[8]

b)      Al-Quran Sudah Lengkap

Dalam syari’at Islam, tidak ada dallil lain, kecuali Al-Quran. Jika kita berpendapat Al-Quran masih memerlukan penjelasan berarti kita secara tegas mendustakan Al-Quran dan kedudukan Al-Quran yang membahas segala hal secara tuntas. Oleh karena itu, dalam syari’at Allah tidak mungkin diambil pegangan lain, kecuali Al-Quran. Argumen ini dipakai oleh Taufiq Sidqi dan Abu Rayyah.[9]

c)      Al-Quran  Tidak Memerlukan Penjelas

Al-Quran tidak memerlukan penjelasan, justru sebaliknya Al-Quran merupakan penjelasan terhadap segala hal. Allah berfirman:

Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (Q.S. An-Nahl [16]: 89)

Dan Dialah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan terperinci. (Q.S. Al-An’am [6]: 114)

Ayat-ayat ini dipakai dalil oleh para pengingat Sunnah, baik dulu maupun kini. Mereka menganggap Al-Quran sudah cukup karena memberikan penjelasan terhadap segala masalah. Mereka adalah orang-p\orang yang menolak hadis secara keseluruhan, seperti Taufiq Sidqi dan Abu Rayyah.[10]

2. Bantahan Ulama

Abd Allah bin Mas’ud berpendapat bahwa orang yang menghindari sunnah tidak termasuk orang beriman bahkan dia orang kafir. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, sebagai berikut:

“Jika kamu bersembahyang di rumah-rumah kamu dan kamu tinggalkan masjid-masjid kamu, berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu, dan berarti kamu kufur.” (H.R. Abu Dawud :91).

Allah SWT telah menetapkan untuk mentaati Rsul, dan tidak ada alasan dari siapa pun untuk menentang perintah yang diketahui bearsal dari Rasul. Allah telah membuat semua manusia (beriman) merasa butuh kepadanya dalam segala persoalan agama dan memberikan bukti bahwa sunnah menjelaskan setiap makna dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah dalam kitabnya. Sunnah Rasul mempunyai tugas yang amat besar, yakni untuk memberikan pemahaman tentang Kitabullah, baik dari segi ayat maupun hukumnya. Orang yang ingin mempedalam pemahaman Al-Quran, ia harus mengetahui hal-hal yang ada dalam sunnah , baik dalam maknanya, penafsiran bentuknya, maupun dalam pelaksanaan hukum-hukumnya. Contoh yang paling baik dalam hal ini adalah masalah ibadah shalat.

Tegasnya setiap agian Sunnah Rasul SAW. Berfungsi menerangkan semua petunjuk maupun perintah yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran. Siapa saja yang bersedia menerima apa yang ditetapkan Al-Quran dengan sendirinya harus pula menrima petunjuk-petunjuk Rasul dalam Sunnahnya. Allah sendiri telah memerintahkan untuk selalu taat dan setia kepada keputusan Rasul. Barang siapa tunduk kepada Rasul berarti tunduk kepada Allah, karena Allah jugalah yang menyuruh untuk tunduk kepadaNya. Menerima perintah Allah dan Rasul sama nilainya, keduanya berpangkal kepada sumber yang sama (yaitu Allah SWT). Dengan demikian, jelaslah bahwa menolak atau mengingkari sunnah sama saja dengan menolak ketentuan-ketentuan Al-Quran, karena Al-Quran sendiri yang memerintahkan untuk menerima dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.[11]

D. Inkarussunnah di Indonesia

Aliran/faham sesat ini muncul di indonesia sekitar tahun 1980-an yang lalu dengan menamakan pengajian yang mereka adakan tersebut adalah kelompok Qur´ani.
Beberapa masjid di Jakarta dikuasai oleh mereka, seperti mesjid As Syifa RSCM (rumah sakit terbesar dan rumah sakit pusat di indonesia).        Rumah sakit tersebut bersatu dengan Universitas Indonesia. Pengajian tersebut dipimpin oleh Haji Abdurrahman. Pengajian dimulai ba’da maghrib serta pengikutnya banyak. Lama kelamaan pengajian tersebut tidak mau memakai adzan dan qomat karena tidak ada dalam qur’an, serta seluruh sholat menjadi dua raka´at. Diproyek pasar rumput yaitu di Masjid Al-Burhan muncul pula pengajian yang dipimpin oleh ustadz H. Sanwani guru masyarakat disekitarnya.  Ajaran mereka persis dengan apa yang diajarkan oleh Haji Abdur Rahman. Bahkan mereka tidak mau berpuasa pada bulan Ramadhan kecuali mereka yang langsung melihat hilal (terbitnya awal bulan). Hal ini didasarkan pemahan mereka tentang ayat:

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya bershiyam), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185).

Mereka memahami ayat ini, bahwa yang wajib berpuasa hanya orang yang melihat bulan, adapun bagi mereka yang tidak melihatnya maka tidak ada kewajiban puasa atasnya.

Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa pengajian tersebut muncul di mana-mana. Mereka juga mencetak buku-buku yang banyak untuk menyebarkan faham mereka di masyarakat. Penulis berinisiatif untuk meneliti serta melacak pengajian tersebut. Ternyata setelah dilacak tokohnya adalah orang Indonesia yang mengeluarkan biaya cukup besar untuk pengajian tersebut, yaitu Lukman Saad. Dia berasal dari pajang Sumatra barat dan lulusan IAIN Yogyakarta sampai sarjana muda/BA serta sebagai direktur sebuah percetakan dan penerbitan. Penelitian terus penulis lakukan dan ternyata Lukman saad ini berhubungan dengan Ir. Irham Sutarto ketua serikat buruh PT Unilever Imdonesia. Ir. Iraham adalah tokoh ingkar sunnah yg juga pertama menulis buku ajaran ingkar sunah dengan tulisan tangan.
Peran Ir. Irham ini sangat besar, sedang pemilik PT. Unilever ini adalah orang belanda dan Lukman saad Direktur PT. Ghalia Indonesia mendapat mesin percetakan modern dari Belanda. Tidakkah dibalik permainan ini ada tangan orang yahudi yang coba menghancurkan islam di Indonesia. Akhirnya penulis menemukan bahwa kegiatan kelompok ingkar sunnah ini adalah MARIMUS TAKA keturunan indo jerman yang tinggal di Depok Jawa Barat. Marimus mengaku dirinya bisa membaca Al qur’an tanpa belajar terlebih dahulu. Dia mengajarkan ajaran sesat ini di mana-mana di jakarta. Akirnya pada hari jum´at tanggal 4 Juni 1983 Marimus taka ditangkap ramai-ramai ketika sedang mengadakan pengajian di jalan Bakti Tanjung Priok

http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/

 

PENDAHULUAN

Pada tanggal 27 Juni 1994, MUI (Majelis Ulama Indonesia) membuat fatwa bahwa aliran yang tidak mempercayai hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum syari’at Islam, adalah sesat, menyesatkan, dan berada di luar agama Islam (http://mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=36). Meskipun MUI tidak menyebutkan istilah ingkar sunnah, banyak orang mengatakan bahwa ini adalah fatwa untuk aliran ingkar sunnah atau anti hadis.

 

Sebenarnya, yang disebut dengan aliran ingkar sunnah atau aliran anti hadis adalah suatu aliran yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam agama islam. Yang menjadi pertanyaan adalah, ”Benarkah paham yang beranggapan bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam agama islam adalah sesat?” Penulis ingin membahas masalah tersebut ditinjau dari Al Qur’an. Al Qur’an terjemahan yang digunakan untuk menjawabnya adalah karya Dep. Agama RI yang terdapat dalam program Al Qur’an Digital versi 2.1.

 

INGKAR HADIS DAN INGKAR PENULIS KITAB HADIS

Hadis dan penulis kitab hadis merupakan dua istilah berbeda yang berpotensi menimbulkan penyimpangan dalam agama islam. Hadis adalah perkataan, perbuatan, dan taqrir (sikap mendiamkan suatu kejadian) Nabi Muhammad semasa hidupnya. Hadis pada dasarnya merupakan sebagian sunnah Nabi. Definsi sunnah atau as sunnah dalam http://mediabilhikmah.multiply.com/journal/item/20 adalah semua informasi tentang Nabi Muhammad yang mencakup perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, dan perjalanan hidup selama hidupnya. Makalah ini menekankan pada hadis Nabi untuk menyesuaikan fatwa MUI.

 

Berdasarkan definisi hadis dalam alinea sebelumnya, hadis memang benar-benar ada karena Nabi Muhammad pernah ada dan pernah hidup di dunia ini. Orang yang percaya pada Nabi Muhammad pasti percaya terhadap eksistensi hadis. Sebagai manusia, pada saat itu beliau berkata-kata, berbuat sesuatu, bersikap terhadap sesuatu, dan melakukan segala aktivitas kehidupan lainnya. Orang yang mengingkari hadis adalah orang yang tidak percaya pada eksistensi Nabi Muhammad. Sangat beralasan apabila orang yang tidak percaya pada keberadaan hadis disebut kafir.

 

Yang menjadi masalah adalah bahwa hadis yang diketahui oleh manusia sekarang ini dijumpai dalam kitab-kitab hadis yang tidak pernah dibaca dan dikoreksi oleh Nabi Muhammad. Penulis menggarisbawahi kitab-kitab hadis karena ini merupakan bagian yang jarang diperhatikan orang dan membuat orang mempunyai persepsi keliru tentang hadis. Perlu diingat bahwa isi kitab hadis 100% menjadi tanggungjawab penulis kitab hadis. Orang yang tidak percaya pada isi kitab hadis berarti tidak percaya pada penulis kitab hadis, bukan tidak percaya pada Nabi Muhammad. Dengan kata lain, orang yang tidak percaya pada isi kitab hadis sesungguhnya termasuk golongan ingkar penulis kitab hadis, bukan golongan ingkar hadis atau golongan ingkar sunnah.

 

Ingkar hadis dan ingkar penulis kitab hadis merupakan dua istilah yang sangat berbeda. Ingkar hadis berarti tidak beriman pada Nabi Muhammad sedangkan ingkar penulis kitab hadis berarti tidak beriman pada penulis kitab hadis. Jadi, orang yang tidak percaya pada penulis kitab hadis tetapi percaya pada Nabi Muhammad tidak termasuk golongan ingkar hadis. Orang yang percaya pada Nabi Muhammad percaya bahwa Nabi berbuat, berkata, dan bersikap. Artinya, orang yang percaya pada Nabi Muhammad percaya bahwa hadis Nabi memang ada.

 

Orang-orang yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam agama islam termasuk orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad. Jadi, mereka itu tidak ingkar pada hadis, melainkan ingkar pada penulis kitab hadis. Mereka tidak ingkar pada sunnah tetapi ingkar pada penulis kitab hadis.

 

Mulai dari sini, kita tidak membicarakan lagi istilah ingkar sunnah atau ingkar hadis atau anti hadis. Akan tetapi, sejak sekarang, kita akan membicarakan ingkar penulis kitab hadis. Benarkah orang yang ingkar penulis kitab hadis adalah sesat?

 

DEFINISI ALIRAN SESAT

Apa yang dimaksud dengan orang sesat? Menurut Al Qur’an, orang yang sesat dan orang yang mendapat petunjuk adalah sesuatu yang berpasangan tetapi berlawanan. Maksudnya, orang yang sesat adalah orang yang tidak mendapat petunjuk, dan sebaliknya, orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang tidak sesat. Hal ini tercermin dari ayat-ayat yang menyebutkan sesat dan petunjuk secara bersama-sama (68:7; 34:50; 16:93; dan 39:41)

 

68:7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

 

34:50. Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.”

 

16:93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

 

39:41. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

 

Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa orang sesat adalah orang yang tidak mendapat petunjuk Allah. Yang paling mengetahui orang yang sesat atau mendapat petunjuk adalah Allah sendiri (68:7).

 

Bagaimana cara agar mendapat petunjuk? Caranya adalah dengan menggunakan Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman. Hal itu dijelaskan dalam 45:52 bahwa Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya dengan Al Qur’an (45:52). Disebutkan pula bahwa Nabi Muhammad (di situ ditulis sebagai ”kamu”) memberi petunjuk yang lurus dengan Al Qur’an. Penjelasan tersebut sangat jelas dan terang benderang. Artinya, orang yang berpedoman pada Al Qur’an akan mendapat petunjuk Allah karena dengan Al Qur’an itulah Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.

 

42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

 

Barangkali ada yang penasaran dengan kata ”dia” dalam frase ”Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki”? Apakah ada yang mengira bahwa ”dia” itu Nabi Muhammad? Terjemahan ayat tersebut versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri berikut ini menegaskan bahwa ”dia” adalah bukan manusia karena ”dengan dia” adalah terjemahan dari ”by which” (bukan manusia).

 

42:52. And thus We have revealed to you an inspiration by Our Command. You did not know what the Book is nor (what) faith is. But We have made it a light by which We guide whom We will of Our slaves. And indeed, you guide to the Straight Path,

 

Jika Allah sudah menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dengan Al Qur’an (42:52), tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mencari petunjuk yang lain. Petunjuk Allah 100% ada dalam Al Qur’an. Orang yang mengikuti ajaran Allah dalam Al Qur’an tidak akan tersesat karena Al Qur’an merupakan petunjuk bagi orang yang beriman (27:77). Ayat tersebut harus diartikan bahwa Allah menghendaki Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dalam agama islam agar tidak tersesat.

 

27:77. Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aliran yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam agama islam atau aliran ingkar penulis kitab hadis adalah tidak sesat. Mengingat bahwa Allah hanya menyebutkan Al Qur’an yang menjadi petunjuk bagi orang beriman, kitab selain Al Qur’an tidak dapat menjadi petunjuk bagi orang beriman. Oleh karena itu, paham yang menjadikan Al Qur’an dan kitab selain Al Qur’an sebagai petunjuk termasuk aliran yang mengandung kesesatan.

 

MUI MENGINGKARI HADIS?

Ada hadis Nabi (HR. Muttafaq ‘alaihi) yang menyebutkan bahwa rukun islam ada 6 yaitu percaya kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan Qadar baik dan buruk-Nya dari Allah ta’ala (diakses 6 Januari 2010 dari http://suprichusnul.multiply.com/journal/item/518). Jika kita cermati isi hadis tersebut, kitab hadis dan penulis kitab hadis tidak termasuk dalam rukun iman Dengan demikian, kitab hadis dan penulis kitab hadis tidak boleh diimani karena tidak termasuk dalam rukun iman. Hal ini menjadi menarik karena MUI justru membuat fatwa tentang larangan untuk mengingkari hadis Nabi. Dengan kata lain, MUI justru mendorong orang agar beriman pada kitab hadis dan penulis kitab hadis. Padahal, kitab hadis yang diimani MUI menyebutkan bahwa kitab hadis dan penulis kitab hadis tidak termasuk rukun iman. Bukankah ini bukti bahwa MUI telah mengingkari isi kitab hadis? Jika MUI benar-benar beriman pada kitab hadis dan penulis kitab hadis, seharusnya MUI tidak membuat fatwa tersebut.

 

PENUTUP

Mengapa orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an dinyatakan sesat oleh MUI hanya karena mereka tidak beriman kepada penulis kitab hadis? Bukankah penulis kitab hadis tidak mempunyai kedudukan apa pun di sisi Allah? Bukankah manusia yang wajib diimani hanya Rasul Allah (57:7)?

 

57:7. Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.

 

Petunjuk selain Al Qur’an rawan terhadap tipu daya syaitan sehingga para penggunanya dapat keluar dari jalan yang benar meskipun mereka menyangka mendapat petunjuk (43:37).

 

43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.

 

UUD 1945 Pasal 28E : (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

http://kajiantentangquran.blogspot.com/2010/02/fatwa-mui-tentang-ingkar-sunnahanti.html

http://groups.yahoo.com/group/surau/message/45442

 

F. Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, makalah ini dapat disimpulkan ke dalam beberapa poin, yaitu:
1) Lahirnya kelompok Ingkar Sunnah dilatar belakangi oleh beberapa sebab, diantaranya: Pemahaman mereka yang tidak terlalu baik dan mendalam tentang Hadits/Sunnah Nabi saw, kedangkalan mereka dalam memahami Islam, juga ajarannya secara keseluruhan, kepemilikan pengetahuan yang kurang tentang bahasa Arab, sejarah Islam (kodifikasi Hadits), sejarah periwayatan, pembinaan Hadits, metodologi penelitian Hadits, dan adanya statement al-Qur’an yang menyatakan bahwa al-Qur’an telah menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran Islam (QS. Al-Nahl: 89).
2) Dampak dari penolakan ini bisa mengakibatkan Umat Islam akan kehilangan satu panduan hidup yang sangat berarti selain al-Qur’an; dan yang ekstrim bisa mengakibatkan seseorang kafir (keluar/dianggap keluar) dari agama Islam.

http://edwaneloenks.blogspot.com/2009/11/ingkar-as-sunnah-kajian-sebab-dan.html

TUGAS RASULULLAH

Kelompok inkar sunnah salah fatal ketika menceraikan hubungan mesra antara al-Quran dan hadits. Hadits muncul sebagai perintah dan penjelas kepada al-Quran dan karenanya tidak dapat dipisahkan. Tanpa hadits, memahami dan melaksanakan perintah adalah tidak mungkin. Rasulullah saw. sendiri sebagai manusia yang paling mengerti tentang kandungan wahyu tersebut bertanggung jawab untuk menyampaikannya dan menjelaskannya kepada ummat manusia saat itu. Para sahabat memiliki akidah dan syariah justru setelah Rasulullah s.a.w. menyampaikan, menjelaskan dan mengajarkan kandungan al-Quran. Jadi, menolak hadits berarti menolak apa yang disampaikan, dijelaskan dan diajarkan oleh Rasulullah saw.

 

http://infompi3.wordpress.com/2009/11/24/bahaya-faham-inkar-sunnah/

Argumentasi Golongan Ingkar Sunnah

Posted on 20 Februari 2011 by Makmur Effendi

 

 

 

 

 

 

i

 

Rate This

 

 

Image via Wikipedia

 

 

Oleh: Abduh Zulfidar Akaha

Suntingan & Editor: Makmur Effendi

 

 

Callighraphy@by: Makmur Effendi

Selain berbagai ajaran dan pemahaman sesat di atas, yang membuat mereka hanya mau beriman kepada Al-Qur`an dan menerima Al-Qur`an saja sebagai satu-satunya kitab sumber syariat; mereka pun juga mempunyai sejumlah alasan kenapa menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

 

Meskipun menurut pengakuan mereka, sebetulnya yang mereka tolak bukanlah Sunnah Rasul, karena Sunnah Rasul adalah Al-Qur`an itu sendiri. Akan tetapi, yang mereka tolak sejatinya adalah hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Nabi. Sebab, hadits-hadits tersebut –menurut mereka– merupakan perkataan-perkataan yang dikarang oleh orang-orang setelah Nabi. Dengan kata lain; hadits-hadits itu adalah buatan manusia!

 

Setidaknya, ada sembilan alasan kenapa mereka menolak hadits Nabi, yaitu:

 

I.  Yang Dijamin Allah Hanya Al-Qur`an, Bukan Sunnah

 

Sekiranya Allah menghendaki akan menjaga agama Islam ini dengan Al-Qur`an dan Sunnah, niscaya Dia akan memberikan jaminan tersebut dalam Kitab-Nya. Akan tetapi, karena Allah menghendaki bahwa hanya Al-Qur`anlah yang Dia jamin, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan kepada selain Al-Qur`an. Allah tidak memberikan jaminan-Nya kepada Sunnah. Allah telah mencukupkan agama ini dengan Al-Qur`an saja tanpa yang lain.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ .

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan adz-dzikr (Al-Qur`an), dan Kami benar-benar akan menjaganya.” (Al-Hijr: 9)

Dalam ayat ini, yang dijamin akan dijaga oleh Allah adalah Al-Qur`an.

 

Bantahan

Orang Inkar Sunnah menafsirkan ayat ini dengan hawa nafsunya.

Kalau saja mereka mau berpikir jernih dan melihat dengan ce

 

Image via Wikipedia

 

 

Oleh: Abduh Zulfidar Akaha

Suntingan & Editor: Makmur Effendi

 

Callighraphy@by: Makmur Effendi

Selain berbagai ajaran dan pemahaman sesat di atas, yang membuat mereka hanya mau beriman kepada Al-Qur`an dan menerima Al-Qur`an saja sebagai satu-satunya kitab sumber syariat; mereka pun juga mempunyai sejumlah alasan kenapa menolak Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Meskipun menurut pengakuan mereka, sebetulnya yang mereka tolak bukanlah Sunnah Rasul, karena Sunnah Rasul adalah Al-Qur`an itu sendiri. Akan tetapi, yang mereka tolak sejatinya adalah hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Nabi. Sebab, hadits-hadits tersebut –menurut mereka– merupakan perkataan-perkataan yang dikarang oleh orang-orang setelah Nabi. Dengan kata lain; hadits-hadits itu adalah buatan manusia!

 

Setidaknya, ada sembilan alasan kenapa mereka menolak hadits Nabi, yaitu:

 

I.  Yang Dijamin Allah Hanya Al-Qur`an, Bukan Sunnah

 

Sekiranya Allah menghendaki akan menjaga agama Islam ini dengan Al-Qur`an dan Sunnah, niscaya Dia akan memberikan jaminan tersebut dalam Kitab-Nya. Akan tetapi, karena Allah menghendaki bahwa hanya Al-Qur`anlah yang Dia jamin, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan kepada selain Al-Qur`an. Allah tidak memberikan jaminan-Nya kepada Sunnah. Allah telah mencukupkan agama ini dengan Al-Qur`an saja tanpa yang lain.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ .

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan adz-dzikr (Al-Qur`an), dan Kami benar-benar akan menjaganya.” (Al-Hijr: 9)

Dalam ayat ini, yang dijamin akan dijaga oleh Allah adalah Al-Qur`an.

 

Bantahan

Orang Inkar Sunnah menafsirkan ayat ini dengan hawa nafsunya.

Kalau saja mereka mau berpikir jernih dan melihat dengan cermat, tentu mereka tidak akan berkata demikian. Sebab, kata yang dipakai di sana adalah “adz-dzikr,” bukan Al-Qur`an. Sekiranya yang dimaksud Allah adalah hanya menjaga Al-Qur`an saja, niscaya Dia akan mengatakannya secara tegas, dengan menyebutkan kata “Al-Qur`an,” bukan “adz-dzikr.” Sebagaimana termaktub dalam banyak ayat Al-Qur`an yang menyebutkan demikian.

Misalnya;

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .

“Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkan dan perhatikanlah baik-baik agar kalian mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 204)

 

Akan tetapi, yang dipakai di sini adalah kata “adz-dzikr.” Dan, lafazh adz-dzikr sebagai ganti Al-Qur`an ini mempunyai makna dan hikmah tersendiri. Karena ia bisa bermakna sebagai Al-Qur`an dan Sunnah sekaligus. Sebab, selain Allah menjamin Al-Qur`an dengan penjagaan langsung dari sisi-Nya, Allah pun menjaga Sunnah Nabi-Nya melalui para sahabat dan ulama penerus mereka. Bagaimanapun juga, penjagaan Allah terhadap agama ini mencakup penjagaan-Nya terhadap Sunnah, karena Sunnah-lah yang menjelaskan Al-Qur`an.

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah menjaga sesuatu yang dijelaskan (Al-Qur`an), dan meninggalkan sesuatu yang menjelaskan (Sunnah)? Sementara kita –umat Islam– tidak mungkin bisa memahami Al-Qur`an dan mengamalkan ajaran-Nya tanpa bantuan Sunnah Al-Muthahharah.

Itulah makanya, Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ .

“Maka, bertanyalah kalian kepada ahlu dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (An-Nahl :43)

Sebagian ahli tafsir mengatakan,[1] bahwa yang dimaksud dengan ahlu dzikr adalah ahlul ilmi, yakni para ulama. Sedangkan sebagian lagi mengatakan, bahwa ahlu dzikr adalah ahlul Qur`an, yang tidak lain adalah ulama juga. Dan, tidak disebut sebagai ulama jika tidak menguasai Al-Qur`an dan Sunnah sekaligus.

 

II.  Nabi Sendiri Melarang Penulisan Hadits

Sama seperti Syiah yang tidak konsisten dengan sikapnya terhadap Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu Anhu. Betapa bencinya mereka (orang-orang Syiah) kepada Umar yang dianggap sebagai perampas hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Mereka juga mengatakan, bahwa Umar-lah yang mengharamkan nikah mut’ah, bukan Nabi. Namun, di satu sisi, mereka memuji-muji Umar atas sikapnya yang menegur bahkan sampai memukul Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dikarenakan banyaknya Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Nabi.

Begitu pula dengan kelompok inkar Sunnah. Di satu sisi mereka menolak hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tetapi di sisi lain, manakala ada hadits yang sesuai dengan nafsu syahwat mereka, maka mereka pun mendukungnya. Bahkan, tanpa malu-malu mereka menjadikannya senjata untuk membenarkan sikap mereka dalam menyerang Sunnah Nabi.

Mereka selalu mendengung-dengungkan dan berpegang pada hadits Nabi yang mengatakan,

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ . (رواه أحمد ومسلم والدارمي عن أبي سعيد الخدري)

“Janganlah kalian menulis sesuatu pun dariku selain Al-Qur`an. Barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur`an, maka hendaklah dia menghapusnya.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Ad-Darimi dari Abu Said Al-Khudri)[2]

Yang dimaksud “tentang aku” atau “dariku” dalam hadits ini adalah segala yang berasal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, baik itu berupa perkataan (sunnah qauliyah), perbuatan (sunnah fi’liyah), maupun persetujuan (sunnah taqririyah).[3]

Dan hadits lain yang diriwayatkan Imam Al-Khathib Al-Baghdadi (w. 463 H) dari Abu Hurairah, yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah menemui sebagian sahabat yang ketika itu sedang menulis hadits.

Beliau berkata,

“Kalian sedang menulis apa?”

Mereka menjawab,

“Hadits-hadits yang kami dengar dari Anda.”

Beliau bersabda,

“Apakah kalian berani menulis kitab selain Kitab Allah? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian itu menjadi sesat dikarenakan mereka menulis kitab bersama-sama Kitab Allah Ta’ala.”[4]

Dua hadits ini dan hadits-hadits lain yang senada, mereka jadikan alasan untuk menolak Sunnah. Sebab, Nabi sendiri telah melarang penulisan hadits. Lalu, bagaimana mungkin umatnya mengaku memiliki hadits-hadits yang bersumber dari Nabi? Jadi, sesungguhnya yang namanya hadits Nabi itu tidak ada, karena Nabi sendirilah yang melarang menulis hadits. Dan, memang tidak mungkin bagi Nabi untuk mengatakan perkataan-perkataan selain Al-Qur`an!

 

Bantahan

Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi (w. 676 H) berkata,

Hadits-hadits tentang larangan menulis hadits telah mansukh (dihapus) dengan hadits-hadits yang membolehkan penulisan hadits. Sebab, ketika itu Nabi melarang menulis hadits karena khawatir hadits-hadits tersebut akan tercampur dengan Al-Qur`an. Kemudian, ketika kekhawatiran itu hilang dikarenakan para sahabat sudah matang Al-Qur`annya, maka Nabi pun mengizinkan para sahabat untuk menulis hadits.”[5]

Ada juga yang mengatakan, bahwa yang dilarang adalah menulis hadits dalam satu tempat yang sama dengan Al-Qur`an. Sebab, dikhawatirkan seseorang akan bingung ketika membacanya, mana yang Al-Qur`an dan mana yang hadits Nabi? [6]

Dalam hal ini, banyak hadits yang menyebutkan dibolehkannya menulis hadits. Di antaranya, yaitu:

1. Hadits yang menceritakan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama kaum muslimin menaklukkan kota Makkah, lalu beliau berdiri menyampaikan khutbah. Ketika itu ada seorang laki-laki dari Yaman yang bernama Abu Syah meminta kepada Nabi agar khutbah tersebut dituliskan untuknya.

Nabi pun bersabda,

اكْتُبُوا لِأَبِي شَاهٍ . ) متفق عليه عن أبي هريرة(

“Tuliskanlah untuk Abu Syah.” (Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah)[7]

 

2. Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma berkata,

“Dulu saya selalu menulis setiap perkataan yang saya dengar dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena ingin menjaganya. Tetapi orang Quraisy melarang saya. Mereka mengatakan bahwa Rasul juga manusia biasa yang bisa marah dan gembira. Lalu, saya pun sementara menahan diri untuk tidak menulis hadits, hingga saya sampaikan hal ini kepada Rasulullah.

Maka, beliau pun memberikan isyarat dengan jari telunjuknya ke arah mulutnya seraya bersabda,

اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ .  (رواه أبو داود)

“Tulislah! Demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidak ada yang keluar darinya kecuali kebenaran.” (HR. Abu Dawud)[8]

Setelah menyebutkan sejumlah hadits tentang adanya kegiatan penulisan hadits masa Nabi, atas perintah beliau dan atau sepengetahuan beliau, DR. Salim Ali Al-Bahnasawi berkata, “Ini semua menunjukkan bahwa dilarangnya penulisan hadits ketika itu tidak lain adalah karena kekhawatiran tercampurnya Sunnah dengan Al-Qur`an. Untuk itu, apabila penyebab ini telah hilang, maka penulisan hadits adalah suatu keharusan.”[9]

Para ulama menggabungkan antara hadits-hadits yang melarang dan membolehkan penulisan hadits, sebagai berikut:

1.      Hadits-hadits yang membolehkan (menyuruh) menulis hadits telah menghapus hadits-hadits yang melarang. Dan, hal ini terjadi pada masa awal-awal Islam ketika masih dikhawatirkan terjadi kerancuan atau campur aduk antara Al-Qur`an dan hadits.

2.      Larangan menulis hadits adalah bagi orang yang hafalannya kuat, agar dia tidak tergantung pada tulisan. Adapun orang yang hafalannya lemah, maka dia boleh menulisnya.

3.      Larangan menulis hadits khusus bagi yang menuliskannya dalam satu tempat yang sama dengan tulisan Al-Qur`an, sebab dikhawatirkan akan bercampur.

4.      Nabi hanya melarang menulis hadits pada saat turunnya wahyu dan ditulisya ayat yang baru saja turun.

5.      Larangan menulis hadits hanya bagi yang belum pandai menulis, karena dikhawatirkan salah. Adapun yang sudah mahir menulis, maka dia boleh menulis hadits.

6.      Larangan hanya berlaku bagi para penulis wahyu yang bertugas menulis setiap wahyu yang turun. Adapun selain mereka, maka diperbolehkan menulis hadits.

Dan, dibolehkannya menulis hadits ini adalah masalah yang sudah disepakati oleh para ulama. Sebagaimana dinukil oleh Al-Khathib Al-Baghdadi, Al-Hafizh Ibnu Shalah, dan lain-lain.[10] Lagi pula, Nabi pun pernah (menyuruh sahabat untuk) menulis surat kepada para pemimpin kabilah di sekitar Madinah dan jazirah Arab, Kaisar, Heraklius, perjanjian damai Hudaibiyah, dan lain-lain.

 

III. Hadits Baru Dibukukan Pada Abad Kedua Hijriyah

 

Orang-orang inkar Sunnah sama saja dengan para orientalis dalam hal ini. Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang terdapat dalam kitab-kitab Sunnah banyak bohongnya dan mengada-ada karena baru dibukukan ratusan tahun setelah Nabi wafat. Kata mereka, isi kitab-kitab yang diklaim sebagai berasal dari Nabi itu tak lain merupakan hasil dari gejolak politik, sosial, dan keagamaan yang dialami kaum muslimin pada abad pertama dan kedua. Jadi, bagaimana mungkin kitab yang dibukukan sekitar dua abad setelah wafatnya Nabi diyakini sebagai Sunnah Nabi?[11]

Ignaz Goldziher (1850 – 1921 M), salah seorang tokoh orientalis Yahudi dari Hongaria mengatakan, “Sebagian besar hadits adalah hasil perkembangan keagamaan, politik, dan sosial umat Islam pada abad pertama dan kedua. Tidak benar jika dikatakan bahwa hadits itu merupakan dokumen umat Islam sejak masa pertumbuhannya. Sebab, itu semua merupakan buah dari usaha umat Islam pada masa kematangannya.”[12]

Kata orang inkar Sunnah, apabila memang benar bahwa hadits-hadits itu bersumber dari Nabi, semestinya sudah dibukukan sejak masa Nabi hidup. Bukan dua abad setelah beliau wafat.

 

Bantahan

Pertama kali yang ingin kami katakan di sini adalah, bahwa sebetulnya anggapan seperti ini sama saja dengan menunjukkan kebodohan mereka sendiri. Sebab, yang mereka jadikan patokan adalah kitab Shahih Al-Bukhari (194 H – 256 H), Shahih Muslim (204 H – 262 H), dan kitab-kitab hadits seterusnya yang memang ditulis pada dan setelah abad kedua Hijriyah.

Entah karena tidak tahu atau pura-pura tidak tahu mereka ini, bahwa sesungguhnya pembukuan hadits-hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah dimulai jauh sebelum itu.

Tentu, ada perbedaan antara penulisan dan pembukuan.

Orang menulis, meskipun banyak yang ditulis, belum tentu menjadi buku jika tidak dibukukan.

Adapun pembukuan, adalah pengumpulan dari tulisan-tulisan yang telah disusun secara rapi. Apa pun definisinya, yang pasti para sahabat telah menulis hadits-hadits Nabi sejak beliau masih hidup. Akan tetapi dikarenakan sejumlah faktor, tulisan-tulisan hadits yang tersebut belum dikumpulkan di satu tempat dalam satu buku.

Kami tidak hendak menyebutkan berbagai alasan kenapa hadits-hadits tersebut tidak segera dibukukan, karena orang Inkar Sunnah yang sudah dibutakan mata dan hatinya oleh Allah tidak akan mau tahu.

Namun, kami hanya akan memberikan sejumlah fakta bahwa pembukuan hadits sudah dimulai sebelum abad kedua, dan bahwa kitab Shahih Al-Bukhari bukanlah kitab hadits yang pertama kali dalam Islam.

  1. Khalifah Umar bin Abdil Aziz (w. 99 H) yang termasuk generasi tabi’in, yakni generasi yang langsung bertemu para sahabat, dan mengambil ilmu langsung dari mereka, telah memerintahkan semua gubernurnya di seluruh wilayah Islam untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi. Umar berkata, “Carilah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan kumpulkanlah.”[13]

 

Para ulama mengatakan, “Adapun pembukuan hadits, maka itu terjadi pada penghujung abad pertama pada masa Khalifah Umar bin Abdil Aziz, atas perintahnya.”[14]

  1. Abu Bakar Muhammad bin Amru bin Hazm[15] (w. 98 H) atas perintah Khalifah Umar bin Abdil Aziz, membukukan hadits-hadits Nabi yang ada pada Amrah binti Abdirrahman dan Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar.
  2. Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (58 H – 124 H), salah seorang ulama tabi’in, menyambut baik perintah Umar bin Abdil Aziz untuk membukukan hadits. Dia pun mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang sudah dia tulis dan hafal, lalu dia letakkan dalam satu buku. Bisa dikatakan, jerih payah Ibnu Syihab ini adalah awal dari aktivitas penyusunan dan pembukuan hadits. Para ulama mengatakan, “Kalau bukan karena Az-Zuhri, sungguh akan banyak Sunnah yang hilang.”[16]
  3. Selanjutnya di Makkah, Ibnu Juraij (w. 150 H) juga membukukan hadits.
  4. Masih di Makkah, Ibnu Ishaq (w. 151 H) pun membukukan hadits.
  5. Di Madinah; Said bin Abi Arubah (w. 156 H), Ar-Rabi’ bin Shabih (w. 160 H), dan Imam Malik bin Anas (w. 179 H).
  6. Di Syam; Abu Umar Al-Auza’i (w. 157 H), Husyaim bin Basyir (w. 173 H).
  7. Di Bashrah; Hammad bin Salamah (w. 167 H).
  8. Di Kufah; Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H).
  9. Di Yaman; Ma’mar bin Rasyid (w. 154 H).
  10. Di Mesir; Al-Laits bin Sa’ad (w. 154 H).
  11. Di Khurasan; Abdullah bin Al-Mubarak (w. 181 H).

 

Kemudian, memasuki abad II yang sebetulnya adalah kelanjutan dari masa sebelumnya, pembukuan hadits mulai lebih teratur penyusunannya dari segi pembagian bab, masalah yang dibahas, hadits yang berulang, dan sahabat yang meriwayatkan. Lalu, muncullah kitab-kitab hadits berikutnya;

  1. Musnad Abu Dawud Sulaiman Ath-Thayalisi (w. 204 H).
  2. Musnad Abu Bakar Abdullah Al-Humaidi (w. 219 H).
  3. Musnad Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H).
  4. Musnad Abu Bakar Ahmad bin Amru Al-Bazzar (w. 292 H)
  5. Musnad Abu Ya’la Ahmad Al-Maushili (w. 307 H).
  6. Al-Jami’ Ash-Shahih/Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (w. 256 H).
  7. Al-Jami’ Ash-Shahih/Imam Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi (w. 261 H).
  8. Sunan At-Tirmidzi/Imam Abu Isa At-Tirmidzi (w. 279).
  9. Sunan Abu Dawud/Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani (w. 275 H).
  10. Sunan An-Nasa`i/Abu Abdirrahman An-Nasa`i (w. 303 H).
  11. Sunan Ibnu Majah/Muhammad bin Yazid bin Majah (w. 275 H).
  12. Sunan Asy-Syafi’i/Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (w. 204 H).
  13. Sunan Ad-Darimi/Abdullah bin Abdurrahman Ad-Darimi (w. 255 H).
  14. Sunan Ad-Daruquthni/Ali bin Umar Ad-Daruquthni (w. 385 H).
  15. Dan lain-lain…

 

Kalau orang inkar Sunnah mau jujur, dari mana mereka tahu bahwa Imam Al-Bukhari hidup pada abad kedua dan bahwa pada masa Nabi belum ada pembukuan[17] hadits? Bukankah itu dari sejarah? Bukankah jika mereka mengetahui hal ini, artinya mereka juga membaca buku? Dan, bukankah mereka juga sama saja dengan mengambil pendapat orang lain dalam masalah ini? Tetapi, kenapa mereka selalu mengatakan; ikuti saja Al-Qur`an, jangan ikuti yang lain?!!

 

Ringkas kata, apa yang mereka katakan bahwa Sunnah baru dibukukan pada abad kedua adalah tidak benar.

Sebab, sebelum abad kedua pun, sudah banyak ulama umat ini yang membukukan Sunnah. Selanjutnya, jika dengan tuduhan ini mereka ingin mengatakan bahwa karena dibukukan ratusan tahun setelah Nabi meninggal, maka isi kitab-kitab Sunnah itu adalah bohong dan tidak bisa dianggap sebagai Sunnah Nabi; juga tidak benar. Sebab, justru isi dari kitab-kitab Sunnah itulah yang sudah diketahui, dihafal, dan diamalkan sejak masa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Bagaimanapun juga, tidak selalu suatu masalah atau peristiwa harus dibukukan saat itu juga. Betapa banyak buku-buku tentang suatu kasus atau peristiwa tertentu/bersejarah yang baru dibukukan setelah semua pelakunya meninggal. Dan betapa banyak biografi atau perkataan-perkataan seseorang yang baru dibukukan bertahun-tahun setelah yang bersangkutan tiada.

 


[1] Lihat misalnya; Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an/Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi/jilid 5/hlm 2872/terbitan Dar Al-Fikr, Beirut/Cetakan I/1999 M – 1419 H, dan Taysir Al-Karim Ar-Rahman/Syaikh Abdurrahman As-Sa’di/hlm 441/terbitan Markaz Fajr li Ath-Thiba’ah, Kairo/Cetakan I/2000 M – 1421 H.

[2] Hadits shahih. Lihat; Shahih Muslim/Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa`iq/Bab At-Tatsabbut fi Al-Hadits wa Hukm Kitabati Al-’Ilm/hadits nomor 5326, Musnad Ahmad/Kitab Baqi Musnad Al-Muktsirin/Bab Musnad Abi Sa’id Al-Khudri/hadits nomor 1110, dan Sunan Ad-Darimi/Kitab Al-Muqaddimah/Bab Man Lam Yara Kitabata Al-Hadits/451. Semuanya dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu.

[3] Sebagian ulama ada juga yang menambahkan macam sunnah yang keempat, yaitu sunnah pembawaan (sunnah washfiyah).

[4] Mabahits fi ‘Ulum Al-Hadits/Syaikh Manna’ Al-Qatha/Maktabah Wahbah – Kairo/hlm 29-31/Cetakan IV/2004 M – 1425 H, menukil dari Al-Baghdadi dalam Taqyid Al-’Ilm, yang dikoreksi DR. Yusuf Al-Isy.

[5] Syarh Shahih Muslim/Imam Abu Zakariya An-Nawawi/juz 18/hlm 104/terbitan Maktabah At-Taufiqiyah, Kairo.

[6] Sda.

[7] Lihat; Shahih Al-Bukhari/Kitab Ad-Diyyat/Bab Man Qutila Lahu Qatil/hadits nomor 6372, dan Shahih Muslim/Kitab Al-Hajj/Bab Tahrim Makkah wa Shaidiha/hadits nomor 2414. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud juga meriwayatkan hadits ini.

[8] Sunan Abi Dawud/Kitab Al-’Ilm/Bab fi Kitab Al-’Ilm/hadits nomor 3161. Imam Ahmad (6221) dan Ad-Darimi (484) juga meriwayatkan hadits ini.

[9] As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/DR. Salim Ali Al-Bahnasawi/hlm 53/Dar Al-Wafa` – Manshurah, Mesir/Cetakan ke-IV/1992 M- 1413 H.

[10] Lihat; http://www.al-islami.com/arabic/sunnah.php

[11] Kelompok inkar Sunnah bisa saja membantah bahwa mereka berpendapat demikian bukan karena terpengaruh kaum orientalis. Karena mereka memang sangat anti mengutip pendapat orang lain dalam menyebarkan dakwah sesatnya. Mereka selalu mengatakan, “Ikuti saja Al-Qur`an, itu sudah cukup. Jangan ikuti siapa pun selain Al-Qur`an.” Hal ini bisa dilihat dari sikap tokoh-tokoh mereka, seperti Taufiq Shidqi, Ahmad Amin, dan Abu Rayyah yang tidak mau menisbatkan pendapatnya kepada para pendahulunya atau kepada orientalis yang pendapatnya mereka kutip. (Lihat; http://www.islamweb.net/ver2/archive/readArt.php?lang=A&id=36524)

[12] Dikutip dari buku Difa’ ‘An Al-Hadits An-Nabawi/DR. Ahmad Umar Hasyim/hlm 36.

[13] As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/DR. Salim Ali Al-Bahnasawi/hlm 66.

[14] Mabahits fi ‘Ulum Al-Hadits/Syaikh Manna’ Al-Qaththan/hlm 35.

[15] Ada yang mengatakan, bahwa gubernur Madinah waktu itu adalah Amru bin Hazm,ayahnya Muhammad bin Amru ini. Wallahu a’lam.

[16] Op. cit. no. 39.

[17] Pembukuan, bukan penulisan.

 

IV. Banyak Pertentangan Antara Satu Hadits dengan Hadits yang Lain

 

Di antara alasan yang membuat mereka menolak hadits adalah terdapat banyaknya hadits-hadits yang bertentangan satu sama lain. Kata mereka, sekiranya itu adalah benar berasal dari satu sumber, yakni dari Nabi, niscaya tidak akan ada di dalamnya hadits yang bertentangan. Lalu mereka pun menyebutkan sejumlah contoh hadits dalam suatu masalah yang saling bertentangan. Dan, di antara hadits yang sering mereka permasalahkan, misalnya adalah hadits tentang bacaan tasyahhud, dimana banyak sejumlah riwayat tentang bacaan dalam tasyahhud ini.[1] Kemudian, dikarenakan hal ini, mereka (inkar Sunnah) pun mengganti bacaan tasyahhud dengan ayat kursi![2]

 

Bantahan

 

Demikianlah orang inkar Sunnah. Ada-ada saja alasan yang mereka cari untuk mementahkan Sunnah. Padahal, sesungguhnya apa yang terdapat dalam Sunnah Nabi itu bukanlah pertentangan, melainkan perbedaan. Kalaupun toh, benar ada hadits-hadits yang bertentangan satu sama lain, maka di sana sudah ada patokan untuk memilah, memilih, dan menentukan mana hadits yang harus dikedepankan.

Meskipun tidak sedikit dua –atau lebih– hadits yang berbeda bisa diamalkan semuanya. Sebab, para sahabat memang mendengar dari Nabi atau melihat beliau dalam kondisi yang berbeda-beda. Sehingga hadits yang mereka riwayatkan pun berbeda pula. Namun demikian, justru itulah fleksibelitas ajaran Islam ini. Tidak kaku, lentur, dan mudah.

 

Di antara standar yang biasa dipakai para ulama dalam menghadapi masalah ini, yaitu dengan cara:

  1. Melihat mana hadits yang lebih kuat dan mana yang lemah.[3]
  2. Melihat mana hadits yang muncul lebih dulu dan mana yang belakangan.[4]
  3. Melihat siapa yang meriwayatkan dan dalam masalah apa.[5]
  4. Melihat kepada siapa hadits tersebut ditujukan dan dalam kasus apa.[6]
  5. Menyatukan dua –atau lebih– hadits yang berbeda jika sama-sama kuat, tidak ada pertentangan, dan memungkinkan.[7]
  6. Melihat mana yang lebih utama untuk diamalkan dan bahwa hadits yang lain juga boleh diamalkan.[8]

 

Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa dalam Sunnah Nabi terdapat hadits-hadits yang bertentangan.

Imam Abu Bakar bin Khuzaimah (w. 311 H) berkata, “Tidak ada dua hadits yang bertentangan dari segi apa pun. Barangsiapa yang mendapatkan sesuatu dalam masalah ini, silahkan datang kepadaku, akan aku gabungkan dua hadits itu.”[9]

 

V. Hadits Adalah Buatan Manusia

Orang inkar Sunnah selalu mendengung-dengungkan bahwa yang diturunkan Allah Ta’ala hanyalah Al-Qur`an, dan bahwa selain Al-Qur`an adalah bukan dari Allah. Mereka hendak mengatakan, bahwa hadits-hadits Nabi atau Sunnah adalah buatan manusia, yang tidak mesti diikuti kecuali jika cocok dengan akal. Demikianlah salah satu cara mereka untuk menjauhkan kaum muslimin dari Sunnah Nabinya.

Salah seorang tokoh mereka, DR. Muhammad Khalafallah berkata, “Selain Al-Qur`an adalah pemikiran manusia, dimana kita berinteraksi dengannya sesuai dengan akal kita.”[10]

Perkataan semacam ini kurang lebih sama dengan apa yang dikatakan Goldziher, “Ribuan hadits adalah buatan para ulama yang ingin membuat agama ini menjadi sempurna. Para ulama itu membuat-buat hadits sendiri karena dalam Al-Qur`an hanya sedikit hukum yang diberikan.”[11]

Setelah memaparkan sejumlah pendapat dari DR. Ishmat Saifuddaulah (seorang tokoh inkar Sunnah) yang menyerang Sunnah dan mendiskreditkan para ulama, DR. Salim Ali Al-Bahnasawi menyimpulkan bahwa DR. Ishmat menganggap semua yang dianggap sebagai sumber syariat Islam yang berasal dari manusia adalah dibuat-buat (maudhu’); berbagai kaedah yang ditetapkan manusia adalah dibuat-buat, istimbat adalah dibuat-buat, qiyas dibuat-buat, istihsan dibuat-buat, istishab dibuat-buat, ijma’ dibuat-buat… dst.

 

Bantahan

Jika yang mereka maksud dengan “hadits adalah buatan manusia” yaitu hadits-hadits yang terbukti shahih secara sanad (dan matan), maka sungguh perkataan mereka ini adalah dusta yang nyata. Sebab, hadits-hadits tersebut adalah benar berasal dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang diriwayatkan secara bersambung dari orang yang dipercaya dan dari orang yang dipercaya hingga sampai kepada Nabi.

Para ulama hadits meletakkan standar baku yang ekstra ketat dalam menerima hadits.

Mereka selalu memilah dan memilih dengan penuh hati-hati mana hadits yang bisa diterima dan mana hadits yang mesti ditolak. Mana orang yang bisa dipercaya dan diterima haditsnya, dan mana orang yang dianggap lemah atau tidak bisa dipercaya atau pendusta sehingga haditsnya layak ditolak.

 

Inilah salah satu keistimewaan agama ini, dimana ajaran-ajarannya dijaga oleh para ulamanya, orang-orang yang saleh, bertakwa, dan bisa dipercaya. Para sahabat menerima Al-Qur`an dan hadits langsung dari Nabi. Lalu, para sahabat mentransfer apa yang mereka dapatkan dari Nabi kepada sesama sahabat yang belum mengetahui dan kepada generasi tabi’in senior.

Kemudian, para tabi’in senior ini mentransfer ilmunya kepada sesama mereka dan kepada generasi tabi’in yang lebih muda. Dan, pada masa tabi’in inilah hadits-hadits Nabi –yang sebelumnya sudah banyak ditulis oleh para sahabat dan tabi’in– sudah mulai dibukukan.[12]

Semua ini dilakukan dengan penuh amanah, ikhlas, disertai rasa takut luar biasa jika mereka sampai mendustakan hadits Nabi. Bagaimana tidak, mereka sadar betul bahwa membuat-buat atau memalsukan hadits Nabi sama saja dengan menceburkan diri sendiri ke dalam neraka! Mereka selalu mencamkan sabda Nabi dalam hal ini,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ .

(متفق عليه)

“Barangsiapa yang mendustakan aku dengan sengaja, maka hendaklah dia siapkan tempat duduknya di neraka.” (Muttafaq Alaih)[13]

Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (w. 456 H) berkata, “Menukil dari orang yang bisa dipercaya (tsiqah) dari orang yang bisa dipercaya yang terus bersambung hingga sampai kepada Nabi, adalah karakteristik umat Islam yang tidak dimiliki oleh umat lain.”[14]

Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Sanad adalah bagian dari agama. kalau bukan karena sanad, niscaya setiap orang akan bicara sesuka hatinya.”[15]

Ada banyak fakta dalam sejarah penulisan dan pembukuan hadits ini yang menggambarkan betapa hati-hatinya para ulama salafush-shalih dalam menerima sebuah hadits. Mereka selalu menanyakan hadits tersebut diterima dari siapa dan bertemu di mana. Diriwayatkan, bahwa Umar bin Musa bertemu dengan Ufair bin Ma’dan Al-Kula’i di masjid. Lalu, Umar menyebutkan beberapa hadits dari seseorang yang dia katakan sebagai syaikh yang saleh.

Ufair berkata, “Siapa yang engkau maksud dengan syaikh yang saleh ini? Beri tahukan kepada kami siapa namanya, mungkin kami mengenalnya.”

Umar, “Dia adalah Khalid bin Ma’dan.”

Ufair, “Pada tahun berapa engkau bertemu dengannya?

Umar, “Pada tahun seratus delapan.”

Ufair, “Di mana engkau bertemu dengannya?”

Umar, “Di Perang Armenia.”

Maka, Ufair pun berkata, “Takutlah engkau kepada Allah, ya syaikh… Janganlah engkau berbohong. Khalid bin Ma’dan itu meninggal tahun seratus empat. Bagaimana mungkin engkau bertemu dengannya empat tahun setelah dia meninggal? Aku tambahkan lagi, sesungguhnya Khalid bin Ma’dan sama sekali tidak pernah ikut Perang Armenia. Perang yang dia ikuti adalah Perang Romawi!”[16]

Tidak heran, apabila dengan penyeleksian hadits yang sangat ketat ini, para ulama masa lalu meletakkan sejumlah disiplin ilmu dalam hal ini. Ada yang namanya ilmu riwayah, ilmu dirayah, al-jarh wat ta’dil (mencela dan memuji), tarikh rijal al-hadits, ilmu mukhtalaf hadits, nasikh dan mansukh hadits, dan sebagainya.

Ini semua tak lain karena mereka sangat berhati-hati dalam menerima suatu hadits. Sehingga, sangatlah mengada-ada dan dibuat-buat jika orang inkar Sunnah mengatakan bahwa hadits adalah buatan manusia! Manusia yang mana?!

Memang, kita mengakui bahwa banyak hadits yang dibuat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang disandarkan kepada Nabi. Akan tetapi, hadits-hadits semacam ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang muktabar seperti Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, misalnya. Bahkan, kitab-kitab hadits yang lain pun pada dasarnya tidak memuat hadits-hadits palsu.

Sesungguhnya, hadits-hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam itu sendiri tidak ada masalah.

Sebab, para imam hadits pendahulu kita sudah membagi-bagi derajat hadits. Ada yang mutawatir, shahih, hasan, dhaif, dan maudhu’. Nah, hadits maudhu’ inilah yang merupakan sejelek-jeleknya hadits, jika memang ia dimasukkan dalam kategori sebagai hadits.

Hadits maudhu’ inilah yang merupakan buatan manusia yang disandarkan kepada Nabi, dan sama sekali tidak boleh diriwayatkan kecuali untuk memperingatkan bahwa itu adalah hadits maudhu’. Dan, barangsiapa yang menganggap bahwa boleh meriwayatkan hadits maudhu’ untuk sekadar bercerita, atau memberi nasehat; berarti dia telah sesat lagi menyesatkan.[17] Sebab, sudah jelas larangan Nabi dalam hal ini, sebagaimana telah kami sebutkan haditsnya di atas.

 

Dalam buku “Difa’ ‘An Al-Hadits An-Nabawi,” DR. Ahmad Umar Hasyim menyebutkan enam sebab yang membuat munculnya hadits palsu ini.

1. Dikarenakan fanatisme politik,

dimana pada waktu itu kaum muslimin –awalnya– pecah menjadi tiga kelompok besar;  Syiah, pro-Muawiyah, dan Khawarij. Kemudian, muncul lagi kaum Muktazilah, Murji`ah, dan seterusnya. Kondisi politik demikian mendorong masing-masing kelompok membuat hadits-hadits palsu untuk mendukung kelompoknya.

Mereka tidak mungkin sanggup dan berani memalsukan Al-Qur`an karena ia sudah mutawatir dan banyak kaum muslimin yang hafal Al-Qur`an. Maka, yang bisa mereka lakukan adalah memalsukan hadits.

2. Karena fanatisme kesukuan.

Yang paling menonjol adalah hadits-hadits palsu tentang kelebihan orang Arab atas non-arab, dimana kemudian orang-orang Persia pun membuat hadits-hadits palsu yang melebihkan mereka atas orang Arab.

3. Zindiq,

yaitu orang-orang non-muslim dari Yahudi, Majusi, dan lain-lain yang menampakkan diri sebagai seorang muslim. Mereka membuat-buat hadits palsu yang dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa untuk menghancurkan Islam dan melemahkan kekuatannya.

4. Hadits-hadits palsu yang dibuat  tukang dongeng (al-qushshas).

Mereka senang mempermainkan perasaan dan emosi orang awam dengan membuat-buat hadits palsu yang menyentuh hati dan terkadang membuat orang terkagum-kagum dengan cerita yang mereka bawakan.

Para tukang dongeng ini sama sekali tidak ambil pusing dengan ancaman Nabi bagi orang yang berani mendustakan beliau. Bagi mereka, yang penting adalah bisa menjadi pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya dengan berbagai dongeng palsunya.

5. Perbedaan madzhab fikih,

dimana sebagian pendukung masing-masing madzhab ada yang ‘kebablasan’ dalam mengunggulkan madzhabnya atas madzhab lain. Misalnya, ‘hadits’ yang diriwayatkan Muhammad bin Ukasyah Al-Kirmani[18] ketika ditanya tentang orang yang mengangkat tangannya ketika ruku’, dia berkata, “Al-Musayyib bin Wadhih mengabarkan kepada kami dari Anas bin Malik secara marfu’; Barangsiapa yang mengangkat tangannya ketika hendak ruku’, maka tidak ada shalat baginya!”

6. Kebodohan,

sebagian kaum muslimin yang di satu sisi mereka dikenal dengan kesalehannya, ketaatannya, dan zuhud.

Namun, di sisi lain, mereka adalah orang-orang yang sebetulnya bodoh dalam masalah agama. Mereka dengan sengaja membuat-buat hadits palsu yang disandarkan kepada Nabi, untuk mendorong umat Islam agar rajin beribadah, lebih dekat kepada Allah, dan meninggalkan kenikmatan duniawi yang sementara. Orang-orang yang dikenal sebagai zuhud dan ahli ibadah ini banyak membuat hadits palsu dalam masalah fadha`il Al-Qur`an dan keutamaan amal-amal tertentu.[19]

 

Kalau mereka ditanya kenapa mereka membuat-buat hadits palsu, mereka mengatakan, “Kami tidak mendustakan Nabi, tetapi kami berdusta untuk Nabi.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata,

“Ini adalah kesempurnaan bodohnya mereka, minimnya akal mereka, dan banyaknya kefasikan serta kedustaan mereka. Sesungguhnya Nabi tidak membutuhkan orang lain untuk melengkapi dan menyempurnakan syariatnya.”[20]

Lalu, bagaimana cara kita mengetahui bahwa hadits itu palsu atau tidak?

Imam Abul Farj Abdurrahman Ibnul Jauzi (w. 597 H) memberikan tips yang cukup jitu tapi mudah,

“Apabila engkau melihat suatu hadits yang bertentangan dengan akal sehat, atau menyalahi Al-Qur`an dan Sunnah shahihah, atau bertentangan dengan kaedah baku yang telah ditetapkan para ulama; maka ketahuilah bahwa itu adalah hadits palsu.”[21]

 

Imam Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qayyim (w. 751 H) menambahkan,

bahwa di antara ciri-ciri hadits palsu (maudhu’), yaitu; menyalahi peristiwa sejarah yang sudah terjadi, hadits-hadits yang diriwayatkan orang-orang Syiah Rafidhah tentang keutamaan ahlul bait, dan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh kelompok Murji`ah.[22]

 

Selanjutnya, jika yang mereka maksud dengan “hadits adalah buatan manusia,” yaitu bahwa para imam hadits itu sendirilah adalah yang membuat-buat hadits yang terdapat dalam kitab hadits mereka;[23] maka ini lebih konyol lagi!

Memangnya, kaum muslimin dan para ulamanya ketika itu pada ke mana? Apa mereka akan mendiamkan begitu saja orang yang membuat-buat ribuan hadits dan menyandarkannya kepada Nabi?

Lagi pula, siapa yang sanggup membuat hadits sebanyak itu dalam berbagai persoalan dari sejak bangun tidur hingga akan beranjak tidur lagi, yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesama manusia, plus kabar masa lalu dan yang akan datang secara detil dan terperinci?

Dan, kenapa dalam kitab-kitab hadits itu banyak sekali terdapat hadits yang sama dan dalam masalah yang sama, padahal yang ‘membuat’ adalah orang yang berbeda? Orang yang berakal niscaya akan berpikir, bahwa di sana pasti ada satu sumber yang sama-sama dipakai sebagai rujukan dalam hadits-hadits tersebut, yaitu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.


[1] Yang terkenal dalam masalah ini, adalah tasyahhud Ibnu Mas’ud, tasyahhud Ibnu Abbas, dan tasyahhud Umar bin Al-Khathab Radhiyallahu Anhum.

[2] Ini lebih aneh lagi. Sesuatu yang ada dasarnya, malah mereka ganti dengan sesuatu yang tidak ada dasarnya, yang tak lebih dari hawa nafsu semata.

[3] Misalnya, hadits-hadits dalam masalah mandi Jum’at. Dalam hal ini, hadits yang menyatakan wajibnya mandi Jum’at lebih kuat daripada yang menyatakan cukup berwudhu saja.

[4] Biasanya, ini adalah hadits-hadits dalam masalah nasikh mansukh. Misalnya, hadits tentang larangan menulis hadits dan bolehnya menulis hadits.

[5] Misalnya, dalam masalah kewanitaan dan rumah tangga. Dalam hal ini, hadits-hadits dari para istri Nabi didahulukan.

[6] Misalnya, hadits Nabi kepada Salim maula Hudzaifah dalam masalah menjadi anak sesusuan setelah dewasa dan jumlah susuannya.

[7] Biasanya, ini adalah hadits-hadits yang berkaitan dengan fikih. Misalnya, hadits tentang jari telunjuk ketika duduk tasyahhud; digerakkan atau tidak.

[8] Misalnya, hadits tentang minum sambil duduk atau berdiri, dimana minum sambil duduk lebih utama, tapi boleh minum sambil berdiri.

[9] Al-Ba’its Al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum Al-hadits li Al-Hafizh Ibni Katsir/Syaikh Ahmad Muhammad Syakir/hlm 148/Maktabah Dar At-Turats, Kairo/Cetakan ke-3/1979 M – 1399 H.

[10] As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/hlm 341, mengutip dari Al-Ghazw Al-Fikri/hlm 275.

[11] Ibid. hlm 327.

[12] Dan, di antara generasi tabi’in yang terkenal dengan usahanya membukukan Sunnah, yaitu Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri.

[13] Imam An-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menukil pendapat dari banyak ulama yang menyebutkan bahwa ini adalah hadits mutawatir, diriwayatkan oleh hampir seluruh imam hadits dari enam puluh orang sahabat lebih.

[14] Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an/Syaikh Manna’ Al-Qaththan/hlm 59.

[15] Ibid, hlm 55.

[16] Al-Kifayah fi ‘Ilm Ar-Riwayah/Al-Khathib Al-Baghdadi/hlm 119.

[17] As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/DR. Salim Ali Al-Bahnasawi/hlm 76.

[18] Al-Kirmani ini bermadzhab Hanafi. Sebagaimana diketahui, bahwa dalam madzhab Hanafi; tidak mengangkat tangan ketika akan ruku’.

[19] Lihat; Difa’ ‘An Al-Hadits An-Nabawi/DR. Ahmad Umar Hasyim/hlm 81 – 84 secara ringkas.

[20] Al-Ba’its Al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits li Al-Hafizh Ibni Katsir/Syaikh Ahmad Muhammad Syakir/hlm 66.

[21] Ibid, hlm 65.

[22] Op. cit. no. 61 hlm 93.

[23] Dengan kata lain; Shahih Al-Bukhari adalah hadits-hadits ciptaan Imam Al-Bukhari, Shahih Muslim adalah karangan pribadi Imam Muslim, dan seterusnya.

VI. Hadits Bertentangan dengan Al-Qur`an

 

Orang inkar Sunnah dengan segala kebodohan dan kesesatannya mengatakan bahwa banyak hadits yang bertentangan dengan Al-Qur`an. Mereka benar-benar menutup mata (atau memang Allah telah membutakan mata mereka?) bahwa fakta yang sesungguhnya bukanlah pertentangan antara hadits dengan Al-Qur`an, melainkan Sunnah datang untuk menjelaskan sebagian isi Al-Qur`an yang masih samar, dan memerinci sebagian hukum dalam Al-Qur`an yang disebutkan secara global. Bahkan, ada pula Sunnah yang menasakh (menghapus) ayat Al-Qur`an. [1]

Mereka pun menyodorkan sejumlah hadits yang mereka anggap bertentangan dengan Al-Qur`an.

Misalnya,

  1. Hadits tentang shalat lima waktu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,[2]

خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ .

(متفق عليه عن طلحة بن عبيد الله)

“Lima kali shalat dalam sehari semalam.” (Muttafaq Alaih dari Thalhah bin Ubaidillah)

 

Menurut mereka, hadits ini dan hadits-hadits lain tentang kewajiban shalat lima waktu bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا .

“Dirikanlah shalat ketika matahari tergelincir hingga gelap malam dan (dirikan pula) shalat fajar.[3] Sesungguhnya shalat fajar itu disaksikan (oleh malaikat).” (Al-Israa`: 78)[4]

 

Dalam ayat ini sama sekali tidak disebutkan shalat lima waktu. Allah hanya menyebutkan tiga waktu shalat dalam Al-Qur`an. Jadi, menurut mereka, hadits tentang shalat lima waktu bertabrakan dengan Al-Qur`an!

 

2. Hadits Nabi tentang kadar zakat mal 2,5 %.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنِّي قَدْ عَفَوْتُ لَكُمْ عَنْ صَدَقَةِ الْخَيْلِ وَالرَّقِيقِ وَلَكِنْ هَاتُوا رُبُعَ الْعُشْرِ مِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا دِرْهَمًا .

(رواه ابن ماجه عن علي بن أبي طالب)

“Sesungguhnya aku telah memaafkan kalian dari zakat kuda dan budak. Tetapi, berikanlah dua setengah persen, dari setiap empat puluh dirham; satu dirham.” (HR. Ibnu Majah dari Ali bin abi Thalib)[5]

 

Hadits ini bertentangan dengan ayat,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا .

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (At-Taubah: 103)

Dalam ayat ini, dan dalam banyak ayat tentang perintah zakat dalam Al-Qur`an, Allah sama sekali tidak menentukan bahwa kadar zakat adalah dua setengah persen. Jadi, hadits tentang zakat ini bertentangan dengan Al-Qur`an!

 

3. Hadits tentang haramnya menikahi suami ibu susuan dan anak-anak dari saudara sesusuan.

Dalam hal ini Nabi bersabda,

يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ .

(رواه البخاري عن ابن عباس)

“Diharamkan karena sesusuan sama seperti yang diharamkan karena nasab.” (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas)[6]

Hadits ini bertentangan dengan firman Allah berikut,

وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ .

“Dan ibu-ibu yang menyusui kalian dan saudara-saudara perempuan kalian yang sesusuan.” (An-Nisaa`: 23)

Dalam ayat ini, yang diharamkan hanyalah ibu yang menyusui dan saudara-saudara perempuan yang sesusuan. Tetapi, dalam hadits di atas, maka suami si ibu yang menyusui pun menjadi tidak boleh menikahi anak perempuan yang disusui oleh istrinya.

Begitu pula dengan anak-anak dari saudara-saudara sesusuan, itu pun juga tidak boleh dinikahi. Dengan demikian, hadits ini bertabrakan dengan Al-Qur`an!

4. Hadits tentang hukuman rajam bagi orang berzina yang telah menikah.

Ini adalah hadits mutawatir.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللَّهِ الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ اغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا قَالَ فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَتْ . (متفق عليه عن أبي هريرة وزيد بن خالد الجهني)

“Demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh akan aku putuskan urusan kalian berdua berdasarkan Kitab Allah. Budak perempuan dan  kambing harus kamu kembalikan. Anakmu harus dicambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun. Pergilah, hai Unais, temui istri orang ini. Jika dia mengaku, maka rajamlah dia.” Maka, Unais pun pergi menemui perempuan tersebut, dan dia mengaku. Lalu, Nabi memerintahkan agar perempuan itu dirajam, dan dirajamlah dia. (Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al-Juhani)[7]

Hadits ini bertentangan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat An-Nur tentang ketentuan hukuman bagi pezina,

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ .

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina; maka cambuklah masing-masing seratus kali cambukan. Dan janganlah rasa kasihan kepada keduanya mencegahmu untuk menegakkan agama Allah.” (An-Nur: 2)

Dalam ayat ini, jelas-jelas disebutkan bahwa hukuman bagi orang yang berzina adalah seratus kali cambukan. Sama sekali tidak ada kata-kata yang menyebutkan bahwa orang berzina yang telah menikah hukumannya adalah rajam. Jadi, hadits di atas bertentangan Al-Qur`an!

 

Bantahan

Demikianlah apa yang dikatakan orang-orang inkar Sunnah tentang Sunnah Nabi. Alasan dan sarana apa pun yang kira-kira bisa dipakai untuk menyerang Sunnah akan mereka lakukan. Mereka menutup mata, tidak mau tahu, dan menyelewengkan makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ .

“Dan Kami menurunkan Al-Qur`an kepadamu untuk menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)

Bagaimanapun juga, dengan segala keterbatasannya, manusia tidak mungkin mampu menerapkan ajaran agama ini tanpa bimbingan dan petunjuk dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Termasuk, dalam memahami Al-Qur`an pun manusia membutuhkan penjelasan dan contoh konkrit dari utusan-Nya, apa maksud ayat ini dan bagaimana aplikasinya.

Semudah-mudahnya Al-Qur`an dipahami, tetap saja masih banyak ayat-ayat yang butuh keterangan lebih lanjut dan perincian yang lebih detil. Allah tidak mungkin meninggalkan begitu saja kepada manusia untuk menerjemahkan sesuka hatinya dalam berinteraksi dengan Al-Qur`an. Ibarat undang-undang, Al-Qur`an perlu juklak (petunjuk pelaksanaan) dalam penerapannya yang tak lain adalah Sunnah Rasul-Nya.

Hadits-hadits tentang shalat lima waktu, kadar zakat dua setengah persen (rubu’ul ‘usyr), perempuan yang haram dinikahi karena sesusuan, rajam, dan semua hadits lain yang dituduh bertabrakan dengan Al-Qur`an, tidak lain adalah penjelasan Al-Qur`an itu sendiri. Dan, Sunnah Rasul adalah juga wahyu Allah yang menjelaskan wahyu Allah dalam Al-Qur`an. Selama suatu hadits terbukti keshahihannya berasal dari Nabi, maka itu adalah juga hukum Allah yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan.

 

Berkaitan dengan posisi Sunnah di hadapan Al-Qur`an, DR. Salim Ali Al-Bahnasawi menyebutkan bahwa ada tiga hal dalam hal ini yang mesti diperhatikan, yaitu:[8]

  1. Terkadang Sunnah datang sebagai penegas apa yang terdapat dalam Al-Qur`an. Inilah yang biasa disebut sebagai Sunnah muakkadah. Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, bahwa Nabi bersabda, “Berbuat baiklah kalian kepada istri-istri kalian.”[9] Hadits ini menegaskan firman Allah, “Dan Perlakukanlah mereka dengan baik.”[10]
  2. Terkadang Sunnah berfungsi sebagai penjelas Al-Qur`an. Inilah dia hadits-hadits yang memerinci berbagai hukum dalam Al-Qur`an yang masih bersifat global. Contohnya adalah hadits-hadits dalam masalah shalat, zakat, puasa, haji, muamalah, hudud, dan sebagainya. Sunnahlah yang menjelaskan –misalnya– berapa kali shalat dalam sehari, jumlah rakaat, waktu-waktunya, tatacaranya, dan seterusnya.
  3. Terkadang Sunnah pun berdiri sendiri dengan suatu hukum yang didiamkan atau tidak terdapat dalam Al-Qur`an. Contohnya adalah hukuman rajam bagi orang berzina yang sudah menikah, dimana Al-Qur`an hanya menyebutkan hukuman seratus kali dera bagi pezina yang belum menikah.

 

Dalam A’lam Al-Muwaqqi’in, Imam Ibnul Qayyim berkata, “Adapun Sunnah, ia memiliki tiga peran pokok di sisi Al-Qur`an.

1.  membenarkan Al-Qur`an dari segala segi. Dengan demikian, Al-Qur`an dan Sunnah sama-sama berada di atas satu koridor hukum yang saling menguatkan ketika dijadikan sebagai dalil dalam berbagai permasalahan.

2. Sunnah menjadi penjelas sekaligus menafsirkan apa yang dimaksud oleh Al-Qur`an.

3. Sunnah dalam posisi mewajibkan sesuatu dimana Al-Qur`an mendiamkan kewajibannya, dan mengharamkan sesuatu yang mana dalam Al-Qur`an belum disebutkan keharamannya.”[11]

 

 

VII. Hadits Merupakan Saduran dari Umat Lain

Yang mengherankan, orang-orang inkar Sunnah ini pandai sekali dalam masalah ajaran-ajaran umat sebelum kita yang termaktub dalam Bibel.[12] Mereka lebih menguasai Bibel daripada Sunnah! Dalam hal ini, mereka punya satu tujuan busuk yang nyata; membuktikan bahwa Sunnah Nabi yang terdapat dalam kitab-kitab hadits adalah saduran dari umat lain. Atau katakanlah, saduran dari Bibel (Al Kitab).

 

Sejumlah contoh kasus yang sering mereka kemukakan, di antaranya yaitu:

  1. Kerudung Penutup Kepala[13]

Mereka mengatakan, bahwa kerudung kepala bagi perempuan bukanlah ajaran Nabi karena tidak terdapat dalam Al-Qur`an. Yang terdapat dalam Al-Qur`an adalah perintah untuk menutup dada, bukan menutup kepala. Sebab, kepercayaan menutup kepala ini adalah saduran dari kitab Bibel yang diambil oleh para ulama Islam masa lalu dan dikatakan sebagai hadits Nabi.

Ajaran memakai kerudung kepala ini terdapat dalam kitab Bibel, 1 Korintus, Bab 11:

[1 Kor 11:5] “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.”

[1 Kor 11:6] “Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahawa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.”

[1 Kor 11:10] “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.”

[1 Kor 11:13] “Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?”

Jadi, perintah untuk perempuan supaya mereka menutupi kepalanya adalah dari Bibel. Kepercayaan ini telah meresap ke dalam kepercayaan Islam dan sekarang menjadi perkara yang wajib diamalkan. Dan malangnya, orang-orang Kristen sendiri tidak mengikuti ajaran Bibel, kaum perempuannya tidak menutup kepala. Justru oran Islamlah yang mengamalkan ajaran Bibel tersebut!

 

2. Khitan[14]

Menurut orang-orang inkar Sunnah yang mengaku sebagai ahlul Qur`an atau Qur`aniyyun, ajaran khitan adalah saduran dari kepercayaan umat lain. Sebab, dalam Al-Qur`an sama sekali tidak ada perintah Allah untuk berkhitan. Akan tetapi, justru ajaran khitan ini terdapat dalam Bibel. Perjanjian Penyunatan di dalam Bibel menyatakan:

[Kej 17:14] “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”

[Kej 17:24] “Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya.”

Menurut orang inkar Sunnah, dari Perjanjian Penyunatan inilah para ulama kaum muslimin saat itu mengadopsi kepercayaan khitan ini dan memasukkannya ke dalam ajaran Islam, untuk kemudian mengatakannya sebagai hadits Nabi. Padahal, Nabi sama sekali tidak mengajarkan masalah khitan dan tidak memerintahkannya. Sebab, dalam Al-Qur`an tidak ada ayat tentang khitan.

 

3. Memelihara Jenggot

Orang-orang inkar Sunnah mengatakan, bahwa memelihara janggut bagi laki-laki bukanlah ajaran agama Islam. Dalam Al-Qur`an tidak pernah disinggung masalah. Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali tidak pernah menyuruh kaum-kaum laki umat Islam untuk memelihara atau memanjangkan jenggot.

Ini bukanlah ajaran Al-Qur`an dan bukan pula ajaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dalam kitab Bibel disebutkan dengan jelas:

[Imamat 1:27] “Janganlah kamu mencukur tepi rambut kepalamu berkeliling dan janganlah engkau merusakkan tepi janggutmu.”

[Imamat 21:5] “Janganlah mereka menggundul sebagian kepalanya, dan janganlah mereka mencukur tepi janggutnya, dan janganlah mereka menggoresi kulit tubuhnya.”

[2 Samuel 10:5] “Hal ini diberitahukan kepada Daud, lalu disuruhnya orang menemui mereka, sebab orang-orang itu sangat dipermalukan. Raja berkata; Tinggallah di Yerikho sampai janggutmu itu tumbuh, kemudian datanglah kembali.”

 

4. Kata “Amin”

Orang-orang inkar Sunnah mengatakan bahwa kata “amin” yang selalu kita baca ketika shalat dan berdoa adalah saduran dari Bibel. Dalam Al-Qur`an sama sekali tidak ada kata “amin,” termasuk dalam surat Al-Fatihah, tidak ada kata amin di sana.

Dan, Allah tidak pernah memerintahkan umat Islam untuk membacanya. Namun, justru kata “amin” ini bisa kita dapatkan dalam Bibel. Tak kurang dari 50 kali kata “amin” ini diulang dalam Bibel, yaitu di:

Num 5:22.27 Num 5:22.28 Deut 27:15.40 Deut 27:16.17 Deut 27:17.15 Deut 27:18.18 Deut 27:19.23 Deut 27:20.25 Deut 27:21.17 Deut 27:22.27 Deut 27:23.17 Deut 27:24.16 Deut 27:25.19 Deut 27:26.22 1Kgs 1:36.10 1Chr 16:36.18 Neh 5:13.42 Neh 8:6.14 Neh 8:6.15 Pss 41:13.13 Pss 41:13.15 Pss 72:19.15 Pss 72:19.17 Pss 89:52.7 Pss 89:52.9 Pss 106:48.19 Jer 28:6.6 Mark 16:20.24 Rom 1:25.26 Rom 9:5.26 Rom 11:36.19 Rom 15:33.9 Rom 16:27.13 1Cor 14:16.20 1Cor 16:24.10 2Cor 1:20.18 Gal 1:5.10 Gal 6:18.13 Eph 3:21.19 Phil 4:20.12 1Tim 1:17.19 1Tim 6:16.26 2Tim 4:18.25 Heb 13:21.33 Heb 13:25.7 1Pet 4:11.46 1Pet 5:11.10 2Pet 3:18.28 Jud 1:25.26 Rev 1:6.22.[15]

 

Bantahan

Ada-ada saja tuduhan yang dilancarkan oleh kelompok sesat inkar Sunnah ini. Mereka selalu saja mencari dan mencari alasan pun apa yang bisa dipakai untuk menyerang Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Apa mereka tidak membaca fakta sejarah[16] bahwa Yahudi dan Kristen berasal dari sumber yang sama dengan agama Islam? Adalah wajar jika ada ajaran-ajaran yang sama antara Islam dan umat-umat lain yang datang sebelumnya.

Akan tetapi, hal ini sama sekali bukan berarti hadits-hadits itu merupakan saduran dari umat lain. Sebab, setiap hadits pasti ada sanadnya. Terbaca dengan jelas di sana, bahwa si perawi hadits menerima hadits dari si fulan dari si anu dan seterusnya.

Sekiranya rentetan pembawa berita (baca; sanad) ini terus bersambung hingga ke Nabi tanpa terputus, dan semua pembawa berita ini diakui kredilitasnya, maka itu adalah hadits shahih yang harus diterima. Adapun jika sanad hadits tersebut tidak bersambung sampai ke Nabi atau di antara orang-orang yang meriwayatkannya terdapat ada orang yang kurang kredibel,[17] maka otomatis haditsnya akan ditolak.

Lalu, kapan dan di mana Imam Al-Bukhari[18] (dan imam-imam hadits yang lain) mengadopsi hadits-haditsnya dari Bibel? Dan, kepada siapa Imam Al-Bukhari belajar Bibel? Kemudian, apakah kaum muslimin pada waktu itu tidak ada satu pun yang mengetahui bahwa hadits-hadits yang ditulis oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya itu adalah saduran dari Bibel?

Apakah hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari (dan kitab-kitab hadits yang lain) semuanya adalah saduran dari Bibel ataukah hanya sebagiannya? Kalau semua hadits dalam Shahih Al-Bukhari adalah saduran dari Bibel; apakah Bibel itu sendiri lebih tebal dari Shahih al-Bukhari?[19]

Kalau hanya sebagian saja hadits-hadits Shahih Al-Bukhari yang disadur dari Bibel; lantas yang sebagiannya lagi disadur dari mana? Terus, apakah semua yang ada dalam Bibel itu dijiplak Imam Al-Bukhari ataukah hanya sebagiannya saja? Kalau semua yang ada dalam Bibel dijiplak oleh Imam Al-Bukhari; kenapa isi Shahih Al-Bukhari berbeda dengan Bibel? Dan, kalau hanya sebagiannya saja yang dijiplak; kenapa kitab Al-Bukhari lebih tebal dari Bibel?

Maaf, di sini kami tidak hendak membahas (sanad) hadits-hadits yang dituduh sebagai saduran dari umat lain, atau dari Bibel. Sebab, hal itu tidak ada gunanya bagi mereka (inkar Sunnah). Apalagi, mereka paling hanya sanggup menyebutkan sedikit saja contoh hadits-hadits yang dianggap sebagai saduran dari Bibel.

Yang jelas, apa pun yang terdapat dalam hadits dan terbukti keshahihannya berasal dari Nabi, maka itu adalah Sunnah Nabi dan itulah ajaran Islam. Tidak masalah jika harus sama dengan ajaran umat lain, karena Islam tidak pernah menafikan kebaikan apa pun yang berasal dari umat lain atau terdapat dalam ajaran agama lain. Bagaimanapun juga, nilai-nilai kebaikan adalah sesuatu yang bersifat universal.

Apakah orang-orang yang mengaku sebagai “Qur`aniyyun” itu menutup mata bahwa ajaran-ajaran akhlak yang terdapat dalam Al-Qur`an juga terdapat dalam kitab suci agama-agama lain?!

Kita tahu, bahwa ajaran untuk berbuat baik kepada sesama manusia, tolong menolong dalam kebaikan, larangan membunuh, larangan mencuri, larangan berzina, dan ajaran-ajaran kebaikan lain juga terdapat dalam kitab Weda, Tripitaka, dan Bibel. Namun kita semua sepakat, bahwa semua ajaran kebaikan tersebut yang terdapat dalam Islam bukanlah saduran dari ajaran agama lain.


[1] Ada perbedaan perbedaan pendapat dalam masalah ada tidaknya atau boleh tidaknya Sunnah menasakh Al-Qur`an ini. Contoh yang peling sering mengemuka, adalah dalam masalah waris, dimana Nabi mengatakan “Tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Abu Umamah Al-Bahili, dan Ahmad dan An-Nasa`i dari Amru bin Kharijah). Hadits ini menasakh ayat 180 surat Al-Baqarah. Lihat; An-Nasikh wa Al-Mansukh fi Al-Ahadits/Abu Hamid Ar-Razi/hlm 30/terbitan Al-Faruq Al-Haditsah, Kairo/Cetakan pertama/2002 M – 1423 H.

[2] Hadits tentang kewajiban shalat lima waktu ini sangat banyak sekali dan dengan berbagai perbedaan redaksi dikarenakan sering diucapkan Nabi dalam banyak kesempatan dan kepada orang yang berbeda-beda. Dan, ma’lum minad-din bidh-dharurah bahwa hadits dalam masalah ini adalah mutawatir. Sekadar contoh, cukup saya sebutkan satu saja.

[3] Mereka tetap menerjemahkannya dengan shalat fajar, bukan shalat subuh. Karena shalat subuh –menurut mereka– tidak ada dalam Al-Qur`an.

[4] Semestinya, jika mereka konsisten tidak menafsirkan Al-Qur`an kecuali dengan Al-Qur`an, mereka harus bisa menjelaskan apa arti kata “qur`an” dalam “qur`an al-fajr” dan apa arti kata “masyhuda” dalam ayat ini.

[5] Sunan Ibni Majah/Kitab Az-Zakat/Bab Zakat Al-Waraq wa Adz-Dzahab/hadits nomor 1780.

[6] Shahih Al-Bukhari/Kitab Asy-Syahadat/Bab Asy-Syahadah ‘Ala Al-Ansab wa Ar-Radha’/hadits nmor 2451. Hadits ini juga diriwayatkan oleh beberapa imam lain dari Aisyah Radhiyallahu Anha.

[7] Shahih Al-Bukhari/Kitab Asy-Syuruth/Bab Asy-Syuruth Allati La Tahillu fi Al-Hudud/hadits nomor 2523, dan Shahih Muslim/Kitab Al-Hudud/Bab Man I’tarafa ‘Ala Nafsihi bi Az-Zina/hadits nomor 3120. Hadits tentang rajam ini juga diriwayatkan oleh sejumlah imam lain dari banyak sahabat.

[8] As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/hlm 41.

[9] HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Kitab An-Nikah/Bab Al-Wushatu bi An-Nisaa`/4787.

[10] An-Nisaa`: 19.

[11] A’lam (I’lam) Al-Muwaqqi’in/Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah/jilid 1/juz 2/hlm 271/Penerbit Maktabah Al-Iman, Manshurah – Mesir/Cetakan Pertama 1999 M – 1419 H.

[12] Dalam kamus-kamus Indonesia dan Inggris, ada yang mengartikan Bibel sebagai Injil (saja), dan ada juga yang mengartikannya sebagai gabungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

[13] Lihat; Ajaran Islam Daripada Bible/ http://www.e-bacaan.com/artikel_IslamBible.htm.

[14] Ibid.

[15] Lihat; http://www.angelfire.com/trek/bab/fdj4b.html.

[16] Dalam hal ini kita ‘dipaksa’ untuk berbicara dengan logika sejarah. Karena orang inkar Sunnah tidak mau tahu terhadap Sunnah Nabi dan pendapat para ulama.

[17] Entah karena lemah hafalannya, atau tercela akhlaknya (suka berbohong), atau kurang bagus agamanya, sebagaimana yang terdapat dalam ilmu al-jarh wat-ta’dil.

[18] Imam Al-Bukhari dan Abu Hurairah adalah dua sosok yang paling dibenci oleh orang-orang inkar Sunnah. Dua nama inilah yang selalu mereka sebut-sebut dan jelek-jelekkan ketika menyerang Sunnah. Dalam hal ini, mereka sama saja dengan Syiah.

[19] Ini baru perbandingan dengan satu kitab hadits saja, belum kitab-kitab hadits yang lain. Biasanya, Al Kitab (Bibel) hanya terdiri dari satu jilid saja. Sedangkan Shahih Al-Bukhari, terdiri dari dua sampai lima jilid. Tergantung cetakan dan terbitannya.

VIII.  Hadits Membuat Umat Islam Terpecah-belah

 

Di antara alasan yang sering dilontarkan kenapa mereka menolak Sunnah Nabi adalah karena hadits dianggap membuat umat Islam terpecah belah. Banyaknya hadits yang berbeda satu sama lain, membuat kaum muslimin pecah menjadi sejumlah golongan. Ada Ahlu Sunnah wal Jama’ah, Syiah, Khawarij, Muktazilah, Murji`ah, Qadariyah, Jabariyah, dan lain-lain. Belum lagi pecahnya Ahlu Sunnah dengan adanya berbagai madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, dan Zhahiriyah. Itu pun belum termasuk aliran tasawuf dengan berbagai tarekatnya.

Tuduhan orang inkar Sunnah dalam masalah inilah yang membuat mereka selalu mendengung-dengungkan istilah, “Satu Kitab, Satu Tuhan, dan Satu Umat!”[1] Mereka mengatakan, bahwa dengan hanya berpegang teguh pada Al-Qur`an sajalah umat Islam bisa bersatu dan tidak berpecah belah.

 

Bantahan

Sebelum menjawab lebih lanjut tuduhan orang-orang inkar Sunnah ini, kami ingin mengatakan kepada mereka, bahwa bisa saja kaum muslimin berbeda pendapat dalam mengapresiasi Sunnah Nabi dalam masalah-masalah tertentu. Akan tetapi, para ulama kaum muslimin sama sekali tidak pernah berbeda pendapat bahwa orang yang menolak Sunnah Nabi yang terbukti keshahihannya –secara sanad dan matan– adalah kafir, murtad, dan telah keluar dari agama Islam![2]

Menyikapi perbedaan dan perpecahan bahkan peperangan yang terjadi sesama kaum muslimin; Sunnah sama sekali tidak bisa disalahkan. Bagaimana kita mau menyalahkan Sunnah sementara mereka yang punya masalah saja tidak pernah menyalahkan Sunnah?

Apa orang-orang inkar Sunnah ini lebih mengetahui apa yang terjadi di antara kaum muslimin yang bertikai daripada mereka sendiri yang mengalami? Apa mereka (inkar Sunnah) memang sengaja menjadikan Sunnah sebagai kambing hitam atas perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam?

Berbagai perselisihan dan pertikaian yang terekam dalam sejarah, baik pada masa sahabat ataupun sesudahnya, pemicunya tidak lepas dari faktor politis, atau kesalahpahaman, kekuasaan, fanatisme kesukuan, fanatisme golongan, dan perbedaan dalam menyikapi suatu masalah.

Pertikaian yang terjadi antara Ali dan Aisyah dalam Perang Jamal, antara Ali dan Muawiyah dalam Perang Shiffin, antara Muawiyah dan Hujr bin Adi, antara Husain bin Ali dan Yazid bin Muawiyah, antara Marwan bin Al-Hakam (dan anaknya, Abdul Malik bin Marwan) versus Abdullah bin Az-Zubair, dan seterusnya; semuanya bukan dikarenakan Sunnah.

Tidak ada satu pun yang menyebutkan bahwa pertikaian mereka disebabkan Sunnah. Bahkan, sesungguhnya mereka tidak berpecah belah. Mereka tetap dalam satu kesatuan sebagai bagian dari umat Islam. Sebab, mereka tidak berselisih paham dalam masalah Al-Qur`an dan Sunnah Nabi.

Munculnya Khawarij, Syiah, dan Muktazilah pada saat itu pun bukan dikarenakan Sunnah. Khawarij muncul karena kekecewaan mereka atas peristiwa tahkim antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Dikarenakan kebodohan dan hawa nafsunya, Khawarij pun menyatakan diri berlepas tangan dari semua orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim.

Bahkan, mereka mengafirkan semua pihak yang terlibat. Padahal, banyak sahabat utama yang terlibat dalam peristiwa tahkim tersebut. Sementara itu, tidak ada satu orang sahabat pun yang ikut dalam kelompok Khawarij. Tidak heran, jika kemudian Khawarij ini menjadi golongan yang menolak Sunnah Nabi. Bagaimana tidak, jika para sahabat mereka kafirkan semuanya, lalu melalui siapa mereka mendapatkan Sunnah Nabi?

Dari mana mereka mendapatkan hadits-hadits Nabi? Justru, lebih tepat jika dikatakan bahwa mereka yang menolak Sunnah Nabilah (inkar Sunnah) sesungguhnya yang memecah belah umat Islam ini.

Demikian pula halnya dengan Syiah dan Muktazilah. Kemunculan dua kelompok ini pun bukan dikarenakan Sunnah. Bahkan, sebagaimana kami singgung dalam pembahasan awal buku ini tentang akar sejarah inkar Sunnah; bahwa Syiah dan Muktazilah (termasuk Khawarij) adalah tiga kelompok besar yang mengingkari Sunnah.

Tiga kelompok ini –di samping orientalis– mempunyai andil signifikan dalam kemunculan dan perkembangan inkar Sunnah babak berikutnya. Sebab, secara ide dasar, kelompok-kelompok ini mempunyai kesamaan dalam hal penolakannya terhadap Sunnah.

Adapun apabila yang dimaksud oleh orang-orang inkar Sunnah adalah adanya berbagai madzhab fikih dalam Ahlu Sunnah wal Jama’ah, maka yang  harus dimengerti adalah,

a. bahwa para imam madzhab sama sekali tidak pernah menolak Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

b. para imam madzhab tidak pernah menolak suatu hadits yang terbukti keshahihannya bersumber dari Nabi.

c. dan ini yang terpenting, bahwasanya para imam madzhab (dan para pengikutnya) hanya berbeda pendapat dalam masalah-masalah yang bersifat furu’iyah (cabang) saja, bukan dalam masalah-masalah yang prinsipil.

 

DR. Muhammad Abul Fath Al-Biyanuni menyebutkan empat sebab –secara global– terjadinya ikhtilaf (perbedaan) pendapat ini, yaitu:[3]

  1. Perbedaan dalam masalah menentukan kepastian suatu hadits apakah benar-benar bersambung sampai ke Nabi atau tidak. Sebab, terkadang ada hadits yang sampai kepada seorang imam, tetapi hadits tersebut tidak sampai kepada imam yang lain. Dan, hal ini berkaitan dengan perbedaan masing-masing imam dalam menentukan dipercaya tidaknya atau lemah tidaknya salah seorang perawi yang terdapat dalam jalur sanad.
  2. Perbedaan dalam memahami nash. Karena terkadang suatu nash atau hadits mengandung kata-kata tertentu yang memiliki dua makna atau lebih. Atau, terkadang di sana terdapat kata-kata tertentu yang maknanya masih global dan belum terperinci. Atau, bisa juga berpulang kepada perbedaan kemampuan dan bidang keahlian masing-masing imam.
  3. Perbedaan dalam cara menggabungkan dan menguatkan antara sejumlah hadits yang berbeda dalam satu masalah. Sekalipun suatu hadits sudah diketahui keshahihannya dan jelas maknanya, namun jika hadits tersebut bertentangan dengan hadits lain yang juga shahih dan jelas maknanya, maka diperlukan suatu ijtihad untuk menentukan mana hadits yang harus didahulukan. Di sinilah terkadang terjadi perbedaan persepsi di antara para imam.
  4. Perbedaan dalam masalah kaedah ushul fikih yang dipergunakan dalam beristimbat. Sebab, masing-masing imam berbeda dalam masalah ini. (1) Ada yang menjadikan perkataan atau fatwa sahabat sebagai hujjah. (2)  Ada yang lebih mengutamakan praktik yang dilakukan penduduk Madinah. (3) Ada yang lebih mendahulukan pendapat daripada hadits dhaif. (4) Dan ada pula yang memperhatikan perbuatan si perawi; apakah sama dengan hadits yang diriwayatkannya atau berbeda.

Jadi, adanya perbedaan tersebut adalah sesuatu yang memang terjadi dikarenakan suatu sebab yang jelas. Akan tetapi, perbedaan tersebut bukanlah perpecahan dus bukan pula dikarenakan Sunnah.

Hanya orang yang mengingkari Sunnah saja yang berani mengambinghitamkan Sunnah.

Adapun pengikut Sunnah, maka dia tidak akan pernah menyalahkan Sunnah sebagai penyebabnya.

Bagaimanapun juga, perbedaan yang terjadi antarsesama manusia adalah sunnatullah. Perbedaan adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. DR. Yasir Burhami berkata, “Dalil-dalil qath’i dari Al-Qur`an dan Sunnah menegaskan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang pasti terjadi antarsesama anak manusia. Dan, itu sudah menjadi ketentuan Allah atas mereka.

Allah Ta’ala berfirman,

 

Dan tidaklah manusia itu dulunya melainkan hanya satu umat saja, tetapi kemudian mereka berselisih. Dan, kalau saja bukan karena kalimat Tuhanmu yang telah lalu, niscaya Dia akan memutuskan apa yang diperselisihkan di antara mereka.’[4]

Jadi, dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kalimat-Nya yang telah lalu dan keputusan-Nya yang pertama kali ketika menciptakan makhluk, adalah tidak memutuskan (siapa benar siapa salah dalam) perbedaan yang terjadi di antara mereka saat itu juga.”[5]

Kenapa orang-orang inkar Sunnah mesti heran dengan perbedaan yang terjadi di antara kaum muslimin? Bukankah mereka mengaku ahlul Qur`an? Apakah mereka tidak menemukan dalam Al-Qur`an ayat-ayat tentang perbedaan pendapat ini?[6] Nabi Musa saja pernah berselisih dengan Nabi Harun.[7] Nabi Musa juga pernah salah paham dengan Nabi Khidhr.[8] Dan, Nabi Dawud juga pernah berbeda pendapat dengan anaknya, Nabi Sulaiman.[9]

Lagi pula, Sunnah sendiri menyuruh umat Islam untuk selalu bersatu dan mewanti-wanti agar jangan berpecah-belah. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ . (رواه أحمد ومسلم ومالك عن أبي هريرة)

“Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal pada kalian dan tidak menyukai tiga hal. Dia suka jika kalian menyembah-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun (1). Hendaknya kalian berpegang teguh pada tali Allah semuanya (2) dan janganlah kalian  berpecah-belah. Dan, Dia tidak menyukai pada kalian; suka bergosip, banyak bertanya, dan boros.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Malik, dari Abu Hurairah)[10]

Dalam hadits lain disebutkan,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً . (متفق عليه عن ابن عباس)

“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak disukai pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Sebab, orang yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal saja, lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” (Muttafaq Alaih dari Ibnu Abbas)[11]

Dua hadits ini sekadar contoh. Betapa masih banyak hadits lain lagi yang memerintahkan kaum muslimin agar bersatu dan melarang berpecah-belah. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin Sunnah dituduh sebagai penyebab terpecah-belahnya umat?

 

IX.  Hadits Membuat Umat Islam Mundur dan Terbelakang

Menurut orang-orang inkar Sunnah, sesungguhnya hadits-hadits tentang mukjizat Nabi, takdir, adzab kubur, pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, kisah-kisah yang bagaikan dongeng, cerita-cerita tentang akhir zaman, syafaat Nabi di akhirat, dan hal-hal ghaib lainnya, membuat kaum muslimin mundur dan terbelakang sehingga tidak bisa maju berkembang bersaing dengan umat-umat lain.

 

Bantahan

Bisa saja orang-orang inkar Sunnah mencari-cari alasan ini untuk menolak Sunnah, karena pada dasarnya mereka memang mengingkari Sunnah. Namun, setidaknya ada tiga hal yang mesti dipaparkan di sini untuk mematahkan tuduhan mereka. Yang pertama, tentang hadits-hadits yang dianggap membuat umat Islam mundur dan terbelakang. Kedua, penjelasan tentang apa sesungguhnya sebab-sebab yang membuat umat Islam mundur. Dan ketiga, bukti bahwa Sunnah justru mendorong kaum muslimin untuk maju, selalu menuntut ilmu, kritis, dan senantiasa cerdas dalam menganalisa suatu masalah. Dengan demikian akan terbukti bahwa sesungguhnya Sunnah sama sekali bukanlah penyebab mundurnya umat Islam.

Adapun tentang hadits-hadits dalam berbagai hal ghaib, mukjizat Nabi, dan yang sulit diterima oleh akal sebagaimana disebutkan di atas, maka sebetulnya Al-Qur`an pun banyak menyinggung masalah ini. Tentang mukjizat Nabi, misalnya, Al-Qur`an menyebutkan sebagiannya.

Di antaranya yaitu:[12]

1. Ketika Nabi dikepung para pemuda dari berbagai suku di Makkah pada malam hijrah, namun beliau bisa lolos karena Allah membutakan mata mereka.[13]

2. Isra`nya Nabi dari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam waktu semalam.[14]

3. Terbelahnya bulan ketika penduduk Makkah meminta Nabi untuk memperlihatkan mukjizatnya kepada mereka.[15]

4. Selamatnya Nabi bersama Abu Bakar di dalam Gua Tsaur ketika hijrah padahal orang-orang kafir yang mengejar mereka sudah berada di mulut gua tetapi tidak melihat.[16]

5. Turunnya tiga ribu malaikat pada Perang Badar.[17]

- Dan lain-lain.

Demikian pula dalam masalah takdir, adzab kubur, syafaat Nabi, dan seterusnya. Sesungguhnya Al-Qur`an sudah menyinggungnya. Baik itu secara detil ataupun global. Jadi, tidak mengherankan sekiranya banyak hadits-hadits Nabi dalam masalah ini, mengingat posisi Sunnah yang memang mempunyai otoritas untuk itu.[18]

Kalaupun kemudian ada sebagian kaum muslimin yang keliru dalam memahami dan mengaplikasikan hadits-hadits Nabi dalam masalah ini (masalah takdir, misalnya), sehingga membuatnya mundur dan terbelakang, maka itu berpulang kepada orang yang bersangkutan. Sama sekali bukan dikarenakan Sunnahnya.

Apakah hanya karena hadits-hadits itu sulit diterima oleh akal sehat lalu dijadikan kambing hitam? Memangnya, apa semua urusan agama ini harus bisa dicerna oleh akal? Sungguh, Iblis-lah makhluk yang pertama kali mencoba mengakali agama ini. Dia mencoba membandingkan bahwa dirinya yang terbuat dari api lebih baik daripada Nabi Adam Alaihissalam.[19]

Umar bin Al-Khathab pernah berkata kepada hajar aswad, “Sesungguhnya aku ini tahu kalau kau ini adalah batu yang tidak bisa memberi manfaat ataupun mudharat. Demi Allah, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menciummu, aku pun tak akan menciummu.”[20] Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata, “Sekiranya agama ini didasarkan rasionalitas semata, niscaya bagian bawah khuf[21] lebih layak untuk diusap daripada atasnya.”[22]

DR. Yusuf Al-Qaradhawi berkata,

“Sunnah adalah sumber syariat kedua setelah Al-Qur`an untuk mengetahui perkara-perkara ghaib. Hal ini tidak termasuk dalam cakupan ilmu-ilmu yang bisa dianalisa melalui eksperimen, atau kontemplasi, atau melalui penelitian ilmiah. Sebab, sumber masalah ini adalah wahyu Ilahi, yang dikhususkan Allah untuk para rasul-Nya. Allah mengaruniakan pengetahuan masalah ghaib ini kepada mereka sebagaimana yang Dia kehendaki. Terkadang ada sebagian di antara perkara ghaib ini yang Dia tutupi dari seluruh makhluk-Nya, sehingga tidak ada siapa pun yang mengetahuinya, baik malaikat ataupun nabi,”[23]

 

Selanjutnya, masalah kemunduran dan keterbelakangan umat Islam dibandingkan umat-umat lain pada masa kini, juga bukan disebabkan Sunnah.

Menurut DR. Abdul Wahab Ad-Dailami,[24] ada delapan faktor yang menyebabkan kemunduran dan keterbelakangan umat Islam, yaitu :

  1. Banyaknya orang Arab yang murtad sepeninggal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
  2. Munculnya fanatisme kelompok, suku, dan golongan, yang memecah kesatuan umat.
  3. Penyerbuan dan penghancuran yang dilakukan Pasukan Tartar atas kaum muslimin pada masa Bani Abbasiyah.
  4. Pendudukan dan penyerangan Tentara Salib dan Eropa.
  5. Dibuatnya undang-undang konvensional buatan manusia, yang wajib dipatuhi warga negara setempat.
  6. Perang peradaban dan pemikiran yang gencar dilakukan oleh Barat dan orientalisme.
  7. Adanya pemerintahan kaum muslimin yang otoriter. Dan,
  8. Lenyapnya Khilafah Islamiyah.

 

Jadi, keberadaan Sunnah sebagai sumber hukum utama setelah Al-Qur`an Al-Karim sama sekali tidak menyebabkan kemunduran dan keterbelakangan umat Islam.

Terakhir, perlu dibuktikan di sini, bahwa Sunnah justru sangat mendorong umatnya untuk senantiasa maju dan terus berkembang. Sekadar contoh, bagaimana mungkin Sunnah membuat umat Islam mundur, sementara Sunnah mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah wajib?

Dalam hadits disebutkan,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ .

(رواه ابن ماجه عن أنس بن مالك)

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik)[25]

Selain itu, dalam Sunnah juga terdapat hadits-hadits tentang pemeliharaan lingkungan dan kebersihan, perhatian terhadap masalah kesehatan dan kedokteran, ilmu kejiwaan, pendidikan ekonomi, pendidikan politik, strategi dan etika perang, peradaban, ajaran mendidik keluarga dengan baik, hubungan antarsesama manusia, dan lain-lain. Jadi, bagaimana mungkin Sunnah membuat kaum muslimin mundur dan terbelakang?

http://makmureffendi.wordpress.com/2011/02/20/argumentasi-golongan-ingkar-sunnah/

 

 
1 Komentar

Posted by pada Oktober 14, 2011 in Uncategorized

 

One response to “inkar sunnah

  1. Gusman Andani

    Desember 14, 2012 at 2:43 pm

    debatnya mantep banget……….
    manusia bisa menyesatkan orang……
    sekarang saya yakin…….
    ALLAH lah yang memimpin kita kepada jalan yang lurus…..
    PIKIRKANLAH……..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: