RSS

KEBANGKITAN UMAT ISLAM DI INDONESIA

15 Feb

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada mulanya gerakan pembaharuan yang dilakukan kelompok Muslim modernis di Indonesia timbul akibat pengaruh gerakan pemurnian di Jazirah Arab, India, dan sebgainya. Dengan mengikuti alam pembaharuan yang sedang berkembang di awal abad ke- 19 itu muncullah berbagai organisasi yang dikelola oleh kelompok modernis Islam di Indonesia. Keinginan untuk melakuakn pembaharuan itu muncul ketika banyak kalangan terpelajar Islam kembali dari Arab Saudi. Mereka berusaha menghadirkan Islam dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman. Karena menurut mereka hanya dengan cara demikian umat Islam dapat keluar dari kolonialisme Barat, keluar dari kemiskinan dan kebodohan serta dapat mengembalikan citra Islam yang sebenarnya.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar Mahasiswa mengetahui bagaimana kebangkitan umat Islam di Indonesia.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kebangkitan umat Islam di Indonesia?
2. Organisasi-organisasi apa saja yang berperan dala kebangkitan Umat Islam serta siapa tokoh-tokohnya?

BAB II
PEMBAHASAN
KEBANGKITAN UMAT ISLAM DI INDONESIA

A. Motivasi dan Semangat Jihad
Perjuangan umat Islam Indonesia dalam melawan penjajah terbentang dalam waktu yang sangat panjang. Bahkan boleh dikatakan, justru ilham perlawanan terhadap penjajah berasal dari ajaran Islam. Gagasan-gagasan itu telah terbentuk jauh ketika Nusantara masih terdiri dari kerajaan-kerajaan, ketika perlawanan masih bersifat kedaerahan, maupun ketika kesadaran perlawanan telah menjelma menjadi kesadaran nasional.
Perang Aceh, yang dipimpin oleh para tokoh Islam Aceh, ide perlawanannya berasal dari keinginan mengusir orang kafir yang dianggap pembawa maksiat di Aceh. Begit juga perang Diponegoro yang di pimpin oleh yang belajar Islam di Tegalrejo, melihat kedatangalan Belanda identik dengan kedatangan kemaksiatan. Oleh karena itu, harus di lakukan gerakan amar ma’ruf nahi munkar, dengan cara mengusir Belanda, karena sumber kemaksiatan itu memang dari Belanda. Belanda menanamkan car-cara hidup kebelanda-belandaan dalam lingkungan keraton. Bahkan menghapus fungsi keraton sebagai lembaga pelindung dan pengayom agama Islam.
Begitu juga motiv peperangan di Minangkabau, yang di kenal dengan Perang Paderi. Salah seorang tikoh utamanya Imam Bonjol, melihat kehadiran Belanda di Minangkabau selain mendatangkan kesengsaraan bagi rakyat yang memang telah hidup sengsara, juga melanggengkan, memelihara dan melindungi kehidupan maksiat di kalangan masyarakat Minangkabau. Belanda melindungi praktik judi, menyabung ayam dan balam, dan lain-lain. Oleh karena itu, kehadiran Belanda dimanapun dapat di pandang sebagai kehadiran kemaksiatan. Oleh karena itu memeranginya merupakan perwujudan semangat jihad fi sabilillah yang di perintahkan oleh agama Islam. Semangat ini terus terpelihara pada setiap zaman dan setiap generasi dalam perjuangan umat Islam di Indonesia. Babak perjuangan perlawanan terhadap kolonial Belanda ini berlangsung dalam hampir tiga abad.
Tema pokok gerakan reformis padri ( dan usaha pembaharuan lainnya di Indonesia) adalah kembali kepada ortodoksi sunni. Karenanya banyak yang mensinyalir bahwa gerakan paderi di dilhami oleh aliran Wahabi yang saat itu mengnalami kesuksessan di Timur Tengah. Dugaan ini semakin menguat karena pada perkembangannya nanti ketika Wahabi tidak lagi memiliki pengaruh, paderi pun melunak sikapnya, menjadi toleran pada adat dan kompeni.
Gerakan pembaharuan Paderi yang dipandang sebagai reislamisasi masyarakat Minangkabau menuntut agar agama selalu murni dan relevan, abadi serta sanggup memberikan arah dan corak sikap masyrakat penganutnya. Namun karena tidak ada kesesuaian para penganut dalam menghadapkan diri kepada kepercayaan yang selama ini di yakini mengakibatkan ttimbulnya konflik sosial dan intelektual dalam peristiwa pembaharuan sikap terhadap agama, agaknya hal ini disebabkan keluasaan dan sikap serba mencakup dari agama sehungga embuka kemungkinan bagi penekanan yang berbeda dari para penganutnya.
Akhirnya patut kiranya untuk di ungkap bahwa dampak yang paling berarti dari episod Padri adalah assimilasi yang terjadi antara doktrin agama ke dalam adat Minangkabau sebagai pola perilaku ideal. Adat direkodifikasi, posisi agama diidentifikasi lebih jelas sebagai satu-satunya standar perilaku.
Selain ketiga perang tersebut ( perang Aceh, Diponegoro, dan perang paderi) yang telah terkenal itu, ada juga perang yamg lebih banyak termotivasi pada agama di samping juga motivasi lainnya, yaityu perang di Cilegon.
Pada tanggal 9 juli 1888, H.Wasid dan kelompok-kelompoknya telah memulai mengadakan pemberontakan bersenjata. Adapun mengenai motivasinya, dari penelitian Sartono Kartodirjo dapat disimpulkan bahwa motivasi pmberontakan Cilegon ini adalah campuran antara motif ekonomi, politik, sosial, dan agama.
Ada yang mengatakan bahwa latar belakang terjadinya pemberontakan tersebut adalah dengan alasan-alasan sebagai berikut:
1. Patoh dan Jaksa serta pegawai Cilegon sependapat dengan orang Belanda untuk tidak mengizinkan lagi orang mukmin shalat di masjid, dan mereka berusaha memusnahkan agama bangsa.
2. Pajak yanng terlalu tinggi, terutama pajak dagang. Dan lain-lain.

B. Gerakan Modern
Istilah pergerakan modern dalam perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajah adalah ditandai dikenalnya perlawanana melalui organisasi yang bergerak dalam bidang sosial, pendidikan, dan kemudian politik.
Inspirasi perlawanan modern umat Islam di Indonesia terutama ketika umat Islam Indonesia mulai menyerap gagasan-gagasan pembaruan Islam yang telah lebih dulu di sebarkan di Timur Tengah dan di Asia, yang diserap secara baik dikalangan tokoh Islam dan para haji di Indonesia. Gerakan modern atau organisasi itu pada mulanya didirikan untuk menanggulangi beberapa masalah sosial seperti penglolaan anak yatim piatu dan pendidikan. Muhammadiyah, misalnya, pada awalnya sangat prihatin dengan kemiskinan dikalangan umat dan banyaknyaorang yang terlantar. Dari keprihatinannya terhadap orang terlantar, kemudian Muhammadiyah banyak mendirikan sekolah dan panti-panti yatim piatu.
Muhammadiyah sebagai gerakan modernis Islam menurut Mitsno Nakamura adalah merupakan organisasi Islam yang paling representatif di dalam sejarah Indonesia.
Ada beberapa organisasi sosial keagamaan, baik yang secara terbuka memproklamirkan diri sebagai pembaharu maupun yang malu-malu mengakuinya, yang berdiri di Jawa dan telah memberikan konstribusinya dalam perkembangan Islam di Indonesia seperti Al-Irsyad, Persatuan Islam dan Muhammadiyah. Dari tiga organisasi pembaharu tersebut, Muhammadiyah adalah yang memiliki akar budaya yang cukup kuat.
Muhammadiyah muncul dari kepompong kultur jawa. Para pemukanya adalah orang-orang yang dekat denmgan kalangan keraton jawa atau sekurang-kurangnyaanak seorang wedono seperti KH. Hasyim (1874-1944). Adapun proyeksi wajah Muhammadiyah tak akan jauh berkisar dari profil KH. Achmad Dahlan (1868-1923).
Dalam memasyarakatkan wawasan keagamaannya Muhammadiyah cenderung menitik beratkan pada transformasi nilai-nilai lewat prasarana kultural yang tidak menimbulkan goncangan, misal pendidikan dan tablig. Oleh karena itu sering terkesan bahwa muhammadiyah sebagai organisasi pembaharu yang berlanggam Jawa, penuh bunga-bunga kurang tegas seperti Persis dan Al-Irsayad. Itulah kelemahan Muhammadiyah. Tapi disisi lain, justru disitu pula letak kelebihan Muhammadiyah sehingga sayapnya merentang luas dari Sabang sampai Merauke.
Berdirinya Muhammadiyah secara garis besar didorong dua motivasi. Pertama karena kasusu aqidah dan syariah yang sedang dihadapi umat Islam dan kedua sikap pemerinatah Belanda yanng menekan penduduk bumi putera dalam berbagai segi kehidupan.
Untuk merealisasikan cita-cita pembaharuan ini Muhammadiyah dengan segenap cabangnya melakukan gerakan sosial melalui lembaga-lembaga pendidikan, dakwah, gerakan pemuda, kepanduan, usaha-usaha sosial, rumah sakit, rumah yatim, dan sebagainya. Penolong kesengsaraan umum (PKU), misalnya melakukan usaha untuk menolong orang miskin dan yatim piatu dengan mendirikan rumah yatim piatu dan klinik. Organisasi wanita dari Muhammadiyah, bernama Aisyiah pada mulanya adalah organisasi yang berdiri sendiri, tetapi kemudian atas nasehat seorang angota penting Muhammadiyah, bernama Haji Muchtar, organisasi ini bergabung dengan Muhammadiyah. Aisyiah sangat menekankan pentingnya kedudukan wanita sebagai ibu,karena pendidikan pertama yang diterima seorang anak adalah di rumah, maka wanita yang ibu-ibu mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk kemajuan masyarakat melalui asuhan dan didikan terhadap anak-anaknya. Dalam tahun berikutnyna Aisyiah juga memberikan perhatian kepada anak remaja perempuan, dan untuk ini dibangun pula suatu bagian khusus yang bernama Nasyiatul Aisyiah. Sementara itu NU memfokuskan kegiatannya kepada penggalangan dan pembinaan pesantren.
Nahdhatul Ulama sebagai Jam’iyah Diniyah, didirikan pada tahun 1926 di Surabaya. Faktor yang mendukung didirikannya organisasi ini adalah adanya faktor internal dan faktor eksternal. Faktr internalnya yaitu NU merupakan reaksi dari gerakan modernis saat itu, pertama reaksi dari politisasi agama yang dilakukan oleh Sarikat Islam dan kedua merupakan reaksi terhadap gerakan pembaharuan Muhammadiyah. Sedang faktor eksternalnya adalah perluasan dari komite hijaj serta seruan kepada Ibnu Sa’ud, agar kebiasaan beragama secara tradisi di teruskan.
Berbeda dengan SI dan Mhammadiyah, NU sebenarnnya bertujuan untuk melestarikan lembaga-lembaga dan tradisi-tradisi Islam agraris dengan solidaritas mekanis komunalnya.
Yang menjadi kekhawatiran NU pada masa awal berdirinya adalah permasalahan Ukhuwah Islamiyah dan penindasan yang dilakukan penjajah saat itu.
Pada periode 1926 – 1952; NU lebih menekankan pada aspek keyakinan. Concern NU pertama pada masalah agama, yaitu mengembangkan ajaran agama yang dapat mempertahankan otoritas ulama, dan kedua concern pada masalah politik, artinya pluralitas partai politik. NU terjun kedunia politik pada masa revolusi kemerdekaan yang tergabung dalam partai Masyumi. Dan pada parrtai ini pula NU mengalami kekecewaan, karena Majlis Syuro tempat ulama-ulama NU duduk diubah statusnya dari badan legislatif menjadi hanya sebagai badan penasehat saja. Oleh karenanya pada 1952 NU sah menjadi partai politik sendiri dan memenangkan pemilu pada awal Orde baru.
Setelah memenangkan pemilu, NU menambah agenda program, pada awalnya concern pada pluralitas politik bergeser menjadi potensi otentik bagi pembangunan dan melakukan sentralisasi/pemusatan pada kegiatan kemahasiswaan.
Kekuatan NU ketika itu berpangkal pada kekuatan ulama sebagai sarana/wadah untuk mempertahankan dan memelihara pesantren dan kekuatan politisi yang terdiri dari pemuda terpelajar yang sudah berfikiran maju dan terlepas dari tradisi akar-akar tradisi Islamiyah.
Berawal dari pembentukan organisasi dan lembaga pendidikan Islam di Sumatra Barat, kebangkitan Islam semakin berkembang dengan dibentuknya organisasi-organisasi dengan untuk alat perjuangan, dengan kecenderungan yang berbeda-beda, sesuai perbedaan latar belakang para pendirinya.
Di Bogor 1909 (Jawa Barat) dan Solo 1911 berdiri Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi. Di Majalengka didirikan Persarikatan Ulama Majalengka (Jawa Barat) 1911, Muhammadiyah di Yogyakarta 1912, Persatuan Islam di Bandung 1920, Nahdhatul Ulama di Surabaya 1926, Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Bukittinggi 1930. Selain organisasi-organisasi yang bertujuan menangani masalah sosial, agama, dan pendidikan itu, juga berdiri organisasi-organisasi politik seperti kelanjutan dari SDI, Persatuan Muslimin Indonesia 1932, dan Partai Islam Indonesia 1938.
Organisasi-organisasi modern yang di bentuk pada awal abad ke 20 ini, dalam beberapa hal secara langsung ada hubungannya dengan gerakan-gerakan perlawanan terhadap penjajah yang di lancarkan pada abad sebelumnya, yang juga di pelopori oleh tokoh-tokoh Islam, seperti oleh Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dan lain-lain.
Tumbuhnya gerakan-gerakan politik ini juga telah mengilhami gerakan politik yang didasari rasa nasionalisme di kalangan pemuda yang tidak secara langsung berkonfrontasi fisik dengan kolonial, tetapi merasakan benar adanya pengaruh kolonial dalam hidup mereka.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Organisasi-organisasi yang berperan dalam kebangkitan umat Islam di Indonesia antara lain: di Bogor 1909 (Jawa Barat) dan Solo 1911 berdiri Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi. Di Majalengka didirikan Persarikatan Ulama Majalengka (Jawa Barat) 1911, Muhammadiyah di Yogyakarta 1912, Persatuan Islam di Bandung 1920, Nahdhatul Ulama di Surabaya 1926, Persatuan Tarbiyah Islamiyah di Bukittinggi 1930. Selain organisasi-organisasi yang bertujuan menangani masalah sosial, agama, dan pendidikan itu, juga berdiri organisasi-organisasi politik seperti kelanjutan dari SDI, Persatuan Muslimin Indonesia 1932, dan Partai Islam Indonesia 1938.
Organisasi-organisasi modern yang di bentuk pada awal abad ke 20 ini, dalam beberapa hal secara langsung ada hubungannya dengan gerakan-gerakan perlawanan terhadap penjajah yang di lancarkan pada abad sebelumnya, yang juga di pelopori oleh tokoh-tokoh Islam, seperti oleh Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, dan lain-lain.


DAFTAR PUSTAKA

Yatim Badri, Sirojuddin. 1997. Sejarah Kebudayaan Islam 1. Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Dan Universitas Terbuka.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Februari 15, 2013 in makalahku, SKI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: