RSS

kewajiban berlaku adil

15 Feb

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Adil terdiri dari dua suku kata, tapi berjuta kesulitan untuk melaksanakannya. Bahkan penulis katakan bahwa hampir tidak ada manusia yang bisa melaksanakan adil dengan sempurna. Entah kenapa adil sangat sulit dilakukan.
Islam sangat menjunjung tinggi keadilan dalam setiap aspek kehidupan. Keadilan merupakan ciri atau kunci ajaran Islam. Setiap kaum muslimin memperoleh hak dan kewajiban yang sama. Hak disini dimaknai bahwa setiap muslim akan mendapatkan keadilan hukum yang sama. Dengan keadilan, orang akan merasa aman dan nyaman.
Keadilan ini tersurat dalam landasan hukum Islam baik alQuran maupun hadits. Keadilan kehidupan sosial, politik, keamanan dan lainnya. Banyak di dalam sendi kehidupan kita harus meletakkan keadilan seperti pernikahan, perceraian, rujuk, menetapkan putusan dan lain-lain.
Tidak bisa dibayangkan jika didunia ini tanpa ada keadilan. Semua manusia akan saling curiga dimana tidak ada orang yang bisa dipercaya. Akhirnya sebuah kekacauan akan terjadi. Peran seorang pemimpin dalam memimpin kepemimpinannya akan diuji apakah pemimpin itu adil atau tidak.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah materi al-Qur’an Hadits, juga sebagai penambah wawasan mahasiswa tentang keadilan, baik itu berupa landasan keadilan maupun kewajiban berlaku adil.
C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan adil?
2. Apa saja macam-macam keadilan?
3. Bagaimana cara berlaku adil?
4. Mengapa kita wajib berlaku adil?
5. Apa saja landasan keadilan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Adil
Adil menurut bahasa adalah tidak berat sebelah, tidak memihak atau manyamakan yang satu dengan yang lain.
Adil menurut istilah adalah seimbang atau tidak memihak dan memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada pengurangan, dan meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada aniaya, dan mengucapkan kalimat yang benar tanpa ada yang ditakuti kecuali terhadap Allah swt saja.
Pengertian adil menurut para Ulama adalah sebagai berikut:
1. Adil dalam arti “sama”
Dalam arti memperlakukan sama terhadap orang-orang, tidak membedakan hak-haknya.
Firman Allah dari Q.S. an-Nisa (4) ayat 58 berikut :
 •           ••     •      •     
Artinya :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.(Q.S. an-Nisa : 58)
2. Adil dalam arti “seimbang”
Keseimbangan sangat diperlukan dalam suatu kelompok yang didalamnya terdapat beragam bagian yang bekerja menuju satu tujuan tertentu. Dengan terhimpunnya bagian-bagian itu, kelompok tersebut dapat berjalan atau bertahan sesuai tujuan kehadirannya.
Firman Allah dalam surat al-Infithar (82) ayat 6-7 berikut :
           
Artinya :
Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. (Q.S. al Infithar :6-7)
Kata عدل dalam ayat tersebut berarti seimbang. Tubuh manusia akan normal selama bagian-bagian tubuh itu semua bekerja atau berfungsi sesuai tujuan kehadirannya.
3. Adil dalam arti “Perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”
Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau “memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat”. Lawannya adalah kezaliman dalam arti melanggar hak-hak pihak lain. Pengertian ini melahirkan keadilan sosial.
4. Adil yang dinisbatkan kepada Ilahi
Adil disini artinya memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu”. Keadilan Ilahi merupakan rahmat dan kebaikanNya. Keadilannya mengandung konsekwensi bahwa rahmat Allah swt. tidak tertahan untuk diperoleh, sejauh makhluk itu dapat meraihnya.
B. Macam-Macam Perilaku Adil Dan Menunjukkan Sikap Adil
Berlaku adil dapat diklasifikasikan kepda empat bagian, yaitu sebagai berikut:
1. Berlaku adil kepada Allah SWT, yaitu menjadikan Allah SWT sebagi satu-satunya Tuhan yang memiliki kesempurnaan. Kita sebagai makhluk-Nya harus senantiasa tunduk dan patuh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.pada
2. Berlaku adil pada diri sendiri, yaiut menempatkan diri pribadi pada tempat yang baik dan benar. Diri kita harus terjaga dan terpelihara dalam kebaikan dan keselamatan, tidak menganiaya diri sendiri dengan menuruti hawa nafsu yang akibatnya dapat mencelakakan diri sendiri.
3. Berlaku adil kepada orang lain, yaitu menempatkan orang lain pada tempat yang sesuai, layak, benar, memberikan hak orang lain dengan jujur dan benar serta tidak menyakiti serta merugikan orang lain
4. Berlaku adil kepada makhluk lain, yaitu dapat memperlakukan makhluk Allah yang lain dengan layak sesuai syariat dan menjaga kelestariannya dengan merawat serta tidak merusaknya
Cara menunjukkan sikap adil kepada orang lain dapat dilakukan dengan
hal-hal berikut :
1. Memberikan rasa aman kepada orang lain dengan sikap ramah,sopan dan santun
2. Patuh pada perintah Allah dan melaksanakannya serta menjauhi larangan-Nya
3. Menjadi teladan dan menciptakan suasana yang kondusif,tenteram serta rukun
4. Bila bermitra harus saling menguntungkan dan memanfaatkan alam untuk kemaslahatan dan kebaikan hidup didunia dan diakhirat
5. Tidak sombong atau angkuh bila bergaul dengan masyarakat berbagai lapisan
6. Berpikiran positif ( positive thinking ), yaitu berprasangka baik terhadap orang-orang yang ada disekitarnya.
7. Selalu berbuat kebajikan atau kebaikan terhadap sesame, khususnya fakir miskin
8. Selalu menggunakan akal dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan
9. Tidak pilih kasih bila berkawan
10. Tidak membuat kerusakan, permusuhan dan kedengkian
11. Tidak mendahulukan emosi didalam menghadapi masalah, kumpulkan informasi selengkap mungkin dengan adil dan gunakan rujukan sesuai kehendak Allah SWT.
C.Kewajiban Berlaku Adil
wahai manusia bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah ta’ala memerintahkan berbuat adil dan mengabarkan bahwa Ia mencintai orang-orang yang adil. Allah ta’ala berfirman yang artinya :”Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan baik”. (AnNahl : 90) “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil”. (AlMaidah :42) Adil adalah sikap tengah-tengah dalam segala sesuatu dan keadilan adalah karakter yang mengharuskan seseorang menjaga diri dari hilangnya kehormatannya. Rasulullah صلى الله عليه و سلم berkata “Orang yang adil di sisi Allah di atas mimbar dari cahaya, mereka adalah orang-orang yang adil dalam hokum dan keluarga”. (HR. Muslim)
Sungguh kedudukan adil dalam Islam sangat agung dan pahalanya banyak di sisi Allah. Keadilan itu banyak macamnya dan tiap orang haruslah adil sesuai dengan tanggung jawabnya dalam kehidupan ini. Maka seorang pemimpin wajib adil terhadap rakyatnya. Allah ta’ala berfirman :
•           ••     •      •     

” Sesungguhnya Allah memerintahlan kamu menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan memerintah kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil, Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”. (AnNisa :58)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Tujuh golongan yang Allah lindungi dalam naungan ArsyNya pada hari kiamat yang tidak ada perlindungan selain perlindunganNya yaitu :pemimpin yang adil….”. (HR. Muslim) Wajib bagi Hakim adil dalam menghakimi manusia Allah ta’ala berfirman :” Putuskanlah perkara di antara mereka menurut hukum Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”. (AlMaidah :49) Allah ta’ala berfirman :”Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (pengganti nabi-nabi sebelumnya) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”. (Shad :26) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :Hakim itu ada tiga ; dua di neraka dan satu di surga. Hakim yang mengetahui kebenaran (AlQuran dan asSunnah) dan menetapkan dengannya maka ia di surga, Hakim yang mengetahui kebenaran tetapi tidak berhukum dengannya dan ia zhalim dalam menetapkan hukum maka ia di neraka, dan hakim yang tidak mengetahui kebenaran lalu menetapkan hukum di atas kebodohannya maka ia di neraka”. (HR.Abu Dawud dan lainnya, shahih). Akan tetapi apabila seorang hakim berniat adil dan mengikuti kebenaran serta berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya maka ia diberi pahala seandainya ia salah karena ia tidak berniat salah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :Jika seorang hakim menetapkan hukum dengan ijtihadnya kemudian benar maka ia mendapatkan dua pahala dan bila menetapkan hukum lalu salah maka ia mendapatkan satu pahala”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang tua juga wajib adil kepada semua anaknya dalam pemberiannya apakah lelaki atau perempuan. Ia tidak boleh memberi salah seorang anaknya dan membiarkan anaknya yang lain.
Suami diwajibkan adil dalam pemberian nafkah kepada istri-istrinya bila ia mempunyai lebih dari satu istri. Allah ta’ala berfirman :”Dan pergaulilah istri-istri dengan baik”. (alAnam :152) Maka suami wajib menyamakan pembagian nafkah, memberikan rumah dan hak-hak isti lainnya kepada istri-istrinya. Dan bila ia takut tidak bisa berbuat adil maka nikahilah seorang wanita saja. (AnNisa :3)
Seorang muslim juga wajib adil dalam berkata. Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Dan apabila kamu berkata dan berbuat maka berlaku adillah (pada tiap kondisi) kendatipun kepada kerabatmu:. (AlAnam :152) Yakni jika anda berkata maka haruslah adil jangan zhalim bahkan katakanlah kebenaran walaupun pahit apakah yang berkaitan dengan hak anda atau kewajiban anda, pada orang yang paling dekat dan paling anda cintai sebagaimana kata Allah ta’ala :” Hai orang-orang yang beriman, menjadilah kamu orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil”. (AlMaidah :8)
Allah تَعَالَى memerintahkan kita berbuat adil dalam perkataan dan perbuatan terhadap diri, kerabat dekat dan kerabat jauh. Ia memerintahkan adil untuk semua orang pada tiap waktu dan kondisi. Dan wajib bagi tiap muslim adil walau terhadap musuh-musuh sebagaimana yang Allah تَعَالَى katakana : “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam (pada perang alHudaibiah), mendorongmu melanggar hukum Allah dan mendhalimi kepada mereka di luar batas”. (AlMaidah :2) Yakni janganlah kebencian anda terhadap suatu kaum untuk meninggalkan keadilan, karena adil itu wajib bagi tiap orang muslim pada seluruh kondisi. Dengan keadilan langit-langit dan bumi menjadi tegak, keadilan itu dicintai oleh tiap jiwa, teraturnya kemaslahatan dan manusia aman dari pembunuhan, perampokan dan pelecehan kehormatan. Maka Allah تَعَالَى memerintahkan adil dalam mengqishash, orang yang menzhalimi dihukum sesuai aturan tanpa ditambah. Maka Ia berfirman “Dan balasan kejelekan adalah kejelekan yang setimpal”. (AsySyura :40) “Jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu”. (AnNahl :126) “Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu”.(AlBaqarah :194) dan kaum muslimin wajib mendamaikan di antara dua kelompok yang saling memerangi dengan adil. Allah تَعَالَى berfirman :” Jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah dan rasulNya, mendengar dan taat; jika golongan yang dhalim itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil (sampai golongan yang dhalim tidak berbuat dhalim lagi) dan berlaku adillah dalam semua urusanmu.
•    
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (AlHujurat : 9)
Dan kaum muslimin diperintahkan syariat memerangi para pemberontak sampai mereka kembali menerima hokum Allah ta’ala, bila mereka telah menerima hukum Allah maka kaum muslimin mendamaikan kedua kelompok yang berperang itu dengan adil hingga terjadilah keamanan dan kaum muslimin kembali saling mencintai dalam satu ikatan agama. Barakallahu li wa lakum fi Quranil Azhim, wa nafa’ani wa iyyakum bidzikrihi, innahu huwa sami’ul alim.
Inilah agama kita, agama yang tegak di atas keadilan pada semua hukum dan syaritanya. Allah ta’ala berfirman :” Kalimat robmu (Al Qur’an) telah sempurnalah, sebagai kalimat yang benar beritanya dan adil hukumnya”. (AlAnam :115). Islam tidak menetapkan kecurangan dan kezhaliman serta permusuhan serta tidak tergantung oleh seorang pun bahkan ia selalu adil di mana saja ia berada. Ia memerintahkan kita memenuhi janji meskipun dengan orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman yang artinya :” Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan yang telah kamu adakan perjanjian dengan mereka, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan terang-terangan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”.(AlAnfal :58) Yakni jika anda takut pada suatu kaum akan menghianati perjanjiannya maka batalkanlah perjanjian itu dengan cara anda mengabarkan pembatalan itu sehingga mereka tidak dalam sangkaan masih dalam perjanjian itu yang menyebabkan penghianatan dari pihak anda. Demikianlah sifat agama Islam, agama yang cocok untuk setiap waktu dan tempat. “Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Yusuf :40) Oleh karena itu orang-orang kafir yang hidup di bawah naungan agama Islam mereka mengakui keadilan, kesempurnaan dan kecocokannya dengan jaman. Maka dengan melihat Islam, di antara mereka ada yang beriman dan ada yang tetap memilih kekafiran setelah jelas kebenaran bagi mereka dikarenakan kesombongan dan penentangan hati. Kisah yang berkaitan dengan hal ini panjang, bagi yang ingin mengetahui dengan jelas maka bacalah buku-buku sejarah Islam yang ditulis para ulam Islam dan lihatlan sebagian pendapat yang benar dari pemikir-pemikir orang- barat tentang Islam.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2013 in al-Qur'an Hadits, makalahku

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: