RSS

membina persatuan dan persaudaraan

15 Feb

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mewujudkan persatuan antar umat Islam bukanlah sebuah mimpi atau angan-angan, akan tetapi ia adalah prinsip yang kokoh yang berbasis teks-teks al-Quran dan al-Hadis. Karenanya, setiap Ulama dan ilmuan muslim berkewajiban untuk mensosialisasikan serta mengamalkan ajaran ilahi yang agung ini.
Persatuan merupakan harapan mendalam dan utama umat Islam. Tidak ada seorang muslim yang sadar dan peduli yang tidak menginginkan kebangkitan kembali peradaban dan kejayaan Islam, dan setiap orang muslim meyakini bahwa di antara faktor dan elemen utama kebangkitan -kembali- peradaban besar agama Islam ialah persatuan, solidaritas dan kekompakan antar umat dan mazhab-mazhab Islam dalam rangka pengamalan dan kembali kepada ajaran-ajaran al-Quran. Dengan persatuan dan persaudaraan, kaum muslimin akan mampu berhadapan dengan kekuatan arogan dunia bahkan mengalahkannya.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu agar mahasiswa mengetahui pentingnya persatuan dan persaudaraan serta menerapkan dalam bersosial dan bermasyarakat.
C. Rumusan Masalah
a. Apa dalil yang menjelaskan tentang persatuan dan persaudaraan?
b. Bagaimana cara mewujudkan persatuan dan rasa persaudaraan?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Dalil-dalil Tentang Persatuan dan Persaudaraan

1. Surat al-Imran ayat 103
                         •           
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(Q.S Al-Imran:103)
Ibnu Jarir Ath Thabari berkata tentang tafsir ayat ini: Allah Ta’ala menghendaki dengan ayat ini, Dan berpeganglah kamu semuanya kepada agama Allah yang telah Dia perintahkan, dan (berpeganglah kamu semuanya) kepada janjiNya yang Dia (Allah) telah mengadakan perjanjian atas kamu di dalam kitabNya, yang berupa persatuan dan kesepakatan di atas kalimat yang haq dan berserah diri terhadap perintah Allah. [Jami’ul Bayan 4/30.]
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan. Mereka dijamin terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, sebagaimana tersebut banyak hadits tentang hal itu juga. Dikhawatirkan terjadi perpecahan dan perselisihan atas mereka. Namun hal itu telah terjadi pada umat ini, sehingga mereka berpecah menjadi 73 firqah. Diantaranya terdapat satu firqah najiyah (yang selamat) menuju surga dan selamat dari siksa neraka. Mereka ialah orang-orang yang berada di atas apa-apa yang ada pada diri Nabi dan para sahabat beliau.” [Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran:103.]
Al Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.” [Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159.]
Dalam surat Ali Imron ayat 103 ini Allah swt menjelaskan akan pentingnya persatuan antara sesama umat islam yang di dasari oleh rasa solidaritas serta loyalitas Ukhuwah Islamiyah. Sehingga Allah mengambil analog tali sebagai intrumen agar umat islam antara satu dengan yang lainnya saling berpegangan pada tali tersebut.
Makna berpegang teguhalah kamu sekalian, yakni upayakan sekuat tenaga untuk mengaitkan dari satu dengan yang lain dengan tuntunan Allah sambil menegakkan disiplin “kamu semua” tanpa kecuali. Sehingga kalau ada yang lupa, maka ingatkanlah dia, atau yang tergelincir maka bantulah dia bangkit agar semua dapat bergantung pada tali agama Allah. kalau kamu lengah atau ada salah seorang yang menyimpang, maka keseimbangan akan kacau dan disiplin akan rusak, karena itu bersatu padulah dan jangan bercerai-berai dan ingatlah nikmat Allah kepadamu. Bandingkanlah keadaan kamu sejak datangnya islam yang ketika itu kamu masih dalam masa jahiliah yang bermusuh-musuhan dengan ditandai terjadinya peperangan yang belangsung begitu lama. Maka Allah mempersatukan hati kamu pada satu jalan dan arah yang sama, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah yaitu dengan agama islam, orang-orang yang bersaudara; sehingga kini tidak ada bekas luka di hati kamu masing-masing. Sebagaimana disebutkan didepan ayat ini turun sebagai respon atas peristiwa yang terjadi antara suku Auz dan Khazraj yang pada mulanya adalah merupakan suku yang mewarisi tonggak permusuhan yang sangat kuat namun kehadiran Islam berhasil mendamaikan dan mempersatukan keduanya dengan menciptakan rasa cinta di hati mereka.
Nash Al-Qur’an ini sengaja menyebutkan hati tempat menyimpan perasaan dan jalinan-jalinan. Dia tidak mengatakan “Fa allafa bainakum maka Allah mempersatukan diantara kamu”, melainkan ditembusnya tempat penyimpanan yang dalam dengan mengatakan “fa allafa baina qulubikum, maka Allah mempersatukan hatimu”. Digambarkanlah hati-hati mereka itu sebagai satu berkas atau satu ikatan dan perjanjian. Nash ini juga melukiskan gambaran keadaan mereka sebagai sebuah pemandangan yang hidup dan bergerak seiring dengan gerak hati mereka, “kamu telah berada di tepi jurang neraka”, ketika mereka bergerak jatuh kedalam jurang neraka, tiba-tiba hati mereka melihat tangan Allah terentang untuk menjadi pegangan. Terlukislah keselamatan dan kebebasan setelah mereka di ambang bahaya dan hampir terjerumus.
Dari sekian tafsir di atas dapat ditarik benang merah bahwa persatuan umat islam akan terjalin dan dapat dirajut sepanjang masa, manakala umat islam antara satu dengan yang lainnya saling merajut tali persaudaraan yang didasari oleh rasa cinta dan kasih sayang seiman dan seagama.
Dalam hadisnya Rasulullah besabda yang artinya sebagai berikut:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam rasa saling cintanya dan saling menyayanginya, dan saling belas kasih di antara mereka, yaitu seperti satu tubuh. Ketika salah satu anggota tubuh ada yang menderita sakit, maka saling merasakanlah sebagian yang lain dengan rasa tidak dapat tidur dan merasa panas (Mufakat Ahli Hadits).
Oleh karenanya demi tegaknya syiar Islam umat islam dituntut untuk mempererat persatuan dan persaudaraan dengan Al-Qur’an dan Hadits sebagai dasar dan dasar-dasar filosofis yang menjadi spiritualnya.
2. Surat al-Hujurat ayat 10
       •    
Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.(Q.S al-Hujurat:10)
Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-benar kuat, lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab. Hal itu tampak dari: Pertama, digunakannya kata ikhwah—dan kata ikhwan—yang merupakan jamak dari kata akh[un] (saudara). Kata ikhwah danikhwan dalam pemakaiannya bisa saling menggantikan. Namun, umumnya kata ikhwah dipakai untuk menunjuk saudara senasab, sedangkan ikhwan untuk menunjuk kawan atau sahabat. Dengan memakai kata ikhwah, ayat ini hendak menyatakan bahwa ukhuwah kaum Muslim itu lebih daripada persahabatan atau perkawanan biasa.
Kedua, ayat ini diawali dengan kata innamâ. Meski secara bahasa, kata innamâ tidak selalu bermakna hasyr (pembatasan), kata innamâ dalam ayat ini memberi makna hasyr. Artinya, tidak ada persaudaraan kecuali antar sesama Mukmin, dan tidak ada persaudaraan di antara Mukmin dan kafir. Ini mengisyaratkan bahwa ukhuwah Islam lebih kuat daripada persaudaraan nasab. Persaudaraan nasab bisa terputus karena perbedaan agama. Sebaliknya, ukhuwah Islam tidak terputus karena perbedaan nasab. Bahkan, persaudaraan nasab dianggap tidak ada jika kosong dari persaudaraan (akidah) Islam.

B. Usaha Mempersatukan Umat Islam
Setiap masalah insya Alloh ada solusi begitu juga dengan permasalahan umat ini hanya akan selesai jika mengambil solusi sesuai dengan kaidah yang sebenarnya, berikut beberapa solusi untuk mempersatukan umat Islam.
1. Memutuskan Perkara Dengan Al Kitab dan As Sunnah.
                              
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An Nisa’:59).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata, “Allah memerintahkan untuk mengembalikan segala perkara yang diperselisihkan manusia -yang berupa ushuluddin dan furu’- kepada Allah dan RasulNya, yaitu kepada kitab Allah dan Sunnah RasulNya. Karena sesungguhnya, di dalam keduanya terdapat penyelesaian untuk seluruh perkara yang diperselisihkan. Mungkin dengan jelas di dalam keduanya, atau dengan keumumannya, atau isyarat, atau peringatan, atau pemahaman, atau keumuman makna, yang serupa dengannya dapat dikiaskan padanya. Karena sesungguhnya kitab Allah dan Sunnah RasulNya merupakan fondasi bangunan agama. Keimanan tidak akan lurus, kecuali dengan keduanya. Maka, mengembalikan (perkara yang diperselisihkan) kepada keduanya merupakan syarat keimanan.” (Tafsir Karimir Rahman).
2. Menetapi jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
Dan meninggalkan seluruh bid’ah agama; mengikuti Sunnah Rasullah SAW, mengikuti Sunnah dan pemahaman sahabat terhadap agama ini. Baik dalam perkara aqidah, ibadah, akhlaq, politik, ekonomi, dan seluruh sisi kehidupan beragama lainnya. Kemudian, menolak seluruh bid’ah. Karenabid’ah, sesungguhnya merupakan salah satu penyebab perpecahan terbesar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat. (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al ‘Irbadh bin Sariyah).
3. Ikhlas dan memurnikan mutaba’ah.
Ketika Nabi Yusuf mengikhlaskan untuk Rabbnya, Allah memalingkan darinya pendorong-pendorong keburukan dan kekejian.
Allah Ta’ala berfirman,
كَذلِكَ لِنَصْرِفُ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَآءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ
Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang dijadikan ikhlas. (QS Yusuf:24).
Oleh karena inilah ketika Iblis mengetahui bahwa dia tidak memiliki jalan (untuk menguasai) orang-orang yang ikhlas, dia mengecualikan mereka dari sumpahnya yang bersyarat untuk menyesatkan dan membinasakan (manusia). Iblis mengatakan,

فَبِعِزَّتِكَ لأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Demi kekuasaanMu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang iklash diantara mereka, (QS Shad:82-83).
Maka ikhlas merupakan jalan kebebasan, Islam sebagai kendaraan keselamatan, dan iman adalah penutup keamanan. [Al ‘Ilmu Fadhluhu Wa Syarafuhu, tansiq: Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi.]
4. Menuntut ilmu syar’i dan mendalami agama dari ahlinya.
Bergaul dengan ahli ilmu, meneladani akhlak, mengambil ilmu mereka dengan manhaj yang lurus merupakan langkah untuk menjauhi perpecahan dan menjaga persatuan. Dan para ulama itu akan selalu ada sepanjang zaman, sampai dikehendaki oleh Allah. Mereka itu adalah thaifah al manshurah (kelompok yang ditolong oleh Allah).

فَسْئَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS An Nahl:43)

Dari tulisan diatas dapat kita ambil pelajaran bahwa kita dilarang berselisih dalam agama, supaya perselisihan segera ditemukan solusi maka sebaiknya kita kembalikan kepada Allah dan Rasulullah (merujuk dari al-Qur’an dan As-Sunah).
Walau dalam keadaan apapun kita wajib bersikap baik kepada sesama muslim dan lapang dada menerima perbedaan, supaya terhindar dari permusuhan antar sesama umat Islam, yang tentu saja akan dimanfaatkan musuh untuk menggerogoti Islam, yang akhirnya kerugian besar yang didapat didunia maupun akhirat.

BAB III
PENUTUPAN

A. Kesimpulan
Dalam surat Ali Imron ayat 103 ini Allah swt menjelaskan akan pentingnya persatuan antara sesama umat islam yang di dasari oleh rasa solidaritas serta loyalitas Ukhuwah Islamiyah. Sehingga Allah mengambil analog tali sebagai intrumen agar umat islam antara satu dengan yang lainnya saling berpegangan pada tali tersebut.
Dalam surat Ali Imron ayat 103 ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-benar kuat, lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab.
Usaha Mempersatukan Umat Islam, yaitu:
1. Memutuskan Perkara Dengan Al Kitab dan As Sunnah.
2. Menetapi jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah
3. Ikhlas dan memurnikan mutaba’ah.
4. Menuntut ilmu syar’i dan mendalami agama dari ahlinya.

B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amin.


DAFTAR PUSTAKA

http://umatyangsatu.blogspot.com/2012/03/basis-persatuan-dalam-al-quran-dan.html

http://dulrohman.blogspot.com/2011/11/tafsir-surat-al-imran-ayat-103-solusi.html

http://fkimuikabogor.wordpress.com/2011/06/04/persaudaraan-islam-yang-hakiki-tafsir-qs-al-hujurat-49-10/

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2013 in al-Qur'an Hadits, makalahku

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: