RSS

Arsip Kategori: ilmu pendidikan Islam

KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam membicarakan masalah pendidikan menurut teori interaksi dari Klaus Mollenhauer kita temui masalah tujuan pendidikan. Dalam interaksi antara pendidikan dan pendidik orangn-orang yang pertama umumnya selalu mempumyai tujuan tertentu dengan pendidikan yang diberikannya. Tujuan itu bermacam-macam.

B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini ialah agar mahasiswa mengetahui apa saja konsep tujuan dalam pendidikan agama Islam.

C. Rumusan masalah

1. Apa saja konsep tujuan pendidikan Islam?
2. Bagaimana pendapat para pemikir Islam tentang tujuan pendidikan Islam?

BAB II
PAMBAHASAN
KONSEP TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM

A. Tujuan Umum Pendidikan Islam
Al-Abrasyi (1969: 71) dalam kajiannya tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan lima tujuan bagi pendidikan Islam, yaitu:
1. Untuk mengadakan pembentukan akhlaq yang mulia. Kaum muslimin dari dahulu kala sampai sekarang setuju bahwa pendidikan akhlaq adalah inti pendidikan Islam, dan bahwa mencapai akhlaq yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.
2. Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
3. Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi manfaat.
4. Menimbulkan semangat ilmiah pada pelajar dan memuaskan keingintahuan dan memungkinkan ia mengkaji ilmu demi ilmu itu sendiri.
5. Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknikal, dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu.
Nahlawy (1963: 67) menunjukkan empat tujuan umum dalam pendidikan Islam,yaitu:
1. Pendidikan akal dan persiapan pikiran.
2. Menumbuhkan potensi-potensi dan bakat-bakat asal pada kanak-kanak.
3. Menaruh perhatian pada kekuatan dan potensi generasi muda dan mendidik mereka sebaik-baiknya, baik lelaki maupun perempuan.
4. Berusaha untuk menyeimbangkan segala potensi-potensi dan bakat-bakat manusia.
Al-Jammali (1966: 82) menyebutkan tujuan-tujuan pendidikan yang diambilnya dari Al-Qur’an sebagai berikut:
1. Memperkenalkan kepada manusia akan tempatnya diantara makhluk-makhluk dan akan tanggung jawab perseorangannya dalam hidup ini.
2. Memperkenalkan kepada manusia akan hubungan-hubungan sosialnya dan tanggung jawabnya dalam jangka suatu sistem sosial.
3. Memperkenalkan kepada manusia akan makhluk (alam semesta), dan mengajaknya memahami hikmah Pemciptanya dalam menciptakannya, dan memungkinkan manusia untuk menggunakan atau mengambil faedah daripadanya.
4. Memperkenalkan kepada manusia akan pencipta alam maya ini.
Al-Buthi (1961: 102) pula menyebutkan tujuh macam sebagai berikut:
1. Mencapai keridaan Allah, menjauhi murka dan siksa-Nya dan melaksanakan pengabdian yang tulus ikhlas kepada-Nya.
2. Mengangkat taraf akhlak dalam masyarakat berdasar pada agama yang diturunkan untuk membimbing masyarakat kearah yang diridai oleh-Nya.
3. Memupuk rasa cinta tanah air pada diri manusia berdasarkan pada agama yang diturunkan untuk membimbing masyarakat kearah yang diridai oleh-Nya.
4. Memupuk rasa cinta tanah air pada diri manusia berdasar pada agama dan ajaran-ajaran yang dibawanya, begitu juga mengajar manusia kepada nilai-nilai dan akhlak yang mulia.
5. Mewujudkan ketentraman di dalam jiwa dan akidah yang dalam, penyerahan dan kepatuhan yang ikhlas kepada Allah SWT.
6. Memelihara bahasa dan ksusastraan Arab sebagai bahasa Al-Qur’an, dan sebagai wadah kebudayaan Islam yang paling menonjol, menyebarkan kesadaran Islam yang sebinarnya dan menunjukkan hakikat agama atas kebersihan dan kecermelangannya.
7. Mneguhkan perpaduan tanah air dan menyatukan barisan melalui usaha mnghilangkan perselisihan, bergabung dan kerjasama dalam ranngka prinsip-prinsip dan keprcayaan-kepercayaan Islam yang trkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

B. Tujuan Khusus Pendidikan Islam
Diantara tujuan-tujuan khususyang mungkin dimasukkan dibawah penumbuhan semangat agama dan akhlak adalah:
1. Memperkenalkan kepada generasi muda akan akidah Islam, dasar-dasarnya, asal usul ibadat dan cara-cara melaksanaknnya dengan betul, dengan membiasakan mereka berhati-hati mematuhi akidah-akidah agama dan menjalankan dan menghormati syiar-syiar agama.
2. Menumbuhkan kesadaran yang betul pada diri pelajar terhadap agama termasuk prinsip-prinsip dan dasar-dasar akhlak yang mulia.
3. Menanamkan keimanan kepada Allah pencipta alam, dan kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, dan hari akhirat berdasarkan pada paham kesadaran dan perasaan.
4. Menumbuhkan minat generasi mumda untuk menambah pengetahuan dalam adab dan pengetahuan keagamaan dan untuk mengikuti hukum-hukum agama dengan kecintaan dan kerelaan.
5. Menanamkan rasa cinta dan penghargaan kepada Al-Qur’an membacanya dengan baik, memahaminya, dan mengamalkan ajaran-ajarannya.
6. Menumbuhkan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan Islam dan pahlawan-pahlawannya dan mengikuti sejak mereka.
7. Menumbuhkan rasa rela, optimisme, kepercayaan diri, tanggung jawab, menghargai kewajiban, tolong menolong atas kebaikan dan takwa, kasih sayang, cinta kebaikan, sabar, berjuang untuk kebaikan, memegang teguh pada prinsip, berkorban untuk agama dan tanah air dan siap untuk membelanya.
8. Mendidik naluri, motivasi dan keinginan generasi muda dan menguatkannya dengan akidah nilai-nilai, dan membiasakan mereka menahan motivasinya, mengatur emosi dan membimbingnya dengan baik. Begtu juga mengajar mereka berpegang dengan adab sopan pada hubungan dan pergaulan mereka baik dirumah, sekolah atau dimana saja.
9. Menanamkan iman yang kuat kepada Allah pada diri mereka perasaam keagamaan, semangat keagamaan dan akhlak pada diri mereka dan menyuburkan hati mereka dengan rasa cinta, zikir, takwa, dan takut kepada Allah.
10. Membersihkan hati mereka dari rasa dengki, hasad, iri hati, benci, kekasaran, kezaliman, egoisme, tipuan, khianat, nifak, ragu, perpecahan, dan perselisihan. (Nahlawy, 1963: 163-164; A; – Masri, 1965: 244-245).
Ibn Khaldum membagi tujuan-tujuan pendidikan Islam kepada:
1. Mempersiapkan seseorang dari segi keagamaan.
2. Menyiapkan seseorang dari segi akhlak.
3. Menyiapkan sseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial.
4. Menyiapkan sseorang dari segi vokalsinal atau pekerjaan,.
5. Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran.
6. Menyiapkan seseorang dari segi kesenian.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pada tingkat tujuan umum dan tujuan khusus atau matlamat, banyak contoh dari penelitian-penelitian yang telah dibuat oleh para ahli pendidikan Islam telah dibentangkan dalam makalah ini. Tetapi perlu di ingat bahwa ini hanyalah beberapa contoh, guru-guru dan ahli pikir perancang pendidikanlah yang bertugas menciptakan matlamat-matlamat itu sesuai dengan tujuan akhir yaitu pembentukan pribadi khalifah.

DAFTAR PUSTAKA

Nur Uhbiyati.Ilmu Pendidikan Islam.Pustaka Setia:Bandung

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2013 in ilmu pendidikan Islam, makalahku

 

SISTEM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ada dua bentuk kegiatan pendidikan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dari kalangan ahli pendidikan Islam di Indonesia. Bentuk-bentuk itu hampir pasti mendukung usaha pendidikan agama Islam di Indonesia. Kegiatan pendidikan itu mempengaruhi orang untuk beragama Islam dan atau meningkatkan keislaman seseorang. Bentuk-bentuk yang dimaksud ialah pesantren kilat dan perguruan silat tenaga dalam.
Kedua bentuk ini mungkin saja pada suatu ketika akan berkembang sebagai suatu sistem pendidikan. Bentuk pertama lebih jelas sistemnya daripada bentuk kedua. Kedua bentuk ini sebenarnya amat menarik perhatian. Pesantren kilat berkembang secara luar biasa sejak tahun 1980-an. Bentuk ini semakin berkembang kearah pendidikan pesantren gaya lama, suatu perkembangan yang bukan mustahil menuju arah yang lebih benar. Perguruan silat tenaga dalam mengandung persoalan-persoalan yang amat pelik; diperlukan kacamata khusus untuk memahaminya, katakanlah diperlukan paradigma khusus untuk menelitinya: paradigma mistik.
B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu mengetahui apa yang dimaksud sistem pendidikan agama Islam serta bagaimana sistemnya.
C. Rumusan Masalah
1. Apakah sistem pendidikan agama Islam itu?
2. Apa saja bentuk-bentuk sistem pendidikan agama Islam?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem Pendidikan Islam
Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “sistema” yang artinya: suatu keseluruhan yang tersusun dari banyak bagian (whole compounded of several parts). Di antara bagian-bagian itu terdapat hubungan yang berlangsung secara teratur. Definisi sistem yang lain dikemukakan Anas Sudjana yang mengutip pendapat Johnson, Kost dan Rosenzweg sebagai berikut “Suatu sistem adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks.” Sedangkan Campbel menyatakan bahwa sistem itu merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
Dalam Islam, istilah pendidikan diyakini berasal dari bahasa Arab yaitu tarbiyah yang berbeda dengan kata ta’lîm yang berarti pengajaran atau teaching dalam bahasa Inggris. Kedua istilah (tarbiyah danta’lîm) berbeda pula dengan istilah ta’dzîb yang berarti pembentukan tindakan atau tatakrama yang sasarannya manusia. Walaupun belum ada kesepakatan di antara para ahli, dalam kajian ini yang dimaksud pendidikan Islam adalah al-tarbiyah, istilah bahasa Arab yang menurut penulis dapat meliputi kedua istilah di atas. Hal yang sama dikemukakan oleh Azyumardi Azra bahwa pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks Islam inhern dalam konotasi istilah tarbiyah, ta’lîm danta’dzîb yang harus dipahami secara bersama-sama.
Dari pemaparan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa pendidikan Islam berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sarana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara sesuai dengan ajaran Islam. Rumusan ini sesuai dengan pendapat Endang Saefudin Anshari yang dikutip Azra bahwa pendidikan Islam adalah proses bimbingan oleh pendidik terhadap perkembangan fisik dan psikis siswa dengan bahan-bahan materi tertentu dengan metoda tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu sesuai dengan ajaran Islam.
Berdasarkan uraian di atas, yang dimaksud sistem pendidikan Islam yaitu suatu kesatuan komponen yang terdiri dari unsur-unsur pendidikan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan sesuai dengan ajaran Islam.
(http://tutorialpai.mkdu.upi.edu/definisi-sistem-pendidikan-islam/)
B. Bentuk Sistem Pendidikan Islam Di Indonesia
1. Pesantren Kilat
Istilah pesantren pasti sudah dikenal oleh orang Indonesia. Itu adalah nama lembaga pendidikan Islam yang paling tua di Indonesia. Pada lembaga pesantren biasanya ada kiai, ada santri, ada kegiatan membaca kitab kuning, ada pondokan santri, ada masjid, itulah kira-kira syarat untuk disebut pesantren.
Pada sekitar tahun 1970-an orang-orang di Departemen Agama Pusat mengirimkan anak mereka ke pesantren Gontor bila datang saat libur sekolah. Disana mereka mondok dan belajar agama selama libur tersebut. Kemudian sejak tahun 1980-an, di kota bandung banyak sekali orang yang mennyelenggarakan pesantren kilat. Menjelang libur orang-orang mengedarkan pengumuman, kadang-kadang lewat surat kabar, bahwa akan di buka pesantren kilat yang umumnya diadakan di masjid. Lamanya berkisar 7 sampai 30 hari. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.120). Disana di ajarkan membaca al-Qur’an, keimanan Islam, fikh, dan akhlak. Pokoknya materi-materi pelajaran yang sering disebut bahan pengajaran agama.
Peserta itu dibagi menurut tingkat kemampuannya, mulai dari kelompok pemula yang belajar membaca al-Qur’an dan amalan agama sehari-hari sampai kelompok lanjutan yang belajar membaca kitab kuning dan diskusi dalam masalah-masalah Islamyang kontemporer.
Motif para orang tua memasukkan anaknya ke pesantren kilat antara lain:
Pertama, agar anaknya tidak nakal. Orangt tua sekarang khawatir sekali terhadap perkembangan akhlak anaknya. Sudah banyak gejala kenakalan anak remaja. Misalnya sering berkelahi, minunm-minuman keras, narkotika, kenakalan seksual, dan lain-lain. Kenakalan ini ada yang berujung pada tindakan kejahatan misalnya mencuri kecil-kecilan yang pada akhirnya berujung pada perampok.
Orang tua anak tidak ingin anaknya demikian. Dalam hal ini mereka memasukkan anaknya ke pesantren kilat denga tujuan agar anaknya tidak nakal seperti gambarn diatas.
Kedua, motif mengisi waktu. Disini orang tua memasukkan anaknya ke pesantren kilat dengan maksud mengisi waktu luang (karena libur). Rupanya orang tua tahu bahwa waktu luang bagi anak dan remaja adalah waktu yang amat berbahaya bila tidak diisi dengan atau dialihkan pada kegiatan positif.
Anak remaja adalah orang yang kelebihan energi. Bila tidak disalurkan dengan tepat, itu akan sangat berbahaya. Tatkala sekolah tidak libur, energi itu digunakan untuk belajar disekolah. Malam belajar, pagi-pagi berangkat kesekolah, di sekolah belajar, pulang dari sekolah badan dan mental mereka sudah payah, lantas istirahat, malamnya kembali mengerjakan pekerjaan rumah, begitu suterusnya. Energi remaja itu terpakai semuanya. Bila tatkala libur, penyaluran energui itu dapat saja ke hal-hal yang negatif. Untuk mengantisipasinya orang tua itu memasukkan anaknya ke pesantren kilat.
Ketiga, menutupi kekurangan pendidikan agama di sekolah. Ada juga orang tua yang memasukkan anaknya ke pesantren kilat karena merasa pendidikan agama Islam yang diperoleh anaknya di sekolah masih kurang. Misalnya anak belum mampu membaca al-Qur’an, belum dapat membaca do’a, belum dapat berkhotbah, dan lain-lain. Lantas anak itu di masukkan ke pesantren kilat dengan tujuan agar penngetahuan agama anaknya menjadi semakin lengakap dan mengamalkan ajaran agamnya itu sehari-hari.
Beberapa yang sebaiknya di perhatikan oleh penyelenggara pesantren kilat:
a. Hendaknya pesantren kilat diadakan di pesantren. Artinya, pesantren mengadakan pesantren kilat. Tempatnya di pesantren, mereka mondok di pesantren, tata caranya tata cara pesantren. Inilah bentuk pesantren kilat yang terbaik.
b. Aturan di pesantren kilat kilat hendaknya di atur persis seperti aturan kehidupan di pesantren.aturan yang terpenting ialah hidup sederhana, melayani dir sendiri, melaksanakan ibadah tepat waktu dan gembira, menghormati guru, pergaulan Islami, dan kerja sama.
c. Tradisi pesantren di terapkan pada santri pesantren kilat. Misalnya bangun malam untuk mandi dan shalat, wirid, atau pepujian.
d. Kurikulum pesantren kilat cukup di bagi dua macam, yang berlaku umum dan yang berlaku khusus sesuai dengan tingkat kematangan peserta.
e. Biaya pesantren kilat jangan terlalu rendah.
f. Kebersihan tempat dan makanan perlu di perhatikan.
g. Kehidupan sederhana benar-benar harus di tuntun tanpa pilih bulu. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.125)

Untuk meningkatkan menfaat pesantren kilat di luar pesantren mungkin dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Usahakan agar santri mendapat pemondoakan selama kegiatan pesantren kilat berlangsung.
b. Usahakan agar di tegakkan tata kehidupan Islami yang mirip dengan di pesanren.
c. Kurikulum dapat diatur seperti kurikulum pesantren kilat di pesantren sekalipun tidak mungkin persis sama. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.127).

2. Perguruan Silat Tenaga Dalam
Secara gampang tenaga dalam ialah tenaga gaib. Disini kata “tenaga” itu mempunyai arti yang cukup luas, lebih luas daripada pengertian tenaga yang dikenal dalam fisika. Tenaga dalam agaknya tidak dapat dipahami dengan akal saja; tenaga dalam terutama dipahami dengan cara “mengalaminya”. Pada silat tenaga dalam, tenaga dalam itu kehilatan dalam rupa seseorang dijatuhkan dari jauh, yaitu yang menjatuhkan tidak menyentuh orang yang dijatuhkannya. Akan tetapi, agaknya itu hanyalah salah satu bentuk tenaga dalam. Kemampuan supranatural seperti pada permainan debus kelihatannya termasuk kedalam rumpun tenaga dalam. Sihir, guna-guna, pelet, dan sejenisnya, termasuk jampi-jampi dan doa dapat di golongkan sebagai tenaga dalam.
Sebagian besar tenaga dalam tidak dapat dipahami lewat akal. Diperlukan paradigma tersendiri untuk memahaminya. Paradigma itu barangkali dapat disebut paradigma mistik., yaitu paradigma yang bukan empiris dan bukan logis. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.128).
Inti pengajaran tenaga dalam ialah mencari perlindungan dari bahaya dengan tidak menggunakan tenaga fisik. Belum diketahui secara pasti seperti apa tenaga dalam itu sebenarnya. Baiklah, tetapi dimana kegiatan silat tenaga dalam yang bernilai pendidikan agama Islam itu? Ikuti kasus berikut.
Kasus pertama. Seorang anggota kelompok anak nakal mendapat ancaman, mungkin dari boss-nya atau dari kelompok lain. Ia mencari guru yang dapat memberikan kepadanya ilmu yang dapat melindunginya. Lantas seseorang mengatakan ia harus berguru kepada si Anu yang mengajarkan tenaga dalam. Lalu ia datang kesana. Disana ia diterima dengan baik, lantas diberi ilmu. Setelah itu, guru memberi nasihat seperti ini:

- Ilmu ini tidak dapat digunakan untuk menyerang.
– Ilmu ini hanya melindungi kamu selama kamu percaya kepada Tuhan.
– Orang yang percaya kepada Tuhan wajib menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
– Pantangan keras ilmu ini adalah minuman keras dan zina.
– Semakin patuh kamu kepada Tuhan, semakin dilindungi kamu oleh ilmu ini.
Kasus kedua. Ada seorang remaja yang ingin memperoleh jadi dirinya. Itu menurut pendapatnya, harus memiliki ilmu ghaib, seperti ilmu kebal, menjatuhkan orang dari jarak jauh, memanggil teman dari jarak jauh, dan sebagainya. Anak-anak begini adalah yang banyak gagal dalam kehidupan, kurang berprestasi disekolah, gagal dalam percintaan dan pergaulan. Ia ingin memperlihatkan siapa dirinya. Ia memilih perguruan tenaga dalam, dan belajar disana. Memang, kelihatannya apa yang diinginkannya akan dapat diperolehnya, tetapi sang guru tidak akan begitu saja memberikan ilmu kepadanya. Ia harus berjuang lebih dahulu, umpamanya harus membersihkan dirinya lebih dahulu dan menghaluskan tenaga batin. Sang guru berkata bahwa semua ilmu milik Allah dan akan diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Penuntut ilmu haruslah orang yang berjalan dijalan Allah. Ilmu tidak akan digunakan untuk kejahatan. Selanjutnya, seperti tadi ia harus bertobat, shalat, meninggalkan dosa, terutama zina dan minuman keras.
Tak pelak lagi, kasus manapun dari kedua kasus tadi yang dilewati, orang akan memperoleh peluang untuk menjadi muslim yang baik. Coba saja, orang harus bertobat, harus shalat, harus meninggalkan dosa, terutama meninggalkan minnuman keras dan zina, orang harus merasa dekat dengan Tuhan dan pertolongan Tuhan. Ini adalah rumusan-rumusan singkat untuk menuju kepada Tuhan. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.129).
Mula-mula pasti atau hampir pasti motivasinya bukan karena Allah, melainkan karena menginginkan kekuatan tenaga dalam atau tenaga ghaib. Akan tetapi sang guru berangsur-angsur mengalihkan niat tersebut kearah niat yang benar, yaitu karena Allah. Akhirnya ia menjadi orang yang baik, Muslim yang taat.
Ada kelebihan yang patut diperhatikan pada pendidikan ini. Pertama, gurunya tidak terlalu banyak bicara, tetapi contohlah yang banyak diberikannya. Kedua, pendidikan agama seperti ini dapat menjangkau murid yang liar, yang tadinya tidak terjangkau oleh mubalig yang terkenal sekalipun.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
sistem pendidikan Islam yaitu suatu kesatuan komponen yang terdiri dari unsur-unsur pendidikan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan sesuai dengan ajaran Islam.
Bentuk sistem pendidikan Islam yaitu:
1. Pesantren kilat
2. Perguruan silat tenaga dalam

B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini kami sebagai penulis mengakui adanya kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu kami sangat membutuhkan kritik serta sarannya guna memperbaiki kekurangan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Tafsir Ahmad, 2004, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://tutorialpai.mkdu.upi.edu/definisi-sistem-pendidikan-islam/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2013 in ilmu pendidikan Islam, makalahku

 

KONSEP PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK

BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK

A. Pengertian pendidik
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rokhaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, khalifah di permukaan bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sannggup berdiri sendiri.
Istilah lain yang lazim dipergunakan untuk pendidik ialah guru. Dua istilah tersebut bersesuaian artinya. Bedanya, istilah guru seringkali dipakai dilingkungan penddidikan formal, sedangkan pendidik dipakai di lingkungan formal, informal, maupun nonformal.
B. Tugas pendidik
1. Membimbing si terdidik.
Mencari pengenalan terhadapnya mengenai kebutuhan, kesanggupan, bakat, minat, dan sebagainya.
2. Menciptakan situasi untuk pendidikan.
Situasi pendidikan yaitu suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.
Tugas lain ialah memliki pengetahuanb yang di perlukan pengetahuan-pengetahuan kagamaan, dan lain-lainnya. Pengetahuan ini tidak sekedar diketahui tetapi juga diamalkan dan diyakininy sendiri.

C. Keutamaan mengajar
Pendidik Islam ialah individu yang melaksanakan tindakan mendidik sevara Islami dalam satu situasi pendidikan Islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2013 in ilmu pendidikan Islam, makalahku

 

ALAT/MEDIA PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi amat berpengaruh kepada berbagai segi kehidupan manusia termasuk bidang pendidikan. Mengingat perkembangan bersifat dinamis, dan terus menerus mengikuti perubahan- perubahan maka keterampilan media pendidikan agama secara tepat diperlukan oleh setiap guru agama.
Dengan semakin majunya proses belajar mengajar di semua jenjang pendidikan, sebagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai dikemukakan diatas, menuntut penggunaan media pendidikan yang bervariasi sehingga dapat dicapai hasil pendidikan yang optimal.
Untuk efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar bidang studi PAI di kelas penggunaan media/alat dalam pengajaran tentu saja akan membantu guru dalam menyampaikan materi dan peserta didik mudah memahami materi baik pelajaran Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, Quran Hadits, dan Aqidah Akhlak.
Bidang studi PAI di sekolah, walaupun mendapat proporsi jam pelajaran sedikit pada SD, SMP dan SMA dari pada sekolah MI, MTs dan MA namun bidang studi PAI merupakan bidang studi wajib bagi peserta didik dan wajib ada pada kurikulum sekolah.
Pendidikan tinggi di fakultas-fakultas pendidikan di Indonesia saat ini sudah mulai mengarah pada profesionalisme pendidik, sehingga pemanfaatan dan penguasaan media PAI sudah seharusnya diadakan, digunakan dan terus dikembangkan oleh para pendidik PAI di sekolah. Sehingga dalam penyampaiannya tidak kaku, membosankan, dan menakutkan akan tetapi lebih kreatif, variatif, inovatif, dan fleksibel bagi peserta didik dalam mempelajarinya, tidak sebatas ceramah dan hafalan, sebagaimana sudah lama diterapkan.
Perkembangan media pendidikan sesuai dengan perubahan zaman semakin maju dan modern, semestinya pula dibarengi dengan pengadaan dan penemuan media pendidikan yang modern dan dapat diterapkan pada pendidikan Islam guna keperluan pengajaran PAI di sekolah, sehingga proses belajar mengajar (PBM) di kelas lebih efektif dan efisien. Untuk itu, guru PAI (GPAI) dituntut untuk bisa menggunakan media pendidikan sebagai alat pelajaran, mengembangkan media, memperbaharui media pendidikan yang sudah ada, dan senantiasa mencari trobosan mengadakan media pendidikan PAI yang belum ada menjadi ada. Jika kita membahas media pendidikan tentu saja itu berkaitan dengan alat bantu yang digunakan guru saat mengajar di kelas.
Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara belajar siswa, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang diajarkan itu. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan lebih giat dan lebih maju. Mengusahakan alat pelajaran yang baik dan lengkap adalah perlu agar guru dapat mengajar dengan baik sehingga siswa dapat menerima pelajaran dengan baik pula .
Memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa-siswanya adalah tugas penting yang selama ini belum dilaksanakan oleh guru sepenuhnya. Guru dan media pendidikan hendaknya bahu membahu dalam memberi kemudahan belajar bagi siswa. Pelatihan dan bimbingan secara individual dapat dilaksanakan dengan guru sementara informasi dapat pula disajikan secara jelas, menarik dan teliti oleh media pendidikan.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini selain guna memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Pendidikan Islam, juga agar para pembaca mengetahui pengertian alat/media pendidikan Islam, fungsinya, ragamnya, serta kriteria penggunaannya.
C. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan alat/media pendidikan agama Islam?
2. Apakah fungsi dari alat/media pendidikan Islam?
3. Apa saja jenis-jenis alat/media pendidikan Islam?
4. Apasaja kriteria dalammemilih sebuah alat/media pendidikan Islam?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Alat/Media Pendidikan Islam
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.(Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, hal.120.) Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.
Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
Arif S. Sadirman dkk. mengemukakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (soft ware) yang berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan mempergunakan peralatan. Sedangkan seperangkat keras (hard ware) adalah sarana untuk menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.(Amir Abyan, Materi Pokok Perencanaan Dan Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, hal.139).
Alat pendidikan adalah, hal yang tidak saja memuat kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai perbuatan atau Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan situasi, dengan perbuatan dan situasi mana, dicita-citakan dengan tegas, untuk mencapai tujuan pendidikan.(Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati, Ilmu pendidikan, hal.140)
Atau dapat dikatakan, alat pendidikan adalah:
Kalau dengannya, pendidik melakukan pekerjaan mendidik untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
B. Fungsi Alat/Media Pendidikan Islam
Fungsi media pendidikan adalah menciptakan iteraksi langsung dan tak langsung antara sumber pesan, guru, media dan siswa untuk membantu mengatasi berbagai hambatan-hambatan dalam proses belajar mengajar, sehingga proses komunikasi akan berhasil.
Secara umum media pendidikan mempunyai kegunaan-kegunaan, sebagai berikut:
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti misalnya: Objek yang terlalu besar, Objek yang kecil, Gerak terlalu lambat atau cepat, Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu, Objek terlalu kompleks, Konsep terlalu luas.
3. Mengatasi sikap pasif anak didik, dalam hal ini media pendidikan berguna: Menimbulkan kegairahan belajar; Memungkin interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkunngan dan kenyataan.
4. Mendorong terjadinya interaksi langsung antara siswa dan guru, siswa dengan sesama mereka, serta siswa dengan lingkungannya.
5. Memungkinkan kegiatan belajar mengajar siswa berlangsung sesuai dengan pilihannya dan dengan kemampuan serta kesenangannya.(Amir Abyan, Materi Pokok Perencanaan Dan Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, hal.140).
C. Pembagian Alat/Media Pendidikan Islam
Drs. Madyo Ekosusilo membagi alat pendidikan menjadi dua jenis yaitu:
1. Alat pendidikan yang bersifat materiil yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang nyata.
2. Alat pendidikan yang bersifat non materiil yaitu alat-alat pendidikan yang tidak bersifat kebendaan melainkan segala macam keadaan atau kondisi, tindakan dan perbuatannyang diadakan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksanakan pendidikan. .”(Abu Ahmadi, nur Uhbiyati, Ilmu pendidikan, hal.142). Alat pendidikan yang bersifat non materiil contohnya hukuman, nasihat, kewibawaan, pujian, dan lain-lain.
Secara umum terdapat 4 jenis media pembelajaran yakni:
1) Media visual
a) Media yang tidak diproyeksikan
i) Bahan bacaan atau bahan cetakan; Melalui bahan ini siswa akan memperoleh pengalaman melalui membaca, belajar melalui simbol-simbol dan pengertian-pengertian dengan mempergunakan indra penglihatan. Media ini termasuk tingkat belajar konseptual, maka bahan-bahan itu harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan penguasaan bahasa siswa. Menurut jenisnya antara lain:
 Al Qur’an dan dan Al Hadits
 Buku teks pelajaran agama baik untuk siswa dan guru
 Buku bacaan pelengkap, buku teks sebagai bahan bacaan untuk memperluas dan memperdalam bacaan agama.
 bahan bacaan bersifat umum: koran, majalah, dan lain-lain.(http://dikdasmenalmtq.wordpress.com/2011/11/02/54/)
ii) Media realita adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realita ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
iii) Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realita.
iv) Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah: gambar, sketsa, diagram / skema, bagan / chart, grafik.
v) Papan tulis; alat ini merupakan alat klasik yang tak pernah dilupakan orang dalam proses belajar mengajar. Peranan papan tulis dan papan lainnya masih tetap digunakan guru, sebab merupakan alat yang praktis dan ekonomis.(Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, hal.102)

b) Media proyeksi
i) Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP).
ii) Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah biaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.
(http://bebetterandbetter.blogspot.com/2010_11_01_archive.html)

Slide OHP Radio Kaset-audio

2) Media Audio
a) Radio; merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
b) Kaset-audio; yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah.
3) Media Audio-visual
a) Media video; merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
Media komputer; Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas. (http://proskripsi.blogspot.com/2011/02/klasifikasi-media-pembelajaran-3.html).

D. Kriteria Pemilihan Media
Kriteria yang perlu diperhatikan adalah tingkat efektifitas penggunaan media terhadap tujuan atau kompetesi yang akan dicapai. Berikut beberapa acuan penggunaan media pembelajaran secara umum:
1. Media visual, cocok diguanakan untuk mata pelajaran dengan kompetesi memahami. Contoh studi masalah.
2. Media audio, cocok digunakan untuk mata pelajaran dengan kompetensi menghapal. Contoh kesenian musik dan tes bahasa inggris.
3. Media proyeksi, cocok digunakan untuk mata pelajaran dengan kompetensi pemahaman sistematis yang lebih kompleks. Contoh menyajikan langkah-langkah yang lebih detil.
4. Media audio visual, cocok digunakan untuk mata pelajaran dengan kompetensi motorik. Contoh penyajian film dan video tentang peristiwa-peristiwa penting.
(http://www.inoputro.com/2012/03/macam-macam-media-pembelajaran-part-2/)
Akan tetapi dalam pelaksanaannya tidak harus seperti acuan di atas. Karena dengan perkembangan IPTEK saat ini sangat memungkinkan kita untuk menggunakan lebih dari satu media. Dengan harapan saling melengkapi satu sama lain. Contohnya penggunaan komputer. Dengan komputer kita dapat menyatukan seluruh jenis media menjadi satu. Tentunya kombinasi dipilih dengan pertimbangan efektifitas tujuan atau kompetensi awal. Dan yang sangat penting adalah sesuaikan dimana anda mengajar. Karena memang guru itu dituntut menjadi pribadi yang kreatif.
a. Kriteria umum pemilihan media:
1. Sesuai dengan tujuan.
2. Sesesuai dengan materi pembelajaran.
3. Sesuai dengan karakteristik pembelajar atau siswa.
4. Sesuai dengan teori.
5. Sesuai dengan gaya belajar siswa.
6. Sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas pendukung, dan waktu yang tersedia.
b. Kriteria khusus pemilihan media
Erickson (1993) memberi saran dalam mengembangkan kriteeria pemilihan media dalam bentuk chek list sebagai berikut:
NO. PERTANYAAN KET
1. Apakah materinya penting dan berguna bagi siswa?
2. Apakah dapat menarik minat siswa untuk belajar?
3. Apakah ada kaitannya dan mengena secara langsung dengan tujuan pembelajaran?
4. Bagaimana format penyajiannya diatur? Apakah memenuhi tata urutan yang teratur?
5. Bagaimana dengan materinya, mutakhir dan authentik?
6. Apakah konsep dan kecermatannya terjamin secara jelas?
7. Apakah isi dan presentasinya memenuhi standar?
8. Apakah penyajiannya objektif?
9. Apakah bahannya memenuhi standar kualitas teknis?
10. Apakah bahan tersebut sudah memenuhi pemantapan uji coba atau validasi?

Tabel di atas menunjukkan cara dalam memilih media dengan memperhatikan aspek-aspek yang di pertanyakan di atas, dalam kata lain medianya sudah tersedia dan kita tinggal melakukan pemilihan dengan cermat.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Arif S. Sadirman dkk. mengemukakan bahwa media pendidikan adalah perangkat lunak (soft ware) yang berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan mempergunakan peralatan. Sedangkan seperangkat keras (hard ware) adalah sarana untuk menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut.
Alat pendidikan adalah, hal yang tidak saja memuat kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan mendidik, tetapi alat pendidikan itu telah mewujudkan diri sebagai perbuatan atau Alat pendidikan adalah hal yang tidak saja memuat kondisi yang memungkinkan terlaksananya pekerjaan situasi, dengan perbuatan dan situasi mana, dicita-citakan dengan tegas, untuk mencapai tujuan pendidikan.
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka).
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti misalnya: Objek yang terlalu besar, Objek yang kecil, Gerak terlalu lambat atau cepat, Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu, Objek terlalu kompleks, Konsep terlalu luas.
3. Mengatasi sikap pasif anak didik, dalam hal ini media pendidikan berguna: Menimbulkan kegairahan belajar; Memungkin interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkunngan dan kenyataan.
4. Mendorong terjadinya interaksi langsung antara siswa dan guru, siswa dengan sesama mereka, serta siswa dengan lingkungannya.
5. Memungkinkan kegiatan belajar mengajar siswa berlangsung sesuai dengan pilihannya dan dengan kemampuan serta kesenangannya.

Pembagian alat/media pendidikan Islam:
a. Alat pendidikan yang bersifat materiil yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang nyata. Contohnya: papan tulis, grafik, sketsa, koran, OHP, dan sebagainya.
b. Alat pendidikan yang bersifat non materiil yaitu alat-alat pendidikan yang tidak bersifat kebendaan melainkan segala macam keadaan atau kondisi, tindakan dan perbuatannyang diadakan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksanakan pendidikan. Contohnya: hukuman, nasihat, kewibawaan, pujian, dan sebagainya.
Kriteria umum pemilihan media:
1. Sesuai dengan tujuan.
2. Sesesuai dengan materi pembelajaran.
3. Sesuai dengan karakteristik pembelajar atau siswa.
4. Sesuai dengan teori.
5. Sesuai dengan gaya belajar siswa.
6. Sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas pendukung, dan waktu yang tersedia.

B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Abyan Amir, 1997, Materi Pokok Perencanaan Dan Pengelolaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Dan Universitas Terbuka.
Ahmadi Abu, Uhbiyati Nur, 2003, Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Bahri Djamarah Syaiful, Zain Aswan, 2006, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana Nana, 2009, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset.
Sulisilana Rudi, Riyana Cepi, 2007, Media Pembelajaran, Bandung: Wacana Prima.

http://bebetterandbetter.blogspot.com/2010_11_01_archive.html

http://dikdasmenalmtq.wordpress.com/2011/11/02/54/

http://proskripsi.blogspot.com/2011/02/klasifikasi-media-pembelajaran-3.html

http://stitattaqwa.blogspot.com/2011/05/pengertian-dan-jenis-jenis-alat.html

http://www.inoputro.com/2012/03/macam-macam-media-pembelajaran-part-2/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2013 in ilmu pendidikan Islam, makalahku

 

EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits serta dalam pemikiran para ulama dan dalam praktik sejarah umat Islam.
Dalam prosesnya, pendidikan Islammenjadikan tujuan sebagai sasaran ideal yang hendak dicapai dalam program dan diproses dalam produk kependidikan Islam atau output kependidikan Islam. Qaidah ushuliyah menyatakan bahwa : “al-umûru bi maqâshidika”, bahwa setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan.

1.2. Perumusan Masalah
1. Apa pengertian evaluasi pendidikan islam ?
2. Apa tujuan dari evaluasi pendidikan Islam ?
3. Apa fungsi dan kegunaan evaluasi pendidikan islam ?
4. Bagaimana sistem dalam evaluasi pendidikan islam ?

1.3. Tujuan Penulisan
Dari perumusan masalah tersebut. Tujuan penulisan makalh ini sebagai berikut :
1. Memahami tentang evaluasi pendidikan islam
2. Mengerti tujuan, fungsi dan kegunaan evaluasi pendidikan islam

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Evaluasi Pendidikan Islam
Secara harfiah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, evaluation, yang berarti penilaian dan penaksiran. Dalam bahasa Arab, dijumpai istilah imtihân, yang berarti ujian, dan khataman yang berarti cara menilai hasil akhir dari proses kegiatan.
Sedangkan secara istilah, ada beberapa pendapat,
a. Oemar Hamalik mengartikan evaluasi sebagai suatu proses penaksiran terhadap kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan peserta didik untuk tujuan pendidikan. Sementara Abudin Nata menyatakan bahwa evaluasi sebagai proses membandingkan situasi yang ada dengan kriteria tertentu dalam rangka mendapatkan informasi dan menggunakannya untuk menyusun penilaian dalam rangka membuat keputusan.
b. Suharsimi Arikunto, evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
c. Edwind Wandt berpendapat evaluasi adalah: suatu tindakan atau proses dalam menentukan nilai sesuatu.
d. M. Chabib Thoha, mengutarakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.
Dari beberapa pendapat, dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi yaitu suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan (peserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan. Dengan demikian evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insedental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu yang terencana, sistematik dan berdasarkan tujuan yang jelas. Jadi dengan evaluasi diperoleh informasi dan kesimpulan tentang keberhasilan suatu kegiatan, dan kemudian kita dapat menentukan alternatif dan keputusan untuk tindakan berikutnya.
Dari beberapa pendapat diatas, dapat kami simpulkan bahwa evaluasi pendidikan Islam adalah suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemajuan suatu aktivitas di dalam pendidikan Islam. Program evaluasi ini diterapkan dalam rangka mengetahui tingkat keberhasilan seorang pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran, menemukan kelemahan-kelemahan yang dilakukan, baik berkaitan dengan materi, metode, fasilitas dan sebagainya.
Oleh karena itu, yang dimaksud evaluasi dalam pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah keputusan yang berkaitan dengan pendidikan Islam guna melihat sejauhmana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendidikan Islam itu sendiri.
Jadi evaluasi pendidikan Islam yaitu kegiatan penilaian terhadap tingkah laku peserta didik dari keseluruhan aspek mental-psikologis dan spiritual religius dalam pendidikan Islam, dalam hal ini tentunya yang menjadi tolak ukur adalah al-Qur’an dan al-Hadits.
2.2 Tujuan Evaluasi Pendidikan Islam
Menurut Abdul Mujib dkk, tujuan evaluasi adalah:
1. Mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian, dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan, dan mengetahui tingkat perubahan perilakunya.
2. Mengetahui siapa diantara peserta didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga yang lemah diberi perhatian khusus agar ia dapat mengejar kekurangannya.
3. Mengumpulkan informasi yang dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengadakan pengecekan yang sistematis terhadap hasil pendidikan yang telah dicapai untuk kemudian dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

2.3 Fungsi dan Kegunaan Evaluasi Pendidikan Islam
Seorang pendidik melakukan evaluasi di sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui peserta didik yang terpandai dan terkurang di kelasnya.
2. Untuk mengetahui apakah bahan yang telah diajarkan sudah dimiliki peserta didik atau belum .
3. Untuk mendorong persaingan yang sehat antara sesama peserta didik.
4. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengalami pendidikan dan pengajaran.
5. Untuk mengetahui tepat atau tidaknya guru memilih bahan, metode, dan berbagai penyesuaian dalam kelas.
6. Sebagai laporan terhadap orang tua peserta didik dalam bentuk raport, ijazah, piagam dan sebagainya.
Pendapat yang hampir sama dikemukakan Hamalik, bahwa fungsi evaluasi adalah untuk membantu peserta didik agar ia dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar, serta memberi bantuan padanya cara meraih suatu kepuasan bila berbuat sebagaimana mestinya, selain itu juga dapat membantu seorang pendidik dalam mempertimbangkan adequate (cukup memadai) metode pengajaran serta membantu dan mempertimbangkan administrasinya.
Kemudian, secara umum ada empat kegunaan evaluasi dalam pendidikan Islam , diantaranya :
1. Dari segi pendidik, yaitu untuk membantu seorang pendidik mengetahui sejauhmana hasil yang dicapai dalam pelaksanaan tugasnya
2. Dari segi peserta didik, yaitu membantu peserta didik untuk dapat mengubah atau mengembangkan tingkah lakunya secara sadar ke arah yang lebih baik.
3. Dari segi ahli fikir pendidikan Islam, untuk membantu para pemikir pendidikan Islam mengetahui kelemahan teori-teori pendidikan Islam dan membantu mereka dalam merumuskan kembali teori-teori pendidikan Islam yang relevan dengan arus dinamika zaman yang senantiasa berubah.
4. Dari segi politik pengambil kebijakan pendidikan Islam, untuk membantu mereka dalam membenahi sistem pengawasan dan mempertimbangkan kebijakan yang akn diterapkan dalam sistem pendidikan nasional (Islam).
Sementara menurut Abudin Nata, bahwa sasaran evaluasi yaitu untuk mengevaluasi peserta didik, pendidik, materi pendidikan, proses penyampaian materi pelajaran, dan berbagai aspek lainnya yang berkaitan dengan materi pendidikan.
Sasaran-sasaran evaluasi pendidikan Islam secara garis besarnya melihat empat kemampuan peserta didik yaitu:
1. Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya.
2. Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat.
3. Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya.
4. Sikap dan pandangannya terhadap diri sendiri selaku hamba Allah Swt, anggota masyarakat serta selaku khalifah-Nya di muka bumi.

2.4 Sistem Evaluasi dalam Pendidikan Islam

Sistem evaluasi yang dikembangkan dalam oleh Allah Swt dan Rasul-Nya berimplikasikan paedagogis sebagai berikut:
1. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi. Seperti tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 155
         •    
“dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”
2. Untuk mengetahui sejauhmana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan Rasulullah SAW kepada umatnya. Seperti tercantum dalam QS. An-Naml: 40
                                     •    
“berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
3. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang, seperti pengevaluasian Allah Swt terhadap Nabi Ibrahim yang menyembelihIsmail putera yang dicintainya. Seperti tercantum dalam QS. As-Shaffat: 103-107
                           
“tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
4. Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia dari pelajaran yang telah diberikan padanya, seperti pengevaluasian terhadap Nabi Adam tentang asma-asma yang diajarkan Allah Swt kepadanya di hadapan para malaikat, seperti tercantum dalam QS. Al-Baqarah : 31
               
“dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”
5. Memberikan semacam tabsyîr (berita gembira)bagi yang beraktivitas baik, dan memberikan semacam iqab (siksa) bagi mereka yang beraktivitas buruk, seperti tercantum dalam QS. Al-Zalzalah: 7-8
             
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

Jenis-jenis Evaluasi
Jenis-jenis evaluasi yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam adalah:[34]
1. Evaluasi Formatif, yaitu penilaian untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik setelah menyelesaikan satuan program pembelajaran (kompetensi dasar) pada mata pelajaran tertentu.
a. Fungsi, yaitu untuk memperbaiki proses pembelajaran ke arah yang lebih baik dan efisien atau memperbaiki satuan/rencana pembelajaran.
b. Tujuan, yaitu untuk mengetahui penguasaan peserta didik tentang materi yang diajarkan dalam satu satuan/rencana pembelajaran.
c. Aspek yang dinilai, terletak pada penilaian normatif yaitu hasil kemajuan belajar peserta didik yang meliputi: pengetahuan, keterampilan dan sikap terhadap materi ajar PAI yang disajikan.
d. Waktu pelaksanaan : akhir kegiatan pembelajaran dalam satu satuan/rencana pembelajaran.
2. Evaluasi Sumatif, yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap hasil belajar peserta didik setelah mengikuti pelajaran dalam satu semester dan akhir tahun untuk menentukan jenjang berikutnya,
a. Fungsi, yaitu untuk mengetahui angka atau nilai peserta didik setelah mengikuti program pembelajaran dalam satu catur wulan, semester atau akhir tahun.
b. Tujuan, untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti program pembelajaran dalam satu catur wulan, semester atau akhir tahunpada setiap mata pelajaran (PAI) pada satu satuan pendidikan tertentu.
c. Aspek-aspek yang dinilai, yaitu kemajuan hasil belajar meliputi pengetahuan, ketrampilan, sikap dan penguasaan peserta didik tentang mata pelajaran yang diberikan.
d. Waktu pelaksanaan, yaitu setelah selesai mengikuti program pembelajaran selama satu catur wulan, semester atau akhir tahun pembelajaran pada setiap mata pelajaran (PAI) pada satu tingkat satuan pendidikan.
3. Evaluasi penempatan (placement), yaitu evaluasi tentang peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar yang sesuai dengan kondisi peserta didik.
a. Fungsi, yaitu untuk mengetahui keadaan peserta didik termasuk keadaan seluruh pribadinya, sehingga peserta didik tersebut dapat ditempatkan pada posisi sesuai dengan potensi dan kapasitas dirinya.
b. Tujuan, yaitu untuk menempatkan peserta didik pada tempat yang sebenarnya, berdasarkan bakat, minat, kemampuan, kesanggupan, serta keadaan diri peserta didik sehingga peserta didik tidak mengalami hambatan yang berarti dalam mengikuti pelajaran atau setiap program bahan yang disajikan guru.
c. Aspek-aspek yang dinilai, meliputi keadaan fisik, bakat, kemampuan, pengetahuan, pengalaman keterampilan, sikap dan aspek lain yang dianggap perlu bagi kepentingan pendidikan peserta didik selanjutnya.
d. Waktu pelaksanaan, sebaiknya dilaksanakan sebelum peserta didik menempati/menduduki kelas tertentu, bisa sewaktu penerimaan murid baru atau setelah naik kelas.
4. Evaluasi Diagnostik, yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap hasil penganalisaan tentang keadaan belajar peserta didik, baik merupakan kesulitan-kesulitan maupun hambatan-hambatan yang ditemui dalam situasi belajar mengajar.
a. Fungsi, yaitu untuk mengetahui masalah-masalah yang diderita atau mengganggu peserta didik, sehingga peserta didik mengalani kesulitan, hambatan atau gangguan ketika mengikuti program pembelajaran dalam satu mata pelajaran tertentu (PAI). Sehingga kesulitan peserta didik tersebut dapat diusahakan pemecahannya.
b. Tujuan, yaitu untuk membantu kesulitan atau mengetahui hambatan yang dialami peserta didik waktu mengikuti kegiatan pembelajaran pada satu mata pelajaran tertentu (PAI) atau keseluruhan program pembelajaran.
c. Aspek-aspek yang dinilai, meliputi hasil belajar, latar belakang kehidupannya, serta semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembelajaran.
d. Waktu pelaksanaan, disesuaikan dengan keperluan pembinaan dari suatu lembaga pendidikan, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan para peserta didiknya.
Langkah-langkah Evaluasi
Secara umum, proses pengembangan penyajian dan pemanfaatan evaluasi belajar dapat digambarkan dalam langkah-langkah berikut:
1. Penentuan Tujuan Evaluasi
2. Penyusunan Kisi-kisi soal
3. Telaah atau review dan revisi soal
4. Uji Coba (try out)
5. Penyusunan soal
6. Penyajian tes
7. Scorsing
8. Pengolahan hasil tes
9. Pelaporan hasil tes
10. Pemanfaatan hasil tes

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian di atas tentang evaluasi pendidikan Islam dapat ditarik kesimpulan :
1. Evaluasi adalah suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan (peserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan.
2. Evaluasi pendidikan Islamadalah suatu proses dan kegiatan penilaian yang terencana terhadap peserta didik dari keseluruhan aspek mental-psikologis dan spiritual religius dalam pendidikan Islamuntuk mengetahui taraf kemajuan dalampendidikan Islam.
3. Tujuan Evaluasi yaitu :
a) mengetahui kadar pemahaman peserta didik;
b) mengetahui siapa diantara peserta didik yang cerdas dan yang lemah;
c) mengumpulkan informasi;
d) untuk mengetahui penguasaan peserta didik dalam kompetensi/subkompetensi tertentu;
e) untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik (diagnostic test) dan untuk memberikan arah dan lingkup pengembangan evaluasi selanjutnya.
4. Evaluasi dalam pendidikan Islam, secara umum sangat berguna bagi pendidik, peserta didik, ahli fikir pendidikan Islam,politik pengambil kebijakan pendidikan Islam, untuk membantu mereka dalam membenahi sistem pengawasan dan mempertimbangkan kebijakan yang akan diterapkan dalam sistem pendidikan nasional (Islam).
5. Sasaran evaluasi yaitu untuk mengevaluasi peserta didik, pendidik, materi pendidikan, proses penyampaian materi pelajaran, dan berbagai aspek lainnya yang berkaitan dengan materi pendidikan.
6. Prinsip Evaluasi, yaitu : valid, berorientasi kepada kompetensi, berkelanjutan/Berkesinambungan (kontinuitas), menyeluruh (Komprehensif), bermakna, adil dan objektif, terbuka, ikhlas, praktis, dicatat dan akurat.
7. Sistem Evaluasi Pendidikan Islam, yaitu untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi dan memberikan semacam tabsyîr (berita gembira) bagi yang beraktivitas baik, dan memberikan semacam iqab (siksa) bagi mereka yang beraktivitas buruk.
8. Jenis-jenis Evaluasi yaitu evaluasi formatif, evaluasi Sumatif, evaluasi penempatan (placement), dan evaluasi diagnostik,
9. Langkah-langkah Evaluasi: penentuan tujuan evaluasi, penyususnan Kisi-kisi soal, telaah atau review dan revisi soal, Uji Coba (try out), Penyusunan soal, Penyajian tes, Scorsing, pengolahan hasil tes, pelaporan hasil tes, pemanfaatan hasil tes.
Demikian makalah yang dapat penulis buat, mudah-mudahan bermanfaat, bagi penulis khususnya dan bagi insan pendidikan umumnya.Allâhu a’lam
B. Saran

Semoga dengan tersusunnya makalah ini dapat memberikan gambaran dan menambah wawasan kita tentang evaluasi dalam pendidikan islam. Dari pembahasan materi ini kami mengalami beberapa kendala dalam penyusunan makalah ini. Maka ada beberapa kesalahan oleh kami atau kekurangan. Oleh karena itu kami juga membutuhkan saran dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Dan Terjemah.
Abdul Mujib & Jusuf Mudzakir, Ilmu Pendidikan Islam,Jakarta: Kencana, 2008.
Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008.
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010.
Abudin Nata, Manajemen Pendidikan, Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Prenada Media Group, 2008.
Al-Rasyidin dkk, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, teoritis dan Praktis, (Jakarta : Ciputat Press, 2005.
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1989..
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia.
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta: Bumi Aksara, 2009.
M. Chabib Thaha, Tehnik-tehnik Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo, 1990
Oemar Hamalik, Pengajaran Unit, Bandung: Alumni, 1982.
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta:Kalam Mulia, 2008.
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia,tt.
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1990.
Zuhairini, dkk., Metodik Khusus pendidikan Agama, Surabaya: Usaha Nasional, 1981.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2013 in ilmu pendidikan Islam, makalahku

 

KONSEP METODE PENDIDIKAN ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap oleh anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.
B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini selain guna melengkapi makalah ilmu pendidikan, juga agar para mahasiswa mengetahui metode-metode pendidikan Islam.
C. Rumusan masalah
1. Apakah yang dimaksud metode?
2. Apa saja metode pendidikan Islam?
3. Bagaimana pendapat para pemikir Islam tentang konsep metode pendidikan Islam?

BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP METODE PENDIDIKAN ISLAM

Dalam pengertian umum, metode diartikan sebagai cara mengerjakan sesuatu. Dalam pengertian letterlijk, kata “metode” berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari meta yang berarti “melalui”, dan hodos yang berarti “jalan”. Jadi, metode berarti “jalan yang dilalui”.
Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena itu ia menjadi sarana yang bermaknakan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap anak didik menjadi pengertian-pengertian yang fungsional terhadap tingkah lakunya.
Dalam proses pendidikan Islam, metode dapat dikatakan tepat guna bila mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam.
Sebagai salah satu komponen operasional Ilmu Pendidikan Islam, metode harus mengandung potensi yang bersifat mengarahkan materi pelajaran pada tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui proses tahap, baik dalam kelembagaan formal, nonformal, ataupun yang informal. Dengan demikian, menurut Ilmu Pendidikan Islam, suatu metode yang baik adalah bila memiliki watak dan relevansi yang senada dengan tujuan pendidikan Islam itu.
A. Prinsip-prinsip Metodelogis yang dijadikan Landasan Psikologis
Adapun prinsip-prinsip metodelogis yang dijadikan landasan psikologis untuk memperlancar proses kependidikan Islam yang sejalan dengan ajaran Islam adalah:
1. Prinsip memberikan suasana kegembiraan
Prinsip dapat dijabarkan dari sabda Nabi SAW kepada sahabat beliau untuk diutus untuk melakukan dakwah kepada gubernur Romawi di Damaskus, yaitu Mu’azd Ibn Jabal dan Abu Musa Al-Asy’ari, sebagai berikut:
ﻳﺴﺮﻭﺍ ﻭﻻﺗﻌﺴﺮﻭﺍ ﺑﺸﺮﻭﺍ ﻭﻻﺗﻨﻔﺮﻭﺍ
Artinya:
“Permudahlah mereka dan jangan mempersulit, gembirakanlah mereka dan jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan mereka menjauhi kamu.”
2. Prinsip memberikan layanan da santunan dengan lemah-lembut
3. Prinsip kebermaknaan bagi anak didik
4. Prinsip prasyarat
5. Prinsip komunikasi terbuka
6. Prinsip pemberitaan pengetahuan yang baru
7. Prinsip memberikan model perilaku yang baik
8. Prinsip praktek (pengamalan) secara aktif
9. Prinsip kasih sayang
10. Prinsip bimbingan dan penyuluhan
Dari prinsip-prinsip tersebut, lahirlah metode-memtode pendidikan sebagai berikut:
a. Metode situasional yang mendorong anak didik untuk belajar dengan perasaan gembira dalam berbagai tempatdan keadaan.
b. Metode tarhip wat targhib yang mendorong anak didik untuk belajar suatu bahan pelajaran atas dasar minatyang berkesadaran pribadi terlepas dari paksaan atau tekanan mental.
c. Metode belajar berdasarkan conditioning yang dapat menimbulkan konsentrasi perhatian anak didik pada bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh pendidik.
d. Metode dialogis yang melahirkan sikap-sikap saling keterbukaan antara guru dan murid.

B. Metode yang Dipergunakan dalam Pendidikan Islam
Dalam sejarah pendidikan Islam dapat diketahui bahwa para pendidik Muslim dalam berbagai situasi dan kondisi yang brbeda, telah menerapkan berbagai macam metode pendidikan atau pengajaran.
Metode-metode yang dipergunkan tidak hanya metode mendidik/mengajar dari para pendidik, melainkan juga metode belajar yang harus dipergunakan anak didik.
1. Al Gazali, seorang ahli pikir dan ahli tsawuf Islam yang terkenal dengan gelar “Pembela Islam” (Hujjatul Islam), banyak mencurahkan perhatian kepada masalah pendidikan. Menurut Al gazali, seorang pendidik agar memperoleh sukses dalam tugasnya harus menggunakan pengaruhnya serta cara yang tepat arah.
Dalam masalah pendidikan, Al Gazali lebih cenderung berpaham empirisme, karena beliau sangat menekankan pengaruh pendidik terhadap anak didik.misalnya dalam kitabnya Ihya Ulumuddin juz III, Al Gazali menguraikan antara lain: “… metode untuk melatih anak adalah salah satu dari hal-hal yang amat penting. Anak adalah amanat yang dipervayakan kepada orang tuanya. Hatinya bersih, murni, laksana yang permata amat berharga, sederhana, dan bersih dari ukiran yang digoreska kepadanya dan ia akan cenderung kearah manapun yang kita kehendaki (condongkan).oleh karena itu, bila ia dibiasakan dengan sifat-sifat yang baik, maka akan berkembanglah sifat-sifat yang baik itu pada dirinya dan akan memperoleh kebahagiaan hidup dunia akhirat.”
Di dalam membahas masalah belajar, Al Gazali lebih menekankan potensi rasio daripada potensi kejiwaan yang lain. Beliau menyatakan: ”Secara potensial, pengetahuan itu ada didalam jiwa manusia bagaikan benih didalam tanah. Dengan melalui belajar potensi itu baru aktual.”
Atas dasar pandangan Al Gazali yang bercorak empiris itu maka tergambar pula dalam metode pendidikan yang diinginkan. Di antaranya lebih menekankan pada perbaikan sikap dan tingkah laku para pendidik dalam mendidik, sebagai berikut.
a. Guru harus bersikap mencintai muridnya bagaikan anaknya sendiri.
b. Guru tidak usah mengharapkan upah dari tugas pekejaannya.
c. Guru harus memberikan nasihat kepada muridnya agar menuntut ilmu tidak untuk kebanggan diri atau untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
d. Guru harus mendorong muridnya untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang manfaat itu adalah ilmu yang dapat membawa kebahagiaan di akhirat, yaitu ilmu agama.
e. Guru harus memberi contoh yang baik dan teladan yang indah dimata anak didik sehingga anak senang untuk mencontoh tingkah lakunya.
f. Guru harus mengjarkan apa yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak didik.
g. Guru harus mengamalkan ilmunya.
h. Guru harus dapat memahami jiwa anak didiknya.
i. Guru harus dapat mendidik keimanan ke dalam pribadi anak didiknya.
Dengan demikian jelaslah kepada kita bahwa metode pendidikan yang haDengan demikian jelaslah kepada kita bahwa metode pendidikan yang harus dipergunakan oleh para pendidik/pengajar adalah yang berprinsip child centered. Metode demikian dapat diwujudkan dalam berbagai macam metode antara lain: metode contoh teladan, metode guidance dan counselling (bimbingan dan penyuluhan), metode cerita, metode motivasi, metode reinforcement (mendorong semangat), dan sebagainya.
Dalam urainnya yang lain, Al Gazali juga meletakkan prinsip metode belajar pada aspek mental atau sikap.
2. Ibnu Khaldun, ahli sejarah dan sosiologi dari Tunisia, lahir pada tahun 1332 M (732 H) juga memberikan perhatian cukup besar terhadap masalah pendidikan. Pandangannya tentang masalah pendidikan itu ditulis di dalam Muqaddimah juz I.
Prinsip pandangannya tentang pendidikan antara lain tampak pada sikapnya yang menganggap bahwa “manusia berbeda dengan binatang karena kapasitas berpikirnya. Akal pikirannya meimpinnya, menciptakan kehidupan dan untuk bekerja sama dengan anggota masyarakat lainnya serta untuk menerima wahyu Tuhan yang diberikan kepada Nabi-Nya guna kesejahteraan manusia di dunia dan di akhirat. Manusia oleh karena makhluk yang berakal pikiran dan akal pikiran itulah yang menjadi dasar bagi semua kegiatan belajarnya.”
Metode pendekatan dalam pendidikan anak yang dianggap baik oleh Ibnu Khaldum adalah yang bersifat psikologis. Prinsip-prinsip metodelogis yang disarankan oleh Ibnu Khaldum adalah sebagai berikut:
a. Hendaknya tidak memberikan pelajaran tentang hal-hal yang sulit kepada anak didik yang baru mulai belajar.
b. Agar anak didik diajar tentang masalah-masalah yang sederhana yang dapat ditangkap oleh akal pikirannya, baru kemudian secara bertahap dibawa kepada hal-hal yang lebih sukar dengan mempergunakan contoh yang baik atau alat peraga atau alat tertentu. Dengan demikian, barulah ia akan berhasil memperoleh ilmu dan keterampilan yang diharapkan.
c. Jangan memberikan ilmu yang melebihi kemampuan akal pikiran anak.
3. Ibnu Sina (lahir tahun 985 M)
Prinsip metode yang digunakannya antara lain:
a. Anak harus dijauhkan dari kemarahan, takut, atau perasaan sedih serta kurang tidur.
b. Setiap saat harus diperhatikan keingina-keinginannya atau kesenangannya, lalu diusahakan memenuhinya. Juga hal-hal yang tidak disukainya harus kita jauhkan.
Menurut pandangan Ibnu Sina, ada dua manfaat yang dapat diperoleh dari kedua hal tersebut diatas, yaitu manfaat rohani dan manfaat jasmani. Dengan cara demikian akhlak mulia akan berkembang dalam diri pribadinya sejak masa kanak-kanak sejalan dengan kecenderungan yang baik.

BAB III
KESIMPULAN
Kata “metode” berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari meta yang berarti “melalui”, dan hodos yang berarti “jalan”. Jadi, metode berarti “jalan yang dilalui”.
Prinsip-prinsip metode pendidikan:
1. Prinsip memberikan suasana kegembiraan
2. Prinsip memberikan layanan da santunan dengan lemah-lembut
3. Prinsip kebermaknaan bagi anak didik
4. Prinsip prasyarat
5. Prinsip komunikasi terbuka
6. Prinsip pemberitaan pengetahuan yang baru
7. Prinsip memberikan model perilaku yang baik
8. Prinsip praktek (pengamalan) secara aktif
9. Prinsip kasih sayang
10. Prinsip bimbingan dan penyuluhan
Dari prinsip diatas,ditarik suatu metode sebagai berikut:
a. Metode situasional yang mendorong anak didik untuk belajar dengan perasaan gembira dalam berbagai tempatdan keadaan.
b. Metode tarhip wat targhib yang mendorong anak didik untuk belajar suatu bahan pelajaran atas dasar minatyang berkesadaran pribadi terlepas dari paksaan atau tekanan mental.
c. Metode belajar berdasarkan conditioning yang dapat menimbulkan konsentrasi perhatian anak didik pada bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh pendidik.
d. Metode dialogis yang melahirkan sikap-sikap saling keterbukaan antara guru dan murid.

DAFTAR PUSTAKA

Muzayyin Arifin. 2003.Filsafat Pendidikan Islam.Bumi Aksara:Jakarta.
Hamdani Ihsan dan A.Fuad Ihsan. 2001.Filsafat Pendidikan Islam.Pustaka Setia:Bandung

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2013 in ilmu pendidikan Islam, makalahku

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.