<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hinata&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://sartikahinata.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sartikahinata.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Nov 2011 10:20:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sartikahinata.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hinata&#039;s Blog</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sartikahinata.wordpress.com/osd.xml" title="Hinata&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sartikahinata.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN SEKOLAH</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/11/18/masyarakat-dan-kebudayaan-sekolah/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/11/18/masyarakat-dan-kebudayaan-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 10:19:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[BAB  I PENDAHULUAN A.LATAR BELAKANG Dari lahir sampai mati manusia hidup sebagai anggota masyarakat.Hidup dalam masyrakat berarti adanya interaksi sosial dengan orang-orang di sekitar dan dengan demikian mengalami pengaruh dan mempengaruhi orang lain.Interaksi sosial sangat utama dalam tiap masyarakat.Hubungan antara individu itu bukan sepihak melainkan timbal balik.Kebudayaan mempengaruhi individu dengan berbagai cara akan tetapi individu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=275&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">BAB  I</p>
<p align="center">PENDAHULUAN</p>
<p>A.LATAR BELAKANG</p>
<p>Dari lahir sampai mati manusia hidup sebagai anggota masyarakat.Hidup dalam masyrakat berarti adanya interaksi sosial dengan orang-orang di sekitar dan dengan demikian mengalami pengaruh dan mempengaruhi orang lain.Interaksi sosial sangat utama dalam tiap masyarakat.Hubungan antara individu itu bukan sepihak melainkan timbal balik.Kebudayaan mempengaruhi individu dengan berbagai cara akan tetapi individu juga mempengaruhi kebudayaan sehingga terjadi perubahan sosial.<sup>1</sup></p>
<p>B.TUJUAN</p>
<p>Mengetahui pengertian kebudayaan,masyarakat,keudayaan sekolah,serta pengaruh kebudayaan sekolah terhadap masyarakat</p>
<p>C.RUMUSAN MASALAH</p>
<ul>
<li>Apa itu kebudayaan dan masyarakat?</li>
<li>Apa itu kebudayaan sekolah?</li>
<li>Bagaimamana pengaruh  kebudayaan sekolah terhadap masyarakat?</li>
</ul>
<p>1. Nasution.Sosiologi Pendidikan.2004.Ed 2.Cet 3.hal 60</p>
<p align="center">BAB II</p>
<p align="center">MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN SEKOLAH</p>
<p>A.PENGERTIAN KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT</p>
<p>Dalam kamus lengkap bahasa Indonesia,kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan akal budi manusia<sup>2</sup>.Kebudayaan (<em>cultuur</em> dalam bahasa belanda), (<em>culture</em> dalam bahasa inggris), berasal dari bahasa latin “<em>colere</em>” yang  berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini maka  berkembanglah arti <em>culture</em> yang berarti “segala daya dan aktivitas manusia untuk mengubah alam” . Sedangkan dari sudut  bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta “<em>buddhayah</em>”, yaitu bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain mengatakan bahwa kata <strong>budaya</strong> adalah sebagai perkembangan dari kata majemuk yaitu budi daya yang berarti daya dari budi, karena itu dibedakan antara pengertian budaya dengan kebudayaan<strong><em>.</em></strong><sup>3</sup></p>
<p><strong><em>Budaya</em></strong> adalah daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa, sedangkan <strong><em>kebudayaan</em></strong> adalah hasil dari cipta rasa dan karsa tersebut, dimana pengertian dari</p>
<p>2. Bambang Marhhiyanto.<em>Kamus Lengkap Bahasa Indonesia</em>.Media Centre Surabaya.hal.100</p>
<p>3. Abu Ahmadi.<em>Sosiologi Pendidikan</em>.1991.hal.58</p>
<p><em>cipta</em> itu sendiri ialah merupakan tenaga-tenaga yang dapat mencipta kan sesuatu dan memecahkan persoalan-persoalan, dapat mencari jalan yang tepat untuk suatu kegiatan.<em> Rasa</em> meliputi tenaga-tenaga yang memberi sifat pada kegiatan-kegiatan berupa keharusan , kesenang-senangan, ketidak senangan dan lain-lain yang ada hubungan erat dengan jasmaniah seperti rasa sakit, rasa dingin dan sebagainya. Sedangkan<em> karsa</em> ialah meliputi tenaga-tenaga yang merupakan sumber dorongan (kekuatan) dari suatau kegiatan, termasuk didalamnya dorongan-dorongan nafsu atau keinginan-keinginan, hasrat-hasrat dan kemauan. Kebudayaan sendiri berarti keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan , kepercayaan , kesenangan, social, hukum, adat istiadat, dan kemampuan lain seperti kebiasaan-kebiasaan yang diadakan oleh manusia sebagai anggota masyarakat<strong><em>.<sup>4</sup></em></strong> Dalam istilah “antropologi-budaya” perbedaan itu ditiadakan.Kata “budaya”disini hanya dipakai sebagai suatu singkatan saja dari “kebudayaan” dengan arti yang sama.<sup>5</sup></p>
<p>Kebudayaan itu ada tiga wujudnya, yaitu:</p>
<ol>
<li>Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya</li>
<li>Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.</li>
<li>Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.<sup>6</sup></li>
</ol>
<p>4. Abu Ahmadi.<em>Sosiologi Pendidikan</em>.1991.hal.58</p>
<p>5.Koentjaraningrat.<em>Pengantar Ilmu Antropologi</em>.2009.cet ix.hal.144</p>
<p>6. Koentjaraningrat.<em>Pengantar Ilmu Antropologi</em>.2009.cet ix.hal.150</p>
<p>Unsur-unsur kebudayaan terbagi atas :</p>
<ol>
<li>Cultural universal : misalnya mata pencarian, kesenian agama, ilmu pengetahuan, kekerabatan dan sebagainya.</li>
<li>Cultural activitis : kegiatan-kegiatan kebudayaan misalnya dari mata pencarian tadi trdapat pertanian, peternakan, perikanan, perindustrian, perdagangan, dan sebagainya. Dalam cultural universal kesnian trdapat misalnya seni sastra, lukis, tari, musik, drama, film, dan sebagainya.</li>
<li>Traits complexes, adalah bagian-bagian dari cultural activis tadi. Dari petanian terdapat irigasi, pengolahan sawah, masa panen dan sebagainya.</li>
<li>Traits, adalah bagian-bagian dari traits complexes tadi. Misalnya dari sistem pengolahan tanah, terdapat bajak, cangkul, sabit, dan sebagainya.</li>
<li>Items, adalah bagian-bagian dari traits kebudayaan. Dari bajak masih terdapat bagian-bagiannya, yakni mata bajak, tangkai bajak, kendali, dan sebagainya. Dari cangkul terdapat doran (tangkai cangkul), bajak, cangkulnya.<sup>7</sup></li>
</ol>
<p>Dalam kamus lengkap bahasa Indonesia,<strong><em>masyarakat </em></strong> adalah sejumlah orang dalam kelompok tertentu yang membentuk perikehidupan yang berbudaya.<sup>8 </sup><strong><em>Masyarakat</em></strong> memiliki pengertian hubungan yang terjalin antar beberapa kelompok orang untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Dengan kata lain<strong><em> masyarakat</em></strong> adalah wadah atau segenap hubungan social sekelompok orang yang terdiri dari banyak kelompok-kelompok  dantiap-tiap kelompok memiliki kelompok</p>
<p>7. Abu Ahmadi.<em>Sosiologi Pendidikan</em>.1991.hal.62</p>
<p>8. Bambang Marhhiyanto.<em>Kamus Lengkap Bahasa Indonesia</em>.Media Centre Surabaya.hal.392</p>
<p>kecil atau sub kelompok, dengan demikian individu atau penduduk adalah bagian dari masyarakat. Jika diartikan lebih rinci masyarakat dapat dilihat dari ciri-cirinya sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Yang tinggal pada suatu daerah atau wilayah tertentu (ikatan geografis)</li>
<li>Hidup bersama dalam arti luas</li>
<li>Yang mengadakan hubungan atau interaksi satu sama lain yang teratus dan tetap</li>
<li>Sebagai akibat antar hubungan atau interaksi antar manusia</li>
<li>Mereka akan terikat satu sama lainya karena mereka memiliki kepentingan bersama</li>
<li>Memepunyai tujuan bersama, dan oleh karenanya mereka memiliki kepentingan bersama</li>
<li>Mengadakan ikatan/kesatuan atas dasar unsure-unsur sebelumnya</li>
<li>Atas dasar pengalaman mereka mempunyai perasaan solidaritas perasaan untuk membagi sesuatu secara bersama</li>
<li>Sadar akan ketergantungan (interpendensi) satu sama lainya</li>
<li>Berdasarkan system yang terbentuk mereka dengan sendirinya membentuk norma-normanya.</li>
<li>Atas dasar unsure-unsur diatas akhirnya membentuk kebudayaan bersama dari hubungan antar manusia.<sup>9</sup></li>
</ol>
<p>9.Mahfudh Shahuddin,Abd.Kadir.<em>Ilmu Sosial Dasar</em>.1991.cet i.hal 59</p>
<p>B.KEBUDAYAAN SEKOLAH</p>
<p>Walaupun kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas. Namun mempunyai cirri-ciri yang khas sebagai suatu “Subculture”.Sekolah bertugas untuk menyampaikan kebudayaan kepada generasi baru dan arena itu harus selalu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan umum.Akan tetapi disekolah itu sendiri timbul pola-pola kelakuan tertentu. Ini mungkin sekolah mempunyai kedudukan yang agak terpisah dari arus umum kebudayaan. Sebagaimana halnya dengan keluarga dan institusi social lainya sekolah merupakan salah satu institusi social yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak . Sekolah merupakan suatu system social yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi diantara para anggotanya yang bersifat unik, hal ini dikarenakan tiap-tiap sekolah memiliki aturan tata tertib , kebiasaan, upacara-upacara, mars/hymne sekolah,pakaian seragam dan lambang-lambang yang lain yang memberikan corak khas kepada sekolah yang bersangkutan. Penelitian oleh Wilson(1959) pada beberapa sekolah menengah menunjukan bahwa ethos suatu sekolah memiliki pengaruh prestasi akademik dan aspirasi pada siswa mengenai pekerjaan.</p>
<p>Timbulnya sub-Kebudayaan sekolah juga terjadi oleh sebab sebagian yang cukup besar dari waktu murid terpisah dari kehidupan orang dewasa.Dalam situasi serupa ini dapat berkembang pola kelakuan yang khas bagi anak muda yang tampak dari pakaian,bahasa,kebiasaan kegiatan-kegiatan serta upacara-upacara.sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah ialah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak dengan menyampaikan sejumlah pengetahuan, sikap, terampilan yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik control tertentu yang berlaku disekolah itu.</p>
<p>Dalam melaksanakan kurikulum dan ekstra kurikulum berkembang sejumlah pola kelakuan yang khas bagi sekolah yang berbeda dengan yang terdapat pada kelompok-kelompok lain dalam masyarakat.Tiap kebudayaan mengandung bentuk kelakuan yang yang diharapkan dari anggotanya.Di sekolah diharapkan bentuk kelakuan tertentu dari semua murid dan guru.Itulah yang menjadi norma bagi setiap muriddan guru.Norma ini nyata dalam kelakuan murid dan guru, dalam peraturan-peraturan sekolah, dalam tindakan dan hukuman terhadap pelnggaran, juga dlam berbagai kegiatan seperti upacara-upacara.</p>
<p>Sistem pendidikan mengembangkan pola kelakuan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dan murid-murid. Kehidupan di sekolah seta norma-norma yang berlaku di situ dapat disebut dengan Kebudayaan Sekolah. Kebudayaan sekolah itu memiliki beberapa unsur-unsur penting yaitu:</p>
<p>-         Letak lingkungan dan prasarana fisik sekolah(gedung sekolah dan perlengkapan lainnya).</p>
<p>-         Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.</p>
<p>-         Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas guru-guru, siswa, tenaga administrasi, tata usaha, dan non teaching specialist.</p>
<p>-         Nilai-nilai norma , system peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.<sup>10 </sup>10.Nasution.Sosiologi Pendidikan.2004.Ed 2.Cet 3.hal 64</p>
<p>C.PENGARUH KEBUDAYAAN SEKOLAH TERHADAP MASYARAKAT</p>
<p>Sekolah yang berorentasi penuh kepada kehidupan masyarakat disebut Community school atau sekolah masyarakat.Sekolah ini berorentasi pada masalah-masalah kehidupan dalam masyarakat seperti masalah usaha manusia melestarikan alam, memanfaatkan sumber-suber alam dan manusia, masalah kesehatan, kewarganegaraan, penggunaan waktu senggang, komunikasi, transport, dan sebagainya.Dalam kurikulum ini anak dididik agar turut serta dalam kegiatan  masyarakat. Pelajaran mengutamakan kerja kelompok. Dengan sendirinya kurikulum itu fleksibel, berbeda dari sekolah ke sekolah,dari tahun ke tahun dan tidak dapat ditentukan secara uniform.murid-murid mempelajari lingkungan sosialnya untuk mengidentifikasi masalah-maslah yang dapat dijadikan pokok bagi suatu unit pelajaran.Khususnya yang  memberi kesempatan kepada murid-murid untuk meningkatkan mutu kehidupan dalam masyarakat sekitarnya.</p>
<p>Dalam melaksanakan program sekolah, masyarakat turut sertakan. Tokoh-tokoh dari setiap aspek kehidupan masyarakat seperti dari dunia perusahaan, pemerintah, agama, politik, dan sebagainya.diminta bekerja sama dengan sekolah dalam peroyek perbaikan masyarakat.Untuk itu diperlukan masyarakat yang turut bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan pendidikan anak.Sekolah dan masyarakat dalam hal ini bekerja sama dalam suatu aksi social.</p>
<p>Bayak kesulitan yang dihadapi bila kita ingin menjalan kan sekolah seperti itu.Meminta waktu dan tenaga tokoh-tokoh masyarakat dalam suatu proyekpelajaran sekolah akan bayank menemui rintangan.Demikian pula bila anak ingin mengunjungi berbagai kantor, Pabrik, Perusahaandan sebagainya.Kurikulum sekolah sepenuh nya di dasarkanatas maslah-maslah masyarakat yang mendapat kencamanyang pedasdari golongan yang menginginkan kurikulum  akademis berdasarkan disiplin ilmu.Setelah peluncuran sputnik kurikulum yang subject-contered berupa mata pelajaranatau bidang setudi kembali mendapat peranan utama.</p>
<p>Sekarang mungkin jarang terdapat orang yang berpegang sepenuhnya pada prinsip-prinsip community school.Akan tetapi walaupun kurikulum bersifat subject-centered,perlu juga berorientasi pada anak dan masyarakat.Tak mungkin kurikulum efektif tanpa memperhitungkan anak dan tak ada kurikulum yang tidak mempersiapkan anak untuk masyarakat.Setiap sekolah harus relevan dengan kebutuhan masyarakat karena sekolah didiirikan oleh masyarakat untuk mempersiapkan anak untuk masyarakat.Maka kerena itu guru perlu mempelajari dan mengenal masyarakat sekitarnya.<sup>11</sup></p>
<p>D. SEKOLAH DAN MOBILITAS SOSIAL</p>
<p>Diduga bahwa bertamabah tingginya taraf pendidikan makin besarnya mobilitas bagi anak-anak golongan rendah dan menengah .Ternyata ini tidak selalu benar bila pendidikan itu hanya terbatas apada pendidikan tingkat menengah.Jadi walaupun kewajiban belajar ditinggatkan sampai SMTA masih menjadi pertanyaan apakah mobilitas social dengan sendirinya akan meningkat.mungkin sekali tidak terjadi perluasan mobilitas social.Seperti dikemukakan diatas ijazah SMA tidak lagi</p>
<p>11.Nasution.Sosiologi Pendidikan.2004.Ed 2.Cet 3.hal 149</p>
<p>memberi mobilitas yang lebih besar kepada seseorang.Akan tetapi pendidikan tinggi  masih dapt memberikan mobilitas itu walaupun bertambahnya lulusan perguruan tinggimakin berkurang jaminan ijazah untuk meningkat status social.</p>
<p>Pendidikan tinggi masih sangat selektif .tidak semua orang tua mampu membiayai studi anaknya di peguruan tinggi.Dengan mnggunakan computer untuk menilai tes seleksi masuk menjadi obyektif artinya tidak lagi dipengaruhi kedudukan orang tua atau orang yang memberikan rekomendasi. Cara itu membuka kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak golongan rendah dan menengah memasuki perguruan tinggi atas dasar prestasinya dalam tes masuk itu.biaya yang cukup banyak tentu selalu merupakan hambatan bagi golongan rendah untuk menyekolahkan anaknya pada tingkat universiatas. Biasiswa dari perinth dan kesempatan untuk mengadakan pinjaman dari bank untuk studi dapat memperluas kesempatan belajar bagi mereka yang berbakat akan tetapi ekonomi lemah.<sup>12</sup></p>
<p><sup> </sup></p>
<p><sup> </sup></p>
<p><sup> </sup></p>
<p><sup> </sup></p>
<p><sup> </sup></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="6" height="36"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><sup> </sup></p>
<p>12.Nasution.Sosiologi Pendidikan.2004.Ed 2.Cet 3.hal 38</p>
<p align="center">BAB III</p>
<p align="center">PENUTUP</p>
<p>A.KESIMPULAN</p>
<p>kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan akal budi manusia. Kebudayaan itu ada tiga wujudnya,yaitu:</p>
<ol>
<li>Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma, peraturandan sebagainya</li>
<li>Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.</li>
<li>Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.</li>
</ol>
<p><strong><em> </em></strong>Masyarakat adalah sejumlah orang dalam kelompok tertentu yang membentuk perikehidupan yang berbudaya.</p>
<p>Dalam melaksanakan program sekolah, masyarakat turut sertakan. Tokoh-tokoh dari setiap aspek kehidupan masyarakat seperti dari dunia perusahaan, pemerintah, agama, politik, dan sebagainya.diminta bekerja sama dengan sekolah dalam peroyek perbaikan masyarakat.Untuk itu diperlukan masyarakat yang turut bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan pendidikan anak.Sekolah dan masyarakat dalam hal ini bekerja sama dalam suatu aksi social.</p>
<p>B.SARAN</p>
<p>Dalam makalah ini mungkin terdapat banyak kesalahan,oleh karna itu kami sebagai penulis sangat mengharapkan kritik serta saran dari para pembaca sekalian guna penyempurnaan makalah ini.</p>
<p align="center">DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Koentjaraningrat.2009.<em>Pengantar Ilmu Antropologi</em>.Rineka Cipta:Jakarta</p>
<p>Nasution.2004.<em>Sosiologi Pendidikan</em>.Bumi Aksara:Bandung</p>
<p>Abu Ahmadi.1991.<em>Sosiologi Pendidikan</em>.Rineka Cipta:jakarta</p>
<p>Mahfudh Salahuddin.Abd.Kadir.1991.<em>Ilmu Sosial Dasar</em>.Bina Ilmu:Surabaya</p>
<p>Bambang Marhiyanto.<em>Kamus Lengkap Bahasa Indonesia</em>.Media Centre:Surabaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/275/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/275/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/275/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=275&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/11/18/masyarakat-dan-kebudayaan-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KIAT MENJADI GURU PROFESIONAL</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/11/18/kiat-menjadi-guru-profesional/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/11/18/kiat-menjadi-guru-profesional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Nov 2011 10:12:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[  Das Salirawati, M.Si Di presentasekan oleh Drs.H.M.Sugeng Edi S PENDAHULUAN prioritas Kemajuan negara ditentukan majunya pendidikan                            SDM yang brkualitas                                                                                                                      Kompetitif  dan                                                                                                                      komparatif Guru pegang peranan pembenahan segala aspek/komponen pendidikan Salah 1     perubahan kurikulum     PENDIDIK                PROFESIONAL  DIAMANATKAN  DALAM -          Pasal 39 ayat 2 UU RI No 20/2003 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=271&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Das Salirawati, M.Si</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Di presentasekan oleh Drs.H.M.Sugeng Edi S</strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong><strong></strong></p>
<table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p>prioritas</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Kemajuan negara ditentukan majunya pendidikan                            SDM yang brkualitas</strong></p>
<p><strong>                                                                                                                     Kompetitif  dan</strong></p>
<p><strong>                                                                                                                     komparatif</strong></p>
<table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p align="center">Guru pegang peranan</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>pembenahan segala aspek/komponen pendidikan</strong></p>
<table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p>Salah 1</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>perubahan kurikulum</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENDIDIK                PROFESIONAL  DIAMANATKAN  DALAM</strong></p>
<p>-          <strong>Pasal 39 ayat 2 UU RI No 20/2003 tentang SPN, </strong><strong></strong></p>
<p>-          <strong>Pasal 2 ayat 1 UU RI No 14/2005 tentang Guru dan Dosen, </strong><strong></strong></p>
<p>-          <strong>Pasal 28 ayat 1 PP RI No 19/2005 tentang SNP</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>-          <strong>Kebijakan SPN Pasal 42 UU RI No 20/2003</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Pendidik </strong><strong>à</strong><strong> kualifikasi akademik minimum &amp; sertifikasi mewujudkan tujuan pendidikan nasional</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>-          <strong>Pasal 28 ayat 1 PP RI No 19/ 2005 dan Pasal 8 UU RI No 14/2005</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Guru </strong><strong>à</strong><strong> kualifikasi akademik minimal D4 / S1 &amp; 4 kompetensi (profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PERAN DAN TUGAS GURU</strong></p>
<p><strong>Profesi yg td dpt dilakukan sembarang orang di luar bidang kependidikan </strong></p>
<ul>
<li><strong>Mendidik        :  Meneruskan &amp; mengembangkan nilai2 hidup</strong><strong> </strong><strong></strong></li>
<li><strong>Mengajar        : Meneruskan &amp; mengembangkan ilmu pengetahuan &amp;   teknologi</strong><strong> </strong><strong></strong></li>
<li><strong>Melatih           : Mengembangkan keterampilan2  pd peserta didik</strong><strong> </strong><strong></strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SE JALAN DENGAN </strong><strong>Pasal 1 ayat 1 UU RI No. 14/2005 tentang guru dan dosen</strong><strong> </strong><strong>à</strong><strong> seorang guru adalah pendidik profesional d</strong><strong>gn</strong><strong> tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, </strong><strong>&amp;</strong><strong> mengevaluasi peserta didik pd jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Pd tingkat pelaksanaan pembelajaran di kelas, gurulah yg sgt berperan dlm membawa peserta didiknya ke arah pembe</strong><strong>-</strong><strong>lajaran yg diisyaratkan dlm kurikulum.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Era Globalisasi</strong><strong> </strong><strong> </strong><strong>à</strong><strong> Mampu menampilkan pembela-jaran inovatif, kreatif &amp; menarik </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENTING BAGI GURU            Meningkatkan kinerja</strong></p>
<p><strong>                                                  Mningkatkan kemampuan</strong></p>
<p><strong>                                                  Memanfaatkan teknologi yg ada</strong></p>
<p><strong>Pasal 35 ayat 1 UU RI No. 14/2005</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Beban tugas utama guru</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan, dituntut kreatif menciptakan suasana belajar yang inovatif.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>menghasilkan individu masa depan Indonesia yg memiliki dasar-dasar karakter yang kuat, kecakapan hidup, dan dasar-dasar penguasaan IPTEK</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selain menerapkan iptek, guru harus :</strong></p>
<p>è    <strong>Mengembangkan kemampuan diri. Salah satunya mengembangkan metode pembelajaran yang sederhana tapi inovatif agar peserta didik termotivasi belajar lebih baik</strong></p>
<p>è    <strong>Memperkaya diri dengan berbagai ilmu pengetahuan</strong></p>
<p>è    <strong>Dapat mengetahui perkembangan zaman dan perkembangan peserta didik</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PROFESI GURU</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ARTI SEMPIT </strong><strong>à</strong><strong>kegiatan yg dijalankan berdasarkan keahlian tertentu </strong><strong>&amp;</strong><strong> sekaligus dituntut d</strong><strong>rpdnya</strong><strong> pelaksanaan norma-norma sosial dgn baik</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>ARTI LUAS </strong><strong>à</strong><strong> </strong><strong>kegiatan apa saja dan siapa saja utk memperoleh nafkah yg dilakukan dgn suatu keahlian tertentu</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>MAKNA SUATU PROFESI </strong><strong>à</strong><strong> </strong><strong>penyerahan dan pengabdian penuh pd suatu jenis pekerjaan yg mengimplikasikan tanggung jawab pd diri sendiri, masyarakat, dan profesi</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>CIRI-CIRI POKOK PROFESI</strong></p>
<p><strong>(1)   </strong><strong>pekerjaan yg memerlukan pengakuan masya-rakat</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>menuntut keterampilan tertentu yg diperoleh mll pendidikan &amp; latihan yg lama &amp; intensif serta dilakukan dlm lembaga tertentu yg scr sosial dpt dipertanggungjawabkan</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(3)   </strong><strong>didukung oleh suatu disiplin ilmu, bukan sekedar <em>common sense</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>(4)   </strong><strong>ada kode etik yg mjd pedoman perilaku ang-gotanya beserta sanksi yg jelas &amp; tegas thd pelanggar kode etik</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(5)   </strong><strong>sbg konsekwensi layanan yg diberikan kpd masyarakat </strong><strong>à</strong><strong> memperoleh imbalan finansial atau materiil.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>PROFESI GURU</strong></p>
<p><strong>Penanganan masalah</strong><strong> satu peserta didik dgn yg lainnya, memerlukan penanganan yg berbeda</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PROFESI  LAIN</strong></p>
<p><strong>profesi lain menjalankan tugas</strong><strong>-</strong><strong>nya sll dilandasi kemampuan </strong><strong>&amp;</strong><strong> keahlian yg ditunjang d</strong><strong>g</strong><strong>n konsep </strong><strong>&amp;</strong><strong> teori yg pasti</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>UU RI No. 14/2005 Pasal 1 ayat 4</strong><strong></strong></p>
<p><strong>profesional </strong><strong>:</strong><strong> pekerjaan </strong><strong>/</strong><strong> kegiatan yg dilakukan oleh seseorang </strong><strong>&amp; mjd</strong><strong> sumber penghasilan kehidupan yg memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yg memenuhi standar mutu </strong><strong>/</strong><strong> norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Pekerjaan yg profesional </strong><strong>:</strong><strong> pekerjaan yg hanya dpt dilakukan mereka yg khusus dipersiapkan utk itu </strong><strong>&amp; </strong><strong>bukan pekerjaan yg dikerjakan oleh mereka yg krn tdk dpt memperoleh pekerjaan lain</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Guru profesional </strong><strong>à</strong><strong> hrs menempuh jenjang pendidikan tinggi pada program studi kependidikan</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PRINSIP PROFESI GURU MEMILIKI :</strong></p>
<p><strong>1. bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>2. komitmen utk meningkatkan mutu pendidikan, keiman</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>an, ketakwaan, dan akhlak mulia.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>3. kualifikasi akademik </strong><strong>&amp;</strong><strong> latar belakang pendidikan sesu</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>ai dgn bidang tugas. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>4. kompetensi yg diperlukan sesuai dgn bidang tugas. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>5. tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesio</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>nalan.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>6. penghasilan yg ditentukan sesuai dgn prestasi kerja. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>7. kesempatan utk mengembangkan keprofesionalan scr</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>   </strong><strong> berkelanjutan dgn belajar sepanjang hayat.  </strong><strong></strong></p>
<p><strong>8. jaminan perlindungan hukum dlm melaksanakan tugas </strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>keprofesionalan, dan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>9. organisasi profesi yg mempunyai kewenangan menga</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>tur hal-</strong><strong>2</strong><strong> yg berkaitan dgn tugas keprofesionalan guru. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>5 UKURAN GURU </strong><strong>PROFESIONAL :</strong></p>
<p><strong>(1)   </strong><strong>memiliki komitmen pd peserta didik </strong><strong>&amp; </strong><strong>proses </strong><strong> </strong><strong>belajarnya, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>scr </strong><strong>mendalam menguasai bahan ajar </strong><strong>&amp;</strong><strong> cara mengajarkan, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(3)   </strong><strong>bertanggung jawab memantau kemampuan belajar peserta didik melalui berbagai teknik evaluasi, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(4)   </strong><strong>mampu berpikir sistematis dalam melakukan tugas, dan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(5)   </strong><strong>m</strong><strong>jd</strong><strong> bagian dr masyarakat belajar di lingk profesinya. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KONSEKWENSI PENGUKUHAN GURU SEBAGAI PROFESI,GURU DITUNTUT UNTUK :</strong></p>
<p><strong>ikut mereformasi pendidikan</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>M</strong><strong>emanfaatkan semaksimal mungkin sumber-</strong><strong>2</strong><strong> belajar di luar sekolah</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>M</strong><strong>erombak struktur hubungan guru </strong><strong>&amp;</strong><strong> peserta didik</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>M</strong><strong>enggunakan teknologi modern </strong><strong>&amp; </strong><strong>menguasai IPTEK</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>erjasama dgn teman sejawat antar sekolah </strong><strong>&amp; </strong><strong> kerjasama dgn komunitas lingkungannya</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOMPETENSI </strong><strong>à</strong><strong> KEMAMPUAN / KECAKAPAN</strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>eadaan berwewenang atau memenuhi syarat menurut ketentu</strong><strong>a</strong><strong>an hukum. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>emampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajibannya secara bertanggungjawab dan layak</strong><strong>.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>BEBERAPA PENDAPAT  TENTANG KOMPTENSI</strong></p>
<p><strong>DEPDIKNAS</strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>ompetensi </strong><strong>:</strong><strong> pengetahuan, keterampilan, </strong><strong>&amp;</strong><strong> nilai-</strong><strong>2</strong><strong> dasar yg direflek</strong><strong>-</strong><strong>sikan dlm kebiasaan berpikir </strong><strong>&amp;</strong><strong> bertindak</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>ompetensi </strong><strong>:</strong><strong> spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, </strong><strong>&amp;</strong><strong> sikap yg dimiliki seseorang serta penerapannya di dlm pekerjaan, sesuai dgn kinerja yg dibutuhkan lapangan</strong><strong>.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>MULYASA</strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>ompetensi </strong><strong>:</strong><strong> perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>ANDERSON S &amp; BALL S </strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>ompetensi guru </strong><strong>:</strong><strong> himpunan pengetahuan, kemampuan, </strong><strong>&amp; </strong><strong>keyakinan yang dimiliki seorang guru dan ditampilkan dalam situasi mengajar</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>6</strong><strong> ASPEK </strong><strong>/</strong><strong> RANAH YG TERKANDUNG DLM KONSEP KOMPETENSI</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(1)   </strong><strong>P</strong><strong>engetahuan (<em>knowledge</em>)</strong><strong> :</strong><strong> kesadaran dlm bidg kognitif, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>P</strong><strong>emahaman (<em>under-standing</em>)</strong><strong> :</strong><strong> kedalaman kognitif </strong><strong>&amp;</strong><strong> afektif yg dimiliki individu, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(3)   </strong><strong>K</strong><strong>emampuan (<em>skill</em>), sesuatu yg dimiliki individu utk melakukan tugas </strong><strong>/</strong><strong> pekerjaan yg dibebankan kpdnya, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(4)   </strong><strong>N</strong><strong>ilai (<em>value</em>), suatu standar perilaku yg tlh diyakini dan secara psikologis telah menyatu dlm diri seseorang,  </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(5)   </strong><strong>S</strong><strong>ikap (<em>attitude</em>)</strong><strong> :</strong><strong> perasaan (senang – tdk senang, suka &#8211; tdk suka) </strong><strong>/</strong><strong> reaksi t</strong><strong>hd</strong><strong> suatu rangsangan yg dtg dr luar</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(6)   </strong><strong>M</strong><strong>inat (<em>interest</em>)</strong><strong> : </strong><strong>kecenderungan seseorang utk melaku</strong><strong>-</strong><strong>kan sesuatu perbuatan.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOMPETENSI PROFESIONAL</strong><strong> </strong><strong>:</strong><strong></strong></p>
<p><strong>kemampuan yg berkaitan dgn penguasaan materi pembelajaran bidang studi scr luas </strong><strong>&amp;</strong><strong> mendalam yg mencakup penguasaan substansi keilmuan yg menaungi materi kurikulum tsbt, serta menambah wawasan keilmuan sbg guru</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>INDIKATOR ESENSIAL : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(1)   </strong><strong>M</strong><strong>emahami materi ajar yg ada dl</strong><strong>m</strong><strong> kurikulum sekolah,</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>M</strong><strong>emahami struktur, konsep, </strong><strong>&amp;</strong><strong> metode keilmuan yg koheren dgn materi ajar, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(3)   </strong><strong>M</strong><strong>emahami hubg konsep antar ma</strong><strong>pel</strong><strong> terkait, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(4)   </strong><strong>M</strong><strong>enerapkan konsep-</strong><strong>2</strong><strong> keilmuan dlm kehidupan sehari-</strong><strong>2</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kompetensi profesional guru menggambarkan ttg kemampuan yg hrs dimiliki oleh seseorang yg mengampu jabatan sbg seorang guru</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Tdk semua kompetensi yg dimiliki seseorang menunjukkan bahwa dia profesional, krn kompetensi profesional tdk hanya menunjukkan apa </strong><strong>&amp; bgmn</strong><strong> melakukan pekerjaan, t</strong><strong>p</strong><strong> juga menguasai rasional yg dpt menjawab mengapa hal itu dilakukan berdasarkan konsep </strong><strong>&amp;</strong><strong> teori tertentu</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOMPETENSI PEDAGOGIK</strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>emampuan yang berkaitan dgn pemahaman peserta didik </strong><strong>&amp;</strong><strong> pengelola pembelajaran yg mendidik </strong><strong>&amp; </strong><strong>dialogis. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>MENCAKUP:</strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>emampuan pemahaman t</strong><strong>hd</strong><strong> peserta didik</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>P</strong><strong>erancangan dan pelaksanaan pembelajaran</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>E</strong><strong>valuasi hasil belajar</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>P</strong><strong>engembangan peserta didik utk mengaktualisasi</strong><strong>-</strong><strong>kan berbagai potensi yg dimilikinya. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : </strong><strong>Memahami peserta didik </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>a. Memahami peserta didik dgn memanfaatkan prinsip-</strong><strong>2</strong><strong> perkembangan kognitif.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Memahami peserta didik dgn memanfaatkan prinsip-</strong><strong>2</strong><strong> kepribadian.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>c.  Mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : </strong><strong>Merancang  pembelajaran. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>a. Menerapkan teori belajar dan pembelajaran.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karak</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>teristik peserta didik, kompetensi yg ingin dicapai </strong><strong>&amp;</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>materi ajar. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>c. Menyusun rancangan pembelajaran yg berdasarkan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>strategi yg telah dipilih. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Melaksanakan pembelajaran </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>a. Menata latar (<em>setting</em>) pembelajaran.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Melaksanakan pembelajaran yang kondusif.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Penilaian hasil belajar </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>a. Melaksanakan penilaian (asesmen) proses </strong><strong>&amp;</strong><strong> hasil bela-jar scr berkesinambungan dgn berbagai metode. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Menganalisis hasil penilaian proses </strong><strong>&amp; </strong><strong>hasil belajar utk menentukan tingkat ketuntasan belajar (<em>mastery level</em>). </strong><strong></strong></p>
<p><strong>c. Menggunakan informasi ketuntasan belajar utk meran-cang program remedi atau pengayaan (<em>enrichment</em>). </strong><strong></strong></p>
<p><strong>d. Memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran utk per</strong><strong>-</strong><strong>baikan kualitas program pembelajaran s</strong><strong>cr</strong><strong> umum.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : pengembangan peserta didik </strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<p><strong>a. Memfasilitasi peserta didik utk mengem</strong><strong>- </strong><strong>bangkan berbagai potensi akademik. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Memfasilitasi peserta didik utk mengem</strong><strong>-</strong><strong>bangkan berbagai potensi non akademik. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apa benar ahli bidang ilmu berarti ahli mengajar / mendidik dlm bidang ilmu tsb ??</strong><strong> </strong><strong>Belum tentu.Karena </strong><strong>BIDANG ILMU TERTENTU  TDK SAMA DGN ILMU PENDIDIKAN BIDANG ILMU TSB</strong><strong> </strong><strong>.</strong></p>
<p><strong>Guru selain hrs menguasai materi, hrs memiliki kemampuan apalagi ??</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>è  <strong>mampu mengkomunikasikan materi k</strong><strong>pd</strong><strong> peserta didik dgn cara </strong><strong>&amp; </strong><strong>strategi yg baik, s</strong><strong>hg</strong><strong> mudah ditangkap </strong><strong>&amp; </strong><strong>dikuasai materi t</strong><strong>sb</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>è  <strong>GURU HRS </strong><strong>memiliki pengetahuan</strong><strong> sekaligus memiliki kemampuan </strong><strong> b</strong><strong>gmn</strong><strong> cara menyampaikan k</strong><strong>pd</strong><strong> peserta didiknya</strong><strong>, termasuk </strong><strong> memiliki banyak variasi mengajar </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOPETENSI KEPRIBADIAN</strong></p>
<p><strong>Kemampuan personal yg mencerminkan kepribadian yg mantap, stabil, dewasa, arif, </strong><strong>&amp;</strong><strong> berwibawa, m</strong><strong>jd</strong><strong> teladan bagi peserta didik, </strong><strong>&amp;</strong><strong> berakhlak mulia</strong><strong> </strong><strong>à</strong><strong> Tercermin dlm beberapa indikator esensial</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Memiliki kepribadian yg mantap &amp; stabil</strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<p><strong>a. Bertindak sesuai dengan norma hukum.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Bertindak sesuai dengan norma sosial.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>c. Bangga sebagai pendidik.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>d. Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Memiliki kepribadian dewasa</strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<p><strong>a. Menampilkan kemandirian dlm bertindak s</strong><strong>bg</strong><strong> pendidik.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Memiliki etos kerja sebagai pendidik. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Memiliki kepribadian arif</strong></p>
<p><strong>a. Menampilkan tindakan yg didasarkan pd kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Menunjukkan keterbukaan dlm berpikir dan bertindak. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Memiliki kepribadian yg berwibawa </strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<ol>
<li><strong>a.  </strong><strong>Memiliki perilaku yg berpengaruh positif t</strong><strong>hd</strong><strong> peserta</strong><strong> </strong><strong>didik. </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>b. </strong><strong>Memiliki</strong><strong> </strong><strong>perilaku yang disegani. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : </strong><strong>Memiliki akhlak mulia </strong><strong>&amp; dpt</strong><strong> m</strong><strong>jd</strong><strong> teladan. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<p><strong>a.</strong><strong>Bertindak sesuai dgn norma religius (intaq, jujur, ikhlas, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>suka menolong). </strong><strong></strong></p>
<p><strong>b.</strong><strong>Memiliki perilaku yang diteladani peserta didik</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>GURU YANG BAIK :</strong></p>
<p><strong>M</strong><strong>emiliki sifat terpuji yg dpt diteladani, spt  manusiawi, adil, konsisten, suka menolong peserta didik, adil, tidak pendendam, tdk egois, </strong><strong>&amp;</strong><strong> jujur. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Dpt</strong><strong> mjd contoh bagi peserta didiknya, memi</strong><strong>-</strong><strong>liki wibawa, berhati mulia, berjiwa besar, memiliki filsafat pendidikan yg jelas, mampu menyalakan minat </strong><strong>&amp;</strong><strong> kecintaan materi ajar pd peserta didiknya, menyenangkan, teliti </strong><strong>&amp;</strong><strong> berhati-hati, cerdas, memiliki rasa humor, </strong><strong>&amp; </strong><strong>sopan. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>KOMPETENSI SOSIAL :</strong></p>
<p><strong>Kompetensi sosial berkaitan dgn kemampuan pendidik s</strong><strong>bg</strong><strong> bagian dr masyarakat utk berkomu</strong><strong>-</strong><strong>nikasi </strong><strong>&amp;</strong><strong> bergaul s</strong><strong>cr</strong><strong> efektif dgn peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua / wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>TERCERMIN DLM BBRP INDIKATOR ESENSIAL</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Berkomunikasi secara efektif</strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<ol>
<li><strong>a.    </strong><strong>Berkomunikasi s</strong><strong>cr</strong><strong> </strong><strong>efektif </strong><strong>dgn peserta didik, </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>    </strong><strong>sejawat, dan orangtua / wali. </strong><strong></strong></p>
<ol>
<li><strong>b.    </strong><strong> Berkomunikasi s</strong><strong>cr</strong><strong> efektif dgn masyarakat. </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>Sub-kompetensi : Bergaul secara efektif</strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<ol>
<li><strong>a.    </strong><strong> </strong><strong>Mengembangkan hubg </strong><strong>scr</strong><strong> efektif dgn peserta </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>    </strong><strong>didik, sejawat, orangtua / wali, </strong><strong>&amp; </strong><strong>masyarakat. </strong><strong></strong></p>
<ol>
<li><strong>b.    </strong><strong>Bekerja sama s</strong><strong>cr</strong><strong> efektif dgn peserta didik, seja-</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p><strong>    </strong><strong>wat, orangtua / wali, dan masyarakat. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Das Salirawati, M.Si</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Di presentasekan oleh Drs.H.M.Sugeng Edi S</strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong><strong></strong></p>
<table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p>prioritas</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Kemajuan negara ditentukan majunya pendidikan                            SDM yang brkualitas</strong></p>
<p><strong>                                                                                                                     Kompetitif  dan</strong></p>
<p><strong>                                                                                                                     komparatif</strong></p>
<table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p align="center">Guru pegang peranan</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>pembenahan segala aspek/komponen pendidikan</strong></p>
<table width="100%" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>
<div>
<p>Salah 1</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>perubahan kurikulum</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENDIDIK                PROFESIONAL  DIAMANATKAN  DALAM</strong></p>
<p>-          <strong>Pasal 39 ayat 2 UU RI No 20/2003 tentang SPN, </strong><strong></strong></p>
<p>-          <strong>Pasal 2 ayat 1 UU RI No 14/2005 tentang Guru dan Dosen, </strong><strong></strong></p>
<p>-          <strong>Pasal 28 ayat 1 PP RI No 19/2005 tentang SNP</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>-          <strong>Kebijakan SPN Pasal 42 UU RI No 20/2003</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Pendidik </strong><strong>à</strong><strong> kualifikasi akademik minimum &amp; sertifikasi mewujudkan tujuan pendidikan nasional</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>-          <strong>Pasal 28 ayat 1 PP RI No 19/ 2005 dan Pasal 8 UU RI No 14/2005</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Guru </strong><strong>à</strong><strong> kualifikasi akademik minimal D4 / S1 &amp; 4 kompetensi (profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PERAN DAN TUGAS GURU</strong></p>
<p><strong>Profesi yg td dpt dilakukan sembarang orang di luar bidang kependidikan </strong></p>
<ul>
<li><strong>Mendidik        :  Meneruskan &amp; mengembangkan nilai2 hidup</strong><strong> </strong><strong></strong></li>
<li><strong>Mengajar        : Meneruskan &amp; mengembangkan ilmu pengetahuan &amp;   teknologi</strong><strong> </strong><strong></strong></li>
<li><strong>Melatih           : Mengembangkan keterampilan2  pd peserta didik</strong><strong> </strong><strong></strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SE JALAN DENGAN </strong><strong>Pasal 1 ayat 1 UU RI No. 14/2005 tentang guru dan dosen</strong><strong> </strong><strong>à</strong><strong> seorang guru adalah pendidik profesional d</strong><strong>gn</strong><strong> tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, </strong><strong>&amp;</strong><strong> mengevaluasi peserta didik pd jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Pd tingkat pelaksanaan pembelajaran di kelas, gurulah yg sgt berperan dlm membawa peserta didiknya ke arah pembe</strong><strong>-</strong><strong>lajaran yg diisyaratkan dlm kurikulum.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Era Globalisasi</strong><strong> </strong><strong> </strong><strong>à</strong><strong> Mampu menampilkan pembela-jaran inovatif, kreatif &amp; menarik </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PENTING BAGI GURU            Meningkatkan kinerja</strong></p>
<p><strong>                                                  Mningkatkan kemampuan</strong></p>
<p><strong>                                                  Memanfaatkan teknologi yg ada</strong></p>
<p><strong>Pasal 35 ayat 1 UU RI No. 14/2005</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Beban tugas utama guru</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>merencanakan, melaksanakan, dan menilai pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan, dituntut kreatif menciptakan suasana belajar yang inovatif.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>menghasilkan individu masa depan Indonesia yg memiliki dasar-dasar karakter yang kuat, kecakapan hidup, dan dasar-dasar penguasaan IPTEK</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selain menerapkan iptek, guru harus :</strong></p>
<p>è    <strong>Mengembangkan kemampuan diri. Salah satunya mengembangkan metode pembelajaran yang sederhana tapi inovatif agar peserta didik termotivasi belajar lebih baik</strong></p>
<p>è    <strong>Memperkaya diri dengan berbagai ilmu pengetahuan</strong></p>
<p>è    <strong>Dapat mengetahui perkembangan zaman dan perkembangan peserta didik</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PROFESI GURU</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>ARTI SEMPIT </strong><strong>à</strong><strong>kegiatan yg dijalankan berdasarkan keahlian tertentu </strong><strong>&amp;</strong><strong> sekaligus dituntut d</strong><strong>rpdnya</strong><strong> pelaksanaan norma-norma sosial dgn baik</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>ARTI LUAS </strong><strong>à</strong><strong> </strong><strong>kegiatan apa saja dan siapa saja utk memperoleh nafkah yg dilakukan dgn suatu keahlian tertentu</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>MAKNA SUATU PROFESI </strong><strong>à</strong><strong> </strong><strong>penyerahan dan pengabdian penuh pd suatu jenis pekerjaan yg mengimplikasikan tanggung jawab pd diri sendiri, masyarakat, dan profesi</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>CIRI-CIRI POKOK PROFESI</strong></p>
<p><strong>(1)   </strong><strong>pekerjaan yg memerlukan pengakuan masya-rakat</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>menuntut keterampilan tertentu yg diperoleh mll pendidikan &amp; latihan yg lama &amp; intensif serta dilakukan dlm lembaga tertentu yg scr sosial dpt dipertanggungjawabkan</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(3)   </strong><strong>didukung oleh suatu disiplin ilmu, bukan sekedar <em>common sense</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>(4)   </strong><strong>ada kode etik yg mjd pedoman perilaku ang-gotanya beserta sanksi yg jelas &amp; tegas thd pelanggar kode etik</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(5)   </strong><strong>sbg konsekwensi layanan yg diberikan kpd masyarakat </strong><strong>à</strong><strong> memperoleh imbalan finansial atau materiil.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>PROFESI GURU</strong></p>
<p><strong>Penanganan masalah</strong><strong> satu peserta didik dgn yg lainnya, memerlukan penanganan yg berbeda</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PROFESI  LAIN</strong></p>
<p><strong>profesi lain menjalankan tugas</strong><strong>-</strong><strong>nya sll dilandasi kemampuan </strong><strong>&amp;</strong><strong> keahlian yg ditunjang d</strong><strong>g</strong><strong>n konsep </strong><strong>&amp;</strong><strong> teori yg pasti</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>UU RI No. 14/2005 Pasal 1 ayat 4</strong><strong></strong></p>
<p><strong>profesional </strong><strong>:</strong><strong> pekerjaan </strong><strong>/</strong><strong> kegiatan yg dilakukan oleh seseorang </strong><strong>&amp; mjd</strong><strong> sumber penghasilan kehidupan yg memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yg memenuhi standar mutu </strong><strong>/</strong><strong> norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Pekerjaan yg profesional </strong><strong>:</strong><strong> pekerjaan yg hanya dpt dilakukan mereka yg khusus dipersiapkan utk itu </strong><strong>&amp; </strong><strong>bukan pekerjaan yg dikerjakan oleh mereka yg krn tdk dpt memperoleh pekerjaan lain</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Guru profesional </strong><strong>à</strong><strong> hrs menempuh jenjang pendidikan tinggi pada program studi kependidikan</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>PRINSIP PROFESI GURU MEMILIKI :</strong></p>
<p><strong>1. bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>2. komitmen utk meningkatkan mutu pendidikan, keiman</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>an, ketakwaan, dan akhlak mulia.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>3. kualifikasi akademik </strong><strong>&amp;</strong><strong> latar belakang pendidikan sesu</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>ai dgn bidang tugas. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>4. kompetensi yg diperlukan sesuai dgn bidang tugas. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>5. tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesio</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>nalan.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>6. penghasilan yg ditentukan sesuai dgn prestasi kerja. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>7. kesempatan utk mengembangkan keprofesionalan scr</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>   </strong><strong> berkelanjutan dgn belajar sepanjang hayat.  </strong><strong></strong></p>
<p><strong>8. jaminan perlindungan hukum dlm melaksanakan tugas </strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>keprofesionalan, dan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>9. organisasi profesi yg mempunyai kewenangan menga</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>tur hal-</strong><strong>2</strong><strong> yg berkaitan dgn tugas keprofesionalan guru. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>5 UKURAN GURU </strong><strong>PROFESIONAL :</strong></p>
<p><strong>(1)   </strong><strong>memiliki komitmen pd peserta didik </strong><strong>&amp; </strong><strong>proses </strong><strong> </strong><strong>belajarnya, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>scr </strong><strong>mendalam menguasai bahan ajar </strong><strong>&amp;</strong><strong> cara mengajarkan, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(3)   </strong><strong>bertanggung jawab memantau kemampuan belajar peserta didik melalui berbagai teknik evaluasi, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(4)   </strong><strong>mampu berpikir sistematis dalam melakukan tugas, dan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(5)   </strong><strong>m</strong><strong>jd</strong><strong> bagian dr masyarakat belajar di lingk profesinya. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KONSEKWENSI PENGUKUHAN GURU SEBAGAI PROFESI,GURU DITUNTUT UNTUK :</strong></p>
<p><strong>ikut mereformasi pendidikan</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>M</strong><strong>emanfaatkan semaksimal mungkin sumber-</strong><strong>2</strong><strong> belajar di luar sekolah</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>M</strong><strong>erombak struktur hubungan guru </strong><strong>&amp;</strong><strong> peserta didik</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>M</strong><strong>enggunakan teknologi modern </strong><strong>&amp; </strong><strong>menguasai IPTEK</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>erjasama dgn teman sejawat antar sekolah </strong><strong>&amp; </strong><strong> kerjasama dgn komunitas lingkungannya</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOMPETENSI </strong><strong>à</strong><strong> KEMAMPUAN / KECAKAPAN</strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>eadaan berwewenang atau memenuhi syarat menurut ketentu</strong><strong>a</strong><strong>an hukum. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>emampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajibannya secara bertanggungjawab dan layak</strong><strong>.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>BEBERAPA PENDAPAT  TENTANG KOMPTENSI</strong></p>
<p><strong>DEPDIKNAS</strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>ompetensi </strong><strong>:</strong><strong> pengetahuan, keterampilan, </strong><strong>&amp;</strong><strong> nilai-</strong><strong>2</strong><strong> dasar yg direflek</strong><strong>-</strong><strong>sikan dlm kebiasaan berpikir </strong><strong>&amp;</strong><strong> bertindak</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>ompetensi </strong><strong>:</strong><strong> spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, </strong><strong>&amp;</strong><strong> sikap yg dimiliki seseorang serta penerapannya di dlm pekerjaan, sesuai dgn kinerja yg dibutuhkan lapangan</strong><strong>.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>MULYASA</strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>ompetensi </strong><strong>:</strong><strong> perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>ANDERSON S &amp; BALL S </strong><strong></strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>ompetensi guru </strong><strong>:</strong><strong> himpunan pengetahuan, kemampuan, </strong><strong>&amp; </strong><strong>keyakinan yang dimiliki seorang guru dan ditampilkan dalam situasi mengajar</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>6</strong><strong> ASPEK </strong><strong>/</strong><strong> RANAH YG TERKANDUNG DLM KONSEP KOMPETENSI</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(1)   </strong><strong>P</strong><strong>engetahuan (<em>knowledge</em>)</strong><strong> :</strong><strong> kesadaran dlm bidg kognitif, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>P</strong><strong>emahaman (<em>under-standing</em>)</strong><strong> :</strong><strong> kedalaman kognitif </strong><strong>&amp;</strong><strong> afektif yg dimiliki individu, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(3)   </strong><strong>K</strong><strong>emampuan (<em>skill</em>), sesuatu yg dimiliki individu utk melakukan tugas </strong><strong>/</strong><strong> pekerjaan yg dibebankan kpdnya, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(4)   </strong><strong>N</strong><strong>ilai (<em>value</em>), suatu standar perilaku yg tlh diyakini dan secara psikologis telah menyatu dlm diri seseorang,  </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(5)   </strong><strong>S</strong><strong>ikap (<em>attitude</em>)</strong><strong> :</strong><strong> perasaan (senang – tdk senang, suka &#8211; tdk suka) </strong><strong>/</strong><strong> reaksi t</strong><strong>hd</strong><strong> suatu rangsangan yg dtg dr luar</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(6)   </strong><strong>M</strong><strong>inat (<em>interest</em>)</strong><strong> : </strong><strong>kecenderungan seseorang utk melaku</strong><strong>-</strong><strong>kan sesuatu perbuatan.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOMPETENSI PROFESIONAL</strong><strong> </strong><strong>:</strong><strong></strong></p>
<p><strong>kemampuan yg berkaitan dgn penguasaan materi pembelajaran bidang studi scr luas </strong><strong>&amp;</strong><strong> mendalam yg mencakup penguasaan substansi keilmuan yg menaungi materi kurikulum tsbt, serta menambah wawasan keilmuan sbg guru</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>INDIKATOR ESENSIAL : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(1)   </strong><strong>M</strong><strong>emahami materi ajar yg ada dl</strong><strong>m</strong><strong> kurikulum sekolah,</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>M</strong><strong>emahami struktur, konsep, </strong><strong>&amp;</strong><strong> metode keilmuan yg koheren dgn materi ajar, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(3)   </strong><strong>M</strong><strong>emahami hubg konsep antar ma</strong><strong>pel</strong><strong> terkait, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(4)   </strong><strong>M</strong><strong>enerapkan konsep-</strong><strong>2</strong><strong> keilmuan dlm kehidupan sehari-</strong><strong>2</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kompetensi profesional guru menggambarkan ttg kemampuan yg hrs dimiliki oleh seseorang yg mengampu jabatan sbg seorang guru</strong><strong>.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Tdk semua kompetensi yg dimiliki seseorang menunjukkan bahwa dia profesional, krn kompetensi profesional tdk hanya menunjukkan apa </strong><strong>&amp; bgmn</strong><strong> melakukan pekerjaan, t</strong><strong>p</strong><strong> juga menguasai rasional yg dpt menjawab mengapa hal itu dilakukan berdasarkan konsep </strong><strong>&amp;</strong><strong> teori tertentu</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOMPETENSI PEDAGOGIK</strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>emampuan yang berkaitan dgn pemahaman peserta didik </strong><strong>&amp;</strong><strong> pengelola pembelajaran yg mendidik </strong><strong>&amp; </strong><strong>dialogis. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>MENCAKUP:</strong></p>
<p><strong>K</strong><strong>emampuan pemahaman t</strong><strong>hd</strong><strong> peserta didik</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>P</strong><strong>erancangan dan pelaksanaan pembelajaran</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>E</strong><strong>valuasi hasil belajar</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>P</strong><strong>engembangan peserta didik utk mengaktualisasi</strong><strong>-</strong><strong>kan berbagai potensi yg dimilikinya. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : </strong><strong>Memahami peserta didik </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>a. Memahami peserta didik dgn memanfaatkan prinsip-</strong><strong>2</strong><strong> perkembangan kognitif.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Memahami peserta didik dgn memanfaatkan prinsip-</strong><strong>2</strong><strong> kepribadian.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>c.  Mengidentifikasi bekal-ajar awal peserta didik. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : </strong><strong>Merancang  pembelajaran. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>a. Menerapkan teori belajar dan pembelajaran.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karak</strong><strong>-</strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>teristik peserta didik, kompetensi yg ingin dicapai </strong><strong>&amp;</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>materi ajar. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>c. Menyusun rancangan pembelajaran yg berdasarkan </strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>strategi yg telah dipilih. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Melaksanakan pembelajaran </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>a. Menata latar (<em>setting</em>) pembelajaran.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Melaksanakan pembelajaran yang kondusif.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Penilaian hasil belajar </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong><strong></strong></p>
<p><strong>a. Melaksanakan penilaian (asesmen) proses </strong><strong>&amp;</strong><strong> hasil bela-jar scr berkesinambungan dgn berbagai metode. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Menganalisis hasil penilaian proses </strong><strong>&amp; </strong><strong>hasil belajar utk menentukan tingkat ketuntasan belajar (<em>mastery level</em>). </strong><strong></strong></p>
<p><strong>c. Menggunakan informasi ketuntasan belajar utk meran-cang program remedi atau pengayaan (<em>enrichment</em>). </strong><strong></strong></p>
<p><strong>d. Memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran utk per</strong><strong>-</strong><strong>baikan kualitas program pembelajaran s</strong><strong>cr</strong><strong> umum.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : pengembangan peserta didik </strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<p><strong>a. Memfasilitasi peserta didik utk mengem</strong><strong>- </strong><strong>bangkan berbagai potensi akademik. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Memfasilitasi peserta didik utk mengem</strong><strong>-</strong><strong>bangkan berbagai potensi non akademik. </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apa benar ahli bidang ilmu berarti ahli mengajar / mendidik dlm bidang ilmu tsb ??</strong><strong> </strong><strong>Belum tentu.Karena </strong><strong>BIDANG ILMU TERTENTU  TDK SAMA DGN ILMU PENDIDIKAN BIDANG ILMU TSB</strong><strong> </strong><strong>.</strong></p>
<p><strong>Guru selain hrs menguasai materi, hrs memiliki kemampuan apalagi ??</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>è  <strong>mampu mengkomunikasikan materi k</strong><strong>pd</strong><strong> peserta didik dgn cara </strong><strong>&amp; </strong><strong>strategi yg baik, s</strong><strong>hg</strong><strong> mudah ditangkap </strong><strong>&amp; </strong><strong>dikuasai materi t</strong><strong>sb</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>è  <strong>GURU HRS </strong><strong>memiliki pengetahuan</strong><strong> sekaligus memiliki kemampuan </strong><strong> b</strong><strong>gmn</strong><strong> cara menyampaikan k</strong><strong>pd</strong><strong> peserta didiknya</strong><strong>, termasuk </strong><strong> memiliki banyak variasi mengajar </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>KOPETENSI KEPRIBADIAN</strong></p>
<p><strong>Kemampuan personal yg mencerminkan kepribadian yg mantap, stabil, dewasa, arif, </strong><strong>&amp;</strong><strong> berwibawa, m</strong><strong>jd</strong><strong> teladan bagi peserta didik, </strong><strong>&amp;</strong><strong> berakhlak mulia</strong><strong> </strong><strong>à</strong><strong> Tercermin dlm beberapa indikator esensial</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Memiliki kepribadian yg mantap &amp; stabil</strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<p><strong>a. Bertindak sesuai dengan norma hukum.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Bertindak sesuai dengan norma sosial.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>c. Bangga sebagai pendidik.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>d. Memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai norma. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Memiliki kepribadian dewasa</strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<p><strong>a. Menampilkan kemandirian dlm bertindak s</strong><strong>bg</strong><strong> pendidik.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Memiliki etos kerja sebagai pendidik. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Memiliki kepribadian arif</strong></p>
<p><strong>a. Menampilkan tindakan yg didasarkan pd kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>b. Menunjukkan keterbukaan dlm berpikir dan bertindak. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Memiliki kepribadian yg berwibawa </strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<ol>
<li><strong>a.  </strong><strong>Memiliki perilaku yg berpengaruh positif t</strong><strong>hd</strong><strong> peserta</strong><strong> </strong><strong>didik. </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>b. </strong><strong>Memiliki</strong><strong> </strong><strong>perilaku yang disegani. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : </strong><strong>Memiliki akhlak mulia </strong><strong>&amp; dpt</strong><strong> m</strong><strong>jd</strong><strong> teladan. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<p><strong>a.</strong><strong>Bertindak sesuai dgn norma religius (intaq, jujur, ikhlas, </strong><strong></strong></p>
<p><strong>    </strong><strong>suka menolong). </strong><strong></strong></p>
<p><strong>b.</strong><strong>Memiliki perilaku yang diteladani peserta didik</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>GURU YANG BAIK :</strong></p>
<p><strong>M</strong><strong>emiliki sifat terpuji yg dpt diteladani, spt  manusiawi, adil, konsisten, suka menolong peserta didik, adil, tidak pendendam, tdk egois, </strong><strong>&amp;</strong><strong> jujur. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>Dpt</strong><strong> mjd contoh bagi peserta didiknya, memi</strong><strong>-</strong><strong>liki wibawa, berhati mulia, berjiwa besar, memiliki filsafat pendidikan yg jelas, mampu menyalakan minat </strong><strong>&amp;</strong><strong> kecintaan materi ajar pd peserta didiknya, menyenangkan, teliti </strong><strong>&amp;</strong><strong> berhati-hati, cerdas, memiliki rasa humor, </strong><strong>&amp; </strong><strong>sopan. </strong><strong></strong></p>
<p><strong>KOMPETENSI SOSIAL :</strong></p>
<p><strong>Kompetensi sosial berkaitan dgn kemampuan pendidik s</strong><strong>bg</strong><strong> bagian dr masyarakat utk berkomu</strong><strong>-</strong><strong>nikasi </strong><strong>&amp;</strong><strong> bergaul s</strong><strong>cr</strong><strong> efektif dgn peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua / wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>TERCERMIN DLM BBRP INDIKATOR ESENSIAL</strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Sub-kompetensi : Berkomunikasi secara efektif</strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<ol>
<li><strong>a.    </strong><strong>Berkomunikasi s</strong><strong>cr</strong><strong> </strong><strong>efektif </strong><strong>dgn peserta didik, </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>    </strong><strong>sejawat, dan orangtua / wali. </strong><strong></strong></p>
<ol>
<li><strong>b.    </strong><strong> Berkomunikasi s</strong><strong>cr</strong><strong> efektif dgn masyarakat. </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>Sub-kompetensi : Bergaul secara efektif</strong></p>
<p><strong>Indikator esensial : </strong></p>
<ol>
<li><strong>a.    </strong><strong> </strong><strong>Mengembangkan hubg </strong><strong>scr</strong><strong> efektif dgn peserta </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p><strong>    </strong><strong>didik, sejawat, orangtua / wali, </strong><strong>&amp; </strong><strong>masyarakat. </strong><strong></strong></p>
<ol>
<li><strong>b.    </strong><strong>Bekerja sama s</strong><strong>cr</strong><strong> efektif dgn peserta didik, seja-</strong><strong> </strong></li>
</ol>
<p><strong>    </strong><strong>wat, orangtua / wali, dan masyarakat. </strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=271&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/11/18/kiat-menjadi-guru-profesional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/10/28/266/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/10/28/266/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 07:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[“Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak” BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam Ilmu Kesehatan Anak istilah pertumbuhan dan perkembangan menyangkut semua aspekkemajuan yang dicapai oleh jasad manusia dari konsepsi sampai dewasa. Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=266&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>“Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak”</h1>
<p><strong>BAB I</strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>1.1. Latar Belakang</strong></p>
<p>Dalam Ilmu Kesehatan Anak istilah pertumbuhan dan perkembangan menyangkut semua aspekkemajuan yang dicapai oleh jasad manusia dari konsepsi sampai dewasa.<strong> </strong></p>
<p>Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya.</p>
<p>Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.</p>
<p>Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan terjadi secara simultan dengan perkembangan. Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya, misalnya perkembangan sistem neuromuskuler, kemampuan bicara, emosi dan sosialisasi. Kesemua fungsi tersebut berperan penting dalam kehidupan manusia yang utuh</p>
<p>Faktor penentu tumbuh kembang adalah faktor genetik herediter konstitusional, yang menentukan potensi bawaan anak, dan factor lingkungan yang menentukan tercapai atau tidaknyanya potensi tersebut. Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang digolongkan menjadi tiga yaitu kebutuhan fisis-bomedis (‘asuh’), berupa pangan, sandang, papan, perawatan kesehatan dasar, hygiene, sanitasi,kesegaran jasmani, rekreasi; kebutuhan emosi / kasih sayang (‘asih’); dan kebutuhan akan stimulasi mental (‘asah’) yang merupakan cikal bakal proses pembelajaran (pendidikan dan pelatihan) pada anak.</p>
<p><strong>2.1. Batasan Masalah</strong></p>
<p>Dalam penulisan makalah ini penulis membahas tentang <strong>“Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak”</strong><em> </em>yang merupakan batasan masalah dalam pembahasan makalah ini.</p>
<p><strong>3.1. Tujuan</strong></p>
<p>1.3.1.  Tujuan Umum</p>
<ol start="1">
<li>Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah keperawatan anak di Program Studi Ilmu Keperawatan fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.</li>
<li>Sebagai pengembangan ilmu yang telah diperoleh selama mengikuti perkuliahan secara teori maupun praktek.</li>
<li>Memperoleh pemahaman ilmu tentang <span style="text-decoration:underline;">“Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak”</span></li>
</ol>
<p>1.3.2.  Tujuan Khusus</p>
<ol start="1">
<li>Agar dapat menjelaskan dengan tepat tentang teori perkembangan Anak.</li>
<li>Agar dapat menjelaskan dengan tepat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang</li>
<li>Agar berpengetahuan dan dapat melakukan pengaruh tumbuh kembang pada peningkatan kesehatan anak</li>
</ol>
<p>BAB II</p>
<p>Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan</p>
<ol start="1">
<li><strong>1. Keturunan</strong></li>
</ol>
<p>Karakteristik yang diturunkan mempunyai pengaruh besar pada perkembangan. Jenis kelamin dan determinan keturunan lain secara kuat mmpengaruhi hasil akhir pertumbuhan dan laju perkembangan untuk mendapatkan hasil akhir tersebut. Terdapat hubungan yang besar antara orangtua dan anak dalam hal sifat seperti tinggi badan, berat badan, dan laju pertumbuhan. Kebanyakan karakter fisik, termasuk pola dan bentuk gambaran, bangun tubuh, dan ganjilan fisik, diturunkan dan dapat mempengaruhi cara pertumbuhan dan integrasi anak dengan lingkungannya.</p>
<p><strong>Faktor Keturunan/Herediter :</strong></p>
<ul>
<li><strong>Sex : </strong>Kecepatan pertumbuhan dan perkembangam pada seorang anak wanita berbeda dengan anak laki-laki.</li>
<li><strong>Ras : </strong>Anak keturunan bangsa Eropa lebih tinggi dan lebih besar dibanding anak Asia.</li>
</ul>
<ol start="1">
<li><strong>2. Neuroendokrin</strong></li>
</ol>
<p>Penelitian menunjukkan kemungkinan adanya pusat pertumbuhan dan region hipotalamik yang bertanggung jawab untuk mempertahankan pola pertumbuhan yang ditetapkan secara genetic. Beberapa hubungan fungsional diyakini ada diantara hipotalamus dan system endokrin yang memengaruhi pertumbuhan.Tiga hormon-hormon pertumbuhan, hormone tiroid, dan endrogen.</p>
<ol start="1">
<li><strong>3. Nutrisi</strong></li>
</ol>
<p>Nutrisi mungkin merupakan satu-satunya pengaruh paling pentng pada pertumbuhan. Faktor diet mengatur pertumbuhan pada semua tahap perkembangan, dan efeknya ditujukan pada cara beragam dan rumit. Selama periode pertumbuhan prenatal yang cepat, nutrisi buruk dapat memengaruhi perkembangan dari waktu impalmantasi ovum sampai kelahiran.</p>
<ol start="1">
<li><strong>4. Hubungan Interpersonal</strong></li>
</ol>
<p>Hubungan dengan orang terdekat memainkan peran penting dalam perkembangan, terutama dalam perkembangan emosi, intelektual, dan kepribadian. Tidak hanya kualitas dan kuantitas deengan orang lain yang memberi pengaruh pada nak yang sedang berkembang, tetapi luasnya rentang kontak penting untuk pembelajaran dan perkembangan kepribadian yang sehat.</p>
<ol start="1">
<li><strong>5. Tingkat Sosioekonomi</strong></li>
</ol>
<p>Riset menunjukkan bahwa tingkat sosioekonomi keluarga anak mempunyai dapak signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan. Pada semua usia anak dari keluarga kelas atas dan menengah mempunyai tinggi badan lebih dari anak dari keluarga dengan strata sosioekonomi rendah.</p>
<ol start="1">
<li><strong>6. Penyakit</strong></li>
</ol>
<p>Banyak penyakit kronik yang dikaitkan dengan berbagai tingkat kegagalan pertumbuhan adalah anomaly jantung congenital dan gangguan pernafasan seperti  kistik fibrosis. Gangguan apapun yang dicirikan dengan ketidakmampuan untuk mencerna dan mengabsorbsi nutrisi tubuh akan member efek merugikan pada pertumbuhan dan perkembangan.</p>
<ol start="1">
<li><strong>7. Bahaya lingkungan</strong></li>
</ol>
<p>Bahaya dilikungan adalah sumber kekhawatiran pemberi asuhan kesehatan dan orang lain yang memerhatikan kesehatan dan keamanan. Cidera fisik paling sering terjadi akibat bahaya lingkungan.</p>
<p>Anak berisiko tinggi mengalami cidera akibat residu kimia dari kehidupan modern saat inidilingkungan. Bahaya dari residu kimia ini berhubungan dengan potensi kardiogenik, efek enzimatik, dan akumulasi (Baum dan Shannon, 1995) .</p>
<p><strong>Faktor Lingkungan :</strong></p>
<ul>
<ul>
<li><strong>Lingkungan eksternal : </strong>Kebudayaan, Status sosial ekonomi keluarga, Nutrisi, Penyimpangan keadaan sehat, Olah raga, Urutan anak dalam keluarga.</li>
<li><strong>Lingkungan Internal : </strong></li>
</ul>
</ul>
<ul>
<li><em><strong>Intelegensi : </strong></em>Pada umumnya anak yang mempunyai integensi tinggi, mempunyai perkembangan lebih baik.</li>
</ul>
<ul>
<ul>
<ul>
<li><em><strong>Hormon : </strong></em>Ada tiga hormon yang mempengaruhi pertumbuhan anak yaitu: Somatotropin, hormon yang mempengaruhi jumlah sel tulang, merangsang sel otak pada masa pertumbuhan. Berkurangnya hormon ini dapatmenyebabkan gigantisme; hormon tiroid, mempengaruhi pertumbuhan tulang. Berkurangnya hormon ini dapat menyebabkan kreatinisme; Hormon gonadotropin, merangsang testosteron dan merangsang perkembangan seks laki-laki dan memproduksi spermatozoid. Sedangkan estrogen merangsang perkembangan seks sekunder wanita dan produksi sel telur: kekurangan homon gonadotropin dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan seks.</li>
<li><em><strong>Emosi : </strong></em>Hubungan yang hangat dengan orang lain seperti dengan ayah, ibu, saudara, teman sebaya serta guru akan memberi pengaruh terhadap perkembangan emosi, sosial dan intelektual anak. Cara anak berinteraksi dalam keluarga akan mempengaruhi interaksi anak di luar rumah. Apabila keinginan anak tidak dapat terpenuhi sesuai dengan tahap perkembangan tertentu dapat memberi pengaruh terhadap tahap perkembangan selanjutnya.</li>
</ul>
</ul>
</ul>
<ol start="1">
<li><strong>8. Stress pada Masa Kanak-Kanak</strong></li>
</ol>
<p>Stress adalah ketidakseimbagan antara tuntutan lingkungan dan sumber koping individu yang…menggangggu ekuiibrium individu tersebut ( mastern dkk, 1998).</p>
<p>Usia anak, temperamen situasi hidup, dan status kesehatan mempengaruhi kerentanan, reaksi dan kemampuan mereka untuk mengatasi stress. Kenali tanda stress untuk membantu anak menghadapi stress sebelum stress menjadi berat.</p>
<p><em><strong>Koping</strong></em></p>
<p>Koping adalah tahapan khusus dari reaksi individu terhadap stressor. Strategi koping adalah cara khusus anak mengatasi stersor ang dibedakan dari gaya koping yang relative tidak mengubah karakteristik kepribdian atau hasil koping ( Ryan-wengger, 1992).</p>
<ol start="1">
<li><strong>9. Pengaruh Media Masa</strong></li>
</ol>
<p>Media dapat member pengaruh besar pada perkembangan anak. Tidak diragukan lagi bahwa media member anak suatu cara untuk memperluas pengetahuan mereka tentang dunia tempat mereka hidup dan berkontibusi untuk mempersempit perbedaan antar kelas. (Rowitz, 1996)</p>
<ul>
<li>Ø <em><strong>Materi Bacaan</strong></em></li>
</ul>
<p>Buku, Koran, dan majalah adalah bentuk media masa paling tua. Materi ini berkontribusi pada kompetensi  anak dalam hamper setiap arah dan juga member kesenangan.</p>
<ul>
<li>Ø <em><strong>Film</strong></em></li>
</ul>
<p>Film yang tidak terikat erat pada kenyataan dan sering menggambarkan berbagai perilaku berbagai perilaku yang disetujui secara social mungkin member kontribusi pada system nilai anak dan memberikan kesempatan untuk pembelajaran social yang diinginkan.</p>
<ul>
<li>Ø <em><strong>Televisi</strong></em></li>
</ul>
<p>Media dengan dampak yang paling besar pada anak Amerka Utara saat ini adalah televise, yang telah menjadi salah satu agens penyosialisasi paling penting dalam kehidupan anak kecil. Disamping menimbulkan efek tertentu mengenai perbedaan kelas dalam informasi umum dan pembendaharaan kata, TV memanjakan anak pada berbagai topic dan kejadian yang lebih luas dari yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<ul>
<li>Ø <em><strong>Computer/Internet</strong></em></li>
</ul>
<p>Penggunaan computer baik diruang kelas dan dirumah telah mempenagruhi pembelajaran dan perkembangan dimasa kanak-kanak.Salah satu strategi yang bermanfaat menempatkan computer diruang prublik dirumah seperti dapur atau ruang keluarga agar orang tua dapat dengan mudah memantau penggunaannya.</p>
<p><em><strong>Faktor Perkembangan Anak </strong></em></p>
<p>Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tumbuh kembang anak antara lain:<em><strong> </strong></em></p>
<p><strong>FAKTOR DALAM</strong></p>
<ul>
<li>Ras/etnik atau bangsa : Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memilki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya</li>
<li>Keluarga: Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek, gemuk atau kurus</li>
<li>Umur : Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.</li>
<li>Jenis kelamin : fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki.. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki akan lebih cepat</li>
<li>Genetik : adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil.</li>
<li>Kelainan kromosom : Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhanseperti pada sindroma Down’s dan sindroma Turner’s.</li>
</ul>
<p><strong>FAKTOR LUAR</strong></p>
<p><em><strong>Faktor prenatal</strong></em></p>
<ul>
<li>Gizi : Nutrisi ibu hamil terutama dalam trisemester akhir kehamilan akan mempengaruhipertumbuhan janin</li>
<li>Mekanis : Posisi fetus yang abnormal bisa menyebabkan kongenital seperti club foot</li>
<li>Toksi/zat kimia :beberapa obat-obatan dapat menyebabkan kelainan kongenital.</li>
<li>Radiasi Paparan radium dan sinar rontgen dapat kelainan pada janin seperti deformitas anggota gerak</li>
<li>Infeksi : Infeksi pada trimester pertama dan kedua oleh virus TORCH dapat menyebabkan kalainan pada janin, katarak, bisu tuli, retasdasi mental dam kelainan jantung.</li>
<li>Kelainan imunologi : Adanya perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian melalui plasenta masuk dalam peredaran darah janin dan akan menyebabkan hemolisis yang selanjutnya mengakibatkan kerusakan jaringan otak</li>
<li>Psikologi ibu : Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakukan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dan lain-lain.</li>
</ul>
<p><strong>FAKTOR PERSALINAN</strong></p>
<p>Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat menyebabkan keruskaan jaringan otak.</p>
<p><strong>FAKTOR PASCASALIN</strong></p>
<ul>
<li>Gizi : untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat</li>
<li>Penyakit kronis/kelainan kongenital : tuberkolosis, anemia, kelainan jantung bawaan mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani</li>
<li>Lingkukan fisis dan kimia : Lingkungan sebagai tempat anak hidup berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif, zat kimia tertentu mempunya dampak yang negatif terhadap pertumbuhan anak.</li>
</ul>
<p><strong>PSIKOLOGIS</strong></p>
<p>Hubungan anak dengan orang sekitarnya. Seorang anak yang tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau anak yang selalu merasa tertetkan, akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya</p>
<p><strong>SOSIO-EKONOMI</strong></p>
<p>Kemisikinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan anak.</p>
<p><strong>LINGKUNGAN PENGASUHAN</strong></p>
<p>Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak</p>
<p><strong>STIMULASI</strong></p>
<p>Pertumbuhan memerlukan rangsang/stimulasi khususnya dalam keluarga, misalnya penyediaan alat mainan, sosialisasi anak, keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.</p>
<p><strong>OBAT-OBATAN</strong></p>
<p>Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghamba pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormon pertumbuhan</p>
<p><strong>BAB III</strong></p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p><strong>1.1. Kesimpulan</strong></p>
<p>Dari pembahasan penulisan makalah dengan judul “Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak<em>”</em>, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut :</p>
<ol start="1">
<li><strong>1. Keturunan</strong></li>
</ol>
<p>Karakteristik yang diturunkan mempunyai pengaruh besar pada perkembangan.</p>
<ol start="1">
<li><strong>2. Neuroendokrin</strong></li>
</ol>
<p>Penelitian menunjukkan kemungkinan adanya pusat pertumbuhan dan region hipotalamik yang bertanggung jawab untuk mempertahankan pola pertumbuhan yang ditetapkan secara genetic</p>
<ol start="1">
<li><strong>3. Nutrisi</strong></li>
</ol>
<p>Nutrisi mungkin merupakan satu-satunya pengaruh paling pentng pada pertumbuhan.</p>
<ol start="1">
<li><strong>4. Hubungan Interpersonal</strong></li>
</ol>
<p>Hubungan dengan orang terdekat memainkan peran penting dalam perkembangan, terutama dalam perkembangan emosi, intelektual, dan kepribadian.</p>
<ol start="1">
<li><strong>5. Tingkat Sosioekonomi</strong></li>
</ol>
<p>Riset menunjukkan bahwa tingkat sosioekonomi keluarga anak mempunyai dapak signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan.</p>
<ol start="1">
<li><strong>6. Penyakit</strong></li>
</ol>
<p>Banyak penyakit kronik yang dikaitkan dengan berbagai tingkat kegagalan pertumbuhan adalah anomaly jantung congenital dan gangguan pernafasan seperti  kistik fibrosis.</p>
<ol start="1">
<li><strong>7. Bahaya lingkungan</strong></li>
</ol>
<p>Bahaya dilikungan adalah sumber kekhawatiran pemberi asuhan kesehatan dan orang lain yang memerhatikan kesehatan dan keamanan.</p>
<ol start="1">
<li><strong>8. Stress pada Masa Kanak-Kanak</strong></li>
</ol>
<p>Stress adalah ketidakseimbagan antara tuntutan lingkungan dan sumber koping individu</p>
<ol start="1">
<li><strong>9. Pengaruh Media Masa</strong></li>
</ol>
<p>Media dapat member pengaruh besar pada perkembangan anak.</p>
<p><strong>1.2. Saran</strong></p>
<p>Dari penulisan makalah dengan judul “Pengaruh Tumbuh Kembang pada Peningkatan Kesehatan Anak”, maka dari ilmu yang telah didapatkan maka ada beberapa hal saran yang akan penulis sampaikan yaitu sebagai berikut :</p>
<p>Terganggunya tumbuh kembang pada anak juga terjadi karena factor keturunan dan tingkat ekonomi pada anak tersebut.</p>
<p>http://blog.unand.ac.id/ainicahayamata/2011/03/24/%E2%80%9Cbeberapa-faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-anak%E2%80%9D/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=266&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/10/28/266/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>inkar sunnah</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/10/14/inkar-sunnah/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/10/14/inkar-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 09:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syamsuddin Ramadhan Kehujjahan sunnah sebagai dalil syara’ telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qath’iy yang menuturkan tentang kenabian Mohammad saw.  Selain itu, keabsahan sunnah sebagai dalil juga ditunjukkan oleh nash-nash qath’iy yang menyatakan, bahwa beliau saw tidak menyampaikan sesuatu (dalam konteks syariat) kecuali berdasarkan wahyu yang telah diwahyukan.  Semua peringatan beliau saw adalah wahyu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=262&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh : Syamsuddin Ramadhan</em></p>
<p>Kehujjahan sunnah sebagai dalil syara’ telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qath’iy yang menuturkan tentang kenabian Mohammad saw.  Selain itu, keabsahan sunnah sebagai dalil juga ditunjukkan oleh nash-nash qath’iy yang menyatakan, bahwa beliau saw tidak menyampaikan sesuatu (dalam konteks syariat) kecuali berdasarkan wahyu yang telah diwahyukan.  Semua peringatan beliau saw adalah wahyu yang diwahyukan.   Oleh karena itu, sunnah adalah wahyu dari Allah swt, dari sisi maknanya saja, tidak lafadznya.   Sunnah adalah dalil syariat tak ubahnya dengan al-Quran.   Tidak ada perbedaan  antara al-Quran dan Sunnah dari sisi wajibnya seorang Muslim mengambilnya sebagai dalil syariat.   Ketentuan semacam ini didasarkan pada nash-nash berikut ini: وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ          “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”[al-Hasyr:7] مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا          “Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.[al-Nisaa': 80] فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ          “maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. [al-Nuur:63] وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا          “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.[al-Ahzab:36] فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا          “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.[al-Nisaa':65] قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ          “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[Ali Imron:31] فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا          “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.[al-Nisaa':59]          Ayat-ayat di atas tsubut dan dilalahnya qath’iy.   Dilalah ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, wajibnya kaum Muslim mengambil sunnah sebagai dalil syariat, tak ubahnya dengan al-Quran.  Siapa saja yang menolak menjadikan sunnah sebagai dalil syariat, alias ingkar sunnah, tidak diragukan lagi, ia telah terjatuh kepada kekafiran.[Taqiyyuddin al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah, juz 3, hal. 68]          Tidak boleh dinyatakan, bahwa kita hanya berpegang teguh kepada al-Quran saja, dan tidak perlu memakai sunnah lagi; dengan alasan al-Quran telah sempurna, jelas, dan menjelaskan segala sesuatu.  Sebab, kenyakinan semacam ini justru akan berakibat munculnya penolakan terhadap penjelasan-penjelasan Rasulullah saw terhadap al-Quran.   Dengan kata lain, akan muncul penafsiran-panafsiran pribadi yang bertentangan dengan penjelasan Rasulullah saw.   Atas dasar itu, menolak sunnah –baik yang menyeluruh maupun sebagian— sama artinya menolak al-Quran itu sendiri.   <strong>Argumentasi Para Penolak Sunnah (Ingkar Sunnah)</strong>          <strong>Pertama, </strong>mereka menyatakan<strong>, </strong>bahwa agama harus dibangun di atas dalil yang pasti (menyakinkan).  Apabila kita mengambil dan memakai sunnah, berarti, landasan agama Islam tidak lagi pasti.  Al-Quran yang dijadikan landasan agama bersifat pasti.   Allah swt berfirman: الم(1)ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ(2)          “Alif, Laam, Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”[al-Baqarah:1-2] وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ          “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”.[Fathiir:31]          Selanjutnya, mereka menyatakan, bahwa hadits itu terbagi menjadi dua, mutawatir dan ahad.  Hadits mutawatir jumlahnya sangat sedikit, dan selebihnya adalah hadits ahad.  Sedangkan hadits ahad hanya menghasilkan dzann (dugaan kuat) belaka, dan tidak menghasilkan keyakinan. Jika landasan agama berujud gabungan antara yang pasti (qath’iy) dan dugaan (dzanniy), hasilnya akan dzanniy juga.  Sebab, gabungan antara yang pasti dan tidak pasti adalah ketidakpastian juga.   Padahal al-Quran telah mencela orang-orang yang menggunakan dzan dan meninggalkan yang pasti. Allah swt berfirman: <strong>وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ</strong>        “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”[Yunus:36]<strong> </strong><strong>وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا</strong>        “..Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa….”[al-Nisâ’:157]<strong> </strong><strong>إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا</strong>        “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”[al-Nisâ’:116] <strong>كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ</strong>        “Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.”[Al-An’am:148]          Hadits itu bersifat dzanniy, sehingga tidak layak digunakan sebagai landasan agama.  Atas dasar itu, landasan agama hanyalah al-Quran semata.   Argumentasi ini sering diketengahkan oleh para pengingkar sunnah, baik tempo dahulu maupun sekarang (misalnya, Taufiq Sidqiy, dan kelompok Ahlul Quran). <strong>Koreksi Atas Argumentasi Pertama:</strong>          Benar, masalah ushuluddin, harus ditetapkan berdasarkan dalil yang qath’iy, baik tsubut maupun dilalah.  Artinya, sesuatu itu baru absah digunakan dalil jika ia ditetapkan berdasarkan dalil-dalil yang qath’iy, baik tsubut maupun dilalahnya.   Pada dasarnya, keabsahan sunnah sebagai dalil syariat (landasan agama) telah ditetapkan oleh nash-nash yang tsubut dan dilalahnya qath’iy. Dengan kata lain, kita tidak memakai dzann yang bertentangan dengan yang haq (al-Quran), akan tetapi memakai dzann yang diperintahkan oleh Allah swt sendiri; atau dzann yang ditetapkan berdasarkan dalil-dalil qath’iy.           Pengingkar sunnah di jaman dahulu, pernah mengkritik Imam Syafi’iy dengan menyatakan, “Apakah ada dalil yang bersifat dzanniy yang dapat menghalalkan suatu masalah yang sudah diharamkan dengan dalil yang qath’iy? Imam Syafi’iy menjawab, “Ya, ada.”   Mereka bertanya, “Apa itu?”  Imam Syafi’iy menjawab dengan mengajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana pendapat anda terhadap orang membawa harta yang ada di sebelah saya ini, apakah orang itu haram dibunuh dan hartanya dirampas?  Mereka menjawab, “Yang demikian, ia haram dibunuh, dan hartanya dirampas”.  Imam Syafi’iy bertanya lagi, “Apabila ada dua orang saksi yang mengatakan, bahwa orang tersebut baru saja membunuh orang lain dan merampok hartanya, bagaimana pendapat anda?”  Mereka menjawab, “Ia mesti diqishash dan hartanya harus dikembalikan kepada ahli waris orang yang terbunuh tadi.” Imam Syafi’iy bertanya lagi,”Apakah tidak mungkin dua orang saksi tadi berbohong?”  Mereka menjawab,”Ya, mungkin”. Imam Syafi’iy berkata, “Kalau begitu, anda telah membolehkan membunuh (qishash) dan merampas harta dengan dalil dzanniy, padahal dua masalah itu sudah diharamkan berdasarkan dalil yang pasti.”  Mereka berkomentar, “Ya, karena kita diperintahkan untuk menerima kesaksian”.          Al-Quran sendiri, meskipun dari sisi tsubutnya pasti, namun tidak semua ayatnya menunjukkan pengertian (dilalah) yang pasti pula.  Banyak ayat yang dilalahnya dzanniy, dan tidak menunjukkan pada satu pengertian saja.   Oleh karena itu, tanpa disadari, para pengingkar sunnah, juga mengikuti sesuatu yang bersifat dzanniy, tak ubahnya dengan sunnah.  Lalu, mengapa mereka menolak sunnah, dan hanya berpegang kepada al-Quran saja, padahal, sebagian ayat al-Quran juga tidak pasti menunjukkan kepada satu pengertian saja, alias dzanniy dilalah?          Adapun ayat-ayat yang mencela penggunaan dzann, sesungguhnya ayat ini, berbicara pada konteks sesuatu yang sudah jelas-jelas pasti kebenarannya (masalah ‘aqidah).  Masalah ini tentu saja berbeda dengan masalah mengambil hadits (sunnah) sebagai dalil syariat.  Sebab, kewajiban mengambil hadits atau sunnah sebagai dalil telah ditetapkan berdasarkan nash-nash al-Quran yang dilalahnya qath’iy.             <strong>Kedua, </strong>para pengingkar sunnah menyatakan, bahwa dalil syariat hanyalah satu, yakni al-Quran.   Allah swt berfirman: مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ          Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. [al-An'aam:38]          Para pengingkar sunnah menyatakan, bahwa menyakini al-Quran masih memerlukan penjelasan sama artinya mendustakan al-Quran; sekaligus mengingkari kedudukan al-Quran yang membahas segala sesuatu secara tuntas.  Ayat di atas, jelas-jelas membantah bahwa al-Quran masih mengandung kekurangan.  Sebab, keyakinan semacam ini, menurut mereka, sama artinya menuduh bahwa al-Quran telah melupakan sesuatu, dan tentu saja, bertentangan dengan kandungan surat al-An’am ayat 38.  Argumentasi ini diajukan oleh Abu Rayyah dan Dr. Taufiq Shidqiy.          <strong>Koreksi Atas Argumentasi Kedua: </strong>          Sesungguhnya, argumentasi di atas sama sekali prematur dan tidak pada tempatnya. Sebab, Allah swt juga memerintahkan kepada kita untuk mengambil dan memakai apa yang disampaikan oleh Nabi saw kepada kita semua; seperti dalam firmanNya: وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ          “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”[al-Hasyr:7] وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا          “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”.[al-Ahzab:36]          Ayat-ayat di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Rasulullah saw sajalah yang diberi tugas untuk menjelaskan kandungan al-Quran; sedangkan kita diwajibkan untuk menerima dan mematuhi penjelasan-penjelasan beliau, baik yang berupa perintah maupun larangan.  Sebab, semua ini pada dasarnya bersumber dari al-Quran.  Sesungguhnya, ketika kita mengambil sunnah, kita tidak memasukkan unsur lain ke dalam al-Quran, sehingga al-Quran masih dianggap memiliki kekurangan.  <strong>Ketiga, </strong>mereka juga berargumentasi, bahwa al-Quran tidak perlu penjelasan, justru ia menjelaskan segala sesuatu.  Allah swt berfirman:  وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ           “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.[al-Nahl:89]          Berdasarkan ayat ini, para pengingkar sunnah berpendapat, bahwa al-Quran tidak lagi memerlukan penjelasan dari Sunnah; sebaliknya ayat ini justru menyatakan, bahwa al-Quran telah menjelaskan segala sesuatu.   Para pengingkar sunnah juga membangun argumentasi mereka berdasarkan ayat berikut ini:  مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ          Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. [al-An'aam:38]          Mereka menyatakan, bahwa menyakini al-Quran masih memerlukan penjelasan sama artinya mendustakan al-Quran.  Sebab, keyakinan semacam ini, menurut mereka, sama artinya menuduh bahwa al-Quran telah melupakan sesuatu, dan tentu saja, bertentangan dengan kandungan isi dari surat al-An’am ayat 38.<strong> Koreksi Atas Argumentasi Ketiga</strong>          Alasan-alasan semacam ini jelas-jelas alasan yang salah, sesat dan menyesatkan.   Adapun kesalahan argumentasi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.          Sesungguhnya, kita tidak boleh mencukupkan diri hanya berpegang kepada surat al-Nahl ayat 89, untuk menolak sunnah.  Sebab, al-Quran telah menyatakan dengan sangat jelas pula, bahwa Nabi Mohammad saw telah diberi tugas untuk menjelaskan kandungan isi al-Quran; dan kita wajib mengikuti dan melaksanakan penjelasan beliau saw.    Allah swt berfirman:“Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”[al-Nahl:44]Ayat ini dengan sharih menyatakan, bahwa Allah swt telah menurunkan al-Quran kepada Nabi Mohammad saw, sekaligus membebani NabiNya untuk menjelaskan kandungan isi al-Quran.   Jika Allah swt telah menurunkan al-Quran kepada Nabi Mohammad saw, sekaligus menugaskan kepada beliau untuk menjelaskan al-Quran kepada umat manusia, lantas, pantaskah seorang Mukmin menolak penjelasan dan keterangan dari Rasulullah saw, dan memakai penafsiran dan penakwilannya sendiri?   Sesungguhnya, penolakan terhadap penjelasan Rasulullah saw terhadap ayat-ayat al-Quran, sama artinya dengan menyakini sebagian ayat dan ingkar terhadap ayat yang lain.  <strong>Sunnah (Hadits) Bukan Wahyu?</strong>          Para pengingkar sunnah  –kelompok Ahlu Quran— menyatakan, bahwa pembagian wahyu menjadi dua bagian; wahyu terbaca (al-Quran) dan tak terbaca (sunnah) adalah pemikiran Yahudi yang menyusup ke dalam Islam.  Lantas, benarkah wahyu yang disampaikan Allah swt kepada Nabi Mohammad saw hanyalah wahyu terbaca saja (al-Quran); ataukah ada wahyu lain yang tak terbaca?              Pendapat yang benar adalah, Allah swt telah menurunkan wahyu terbaca dan tak terbaca.  Sedangkan tuduhan pengingkar sunnah yang menyatakan, bahwa pembagian wahyu semacam ini merupakan infiltrasi pemikiran Yahudi ke dalam Islam, jelas-jelas salahnya, sekaligus menunjukkan ketidaktahuan mereka terhadap maksud yang terkandung di dalam ayat-ayat al-Quran.    Berikut ini akan dipaparkan bukti-bukti adanya wahyu yang tidak terbaca (wahyu selain al-Quran).   Allah swt berfirman:1.                 <strong>Surat al-Tahrim ayat 3</strong>.  Allah swt berfirman:“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya: “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab: “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.[al-Tahrim:3]Ayat ini menunjukkan, bahwa Rasulullah saw telah berbicara hal-hal rahasia kepada sejumlah isterinya.  Akan tetapi, isteri yang diajak bicara itu tidak menganggapnya sebagai sebuah rahasia, sehingga tidak ada salahnya menceritakannya kepada orang lain.   Lalu, Allah swt memberitahukan masalah itu kepada beliau saw.   Nabi saw juga diberi tahu kalimat-kalimat yang dibocorkan.  Ketika isteri tadi ditegur oleh Nabi saw, ia bertanya,”Siapakah yang memberitahukan hal itu kepadamu?”  Nabi menjawab, “Allahlah yang telah memberitahukan hal itu kepadaku.”Semua ini menunjukkan, bahwa Allah memberitahu Nabi saw tentang pembicaraan yang dibocorkan oleh isteri beliau.   Namun, al-Quran tidak menyebutkan apa yang diceritakan Nabi saw kepada isterinya, sebagaimana juga tidak menjelaskan apa yang dibocorkan oleh isterinya itu.   Pertanyaan selanjutnya adalah, mungkinkah ada ayat yang tertinggal, sehingga tidak tertulis di dalam al-Quran, ataukah Nabi saw diberi wahyu namun tidak tertulis?  Jika kita menyatakan ada ayat yang tertinggal, berarti al-Quran tidaklah terjaga.  Padahal Allah swt telah berfirman;“Sesungguhnya, Kami telah menurunkan al-Quran dan Kami jualah yang memeliharanya.”[al-Hijr:9]Berarti tinggal satu kemungkinan lagi, yakni adanya wahyu tak tertulis, alias ada wahyu selain al-Quran.     2.                 <strong>Surat al-Hasyr ayat 5.  </strong>Allah swt berfirman:“Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka semua itu adalah dengan ijin Allah swt.”[al-Hasyr:5]Ayat ini dengan jelas diturunkan sesudah penebangan pohon kurma.  Dan dari al-Quran pula kita memahami bahwa ijin penebangan itu berasal dari Allah swt.   Akan tetapi, kita tidak menemukan ayat yang menerangkan penebangan itu.  <strong>3.</strong><strong>                 </strong><strong>Surat al-Qiyamah ayat 17</strong>”Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkan al-Quran itu, dan membuatmu pandai membacanya.”[al-Qiyamah:17]          Pada dasarnya, al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur, tidak dengan seketika.  Sejarah turunnya al-Quran juga tidak berpengaruh terhadap urut-urutan ayatnya.   Para shahabat membaca al-Quran dengan urut-urutan yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw.   Akan tetapi, kita tidak pernah mendapati hal ini tertulis di dalam al-Quran.   Ini menunjukkan, bahwa urut-urutan yang telah diajarkan Rasulullah saw kepada kita adalah diwahyukan, namun tidak tertulis di dalam al-Quran.<br />
<strong>Kesimpulan</strong>          Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa argumentasi yang diketengahkan para pengingkar sunnah jelas-jelas bathil, dan sesat.   Sebab, kewajiban mengambil sunnah dan hadits Nabi jelas-jelas telah ditetapkan oleh dalil-dalil qath’iy (al-Quran).  Mengingkari sunnah, tak ubahnya dengan mengingkari al-Quran.   Adapun hukum bagi orang yang mengingkari sunnah adalah murtad.</p>
<p><a href="http://nahdhah.wordpress.com/2007/09/27/ingkar-sunnah/">http://nahdhah.wordpress.com/2007/09/27/ingkar-sunnah/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>INGKAR SUNNAH </strong></p>
<p>BAB I<br />
PENDAHULUAN</p>
<p>Secara paradigma pemikiran dan pemahaman, sejarah inkar Sunnah memang sangat erat dengan golongan Khawarij, Muktazilah, dan Syiah . Dan dari segi benih kemunculan, mereka sudah tampak sejak masa sahabat. Bahkan, kabar tentang akan adanya orang yang mengingkari Sunnah sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tetapi, dari segi golongan atau kelompok yang terpisah dan berdiri sendiri, inkar Sunnah ini sesungguhnya tidak pernah eksis kecuali pada masa penjajahan kolonial Inggris di India sekitar abad delapan belas.<br />
Barangkali, satu-satunya kitab terdahulu yang di dalamnya ada pembahasan khusus yang membantah pemahaman orang-orang inkar Sunnah yang menunjukkan keberadaannya adalah kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi&#8217;i, yang memang waktu itu sempat berhadapan dengan mereka. Adapun kitab-kitab terdahulu lain, biasanya hanya membahas masalah kedudukan Sunnah dalam syariat Islam serta hukum orang yang mengingkarinya. Misalnya, Al-Kifayah fi &#8216;Ilm Ar-Riwayah (Imam Al-Khathib Al-Baghdadi), Syarh As-Sunnah An-Nabawiyyah (Imam Abu Muhammad Al-Baghawi), dan Miftah Al-Jannah fi Al-Ihtijaj bi As-Sunnah (Imam Jalaluddin As-Suyuthi).<br />
Semestinya, apabila kelompok inkar Sunnah benar-benar pernah ada wujudnya dalam perjalanan sejarah Islam, tentu akan mudah ditemui kisahnya dalam kitab-kitab tarikh yang besar semacam; Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk (Ibnu Jarir Ath-Thabari), Tarikh Al-Islam (Imam Adz-Dzahabi), Al-Bidayah wa An-Nihayah (Ibnu Katsir), Tarikh Dimasyq (Ibnu Asakir), Al-Kamil fi At-Tarikh (Ibnul Atsir), dan Tarikh Baghdad (Al-Khathib Al-Baghdadi).<br />
BAB II<br />
INGKAR SUNNAH</p>
<p>A. Pengertian Ingkar Sunnah<br />
Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah. Ada tiga jenis kelompok Inkar Sunnah. Pertama kelompok yang menolak hadits-hadits Rasulullah saw secara keseluruhan. Kedua, kelompok yang menolak hadits-hadits yang tak disebutkan dalam al-Qur&#8217;an secara tersurat ataupun tersirat. Ketiga, kelompok yang hanya menerima hadits-hadits mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang setiap jenjang atau periodenya, tak mungkin mereka berdusta) dan menolak hadits-hadits ahad (tidak mencapai derajat mutawatir) walaupun shahih. Mereka beralasan dengan ayat, &#8220;.sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun terhadap kebenaran&#8221; . Mereka berhujjah dengan ayat itu, tentu saja menurut penafsiran model mereka sendiri.<br />
B. Pendiri Ingkar Sunnah<br />
Pemahaman anti-Hadis atau Ingkarul Sunnah di dirikan oleh Profesor Dr Goldziher, kelahiran Yahudi Hungary pada tahun 1870 dan meninggal pada tahun 1921. Goldziher mendapat beasiswa Zionis International Jerman untuk melanjutkan pelajaran di al Universiti Azhar pada tahun 1873. Dia diutus khas mendalami bidang Sunnah dan akhirnya dia mencetuskan ajaran mengingkari Sunnah dengan slogan &#8220;Pembaharuan Islam.&#8221;<br />
Pada tahun 1876 sekembali dari Mesir, beliau memegang jawatan Setiausaha Zionis Antarabangsa cawangan Budapest. Kemudian selama 15 tahun dia mengajar di maktab Zionis Budapest untuk melahirkan graduan-graduan Zionis yang akan bertebaran di seluruh dunia mengembangkan ajaran mengingkari sunnah ini bertujuan melemahkan ajaran ! Islam dari dalam. Pengasas ajaran Ingkarus Sunnah ini meninggalkan hampir 200 judul karya khas dalam jurusan Mengingkari Sunnah dan melahirkan beratus ribuan graduan yang telah dirosakkan kefahaman mereka tentang Sunnah. Profesor Goldziher adalah salah satu agenda Zionis Antarabangsa.<br />
Kebanyakan cendikiawan islam yang menuntut di Eropah telah terpengaruh dengan ajaran Goldziher ini. Di antara murid-murid Goldziher termashyur dari Mesir ialah Dr Ali Hasan Abdul Kadir, Toha Hussin, Dr Ahmad Amin, Rasyad Khalifa, dan Dr Abu Rayyah.<br />
C. Ingkar Sunnah di Indonesia<br />
Inkar Sunnah di Indonesia muncul tahun 1980-an ditokohi Irham Sutarto. Kelompok Inkar Sunnah di Indonesia ini difatwakan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai aliran yang sesat lagi menyesatkan, kemudian dilarang secara resmi dengan Surat Keputusan Jaksa Agung No. Kep-169/ J.A./ 1983 tertanggal 30 September 1983 yang berisi larangan terhadap aliran inkarsunnah di seluruh wilayah Republik Indonesia.<br />
Berikut kutipan asli dari Fatwa MUI tersebut :<br />
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya di Jakarta pada Tanggal 16 Ramadhan 1403 H. bertepatan dengan tanggal 27 Juni 1983 M., setelah :<br />
Memperhatikan :<br />
Di sementara daerah Indonesia dewasa ini diketahui adanya aliran yang tidak mengakui hadits Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum Syariat Islam seperti yang ditulis antara lain oleh saudara Irham Sutarto (Karyawan PT Unilever Indonesia di Jakarta).<br />
Menimbang :<br />
1. Bahwa Hadis Nabi Muhammad SAW adalah salah satu sumber Syari’at Islam yang wajib dipegang oleh Umat Islam, berdasarkan :<br />
a. Ayat-ayat al-Qur-’ an antara lain :</p>
<p>1. Surat al-Hasyr : 7<br />
“apa yang diberikan Rasul kepadarnu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maku tinggalkanlah, dan bertaqwalah kepada Allah Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya “.<br />
2. Surat an-Nisa: 80<br />
“Barang siapa yarg mentaati Rasul itu, sesungguhnva ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari mentaati itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka “.<br />
3. SuratAl-Imran, ayat: 31-32<br />
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah : Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir. “<br />
4. Surat An Nisa , ayat : 59<br />
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi), dan Ulul amri diantara kami. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah (AIQur’an dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baikakibatnya. “<br />
5. Surat An Nisa, ayat : 65<br />
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak berimcm hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa diri mereL tidak keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereti, menerima dengan sepenuhnya. “<br />
6. Surat An Nisa’, ayat : 105<br />
“Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengumembawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusi., dengan apa yang Allah Wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orangyang Khianat. “<br />
7. Surat An Nisa’, ayat : 150-151<br />
“Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan Rasulnya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan Rasul-rasulnya, dengan mengatakan “Kami beriman kepada sebagian dari (Rasulrasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain) serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) diantara yang demikian (iman dan kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu siksaan yangmenghinakan.<br />
8. Surat An Nahi : 44<br />
“Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. “<br />
b. Hadits Rasul SAW Antara lain:<br />
“Dikhawatirkan seseorang yang duduk menyampaikan satu hadits dariku lalu ia berkata antara kami dan antara kamu kitab Allah, maka tidaklah kami perdapat padanya dari batang halal yang kami halalkan dan tidak kami dapati padanya barang haram yang kami haramkan kecuali sesungguhnya apa yang diharamkan Rasulullah SAW seperti yang diharamkan Allah. “(RiwayatAlHakim). “Ikutilah Sunatku dan sunat Khulaf’aur Rasyidin vang diberi petunjuk sesudahku dan pegang teguhlah padanya. “(RiwaYat A1-Hakim dalami Mustadrak). “Aku telah meninggalkan pada kamu dua hal. Kitab Allah dan sunnatku, tidak kamu sesat selama berpegang padanya. (Riwayat Tirmidzi) “Hendaklah menyampaikan yang menyaksikan dari kamu kepada yarrg tak hadir. Ada kalanva orang yang tablighi lebih kuat rnemelihara (menghafal) dari pada yang mendengar: “(Riwayat Bukhari). c. Ijma’ para sahabat Rasulullah baik selama hayatnya maupun setelah wafatnya.<br />
2. Adanya aliran tersebut ditengah-tengah masyarakat akan menodai murninya agama Islam dan menimbulkan keresahan dikalangan Ummat Islam, yang pada gilirannya akan mengganggu stabilitas/ketahanan nasional.<br />
Mengingat :<br />
Pendapat-pendapat para anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.<br />
MEMUTUSKAN<br />
1. Aliran yang tidak mempercayai hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum syari’at Islam, adalah sesat menyesatkan clan berada di luar agama Islam.<br />
2. Kepada rnereka yang secara sadar atau tidak, telah mengikuti aliran tersebut. agar segera bertaubat.<br />
3. Menyerukan kepada ummat Islam untuk tidak terpengaruh dengan aliran yang sesat itu.<br />
4. Mengharapkan kepada para Ulama untuk memberikan bimbingan dan petunjuk bagi mereka yang ingin bertaubat.<br />
5. Meminta dengan sangat kepada pemerintah agar mengambil tindakan tegas berupa larangan terhadap aliran yang tidak mempercayai Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai sumber Syari’at Islam<br />
Ditetapkan :<br />
Jakarta, 16 Ramadhan 1403 H.<br />
27 Juni 1994<br />
DEWAN PIMPINAN MAJELIS ULAMA INDONESIA<br />
Ketua Sekretaris<br />
Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML H. Musytari Yusuf, LA</p>
<p>D. Alqur’an Suci dan Ingkar Sunnah<br />
Sekilas pernah mendengar berita atas kehilangan dua orang mahasiswi Bandung yang pergi entah berantah. Dari sumber-sumber ada mengatakan bahwa si mahasiswi tersebut ikut pengajian Al Quran, namun apa yang terjadi adalah sebuah kemalangan bagi keluarganya. Karena sampai berapa hari si mahasiswi tersebut tidak kungjung pulang ke rumahnya.<br />
Hingga sekarang kasus kehilangan ini, telah dilaporkan kepada pihak berwajib terkait dengan hilangnya dua orang mahasiswi yang ikut pengajian Al Quran Suci. Dari sebuah sumber ternyata aliran AS ini berhubungan khusus dengan aliran Ingkar Sunnah (anti hadist) dari penyataan tersebut sangat jelas aliran AS merupakan aliran yang sesat dari Al Quran bahkan Hadist. Ada keganjilan dalam kelompok pengajian Alquran Suci itu, di antaranya tidak percaya hadis Nabi dan membaca Alquran tidak boleh dilagukan (qiroah). Selain itu, wanita haid boleh pegang Alquran dan memperbolehkan salat tanpa wudu. Ajaran itu juga menekankan bahwa harta dan raga harus dikorbankan untuk ajarannya tersebut. Namun, sangat disayangkan pihak MUI Jabar belum bisa mengklarifikasi bahwa aliran AS adalah sesat. Sampai detik ini, belum ada pihak yang berhasil mengidentifikasi masalah tersebut, sehingga dari kepolisian dan MUI juga sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut.<br />
E. Pokok-Pokok Ajarannya<br />
1. Dasar hukum mereka hanya Al-Quran, Tidak percaya kepada hadits Rosulullah,<br />
2. Syahadat mereka Âsyhadu biannana muslimin,<br />
3. Shalat mereka bermacam2, ada yang shalatnya dua rakaat dua rakaat ada juga yang bila ingat saja,<br />
4. puasa wajib bagi orang yg melihat bulan saja, haji boleh dilakukan selama bulan muharam, rajab, julqaidah dan julhijjah.<br />
5. Pakaian Ihrom adalah pakaian orang arab yg bikin repot, oleh sebab itu boleh memakai celana panjang dan baju biasa serta memakai jas/dasi;<br />
Nabi Muhammad tidak berhak untuk menjelaskan isi kandungan al quran, dan rosul diutus sampai hari kiamat.<br />
6. Dan lain-lain yang aneh-aneh.</p>
<p>BAB III<br />
KESIMPULAN</p>
<p>Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah. Ada tiga jenis kelompok Inkar Sunnah. Pertama kelompok yang menolak hadits-hadits Rasulullah saw secara keseluruhan. Kedua, kelompok yang menolak hadits-hadits yang tak disebutkan dalam al-Qur&#8217;an secara tersurat ataupun tersirat. Ketiga, kelompok yang hanya menerima hadits-hadits mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang setiap jenjang atau periodenya, tak mungkin mereka berdusta) dan menolak hadits-hadits ahad (tidak mencapai derajat mutawatir) walaupun shahih.<br />
Aliran/faham sesat ini muncul di Indonesia sekitar tahun 1980-an yang lalu dengan menamakan pengajian yang mereka adakan tersebut adalah kelopok Qur´ani.<br />
Beberapa masjid di jakarta dikuasai oleh mereka, seperti mesjid As Syifa RSCM (rumah sakit terbesar dan rumah sakit pusat di Indonesia). Rumah sakit tsb bersatu dengan Universitas Indonesia. Pengajian tersebut dipimpin oleh Haji Abdurrahman. Pengajian dimulai ba&#8221;da maghrib serta pengikutnya banyak. Lama kelamaan pengajian tersebut tidak mau memakai adzan dan qomat karena tidak ada dalam qur’an, serta seluruh sholat menjadi dua raka´at. Diproyek pasar rumput yaitu dimesjid Al Burhan muncul pula pengajian yg dipimpin oleh Ust. H.Sanwani guru masyarakat di sekitarnya.<br />
Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa pengajian tersebut muncul dimana-mana. Mereka juga mencetak buku-buku yang banyak untuk menyebarkan faham mereka di masyarakat. Setelah dilacak tokoh nya adalah orang Indonesia yang mengeluarkan biaya cukup besar untuk pengajian tersebut, yaitu Lukman Saad. Dia berasal dari Pajang Panjang Sumatra Barat dan lulusan IAIN Yogyakarta sampai sarjana muda/BA serta sebagai direktur sebuah percetakan dan penerbitan. Penelitian terus dilakukan dan ternyata Lukman Saad ini berhubungan dengan Ir. Irham Sutarto ketua Serikat Buruh PT Unilever Imdonesia. Ir. Irham adalah tokoh ingkar sunnah yg juga pertama menulis buku ajaran ingkar sunah dengan tulisan tangan.<br />
Peran Ir. Irham ini sangat besar, sedang pemilik PT. Unilever ini adalah orang Belanda dan Lukman saad Direktur PT. Ghalia Indonesia mendapat mesin percetakan modern dari Belanda. Tidak kah dibalik permainan ini ada tangan orang yahudi yang coba menghancurkan Islam di Indoneria. Akhirnya penelitian menemukan bahwa kegiatan kelompok imgkar sunnah ini adalah MARIMUS TAKA keturunan indo jerman yang tinggal di Depok Jawa Barat. Marimus mengaku dirinya bisa membaca Al quran tanpa belajar terlebih dahulu. Dia mengajarkan ajaran sesat ini dimana-mana di Jakarta. Akhirnya pada hari jum´at tanggal 4 juni 1983 Marimus Taka ditangkap ramai-ramai ketika sedang mengadakan pengajian di jln Bakti Tanjung Priok. Ketika diperiksa di Kodim Dia menangis-nangis dan terbongkarlah kegitan yang dilakukan nya tersebut.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Al-Quran Al-kariim<br />
http://media-islam.or.id/2007/09/26/fatwa-mui-ingkar-sunnah-sesaat/<br />
http://peperonity.com/go/sites/mview/ingkarsunnah<br />
http://antibidah.org/<br />
http://aulia87.wordpress.com/2007/10/08/al-quran-suci-cs-ingkar-sunnah/</p>
<p>http://www.e-bacaan.com/artikel_antihadis.htm</p>
<p>Diposkan oleh ibnu akhir</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://khairuddinhsb.blogspot.com/2009/04/ingkar-sunnah.html">http://khairuddinhsb.blogspot.com/2009/04/ingkar-sunnah.html</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>BAB I</strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>A. Latar Belakang</strong></p>
<p>Hadis Nabi saw telah disepakati oleh mayoritas ulama dan umat Islam sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah kitab suci al-Qur’an. Berbeda dengan al-Qur’an yang semua ayat-ayatnya disampaikan oleh Nabi saw secara mutawatir dan telah ditulis serta dikumpulkan sejak zaman Nabi saw masih hidup, serta dibukukan secara resmi sejak zaman khalifah Abu Bakar al-Shiddiq, sebagian besar hadis Nabi saw tidaklah diriwayatkan secara mutawatir dan pengkodifikasiannya pun baru dilakukan pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis, salah seorang khalifah Bani Umayyah. Hal yang disebutkan terakhir, didukung oleh beberapa faktor lainnya, oleh sekelompok kecil (minoritas) umat Islam dijadikan sebagai alasan untuk menolak otoritas hadis-hadis Nabi saw sebagai hujjah atau sumber ajaran Islam yang wajib ditaati dan diamalkan. Dalam wacana ilmu hadis, dikenal dangan kelompok inkar al-sunnah.</p>
<p>Secara paradigma pemikiran dan pemahaman, sejarah inkar Sunnah memang sangat erat dengan golongan Khawarij, Muktazilah, dan Syiah . Dan dari segi benih kemunculan, mereka sudah tampak sejak masa sahabat. Bahkan, kabar tentang akan adanya orang yang mengingkari Sunnah sudah pernah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p><strong>B. Rumusan Masalah</strong></p>
<ol start="1">
<li>Apakah yang dimaksud dengan Inkarussunnah?</li>
<li>Bagaimana sejarah Inkarussunnah?</li>
<li>Apa argumentasi dan bantahan para ulama mengenai Inkarussunnah?</li>
<li>Bagaimana Inkarussunnah di Indonesia?</li>
</ol>
<p><strong>C. Tujuan Masalah</strong></p>
<p>Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah semata untuk menambah khazanah keilmuan kita sebagai umat manusia yang beragama untuk mengetahui tentang apa yang dulu pernah dilakukan tentang perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi yang bisa disebut dengan hadis.</p>
<p><strong>BAB II</strong></p>
<p><strong>PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>A. Pengertian Inkarussunnah</strong></p>
<p>Kata “Inkar Sunnah” terdiri dari dua kata yaitu “Ingkar” dan “Sunnah”. Kata “Ingkar” mempunyai beberapa arti di antaranya: “Tidak mengakui dan tidak meneri,a baik di lisan dan di hati, bodoh atau tidak mengetahui sesuatu (antonim kata <em>al-irfan</em>, dan menolak apa yang tidak tergambarkan dalam hati).<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Menurut istilah ada beberapa definisi Ingkar Sunnah yang sifatnya masih sangat sederhana pembatasannya di antaranya sebagai berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Paham yang timbul dalam masyarakat Islam yang menolak hadis atau sunnah sebagai sumber ajaran agama Islam kedua setelah Alqura.</li>
<li>Suatau paham yang timbul pada sebagian minoritas umat Islam yang menolak dasar hukum Islam dari sunnah shahih baik sunnah praktis atau secara formal d kodifikasikan para ulama, baik secara totalitas <em>muttawatir</em> maupun <em>ahad</em> atau sebagian saja, tanpa ada alasaan yang dapat diterima.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn2">[2]</a></li>
</ol>
<p>Paham Ingkar Sunnah bisa jadi menolak keseluruhan sunnah baik sunnah <em>muttawatir </em>dan <em>ahad </em>atau menolak yang <em>ahad</em> saja dan atau sebagian saja. Demikian juga penolakan sunnah tidak ddasari alasan yang kuat, jika dengan alasan yang dapat diterima oleh akal yang sehat, seperti seorang muktahid yang menemukan dalil yang lebih kuat dar pada hadis yang ia dapatkan, atau hadis itu tidak sampaikepadanya, atau karena kedhaifannya, atau karena ada tujuan syar’i yang lain, maka tidak digolongkan Ingkar Sunnah.</p>
<p><em>Ingkar as-sunnah </em>adalah sebuah sikap penolakan terhadap sunnah Rasul, baik sebagian maupun keseluruhannya. Mereka membuat metodologi tertentu dalam menyikapi sunnah. Hal ini mengakibatkan tertolaknya sunnah, baik sebagian maupun keseluruhannya.</p>
<p>Penyebutan <em>Ingkar as-sunnah</em> tidak semata-mata berarti penolakan total terhadap sunnah. Penolakan terhadap sebagian sunnah pun termasuk dalam kategori <em>ingkar as-sunnah</em>, termasuk di dalamnya penolakan yang berawal dari sebuah konsep berpikir yang janggal atau metodologi khusus yang diciptakan sendiri oleh segolongan orang baik masa lalu maupun sekarang sedangkan konsep tersebut tidak dikenal dan diakui oleh ulama hadis dan fiqh.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>B. Sejarah Ingkar Sunnah</strong></p>
<p>Sejarah perkembangan Ingkar Sunnah hanya terjadi dua masa, yaitu masa klasik dan masa modern, diantaranya sebagai berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Ingkar Sunnah Klasik</li>
</ol>
<p>Ingkar Sunnah klasik terjadi pada masa Imam Asy-Syafi’i (wafat 204 H) yang menolak kehujjahan sunnah dan menolak sunnah sebagai sumber hukkum Islam baik <em>muttawatir</em> atau <em>ahad.</em> Imam Asy-Syafi’i yang dikenal sebagai <em>Nashir As-Sunnah</em> (pembela Sunah) pernah didatangi oleh seseorang yang disebut sebagai ahli tentang mazhab teman-temannya yang menolak seluruh sunnah, baik <em>muttawatir </em>maupun <em>ahad</em>. Ia datang untuk berdiskusi dan berdebat dengan Asy-Syafi’i secara panjang lebar dengan berbagai argumentasi yang ia ajukan. Namun, semua argumentasi yang dikemukakan orang tersebut dapat ditangkis oleh Asy-Syafi’i dengan jawaban yang argumentatif, ilmiah, dan rasional sehingga akhirnya ia mengakui dan menerima sunnah Nabi.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Secara garis besar, Muhammad Abu Zahrah berkesimpulan bahwa ada tiga kelompok pengingkar sunah yang berhadapan denga Asy-Syafi’i, yaitu sebagai berikut:</p>
<ol start="1">
<li>Menolak sunnah secara keseluruhan, golongan ini hanya mengakui Alquran saja yang dapat dijadikan hujjah.</li>
<li>Tidak menerima sunnah kecuali yang semakna dengan Alquran.</li>
<li>Hanya menerima sunnah <em>muttawatir</em> seja dan menolak selain <em>muttawatir</em> yakni sunnah <em>ahad.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em></li>
</ol>
<p>Kesimpulannya, ingkar sunnah klasik diawali akibat konflik internal umat Islam yang dikobarkan oleh sebagian kaum Zindik yang berkedok pada sekte-sekte dalam Islam, kemudian diikuti oleh para pendukungnya, dengan cara saling mencari para sahabat dan melemparkan hadis palsu. Penolakan sunnah secara keseluruhan bukan karakteristik umat Islam. Semua umat Islam menerima kehujjahan sunnah. Namun, mereka berbeda dalam memberikan kriteria peresyaratan kualitas sunnah. Ingkar sunnah klasik hanya terdapat di Bahrah Irak karena ketidaktahuannya tentang kedudukan sunnah dalam syari’ah Islam, tetapi setelah diberikan penjelasan akhirnya menerima kehujahannya.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn6">[6]</a></p>
<ol start="1">
<li>Ingkar Sunnah Modern</li>
</ol>
<p>Sebagaimana pembahasan di atas, bahwa Ingkar Sunnah Klasik lahir di Irak (kurang lebih abad 2 H/7 M), kemudian menetas kembali pada abad modern di India (kurang lebih abad 19 M/ 13 H), setelah hilang dari peredarannya kurang lebih 11 abad. Baru muncul ingkar sunnah di Mesir (pada abad 20 M).</p>
<p>Sebab utama pada awal timbulnya Ingkar Sunnah modern ini ialah akibat pengaruh kolonialisme yang semakin dahsyat sejak awal abad 19 M di dunia Islam, terutama di India setelah terjadinya pemberontakan melawan kolonial Inggris 1857 M. Berbagai usaha-usaha yang dilakukan kolonial untuk perdangkalan ilmu agama dan umum, penyimpangan aqidah melalui pimpinan-pimpinan umat Islam dan tergiurnya mereka terhadap teori-teori Barat untuk memberikan interpretasi hakekat Islam. Seperti yang dilakukan oleh Ciragih Ali, Mirza Ghulam Ahmad Al-Qadliyani dan tokoh-tokoh lain yang menghindari hadis-hadis jihad dengan pedang, dengan cara mencela-cela hadis tersebut. Di samping ada usaha dari pihak umat Islam menyatukan berbagai Mazhab hukum Islam, Syafi’i, Hanbali, Hanafi, dan Maliki ke dalam satu bendera yaitu Islam, akan tetapi pengetahuan keislaman mereka kurang mendalam.</p>
<ol start="1">
<li>Pokok-Pokok Ajaran Ingkar Sunnah</li>
</ol>
<p>Di antara ajaran-ajaran pokoknya adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Tidak percaya kepada semua hadis Rasulullah. Menurut mereka hadis itu karangan Yahudi untuk menghancurkan Islam dari dalam.</li>
<li>Dasar hukum Islam hanya Alquran saja.</li>
<li>Syahadat mereka; <em>Isyhadu bi anna muslimin</em>.</li>
<li>Shalat mereka bermacam-macam, ada yang shalatnya dua rakaat – dua rakaat dan ada hanya elling saja (ingat).</li>
<li>Puasa wajib hanya bagi orang yang melihat bulan saja, kalu seorang saja yang melihat bulan, maka dialah yang wajib berpuasa.</li>
<li>Haji boleh dilakukan selama 4 bulan haram yaitu Muharram Rajab, Zulqai’dah, dan Zulhijjah.</li>
<li>Pakaian ihram adalah pakaian Arab dan membuat repot. Oleh karena itu, waktu mengerjakan haji boleh memakai celana panjang dan baju biasa serta memakai jas/dasi.</li>
<li>Rasul tetap diutus sampai hari kiamat.</li>
<li>Nabi Muhammad tidal berhak menjelaskan tentang ajaran Alquran (kandungan isi Alquran).</li>
<li>Orang yang meninggal dunia tidak dishalati karena tidak ada perintah Alquran.</li>
</ul>
<p>Demikian di antara ajaran pokok ingkar sunnah yang intinya menolak ajaran sunnah yang dibawa Rasulullah dan hanya menerima Alquran saja secara terpotong-potong.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>C. Argumentasi dan Bantahan Para Ulama Terhadap Ingkarussunnah</strong></p>
<ol start="1">
<li><strong>1. Argumentasi Ingkarussunnah</strong></li>
</ol>
<p>a)      Agama Bersifat Konkret dan Pasti</p>
<p>Mereka berpendapat bahwa agama harus dilandaskan pada suatu hal yang pasti. Apabila kita mengambil dan memakai Sunnah, berarti landasan agama itu tidak pasti. Sementara apabila agama Islam itu bersumber dari hadis –khususnya hadis Ahad- bersifat <em>dhanni</em> (dugaan yang kuat), dan tidak sampai pada peringkat pasti. Karena itu, apabila agama Islam berlandaskan hadis di samping Al-Quran Islam akan bersifat ketidakpastian.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn8">[8]</a></p>
<p>b)      Al-Quran Sudah Lengkap</p>
<p>Dalam syari’at Islam, tidak ada dallil lain, kecuali Al-Quran. Jika kita berpendapat Al-Quran masih memerlukan penjelasan berarti kita secara tegas mendustakan Al-Quran dan kedudukan Al-Quran yang membahas segala hal secara tuntas. Oleh karena itu, dalam syari’at Allah tidak mungkin diambil pegangan lain, kecuali Al-Quran. Argumen ini dipakai oleh Taufiq Sidqi dan Abu Rayyah.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn9">[9]</a></p>
<p>c)      Al-Quran  Tidak Memerlukan Penjelas</p>
<p>Al-Quran tidak memerlukan penjelasan, justru sebaliknya Al-Quran merupakan penjelasan terhadap segala hal. Allah berfirman:</p>
<p><em>Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri</em> (<strong>Q.S. An-Nahl [16]: 89</strong>)</p>
<p><em>Dan Dialah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepadamu dengan terperinci.</em> (<strong>Q.S. Al-An’am [6]: 114</strong>)</p>
<p>Ayat-ayat ini dipakai dalil oleh para pengingat Sunnah, baik dulu maupun kini. Mereka menganggap Al-Quran sudah cukup karena memberikan penjelasan terhadap segala masalah. Mereka adalah orang-p\orang yang menolak hadis secara keseluruhan, seperti Taufiq Sidqi dan Abu Rayyah.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn10">[10]</a></p>
<p><strong>2. Bantahan Ulama</strong></p>
<p>Abd Allah bin Mas’ud berpendapat bahwa orang yang menghindari <em>sunnah</em> tidak termasuk orang beriman bahkan dia orang kafir. Hal ini sesuai dengan <em>hadits</em> Rasulullah SAW. Yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, sebagai berikut:</p>
<p><em>“Jika kamu bersembahyang di rumah-rumah kamu dan kamu tinggalkan masjid-masjid kamu, berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu, dan berarti kamu kufur.” </em>(H.R. Abu Dawud :91).</p>
<p>Allah SWT telah menetapkan untuk mentaati Rsul, dan tidak ada alasan dari siapa pun untuk menentang perintah yang diketahui bearsal dari Rasul. Allah telah membuat semua manusia (beriman) merasa butuh kepadanya dalam segala persoalan agama dan memberikan bukti bahwa <em>sunnah</em> menjelaskan setiap makna dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah dalam kitabnya. Sunnah Rasul mempunyai tugas yang amat besar, yakni untuk memberikan pemahaman tentang <em>Kitabullah</em>, baik dari segi ayat maupun hukumnya. Orang yang ingin mempedalam pemahaman Al-Quran, ia harus mengetahui hal-hal yang ada dalam <em>sunnah</em> , baik dalam maknanya, penafsiran bentuknya, maupun dalam pelaksanaan hukum-hukumnya. Contoh yang paling baik dalam hal ini adalah masalah ibadah shalat.</p>
<p>Tegasnya setiap agian Sunnah Rasul SAW. Berfungsi menerangkan semua petunjuk maupun perintah yang difirmankan Allah di dalam Al-Quran. Siapa saja yang bersedia menerima apa yang ditetapkan Al-Quran dengan sendirinya harus pula menrima petunjuk-petunjuk Rasul dalam Sunnahnya. Allah sendiri telah memerintahkan untuk selalu taat dan setia kepada keputusan Rasul. Barang siapa tunduk kepada Rasul berarti tunduk kepada Allah, karena Allah jugalah yang menyuruh untuk tunduk kepadaNya. Menerima perintah Allah dan Rasul sama nilainya, keduanya berpangkal kepada sumber yang sama (yaitu Allah SWT). Dengan demikian, jelaslah bahwa menolak atau mengingkari <em>sunnah</em> sama saja dengan menolak ketentuan-ketentuan Al-Quran, karena Al-Quran sendiri yang memerintahkan untuk menerima dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.<a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/#_ftn11">[11]</a></p>
<p><strong>D. Inkarussunnah di Indonesia</strong></p>
<p>Aliran/faham sesat ini muncul di indonesia sekitar tahun 1980-an yang lalu dengan menamakan pengajian yang mereka adakan tersebut adalah kelompok Qur´ani.<br />
Beberapa masjid di Jakarta dikuasai oleh mereka, seperti mesjid As Syifa RSCM (rumah sakit terbesar dan rumah sakit pusat di indonesia).        Rumah sakit tersebut bersatu dengan Universitas Indonesia. Pengajian tersebut dipimpin oleh Haji Abdurrahman. Pengajian dimulai ba’da maghrib serta pengikutnya banyak. Lama kelamaan pengajian tersebut tidak mau memakai adzan dan qomat karena tidak ada dalam qur’an, serta seluruh sholat menjadi dua raka´at. Diproyek pasar rumput yaitu di Masjid Al-Burhan muncul pula pengajian yang dipimpin oleh ustadz H. Sanwani guru masyarakat disekitarnya.  Ajaran mereka persis dengan apa yang diajarkan oleh Haji Abdur Rahman. Bahkan mereka tidak mau berpuasa pada bulan Ramadhan kecuali mereka yang langsung melihat hilal (terbitnya awal bulan). Hal ini didasarkan pemahan mereka tentang ayat:</p>
<p>“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya bershiyam), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185).</p>
<p>Mereka memahami ayat ini, bahwa yang wajib berpuasa hanya orang yang melihat bulan, adapun bagi mereka yang tidak melihatnya maka tidak ada kewajiban puasa atasnya.</p>
<p>Seperti yang dijelaskan diatas, bahwa pengajian tersebut muncul di mana-mana. Mereka juga mencetak buku-buku yang banyak untuk menyebarkan faham mereka di masyarakat. Penulis berinisiatif untuk meneliti serta melacak pengajian tersebut. Ternyata setelah dilacak tokohnya adalah orang Indonesia yang mengeluarkan biaya cukup besar untuk pengajian tersebut, yaitu Lukman Saad. Dia berasal dari pajang Sumatra barat dan lulusan IAIN Yogyakarta sampai sarjana muda/BA serta sebagai direktur sebuah percetakan dan penerbitan. Penelitian terus penulis lakukan dan ternyata Lukman saad ini berhubungan dengan Ir. Irham Sutarto ketua serikat buruh PT Unilever Imdonesia. Ir. Iraham adalah tokoh ingkar sunnah yg juga pertama menulis buku ajaran ingkar sunah dengan tulisan tangan.<br />
Peran Ir. Irham ini sangat besar, sedang pemilik PT. Unilever ini adalah orang belanda dan Lukman saad Direktur PT. Ghalia Indonesia mendapat mesin percetakan modern dari Belanda. Tidakkah dibalik permainan ini ada tangan orang yahudi yang coba menghancurkan islam di Indonesia. Akhirnya penulis menemukan bahwa kegiatan kelompok ingkar sunnah ini adalah MARIMUS TAKA keturunan indo jerman yang tinggal di Depok Jawa Barat. Marimus mengaku dirinya bisa membaca Al qur’an tanpa belajar terlebih dahulu. Dia mengajarkan ajaran sesat ini di mana-mana di jakarta. Akirnya pada hari jum´at tanggal 4 Juni 1983 Marimus taka ditangkap ramai-ramai ketika sedang mengadakan pengajian di jalan Bakti Tanjung Priok</p>
<p><a href="http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/">http://blog.sunan-ampel.ac.id/nurlaila/2011/05/31/inkarussunnah-smt-2sjb/</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Pada tanggal 27 Juni 1994, MUI (Majelis Ulama Indonesia) membuat fatwa bahwa<em> </em>aliran yang tidak mempercayai hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum syari’at Islam, adalah sesat, menyesatkan, dan berada di luar agama Islam (http://mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=36). Meskipun MUI tidak menyebutkan istilah ingkar sunnah, banyak orang mengatakan bahwa ini adalah fatwa untuk aliran ingkar sunnah atau anti hadis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya, yang disebut dengan aliran ingkar sunnah atau aliran anti hadis adalah suatu aliran yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam agama islam. Yang menjadi pertanyaan adalah, ”Benarkah paham yang beranggapan bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam agama islam adalah sesat?” Penulis ingin membahas masalah tersebut ditinjau dari Al Qur’an. Al Qur’an terjemahan yang digunakan untuk menjawabnya adalah karya Dep. Agama RI yang terdapat dalam program Al Qur’an Digital versi 2.1.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>INGKAR HADIS DAN INGKAR PENULIS KITAB HADIS</strong></p>
<p>Hadis dan penulis kitab hadis merupakan dua istilah berbeda yang berpotensi menimbulkan penyimpangan dalam agama islam. Hadis adalah perkataan, perbuatan, dan <em>taqrir</em> (sikap mendiamkan suatu kejadian) Nabi Muhammad semasa hidupnya. Hadis pada dasarnya merupakan sebagian sunnah Nabi. Definsi sunnah atau as sunnah dalam http://mediabilhikmah.multiply.com/journal/item/20 adalah semua informasi tentang Nabi Muhammad yang mencakup perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, dan perjalanan hidup selama hidupnya. Makalah ini menekankan pada hadis Nabi untuk menyesuaikan fatwa MUI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berdasarkan definisi hadis dalam alinea sebelumnya, hadis memang benar-benar ada karena Nabi Muhammad pernah ada dan pernah hidup di dunia ini. Orang yang percaya pada Nabi Muhammad pasti percaya terhadap eksistensi hadis. Sebagai manusia, pada saat itu beliau berkata-kata, berbuat sesuatu, bersikap terhadap sesuatu, dan melakukan segala aktivitas kehidupan lainnya. Orang yang mengingkari hadis adalah orang yang tidak percaya pada eksistensi Nabi Muhammad. Sangat beralasan apabila orang yang tidak percaya pada keberadaan hadis disebut kafir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Yang menjadi masalah adalah bahwa hadis yang diketahui oleh manusia sekarang ini dijumpai dalam <span style="text-decoration:underline;">kitab-kitab hadis</span> yang tidak pernah dibaca dan dikoreksi oleh Nabi Muhammad. Penulis menggarisbawahi kitab-kitab hadis karena ini merupakan bagian yang jarang diperhatikan orang dan membuat orang mempunyai persepsi keliru tentang hadis. Perlu diingat bahwa isi kitab hadis 100% menjadi tanggungjawab penulis kitab hadis. Orang yang tidak percaya pada isi kitab hadis berarti tidak percaya pada penulis kitab hadis, bukan tidak percaya pada Nabi Muhammad. Dengan kata lain, orang yang tidak percaya pada isi kitab hadis sesungguhnya termasuk <span style="text-decoration:underline;">golongan ingkar penulis kitab hadis</span>, <span style="text-decoration:underline;">bukan golongan ingkar hadis atau golongan ingkar sunnah</span>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ingkar hadis</span> dan <span style="text-decoration:underline;">ingkar penulis kitab hadis</span> merupakan dua istilah yang sangat berbeda. Ingkar hadis berarti tidak beriman pada Nabi Muhammad sedangkan ingkar penulis kitab hadis berarti tidak beriman pada penulis kitab hadis. Jadi, orang yang tidak percaya pada penulis kitab hadis tetapi percaya pada Nabi Muhammad tidak termasuk golongan ingkar hadis. Orang yang percaya pada Nabi Muhammad percaya bahwa Nabi berbuat, berkata, dan bersikap. Artinya, orang yang percaya pada Nabi Muhammad percaya bahwa hadis Nabi memang ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang-orang yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam agama islam termasuk orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad. Jadi, mereka itu tidak ingkar pada hadis, melainkan ingkar pada penulis kitab hadis. Mereka tidak ingkar pada sunnah tetapi ingkar pada penulis kitab hadis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mulai dari sini, kita tidak membicarakan lagi istilah ingkar sunnah atau ingkar hadis atau anti hadis. Akan tetapi, sejak sekarang, kita akan membicarakan ingkar penulis kitab hadis. Benarkah orang yang ingkar penulis kitab hadis adalah sesat?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DEFINISI ALIRAN SESAT</strong></p>
<p>Apa yang dimaksud dengan orang sesat? Menurut Al Qur’an, orang yang sesat dan orang yang mendapat petunjuk adalah sesuatu yang berpasangan tetapi berlawanan. Maksudnya, orang yang sesat adalah orang yang tidak mendapat petunjuk, dan sebaliknya, orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang tidak sesat. Hal ini tercermin dari ayat-ayat yang menyebutkan sesat dan petunjuk secara bersama-sama (68:7; 34:50; 16:93; dan 39:41)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>68:7. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>34:50. Katakanlah: &#8220;Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>16:93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>39:41. Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa orang sesat adalah orang yang tidak mendapat petunjuk Allah. Yang paling mengetahui orang yang sesat atau mendapat petunjuk adalah Allah sendiri (68:7).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagaimana cara agar mendapat petunjuk? Caranya adalah dengan menggunakan Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman. Hal itu dijelaskan dalam 45:52 bahwa Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya dengan Al Qur’an (45:52). Disebutkan pula bahwa Nabi Muhammad (di situ ditulis sebagai ”kamu”) memberi petunjuk yang lurus dengan Al Qur’an. Penjelasan tersebut sangat jelas dan terang benderang. Artinya, orang yang berpedoman pada Al Qur’an akan mendapat petunjuk Allah karena dengan Al Qur’an itulah Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi <span style="text-decoration:underline;">Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami</span>. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Barangkali ada yang penasaran dengan kata ”dia” dalam frase ”Kami tunjuki dengan <span style="text-decoration:underline;">dia</span> siapa yang kami kehendaki”? Apakah ada yang mengira bahwa ”dia” itu Nabi Muhammad? Terjemahan ayat tersebut versi Dr. Shehnaz Shaikh dan Ms. Kausar Khatri berikut ini menegaskan bahwa ”dia” adalah bukan manusia karena ”dengan dia” adalah terjemahan dari ”by which” (bukan manusia).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>42:52. And thus We have revealed to you an inspiration by Our Command. You did not know what the Book is nor (what) faith is. But We have made it a light <span style="text-decoration:underline;">by which</span> We guide whom We will of Our slaves. And indeed, you guide to the Straight Path,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika Allah sudah menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dengan Al Qur’an (42:52), tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mencari petunjuk yang lain. Petunjuk Allah 100% ada dalam Al Qur’an. Orang yang mengikuti ajaran Allah dalam Al Qur’an tidak akan tersesat karena Al Qur’an merupakan petunjuk bagi orang yang beriman (27:77). Ayat tersebut harus diartikan bahwa Allah menghendaki Al Qur’an sebagai satu-satunya pedoman dalam agama islam agar tidak tersesat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>27:77. Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aliran yang berpaham bahwa Al Qur’an merupakan satu-satunya pedoman dalam agama islam atau aliran ingkar penulis kitab hadis adalah tidak sesat. Mengingat bahwa Allah hanya menyebutkan Al Qur’an yang menjadi petunjuk bagi orang beriman, kitab selain Al Qur’an tidak dapat menjadi petunjuk bagi orang beriman. Oleh karena itu, paham yang menjadikan Al Qur’an dan kitab selain Al Qur’an sebagai petunjuk termasuk aliran yang mengandung kesesatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MUI MENGINGKARI HADIS?</strong></p>
<p>Ada hadis Nabi (HR. Muttafaq &#8216;alaihi) yang menyebutkan bahwa rukun islam ada 6 yaitu<em> </em>percaya kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan Qadar baik dan buruk-Nya dari Allah ta’ala (diakses 6 Januari 2010 dari http://suprichusnul.multiply.com/journal/item/518). Jika kita cermati isi hadis tersebut, kitab hadis dan penulis kitab hadis tidak termasuk dalam rukun iman Dengan demikian, kitab hadis dan penulis kitab hadis tidak boleh diimani karena tidak termasuk dalam rukun iman. Hal ini menjadi menarik karena MUI justru membuat fatwa tentang larangan untuk mengingkari hadis Nabi. Dengan kata lain, MUI justru mendorong orang agar beriman pada kitab hadis dan penulis kitab hadis. Padahal, kitab hadis yang diimani MUI menyebutkan bahwa kitab hadis dan penulis kitab hadis tidak termasuk rukun iman. Bukankah ini bukti bahwa MUI telah mengingkari isi kitab hadis? Jika MUI benar-benar beriman pada kitab hadis dan penulis kitab hadis, seharusnya MUI tidak membuat fatwa tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Mengapa orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an dinyatakan sesat oleh MUI hanya karena mereka tidak beriman kepada penulis kitab hadis? Bukankah penulis kitab hadis tidak mempunyai kedudukan apa pun di sisi Allah? Bukankah manusia yang wajib diimani hanya Rasul Allah (57:7)?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>57:7. <span style="text-decoration:underline;">Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya</span> dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Petunjuk selain Al Qur’an rawan terhadap tipu daya syaitan sehingga para penggunanya dapat keluar dari jalan yang benar meskipun mereka menyangka mendapat petunjuk (43:37).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>43:37. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>UUD 1945 Pasal 28E : (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. (3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.</p>
<p><a href="http://kajiantentangquran.blogspot.com/2010/02/fatwa-mui-tentang-ingkar-sunnahanti.html">http://kajiantentangquran.blogspot.com/2010/02/fatwa-mui-tentang-ingkar-sunnahanti.html</a></p>
<p>http://groups.yahoo.com/group/surau/message/45442</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>F. Kesimpulan<br />
Dari pemaparan di atas, makalah ini dapat disimpulkan ke dalam beberapa poin, yaitu:<br />
1) Lahirnya kelompok Ingkar Sunnah dilatar belakangi oleh beberapa sebab, diantaranya: Pemahaman mereka yang tidak terlalu baik dan mendalam tentang Hadits/Sunnah Nabi saw, kedangkalan mereka dalam memahami Islam, juga ajarannya secara keseluruhan, kepemilikan pengetahuan yang kurang tentang bahasa Arab, sejarah Islam (kodifikasi Hadits), sejarah periwayatan, pembinaan Hadits, metodologi penelitian Hadits, dan adanya statement al-Qur&#8217;an yang menyatakan bahwa al-Qur&#8217;an telah menjelaskan segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran Islam (QS. Al-Nahl: 89).<br />
2) Dampak dari penolakan ini bisa mengakibatkan Umat Islam akan kehilangan satu panduan hidup yang sangat berarti selain al-Qur&#8217;an; dan yang ekstrim bisa mengakibatkan seseorang kafir (keluar/dianggap keluar) dari agama Islam.</p>
<p>http://edwaneloenks.blogspot.com/2009/11/ingkar-as-sunnah-kajian-sebab-dan.html</p>
<p><strong>TUGAS RASULULLAH</strong></p>
<p>Kelompok inkar sunnah salah fatal ketika menceraikan hubungan mesra antara al-Quran dan hadits. Hadits muncul sebagai perintah dan penjelas kepada al-Quran dan karenanya tidak dapat dipisahkan. Tanpa hadits, memahami dan melaksanakan perintah adalah tidak mungkin. Rasulullah saw. sendiri sebagai manusia yang paling mengerti tentang kandungan wahyu tersebut bertanggung jawab untuk menyampaikannya dan menjelaskannya kepada ummat manusia saat itu. Para sahabat memiliki akidah dan syariah justru setelah Rasulullah s.a.w. menyampaikan, menjelaskan dan mengajarkan kandungan al-Quran. Jadi, menolak hadits berarti menolak apa yang disampaikan, dijelaskan dan diajarkan oleh Rasulullah saw.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>http://infompi3.wordpress.com/2009/11/24/bahaya-faham-inkar-sunnah/</p>
<p><strong><a title="Argumentasi Golongan Ingkar Sunnah" href="http://makmureffendi.wordpress.com/2011/02/20/argumentasi-golongan-ingkar-sunnah/">Argumentasi Golongan Ingkar Sunnah</a></strong></p>
<p>Posted on 20 Februari 2011 by Makmur Effendi</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>i</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rate This</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>
<div>
<p>Image via Wikipedia</p>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Oleh: Abduh Zulfidar Akaha</em></p>
<p><em>Suntingan &amp; Editor: Makmur Effendi<br />
</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p>&nbsp;</p>
<div><strong></strong>Callighraphy@by: Makmur Effendi</p>
</div>
<p><strong>S</strong>elain berbagai ajaran dan pemahaman sesat di atas, yang membuat mereka hanya mau beriman kepada Al-Qur`an dan menerima Al-Qur`an saja sebagai satu-satunya kitab sumber syariat; mereka pun juga mempunyai sejumlah alasan kenapa menolak <a title="Sunnah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sunnah" rel="wikipedia">Su</a><a title="Sunnah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sunnah" rel="wikipedia">nnah</a> Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meskipun menurut pengakuan mereka, sebetulnya yang mereka tolak bukanlah Sunnah Rasul, karena Sunnah Rasul adalah Al-Qur`an itu sendiri. <a title="Akan people" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Akan_people" rel="wikipedia">Akan</a> tetapi, yang mereka tolak sejatinya adalah hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Nabi. Sebab, hadits-hadits tersebut –menurut mereka– merupakan perkataan-perkataan yang dikarang oleh orang-orang setelah Nabi. Dengan kata lain; hadits-hadits itu adalah buatan manusia!</p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setidaknya, ada sembilan alasan kenapa mereka menolak hadits Nabi, yaitu:</p>
<p>&nbsp;</p>
<h2>I.  Yang Dijamin <a title="Allah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia">Allah</a> <a title="Chania" href="http://maps.google.com/maps?ll=35.5248611111,24.0561666667&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=35.5248611111,24.0561666667%20%28Chania%29&amp;t=h" rel="geolocation">Hanya</a> Al-Qur`an, <a title="Bukan" href="http://maps.google.com/maps?ll=36.5202777778,46.2086111111&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=36.5202777778,46.2086111111%20%28Bukan%29&amp;t=h" rel="geolocation">Bukan</a> Sunnah</h2>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekiranya Allah menghendaki akan menjaga agama Islam ini dengan Al-Qur`an dan Sunnah, niscaya Dia akan memberikan jaminan tersebut dalam <a title="Kitab" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kitab" rel="wikipedia">Kitab</a>-Nya. Akan tetapi, karena Allah menghendaki bahwa hanya Al-Qur`anlah yang Dia jamin, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan kepada selain Al-Qur`an. Allah tidak memberikan jaminan-Nya kepada Sunnah. Allah telah mencukupkan agama ini dengan Al-Qur`an saja tanpa yang lain.</p>
<p>Allah <em>Jalla wa ‘Ala </em>berfirman,</p>
<h1>إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ .<strong> </strong></h1>
<blockquote><p><em>“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan adz-dzikr (Al-Qur`an), dan Kami benar-benar akan menjaganya.” </em>(<a title="Al-Hijr" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Hijr" rel="wikipedia">Al-Hijr</a>: 9)</p>
</blockquote>
<p>Dalam ayat ini, yang dijamin akan dijaga oleh Allah adalah Al-Qur`an.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h1><strong>Bantahan</strong></h1>
<p><strong>Orang Inkar Sunnah menafsirkan ayat ini dengan hawa nafsunya.</strong></p>
<p><strong> </strong> Kalau saja mereka mau berpikir jernih dan melihat dengan ce</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Image via Wikipedia</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Oleh: Abduh Zulfidar Akaha</em></p>
<p><em>Suntingan &amp; Editor: Makmur Effendi</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Callighraphy@by: Makmur Effendi</p>
<p><strong>S</strong>elain berbagai ajaran dan pemahaman sesat di atas, yang membuat mereka hanya mau beriman kepada Al-Qur`an dan menerima Al-Qur`an saja sebagai satu-satunya kitab sumber syariat; mereka pun juga mempunyai sejumlah alasan kenapa menolak <a title="Sunnah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sunnah">Su</a><a title="Sunnah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sunnah">nnah</a> Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p>Meskipun menurut pengakuan mereka, sebetulnya yang mereka tolak bukanlah Sunnah Rasul, karena Sunnah Rasul adalah Al-Qur`an itu sendiri. <a title="Akan people" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Akan_people">Akan</a> tetapi, yang mereka tolak sejatinya adalah hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Nabi. Sebab, hadits-hadits tersebut –menurut mereka– merupakan perkataan-perkataan yang dikarang oleh orang-orang setelah Nabi. Dengan kata lain; hadits-hadits itu adalah buatan manusia!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setidaknya, ada sembilan alasan kenapa mereka menolak hadits Nabi, yaitu:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>I.  Yang Dijamin <a title="Allah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah">Allah</a> <a title="Chania" href="http://maps.google.com/maps?ll=35.5248611111,24.0561666667&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=35.5248611111,24.0561666667%20%28Chania%29&amp;t=h">Hanya</a> Al-Qur`an, <a title="Bukan" href="http://maps.google.com/maps?ll=36.5202777778,46.2086111111&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=36.5202777778,46.2086111111%20%28Bukan%29&amp;t=h">Bukan</a> Sunnah</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekiranya Allah menghendaki akan menjaga agama Islam ini dengan Al-Qur`an dan Sunnah, niscaya Dia akan memberikan jaminan tersebut dalam <a title="Kitab" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kitab">Kitab</a>-Nya. Akan tetapi, karena Allah menghendaki bahwa hanya Al-Qur`anlah yang Dia jamin, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan kepada selain Al-Qur`an. Allah tidak memberikan jaminan-Nya kepada Sunnah. Allah telah mencukupkan agama ini dengan Al-Qur`an saja tanpa yang lain.</p>
<p>Allah <em>Jalla wa ‘Ala </em>berfirman,</p>
<p><strong>إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ .</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan adz-dzikr (Al-Qur`an), dan Kami benar-benar akan menjaganya.” </em>(<a title="Al-Hijr" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Hijr">Al-Hijr</a>: 9)</p>
<p>Dalam ayat ini, yang dijamin akan dijaga oleh Allah adalah Al-Qur`an.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Orang Inkar Sunnah menafsirkan ayat ini dengan hawa nafsunya.</strong></p>
<p>Kalau saja mereka mau berpikir jernih dan melihat dengan cermat, tentu mereka tidak akan berkata demikian. Sebab, kata yang dipakai di sana adalah <em>“adz-dzikr,”</em> bukan Al-Qur`an. Sekiranya yang dimaksud Allah adalah hanya menjaga Al-Qur`an saja, niscaya Dia akan mengatakannya secara tegas, dengan menyebutkan kata “Al-Qur`an,” bukan <em>“adz-dzikr.”</em> Sebagaimana termaktub dalam banyak ayat Al-Qur`an yang menyebutkan demikian.</p>
<p>Misalnya;</p>
<p><strong>وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ .</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Dan apabila dibacakan <strong>Al-Qur`an</strong>, maka dengarkan dan perhatikanlah baik-baik agar kalian mendapat rahmat.” </em>(<a title="Al-A'raf" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Al-A%27raf">Al-A’raf</a>: 204)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akan tetapi, yang dipakai di sini adalah kata <em>“adz-dzikr.”</em> Dan, lafazh adz-dzikr sebagai ganti Al-Qur`an ini mempunyai makna dan hikmah tersendiri. Karena ia bisa bermakna sebagai Al-Qur`an dan Sunnah sekaligus. Sebab, selain Allah menjamin Al-Qur`an dengan penjagaan langsung dari sisi-Nya, Allah pun menjaga Sunnah Nabi-Nya melalui para sahabat dan ulama penerus mereka. Bagaimanapun juga, penjagaan Allah terhadap agama ini mencakup penjagaan-Nya terhadap Sunnah, karena Sunnah-lah yang menjelaskan Al-Qur`an.</p>
<p>Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah menjaga sesuatu yang dijelaskan (Al-Qur`an), dan meninggalkan sesuatu yang menjelaskan (Sunnah)? Sementara kita –umat Islam– tidak mungkin bisa memahami Al-Qur`an dan mengamalkan ajaran-Nya tanpa bantuan Sunnah <em>Al-Muthahharah</em>.</p>
<p>Itulah makanya, Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p><strong>فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ .</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Maka, bertanyalah kalian kepada ahlu <strong><span style="text-decoration:underline;">dzikr</span></strong> jika kalian tidak mengetahui.” </em>(An-Nahl :43)</p>
<p>Sebagian ahli tafsir mengatakan,<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn1">[1]</a> bahwa yang dimaksud dengan ahlu dzikr adalah ahlul ilmi, yakni para ulama. Sedangkan sebagian lagi mengatakan, bahwa ahlu dzikr adalah ahlul Qur`an, yang tidak lain adalah ulama juga. Dan, tidak disebut sebagai ulama jika tidak menguasai Al-Qur`an dan Sunnah sekaligus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>II.  Nabi Sendiri Melarang Penulisan Hadits</strong><strong></strong></p>
<p>Sama seperti Syiah yang tidak konsisten dengan sikapnya terhadap <a title="Umar" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Umar">Umar</a> bin Al-Khathab <em>Radhiyallahu Anhu</em>. Betapa bencinya mereka (orang-orang Syiah) kepada Umar yang dianggap sebagai perampas hak kekhalifahan Ali bin Abi Thalib <em>Karramallahu Wajhah. </em></p>
<p>Mereka juga mengatakan, bahwa Umar-lah yang mengharamkan nikah mut’ah, bukan Nabi. Namun, di satu sisi, mereka memuji-muji Umar atas sikapnya yang menegur bahkan sampai memukul <a title="Abu Hurairah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Hurairah">Abu Hurairah</a> <em>Radhiyallahu Anhu </em>dikarenakan banyaknya Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Nabi.</p>
<p>Begitu pula dengan kelompok inkar Sunnah. Di satu sisi mereka menolak hadits Nabi Muhammad <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam. </em>Tetapi di sisi lain, manakala ada hadits yang sesuai dengan nafsu syahwat mereka, maka mereka pun mendukungnya. Bahkan, tanpa malu-malu mereka menjadikannya senjata untuk membenarkan sikap mereka dalam menyerang Sunnah Nabi.</p>
<p>Mereka selalu mendengung-dengungkan dan berpegang pada hadits Nabi yang mengatakan,</p>
<p><strong>لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ . (رواه أحمد ومسلم والدارمي عن أبي سعيد الخدري)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Janganlah kalian menulis sesuatu pun dariku selain Al-Qur`an. Barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur`an, maka hendaklah dia menghapusnya.” </em>(HR. Ahmad, Muslim, dan Ad-Darimi dari <a title="Abu Sa`id al-Khudri" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Sa%60id_al-Khudri">Abu Said Al-Khudri</a>)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Yang dimaksud “tentang aku” atau “dariku” dalam hadits ini adalah segala yang berasal dari Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em>, baik itu berupa perkataan (<em>sunnah qauliyah</em>), perbuatan (<em>sunnah fi’liyah</em>), maupun persetujuan (<em>sunnah taqririyah</em>).<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Dan hadits lain yang diriwayatkan Imam Al-Khathib Al-Baghdadi (w. 463 H) dari Abu Hurairah, yang menyebutkan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>pernah menemui sebagian sahabat yang ketika itu sedang menulis hadits.</p>
<p>Beliau berkata,</p>
<p><em>“Kalian sedang menulis apa?”</em></p>
<p>Mereka menjawab,</p>
<p>“Hadits-hadits yang kami dengar dari Anda.”</p>
<p>Beliau bersabda,</p>
<p><em>“Apakah kalian berani menulis kitab selain Kitab Allah? Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian itu menjadi sesat dikarenakan mereka menulis kitab bersama-sama Kitab Allah Ta’ala.”</em><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Dua hadits ini dan hadits-hadits lain yang senada, mereka jadikan alasan untuk menolak Sunnah. Sebab, Nabi sendiri telah melarang penulisan hadits. Lalu, bagaimana mungkin umatnya mengaku memiliki hadits-hadits yang bersumber dari Nabi? Jadi, sesungguhnya yang namanya hadits Nabi itu tidak ada, karena Nabi sendirilah yang melarang menulis hadits. Dan, memang tidak mungkin bagi Nabi untuk mengatakan perkataan-perkataan selain Al-Qur`an!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan</strong><strong></strong></p>
<p>Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi (w. 676 H) berkata,</p>
<p>“<strong>Hadits-hadits tentang larangan menulis hadits telah mansukh (dihapus) dengan hadits-hadits yang membolehkan penulisan hadits. Sebab, ketika itu Nabi melarang menulis hadits karena khawatir hadits-hadits tersebut akan tercampur dengan Al-Qur`an. Kemudian, ketika kekhawatiran itu hilang dikarenakan para sahabat sudah matang Al-Qur`annya, maka Nabi pun mengizinkan para sahabat untuk menulis hadits.”</strong><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Ada juga yang mengatakan, bahwa yang dilarang adalah menulis hadits dalam satu tempat yang sama dengan Al-Qur`an. Sebab, dikhawatirkan seseorang akan bingung ketika membacanya, mana yang Al-Qur`an dan mana yang hadits Nabi? <a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Dalam hal ini, banyak hadits yang menyebutkan dibolehkannya menulis hadits. Di antaranya, yaitu:</p>
<p>1. Hadits yang menceritakan ketika Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>bersama kaum muslimin menaklukkan kota Makkah, lalu beliau berdiri menyampaikan khutbah. Ketika itu ada seorang laki-laki dari Yaman yang bernama Abu Syah meminta kepada Nabi agar khutbah tersebut dituliskan untuknya.</p>
<p>Nabi pun bersabda,</p>
<p align="center"><strong>اكْتُبُوا لِأَبِي شَاهٍ . ) متفق عليه عن أبي هريرة(</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Tuliskanlah untuk Abu Syah.” </em>(Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn7">[7]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2. Abdullah bin Amru bin Al-Ash <em>Radhiyallahu Anhuma </em>berkata,</p>
<p>“Dulu saya selalu menulis setiap perkataan yang saya dengar dari Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>karena ingin menjaganya. Tetapi orang Quraisy melarang saya. Mereka mengatakan bahwa Rasul juga manusia biasa yang bisa marah dan gembira. Lalu, saya pun sementara menahan diri untuk tidak menulis hadits, hingga saya sampaikan hal ini kepada Rasulullah.</p>
<p>Maka, beliau pun memberikan isyarat dengan jari telunjuknya ke arah mulutnya seraya bersabda,</p>
<p><strong>اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ .  (رواه أبو داود)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Tulislah! Demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidak ada yang keluar darinya kecuali kebenaran.” </em>(HR. Abu Dawud)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Setelah menyebutkan sejumlah hadits tentang adanya kegiatan penulisan hadits masa Nabi, atas perintah beliau dan atau sepengetahuan beliau, DR. Salim Ali Al-Bahnasawi berkata, “Ini semua menunjukkan bahwa dilarangnya penulisan hadits ketika itu tidak lain adalah karena kekhawatiran tercampurnya Sunnah dengan Al-Qur`an. Untuk itu, apabila penyebab ini telah hilang, maka penulisan hadits adalah suatu keharusan.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>Para ulama menggabungkan antara hadits-hadits yang melarang dan membolehkan penulisan hadits, sebagai berikut:</strong></p>
<p>1.      Hadits-hadits yang membolehkan (menyuruh) menulis hadits telah menghapus hadits-hadits yang melarang. Dan, hal ini terjadi pada masa awal-awal Islam ketika masih dikhawatirkan terjadi kerancuan atau campur aduk antara Al-Qur`an dan hadits.</p>
<p>2.      Larangan menulis hadits adalah bagi orang yang hafalannya kuat, agar dia tidak tergantung pada tulisan. Adapun orang yang hafalannya lemah, maka dia boleh menulisnya.</p>
<p>3.      Larangan menulis hadits khusus bagi yang menuliskannya dalam satu tempat yang sama dengan tulisan Al-Qur`an, sebab dikhawatirkan akan bercampur.</p>
<p>4.      Nabi hanya melarang menulis hadits pada saat turunnya wahyu dan ditulisya ayat yang baru saja turun.</p>
<p>5.      Larangan menulis hadits hanya bagi yang belum pandai menulis, karena dikhawatirkan salah. Adapun yang sudah mahir menulis, maka dia boleh menulis hadits.</p>
<p>6.      Larangan hanya berlaku bagi para penulis wahyu yang bertugas menulis setiap wahyu yang turun. Adapun selain mereka, maka diperbolehkan menulis hadits.</p>
<p>Dan, dibolehkannya menulis hadits ini adalah masalah yang sudah disepakati oleh para ulama. Sebagaimana dinukil oleh Al-Khathib Al-Baghdadi, Al-Hafizh Ibnu Shalah, dan lain-lain.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn10">[10]</a> Lagi pula, Nabi pun pernah (menyuruh sahabat untuk) menulis surat kepada para pemimpin kabilah di sekitar Madinah dan jazirah Arab, Kaisar, Heraklius, perjanjian damai Hudaibiyah, dan lain-lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>III. Hadits Baru Dibukukan Pada Abad Kedua Hijriyah </strong><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang-orang inkar Sunnah sama saja dengan para orientalis dalam hal ini. Mereka mengatakan bahwa hadits-hadits Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>yang terdapat dalam kitab-kitab Sunnah banyak bohongnya dan mengada-ada karena baru dibukukan ratusan tahun setelah Nabi wafat. Kata mereka, isi kitab-kitab yang diklaim sebagai berasal dari Nabi itu tak lain merupakan hasil dari gejolak politik, sosial, dan keagamaan yang dialami kaum muslimin pada abad pertama dan kedua. Jadi, bagaimana mungkin kitab yang dibukukan sekitar dua abad setelah wafatnya Nabi diyakini sebagai Sunnah Nabi?<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Ignaz Goldziher (1850 – 1921 M), salah seorang tokoh orientalis Yahudi dari Hongaria mengatakan, “Sebagian besar hadits adalah hasil perkembangan keagamaan, politik, dan sosial umat Islam pada abad pertama dan kedua. Tidak benar jika dikatakan bahwa hadits itu merupakan dokumen umat Islam sejak masa pertumbuhannya. Sebab, itu semua merupakan buah dari usaha umat Islam pada masa kematangannya.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Kata orang inkar Sunnah, apabila memang benar bahwa hadits-hadits itu bersumber dari Nabi, semestinya sudah dibukukan sejak masa Nabi hidup. Bukan dua abad setelah beliau wafat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan </strong><strong></strong></p>
<p>Pertama kali yang ingin kami katakan di sini adalah, bahwa sebetulnya anggapan seperti ini <strong>sama saja dengan menunjukkan kebodohan mereka sendiri</strong>. Sebab, yang mereka jadikan patokan adalah kitab <em>Shahih</em> Al-Bukhari (194 H – 256 H), <em>Shahih</em> Muslim (204 H – 262 H), dan kitab-kitab hadits seterusnya yang memang ditulis pada dan setelah abad kedua Hijriyah.</p>
<p>Entah karena tidak tahu atau pura-pura tidak tahu mereka ini, bahwa sesungguhnya pembukuan hadits-hadits Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>sudah dimulai jauh sebelum itu.</p>
<p><strong>Tentu, ada perbedaan antara penulisan dan pembukuan</strong>.</p>
<p><strong>Orang menulis,</strong> meskipun banyak yang ditulis, belum tentu menjadi buku jika tidak dibukukan.</p>
<p><strong>Adapun pembukuan</strong>, adalah pengumpulan dari tulisan-tulisan yang telah disusun secara rapi. Apa pun definisinya, yang pasti para sahabat telah menulis hadits-hadits Nabi sejak beliau masih hidup. Akan tetapi dikarenakan sejumlah faktor, tulisan-tulisan hadits yang tersebut belum dikumpulkan di satu tempat dalam satu buku.</p>
<p>Kami tidak hendak menyebutkan berbagai alasan kenapa hadits-hadits tersebut tidak segera dibukukan, karena orang Inkar Sunnah yang sudah dibutakan mata dan hatinya oleh Allah tidak akan mau tahu.</p>
<p>Namun, kami hanya akan memberikan sejumlah fakta bahwa pembukuan hadits sudah dimulai sebelum abad kedua, dan bahwa kitab <em>Shahih Al-Bukhari</em> bukanlah kitab hadits yang pertama kali dalam Islam.</p>
<ol start="1">
<li><strong>Khalifah Umar bin Abdil Aziz (w. 99 H) </strong>yang termasuk generasi tabi’in, yakni generasi yang langsung bertemu para sahabat, dan mengambil ilmu langsung dari mereka, telah memerintahkan semua gubernurnya di seluruh wilayah Islam untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi. Umar berkata, “Carilah hadits Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>dan kumpulkanlah.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn13">[13]</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para ulama mengatakan, “Adapun pembukuan hadits, maka itu terjadi pada penghujung abad pertama pada masa Khalifah Umar bin Abdil Aziz, atas perintahnya.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn14">[14]</a></p>
<ol start="1">
<li><strong>Abu Bakar Muhammad bin Amru bin Hazm<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn15">[15]</a> (w. 98 H)</strong> atas perintah Khalifah Umar bin Abdil Aziz, membukukan hadits-hadits Nabi yang ada pada Amrah binti Abdirrahman dan Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar.</li>
<li><strong>Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (58 H – 124 H)</strong>, salah seorang ulama tabi’in, menyambut baik perintah Umar bin Abdil Aziz untuk membukukan hadits. Dia pun mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang sudah dia tulis dan hafal, lalu dia letakkan dalam satu buku. Bisa dikatakan, jerih payah Ibnu Syihab ini adalah awal dari aktivitas penyusunan dan pembukuan hadits. Para ulama mengatakan, “Kalau bukan karena Az-Zuhri, sungguh akan banyak Sunnah yang hilang.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn16">[16]</a></li>
<li>Selanjutnya di Makkah, Ibnu Juraij (w. 150 H) juga membukukan hadits.</li>
<li>Masih di Makkah, Ibnu Ishaq (w. 151 H) pun membukukan hadits.</li>
<li>Di Madinah; Said bin Abi Arubah (w. 156 H), Ar-Rabi’ bin Shabih (w. 160 H), dan Imam Malik bin Anas (w. 179 H).</li>
<li>Di Syam; Abu Umar Al-Auza’i (w. 157 H), Husyaim bin Basyir (w. 173 H).</li>
<li>Di Bashrah; Hammad bin Salamah (w. 167 H).</li>
<li>Di Kufah; Sufyan Ats-Tsauri (w. 161 H).</li>
<li>Di Yaman; Ma’mar bin Rasyid (w. 154 H).</li>
<li>Di Mesir; Al-Laits bin Sa’ad (w. 154 H).</li>
<li>Di Khurasan; Abdullah bin Al-Mubarak (w. 181 H).</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemudian, <strong>memasuki abad II</strong> yang sebetulnya adalah kelanjutan dari masa sebelumnya, <strong>pembukuan hadits mulai lebih teratur penyusunannya</strong> dari segi pembagian bab, masalah yang dibahas, hadits yang berulang, dan sahabat yang meriwayatkan. Lalu, muncullah kitab-kitab hadits berikutnya;</p>
<ol start="1">
<li>Musnad Abu Dawud Sulaiman Ath-Thayalisi (w. 204 H).</li>
<li>Musnad Abu Bakar Abdullah Al-Humaidi (w. 219 H).</li>
<li>Musnad Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H).</li>
<li>Musnad Abu Bakar Ahmad bin Amru Al-Bazzar (w. 292 H)</li>
<li>Musnad Abu Ya’la Ahmad Al-Maushili (w. 307 H).</li>
<li>Al-Jami’ Ash-Shahih/Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (w. 256 H).</li>
<li>Al-Jami’ Ash-Shahih/Imam Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi (w. 261 H).</li>
<li>Sunan At-Tirmidzi/Imam Abu Isa At-Tirmidzi (w. 279).</li>
<li>Sunan Abu Dawud/Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani (w. 275 H).</li>
<li>Sunan An-Nasa`i/Abu Abdirrahman An-Nasa`i (w. 303 H).</li>
<li>Sunan Ibnu Majah/Muhammad bin Yazid bin Majah (w. 275 H).</li>
<li>Sunan Asy-Syafi’i/Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (w. 204 H).</li>
<li>Sunan Ad-Darimi/Abdullah bin Abdurrahman Ad-Darimi (w. 255 H).</li>
<li>Sunan Ad-Daruquthni/Ali bin Umar Ad-Daruquthni (w. 385 H).</li>
<li>Dan lain-lain…</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalau orang inkar Sunnah mau jujur, dari mana mereka tahu bahwa Imam Al-Bukhari hidup pada abad kedua dan bahwa pada masa Nabi belum ada pembukuan<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn17">[17]</a> hadits? Bukankah itu dari sejarah? Bukankah jika mereka mengetahui hal ini, artinya mereka juga membaca buku? Dan, bukankah mereka juga sama saja dengan mengambil pendapat orang lain dalam masalah ini? Tetapi, kenapa mereka selalu mengatakan; ikuti saja Al-Qur`an, jangan ikuti yang lain?!!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ringkas kata, apa yang mereka katakan bahwa Sunnah baru dibukukan pada abad kedua adalah tidak benar.</strong></p>
<p>Sebab, sebelum abad kedua pun, sudah banyak ulama umat ini yang membukukan Sunnah. Selanjutnya, jika dengan tuduhan ini mereka ingin mengatakan bahwa karena dibukukan ratusan tahun setelah Nabi meninggal, maka isi kitab-kitab Sunnah itu adalah bohong dan tidak bisa dianggap sebagai Sunnah Nabi; juga tidak benar. Sebab, justru isi dari kitab-kitab Sunnah itulah yang sudah diketahui, dihafal, dan diamalkan sejak masa Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam. </em>Bagaimanapun juga, tidak selalu suatu masalah atau peristiwa harus dibukukan saat itu juga. Betapa banyak buku-buku tentang suatu kasus atau peristiwa tertentu/bersejarah yang baru dibukukan setelah semua pelakunya meninggal. Dan betapa banyak biografi atau perkataan-perkataan seseorang yang baru dibukukan bertahun-tahun setelah yang bersangkutan tiada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div align="center">
<hr align="center" size="1" width="100%" />
</div>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref1">[1]</a> Lihat misalnya; <em>Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an</em>/Imam Abu Abdillah Al-Qurthubi/jilid 5/hlm 2872/terbitan Dar Al-Fikr, Beirut/Cetakan I/1999 M – 1419 H, dan <em>Taysir Al-Karim Ar-Rahman/</em>Syaikh Abdurrahman As-Sa’di/hlm 441/terbitan Markaz Fajr li Ath-Thiba’ah, Kairo/Cetakan I/2000 M – 1421 H.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref2">[2]</a> Hadits shahih. Lihat; <em>Shahih Muslim/Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa`iq/Bab At-Tatsabbut fi Al-Hadits wa Hukm Kitabati Al-’Ilm/</em>hadits nomor 5326, <em>Musnad Ahmad/Kitab Baqi Musnad Al-Muktsirin/Bab Musnad Abi Sa’id Al-Khudri/</em>hadits nomor 1110, dan <em>Sunan Ad-Darimi/Kitab Al-Muqaddimah/Bab Man Lam Yara Kitabata Al-Hadits</em>/451. Semuanya dari Abu Said Al-Khudri <em>Radhiyallahu Anhu</em>.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref3">[3]</a> Sebagian ulama ada juga yang menambahkan macam sunnah yang keempat, yaitu sunnah pembawaan (<em>sunnah washfiyah</em>).</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref4">[4]</a> <em>Mabahits fi ‘Ulum Al-Hadits/</em>Syaikh Manna’ Al-Qatha/Maktabah Wahbah – Kairo/hlm 29-31/Cetakan IV/2004 M – 1425 H, menukil dari Al-Baghdadi dalam <em>Taqyid Al-’Ilm, </em>yang dikoreksi DR. Yusuf Al-Isy.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref5">[5]</a> <em>Syarh Shahih Muslim</em>/Imam Abu Zakariya An-Nawawi/juz 18/hlm 104/terbitan Maktabah At-Taufiqiyah, Kairo.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref6">[6]</a> Sda.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref7">[7]</a> Lihat; <em>Shahih Al-Bukhari/Kitab Ad-Diyyat/Bab Man Qutila Lahu Qatil</em>/hadits nomor 6372, dan <em>Shahih Muslim/Kitab Al-Hajj/Bab Tahrim Makkah wa Shaidiha</em>/hadits nomor 2414. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan Abu Dawud juga meriwayatkan hadits ini.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref8">[8]</a> <em>Sunan Abi Dawud/Kitab Al-’Ilm/Bab fi Kitab Al-’Ilm/</em>hadits nomor 3161<em>.</em> Imam Ahmad (6221) dan Ad-Darimi (484) juga meriwayatkan hadits ini.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref9">[9]</a> <em>As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha</em>/DR. Salim Ali Al-Bahnasawi/hlm 53/Dar Al-Wafa` – Manshurah, Mesir/Cetakan ke-IV/1992 M- 1413 H.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref10">[10]</a> Lihat; <a href="http://www.al-islami.com/arabic/sunnah.php">http://www.al-islami.com/arabic/sunnah.php</a></p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref11">[11]</a> Kelompok inkar Sunnah bisa saja membantah bahwa mereka berpendapat demikian bukan karena terpengaruh kaum orientalis. Karena mereka memang sangat anti mengutip pendapat orang lain dalam menyebarkan dakwah sesatnya. Mereka selalu mengatakan, “Ikuti saja Al-Qur`an, itu sudah cukup. Jangan ikuti siapa pun selain Al-Qur`an.” Hal ini bisa dilihat dari sikap tokoh-tokoh mereka, seperti Taufiq Shidqi, Ahmad Amin, dan Abu Rayyah yang tidak mau menisbatkan pendapatnya kepada para pendahulunya atau kepada orientalis yang pendapatnya mereka kutip. (Lihat; http://www.islamweb.net/ver2/archive/readArt.php?lang=A&amp;id=36524)</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref12">[12]</a> Dikutip dari buku <em>Difa’ ‘An Al-Hadits An-Nabawi/</em>DR. Ahmad Umar Hasyim/hlm 36.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref13">[13]</a> <em>As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/</em>DR. Salim Ali Al-Bahnasawi/hlm 66.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref14">[14]</a> <em>Mabahits fi ‘Ulum Al-Hadits/</em>Syaikh Manna’ Al-Qaththan/hlm 35.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref15">[15]</a> Ada yang mengatakan, bahwa gubernur Madinah waktu itu adalah Amru bin Hazm,ayahnya Muhammad bin Amru ini. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref16">[16]</a> Op. cit. no. 39.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref17">[17]</a> Pembukuan, bukan penulisan.</p>
<table width="477" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td>&nbsp;</td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>IV. Banyak Pertentangan Antara Satu Hadits dengan Hadits yang Lain</strong><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di antara alasan yang membuat mereka menolak hadits adalah terdapat banyaknya hadits-hadits yang bertentangan satu sama lain. Kata mereka, sekiranya itu adalah benar berasal dari satu sumber, yakni dari Nabi, niscaya tidak akan ada di dalamnya hadits yang bertentangan. Lalu mereka pun menyebutkan sejumlah contoh hadits dalam suatu masalah yang saling bertentangan. Dan, di antara hadits yang sering mereka permasalahkan, misalnya adalah hadits tentang bacaan tasyahhud, dimana banyak sejumlah riwayat tentang bacaan dalam tasyahhud ini.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn1">[1]</a> Kemudian, dikarenakan hal ini, mereka (inkar Sunnah) pun mengganti bacaan tasyahhud dengan ayat kursi!<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn2">[2]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan </strong><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikianlah orang inkar Sunnah. Ada-ada saja alasan yang mereka cari untuk mementahkan Sunnah. <strong>Padahal, sesungguhnya apa yang terdapat dalam Sunnah Nabi itu bukanlah pertentangan, melainkan perbedaan.</strong> Kalaupun <em>toh, </em>benar ada hadits-hadits yang bertentangan satu sama lain, maka di sana sudah ada patokan untuk memilah, memilih, dan menentukan mana hadits yang harus dikedepankan.</p>
<p>Meskipun tidak sedikit dua –atau lebih– hadits yang berbeda bisa diamalkan semuanya. Sebab, para sahabat memang mendengar dari Nabi atau melihat beliau dalam kondisi yang berbeda-beda. Sehingga hadits yang mereka riwayatkan pun berbeda pula. Namun demikian, justru itulah fleksibelitas ajaran Islam ini. Tidak kaku, lentur, dan mudah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di antara standar yang biasa dipakai para ulama dalam menghadapi masalah ini, yaitu dengan cara:</p>
<ol start="1">
<li>Melihat mana hadits yang lebih kuat dan mana yang lemah.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn3">[3]</a></li>
<li>Melihat mana hadits yang muncul lebih dulu dan mana yang belakangan.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn4">[4]</a></li>
<li>Melihat siapa yang meriwayatkan dan dalam masalah apa.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn5">[5]</a></li>
<li>Melihat kepada siapa hadits tersebut ditujukan dan dalam kasus apa.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn6">[6]</a></li>
<li>Menyatukan dua –atau lebih– hadits yang berbeda jika sama-sama kuat, tidak ada pertentangan, dan memungkinkan.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn7">[7]</a></li>
<li>Melihat mana yang lebih utama untuk diamalkan dan bahwa hadits yang lain juga boleh diamalkan.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn8">[8]</a></li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan demikian, tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa dalam Sunnah Nabi terdapat hadits-hadits yang bertentangan.</p>
<p>Imam Abu Bakar bin Khuzaimah (w. 311 H) berkata, “Tidak ada dua hadits yang bertentangan dari segi apa pun. Barangsiapa yang mendapatkan sesuatu dalam masalah ini, silahkan datang kepadaku, akan aku gabungkan dua hadits itu.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn9">[9]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>V. Hadits Adalah Buatan Manusia</strong><strong></strong></p>
<p>Orang inkar Sunnah selalu mendengung-dengungkan bahwa yang diturunkan Allah <em>Ta’ala </em>hanyalah Al-Qur`an, dan bahwa selain Al-Qur`an adalah bukan dari Allah. Mereka hendak mengatakan, bahwa hadits-hadits Nabi atau Sunnah adalah buatan manusia, yang tidak mesti diikuti kecuali jika cocok dengan akal. Demikianlah salah satu cara mereka untuk menjauhkan kaum muslimin dari Sunnah Nabinya.</p>
<p>Salah seorang tokoh mereka, DR. Muhammad Khalafallah berkata, “Selain Al-Qur`an adalah pemikiran manusia, dimana kita berinteraksi dengannya sesuai dengan akal kita.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Perkataan semacam ini kurang lebih sama dengan apa yang dikatakan Goldziher, “Ribuan hadits adalah buatan para ulama yang ingin membuat agama ini menjadi sempurna. Para ulama itu membuat-buat hadits sendiri karena dalam Al-Qur`an hanya sedikit hukum yang diberikan.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Setelah memaparkan sejumlah pendapat dari DR. Ishmat Saifuddaulah (seorang tokoh inkar Sunnah) yang menyerang Sunnah dan mendiskreditkan para ulama, DR. Salim Ali Al-Bahnasawi menyimpulkan bahwa DR. Ishmat menganggap semua yang dianggap sebagai sumber syariat Islam yang berasal dari manusia adalah dibuat-buat (<em>maudhu’</em>); berbagai kaedah yang ditetapkan manusia adalah dibuat-buat, <em>istimbat</em> adalah dibuat-buat, qiyas dibuat-buat, <em>istihsan</em> dibuat-buat, <em>istishab</em> dibuat-buat, ijma’ dibuat-buat… dst.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan </strong><strong></strong></p>
<p>Jika yang mereka maksud dengan “hadits adalah buatan manusia” yaitu hadits-hadits yang terbukti shahih secara sanad (dan matan), maka sungguh perkataan mereka ini adalah dusta yang nyata. Sebab, hadits-hadits tersebut adalah benar berasal dari Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam, </em>yang diriwayatkan secara bersambung dari orang yang dipercaya dan dari orang yang dipercaya hingga sampai kepada Nabi.</p>
<p><strong>Para ulama hadits meletakkan standar baku yang ekstra ketat dalam menerima hadits.</strong></p>
<p>Mereka selalu memilah dan memilih dengan penuh hati-hati mana hadits yang bisa diterima dan mana hadits yang mesti ditolak. Mana orang yang bisa dipercaya dan diterima haditsnya, dan mana orang yang dianggap lemah atau tidak bisa dipercaya atau pendusta sehingga haditsnya layak ditolak.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Inilah salah satu keistimewaan agama ini, dimana ajaran-ajarannya dijaga oleh para ulamanya, orang-orang yang saleh, bertakwa, dan bisa dipercaya. Para sahabat menerima Al-Qur`an dan hadits langsung dari Nabi. Lalu, para sahabat mentransfer apa yang mereka dapatkan dari Nabi kepada sesama sahabat yang belum mengetahui dan kepada generasi tabi’in senior.</p>
<p>Kemudian, para tabi’in senior ini mentransfer ilmunya kepada sesama mereka dan kepada generasi tabi’in yang lebih muda. Dan, pada masa tabi’in inilah hadits-hadits Nabi –yang sebelumnya sudah banyak ditulis oleh para sahabat dan tabi’in– sudah mulai dibukukan.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Semua ini dilakukan dengan penuh amanah, ikhlas, disertai rasa takut luar biasa jika mereka sampai mendustakan hadits Nabi. Bagaimana tidak, mereka sadar betul bahwa membuat-buat atau memalsukan hadits Nabi sama saja dengan menceburkan diri sendiri ke dalam neraka! Mereka selalu mencamkan sabda Nabi dalam hal ini,</p>
<p><strong>مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ .</strong><strong></strong></p>
<p><strong>(متفق عليه)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang mendustakan aku dengan sengaja, maka hendaklah dia siapkan tempat duduknya di neraka.” </em>(Muttafaq Alaih)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi (w. 456 H) berkata, “Menukil dari orang yang bisa dipercaya (tsiqah) dari orang yang bisa dipercaya yang terus bersambung hingga sampai kepada Nabi, adalah karakteristik umat Islam yang tidak dimiliki oleh umat lain.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn14">[14]</a></p>
<p>Abdullah bin Al-Mubarak berkata, “Sanad adalah bagian dari agama. kalau bukan karena sanad, niscaya setiap orang akan bicara sesuka hatinya.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn15">[15]</a></p>
<p>Ada banyak fakta dalam sejarah penulisan dan pembukuan hadits ini yang menggambarkan betapa hati-hatinya para ulama <em>salafush-shalih</em> dalam menerima sebuah hadits. Mereka selalu menanyakan hadits tersebut diterima dari siapa dan bertemu di mana. Diriwayatkan, bahwa Umar bin Musa bertemu dengan Ufair bin Ma’dan Al-Kula’i di masjid. Lalu, Umar menyebutkan beberapa hadits dari seseorang yang dia katakan sebagai syaikh yang saleh.</p>
<p>Ufair berkata, “Siapa yang engkau maksud dengan syaikh yang saleh ini? Beri tahukan kepada kami siapa namanya, mungkin kami mengenalnya.”</p>
<p>Umar, “Dia adalah Khalid bin Ma’dan.”</p>
<p>Ufair, “Pada tahun berapa engkau bertemu dengannya?</p>
<p>Umar, “Pada tahun seratus delapan.”</p>
<p>Ufair, “Di mana engkau bertemu dengannya?”</p>
<p>Umar, “Di Perang Armenia.”</p>
<p>Maka, Ufair pun berkata, “Takutlah engkau kepada Allah, ya syaikh… Janganlah engkau berbohong. Khalid bin Ma’dan itu meninggal tahun seratus empat. Bagaimana mungkin engkau bertemu dengannya empat tahun setelah dia meninggal? Aku tambahkan lagi, sesungguhnya Khalid bin Ma’dan sama sekali tidak pernah ikut Perang Armenia. Perang yang dia ikuti adalah Perang Romawi!”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Tidak heran, apabila dengan penyeleksian hadits yang sangat ketat ini, para ulama masa lalu meletakkan sejumlah disiplin ilmu dalam hal ini. Ada yang namanya ilmu riwayah, ilmu dirayah, <em>al-jarh wat ta’dil</em> (mencela dan memuji), <em>tarikh rijal al-hadits</em>, ilmu <em>mukhtalaf</em> <em>hadits</em>, <em>nasikh</em> dan <em>mansukh</em> hadits, dan sebagainya.</p>
<p>Ini semua tak lain karena mereka sangat berhati-hati dalam menerima suatu hadits. Sehingga, sangatlah mengada-ada dan dibuat-buat jika orang inkar Sunnah mengatakan bahwa hadits adalah buatan manusia! Manusia yang mana?!</p>
<p>Memang, kita mengakui bahwa banyak hadits yang dibuat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang disandarkan kepada Nabi. Akan tetapi, hadits-hadits semacam ini tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang muktabar seperti <em>Shahih Al-Bukhari</em> dan <em>Shahih Muslim</em>, misalnya. Bahkan, kitab-kitab hadits yang lain pun pada dasarnya tidak memuat hadits-hadits palsu.</p>
<p>Sesungguhnya, hadits-hadits Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>itu sendiri tidak ada masalah.</p>
<p>Sebab, para imam hadits pendahulu kita sudah membagi-bagi derajat hadits. Ada yang mutawatir, shahih, hasan, dhaif, dan maudhu’. Nah, hadits maudhu’ inilah yang merupakan sejelek-jeleknya hadits, jika memang ia dimasukkan dalam kategori sebagai hadits.</p>
<p>Hadits maudhu’ inilah yang merupakan buatan manusia yang disandarkan kepada Nabi, dan sama sekali tidak boleh diriwayatkan kecuali untuk memperingatkan bahwa itu adalah hadits maudhu’. Dan, barangsiapa yang menganggap bahwa boleh meriwayatkan hadits maudhu’ untuk sekadar bercerita, atau memberi nasehat; berarti dia telah sesat lagi menyesatkan.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn17">[17]</a> Sebab, sudah jelas larangan Nabi dalam hal ini, sebagaimana telah kami sebutkan haditsnya di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dalam buku <em>“Difa’ ‘An Al-Hadits An-Nabawi,”</em> DR. Ahmad Umar Hasyim menyebutkan enam sebab yang membuat munculnya hadits palsu ini</strong>.</p>
<p><strong>1. Dikarenakan fanatisme politik,</strong></p>
<p>dimana pada waktu itu kaum muslimin –awalnya– pecah menjadi tiga kelompok besar;  Syiah, pro-Muawiyah, dan Khawarij. Kemudian, muncul lagi kaum Muktazilah, Murji`ah, dan seterusnya. Kondisi politik demikian mendorong masing-masing kelompok membuat hadits-hadits palsu untuk mendukung kelompoknya.</p>
<p>Mereka tidak mungkin sanggup dan berani memalsukan Al-Qur`an karena ia sudah mutawatir dan banyak kaum muslimin yang hafal Al-Qur`an. Maka, yang bisa mereka lakukan adalah memalsukan hadits.</p>
<p><strong>2. Karena fanatisme kesukuan.</strong></p>
<p>Yang paling menonjol adalah hadits-hadits palsu tentang kelebihan orang Arab atas non-arab, dimana kemudian orang-orang Persia pun membuat hadits-hadits palsu yang melebihkan mereka atas orang Arab.</p>
<p><strong>3. Zindiq, </strong></p>
<p>yaitu orang-orang non-muslim dari Yahudi, Majusi, dan lain-lain yang menampakkan diri sebagai seorang muslim. Mereka membuat-buat hadits palsu yang dinisbatkan kepada Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa </em>untuk menghancurkan Islam dan melemahkan kekuatannya.</p>
<p><strong>4. Hadits-hadits palsu yang dibuat  tukang dongeng (<em>al-qushshas</em>).</strong></p>
<p>Mereka senang mempermainkan perasaan dan emosi orang awam dengan membuat-buat hadits palsu yang menyentuh hati dan terkadang membuat orang terkagum-kagum dengan cerita yang mereka bawakan.</p>
<p>Para tukang dongeng ini sama sekali tidak ambil pusing dengan ancaman Nabi bagi orang yang berani mendustakan beliau. Bagi mereka, yang penting adalah bisa menjadi pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya dengan berbagai dongeng palsunya.</p>
<p><strong>5. Perbedaan madzhab fikih</strong>,</p>
<p>dimana sebagian pendukung masing-masing madzhab ada yang ‘kebablasan’ dalam mengunggulkan madzhabnya atas madzhab lain. Misalnya, ‘hadits’ yang diriwayatkan Muhammad bin Ukasyah Al-Kirmani<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn18">[18]</a> ketika ditanya tentang orang yang mengangkat tangannya ketika ruku’, dia berkata, “Al-Musayyib bin Wadhih mengabarkan kepada kami dari Anas bin Malik secara marfu’; Barangsiapa yang mengangkat tangannya ketika hendak ruku’, maka tidak ada shalat baginya!”</p>
<p><strong>6. Kebodohan,</strong></p>
<p>sebagian kaum muslimin yang di satu sisi mereka dikenal dengan kesalehannya, ketaatannya, dan zuhud.</p>
<p>Namun, di sisi lain, mereka adalah orang-orang yang sebetulnya bodoh dalam masalah agama. Mereka dengan sengaja membuat-buat hadits palsu yang disandarkan kepada Nabi, untuk mendorong umat Islam agar rajin beribadah, lebih dekat kepada Allah, dan meninggalkan kenikmatan duniawi yang sementara. Orang-orang yang dikenal sebagai zuhud dan ahli ibadah ini banyak membuat hadits palsu dalam masalah fadha`il Al-Qur`an dan keutamaan amal-amal tertentu.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn19">[19]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kalau mereka ditanya kenapa mereka membuat-buat hadits palsu, mereka mengatakan, “Kami tidak mendustakan Nabi, tetapi kami berdusta untuk Nabi.”</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata,</p>
<p>“Ini adalah kesempurnaan bodohnya mereka, minimnya akal mereka, dan banyaknya kefasikan serta kedustaan mereka. Sesungguhnya Nabi tidak membutuhkan orang lain untuk melengkapi dan menyempurnakan syariatnya.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Lalu, bagaimana cara kita mengetahui bahwa hadits itu palsu atau tidak?</p>
<p>Imam Abul Farj Abdurrahman Ibnul Jauzi (w. 597 H) memberikan tips yang cukup jitu tapi mudah,</p>
<p>“Apabila engkau melihat suatu hadits yang bertentangan dengan akal sehat, atau menyalahi Al-Qur`an dan Sunnah shahihah, atau bertentangan dengan kaedah baku yang telah ditetapkan para ulama; maka ketahuilah bahwa itu adalah hadits palsu.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn21">[21]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Imam Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qayyim (w. 751 H) menambahkan,</p>
<p>bahwa di antara ciri-ciri hadits palsu (<em>maudhu’</em>), yaitu; menyalahi peristiwa sejarah yang sudah terjadi, hadits-hadits yang diriwayatkan orang-orang Syiah Rafidhah tentang keutamaan ahlul bait, dan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh kelompok Murji`ah.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn22">[22]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selanjutnya, jika yang mereka maksud dengan “hadits adalah buatan manusia,” yaitu bahwa para imam hadits itu sendirilah adalah yang membuat-buat hadits yang terdapat dalam kitab hadits mereka;<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn23">[23]</a> maka ini lebih konyol lagi!</p>
<p>Memangnya, kaum muslimin dan para ulamanya ketika itu pada ke mana? Apa mereka akan mendiamkan begitu saja orang yang membuat-buat ribuan hadits dan menyandarkannya kepada Nabi?</p>
<p>Lagi pula, siapa yang sanggup membuat hadits sebanyak itu dalam berbagai persoalan dari sejak bangun tidur hingga akan beranjak tidur lagi, yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesama manusia, plus kabar masa lalu dan yang akan datang secara detil dan terperinci?</p>
<p>Dan, kenapa dalam kitab-kitab hadits itu banyak sekali terdapat hadits yang sama dan dalam masalah yang sama, padahal yang ‘membuat’ adalah orang yang berbeda? Orang yang berakal niscaya akan berpikir, bahwa di sana pasti ada satu sumber yang sama-sama dipakai sebagai rujukan dalam hadits-hadits tersebut, yaitu Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam.</em></p>
<div align="center">
<hr align="center" size="1" width="100%" />
</div>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref1">[1]</a> Yang terkenal dalam masalah ini, adalah tasyahhud Ibnu Mas’ud, tasyahhud Ibnu Abbas, dan tasyahhud Umar bin Al-Khathab <em>Radhiyallahu Anhum.</em></p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref2">[2]</a> Ini lebih aneh lagi. Sesuatu yang ada dasarnya, malah mereka ganti dengan sesuatu yang tidak ada dasarnya, yang tak lebih dari hawa nafsu semata.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref3">[3]</a> Misalnya, hadits-hadits dalam masalah mandi Jum’at. Dalam hal ini, hadits yang menyatakan wajibnya mandi Jum’at lebih kuat daripada yang menyatakan cukup berwudhu saja.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref4">[4]</a> Biasanya, ini adalah hadits-hadits dalam masalah <em>nasikh</em> <em>mansukh</em>. Misalnya, hadits tentang larangan menulis hadits dan bolehnya menulis hadits.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref5">[5]</a> Misalnya, dalam masalah kewanitaan dan rumah tangga. Dalam hal ini, hadits-hadits dari para istri Nabi didahulukan.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref6">[6]</a> Misalnya, hadits Nabi kepada Salim maula Hudzaifah dalam masalah menjadi anak sesusuan setelah dewasa dan jumlah susuannya.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref7">[7]</a> Biasanya, ini adalah hadits-hadits yang berkaitan dengan fikih. Misalnya, hadits tentang jari telunjuk ketika duduk tasyahhud; digerakkan atau tidak.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref8">[8]</a> Misalnya, hadits tentang minum sambil duduk atau berdiri, dimana minum sambil duduk lebih utama, tapi boleh minum sambil berdiri.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref9">[9]</a> <em>Al-Ba’its Al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum Al-hadits li Al-Hafizh Ibni Katsir/</em>Syaikh Ahmad Muhammad Syakir/hlm 148/Maktabah Dar At-Turats, Kairo/Cetakan ke-3/1979 M – 1399 H.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref10">[10]</a> <em>As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/</em>hlm 341, mengutip dari <em>Al-Ghazw Al-Fikri/</em>hlm 275.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref11">[11]</a> Ibid. hlm 327.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref12">[12]</a> Dan, di antara generasi tabi’in yang terkenal dengan usahanya membukukan Sunnah, yaitu Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref13">[13]</a> Imam An-Nawawi (dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em>) menukil pendapat dari banyak ulama yang menyebutkan bahwa ini adalah hadits mutawatir, diriwayatkan oleh hampir seluruh imam hadits dari enam puluh orang sahabat lebih.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref14">[14]</a> <em>Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur`an/</em>Syaikh Manna’ Al-Qaththan/hlm 59.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref15">[15]</a> Ibid, hlm 55.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref16">[16]</a> <em>Al-Kifayah fi ‘Ilm Ar-Riwayah/</em>Al-Khathib Al-Baghdadi/hlm 119.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref17">[17]</a> <em>As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/</em>DR. Salim Ali Al-Bahnasawi/hlm 76.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref18">[18]</a> Al-Kirmani ini bermadzhab Hanafi. Sebagaimana diketahui, bahwa dalam madzhab Hanafi; tidak mengangkat tangan ketika akan ruku’.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref19">[19]</a> Lihat; <em>Difa’ ‘An Al-Hadits An-Nabawi/</em>DR. Ahmad Umar Hasyim/hlm 81 – 84 secara ringkas.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref20">[20]</a> <em>Al-Ba’its Al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits li Al-Hafizh Ibni Katsir/</em>Syaikh Ahmad Muhammad Syakir/hlm 66.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref21">[21]</a> Ibid, hlm 65.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref22">[22]</a> Op. cit. no. 61 hlm 93.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref23">[23]</a> Dengan kata lain; <em>Shahih Al-Bukhari</em> adalah hadits-hadits ciptaan Imam Al-Bukhari, <em>Shahih Muslim </em>adalah karangan pribadi Imam Muslim, dan seterusnya.</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>VI. Hadits Bertentangan dengan Al-Qur`an</strong><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang inkar Sunnah dengan segala kebodohan dan kesesatannya mengatakan bahwa banyak hadits yang bertentangan dengan Al-Qur`an. Mereka benar-benar menutup mata (atau memang Allah telah membutakan mata mereka?) bahwa fakta yang sesungguhnya bukanlah pertentangan antara hadits dengan Al-Qur`an, melainkan Sunnah datang untuk menjelaskan sebagian isi Al-Qur`an yang masih samar, dan memerinci sebagian hukum dalam Al-Qur`an yang disebutkan secara global. Bahkan, ada pula Sunnah yang me<em>nasakh</em> (menghapus) ayat Al-Qur`an. <a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn1">[1]</a></p>
<p><strong>Mereka pun menyodorkan sejumlah hadits yang mereka anggap bertentangan dengan Al-Qur`an. </strong></p>
<p>Misalnya,</p>
<ol start="1">
<li><strong>Hadits tentang shalat lima wakt</strong>u. Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>bersabda,<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn2">[2]</a></li>
</ol>
<p><strong>خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ . </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(متفق عليه عن طلحة بن عبيد الله)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Lima kali shalat dalam sehari semalam.” </em>(Muttafaq Alaih dari Thalhah bin Ubaidillah)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut mereka, hadits ini dan hadits-hadits lain tentang kewajiban shalat lima waktu bertentangan dengan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em></p>
<p><strong>أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا .</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Dirikanlah shalat ketika matahari tergelincir hingga gelap malam dan (dirikan pula) shalat fajar.</em><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn3"><strong><em>[3]</em></strong></a><em> Sesungguhnya shalat fajar itu disaksikan (oleh malaikat).”</em> (Al-Israa`: 78)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn4">[4]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam ayat ini sama sekali tidak disebutkan shalat lima waktu. Allah hanya menyebutkan tiga waktu shalat dalam Al-Qur`an. Jadi, menurut mereka, hadits tentang shalat lima waktu bertabrakan dengan Al-Qur`an!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Hadits Nabi tentang kadar zakat mal 2,5 %. </strong></p>
<p>Nabi <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>bersabda,</p>
<p><strong>إِنِّي قَدْ عَفَوْتُ لَكُمْ عَنْ صَدَقَةِ الْخَيْلِ وَالرَّقِيقِ وَلَكِنْ هَاتُوا رُبُعَ الْعُشْرِ مِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا دِرْهَمًا . </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(رواه ابن ماجه عن علي بن أبي طالب)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya aku telah memaafkan kalian dari zakat kuda dan budak. Tetapi, berikanlah dua setengah persen, dari setiap empat puluh dirham; satu dirham.” </em>(HR. Ibnu Majah dari Ali bin abi Thalib)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn5">[5]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hadits ini bertentangan dengan ayat,</p>
<p><strong>خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا .</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” </em>(At-Taubah: 103)</p>
<p>Dalam ayat ini, dan dalam banyak ayat tentang perintah zakat dalam Al-Qur`an, Allah sama sekali tidak menentukan bahwa kadar zakat adalah dua setengah persen. Jadi, hadits tentang zakat ini bertentangan dengan Al-Qur`an!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Hadits tentang haramnya menikahi suami ibu susuan dan anak-anak dari saudara sesusuan. </strong></p>
<p>Dalam hal ini Nabi bersabda,</p>
<p><strong>يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ . </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(رواه البخاري عن ابن عباس)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Diharamkan karena sesusuan sama seperti yang diharamkan karena nasab.” </em>(HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Hadits ini bertentangan dengan firman Allah berikut,</p>
<p><strong>وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ .</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Dan ibu-ibu yang menyusui kalian dan saudara-saudara perempuan kalian yang sesusuan.” </em>(An-Nisaa`: 23)</p>
<p>Dalam ayat ini, yang diharamkan hanyalah ibu yang menyusui dan saudara-saudara perempuan yang sesusuan. Tetapi, dalam hadits di atas, maka suami si ibu yang menyusui pun menjadi tidak boleh menikahi anak perempuan yang disusui oleh istrinya.</p>
<p>Begitu pula dengan anak-anak dari saudara-saudara sesusuan, itu pun juga tidak boleh dinikahi. Dengan demikian, hadits ini bertabrakan dengan Al-Qur`an!</p>
<p><strong>4. Hadits tentang hukuman rajam bagi orang berzina yang telah menikah.</strong></p>
<p><strong>Ini adalah hadits mutawatir. </strong><br />
Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>bersabda,</p>
<p><strong>وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللَّهِ الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ اغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا قَالَ فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَتْ . (متفق عليه عن أبي هريرة وزيد بن خالد الجهني)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh akan aku putuskan urusan kalian berdua berdasarkan Kitab Allah. Budak perempuan dan  kambing harus kamu kembalikan. Anakmu harus dicambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun. Pergilah, hai Unais, temui istri orang ini. Jika dia mengaku, maka rajamlah dia.”</em> Maka, Unais pun pergi menemui perempuan tersebut, dan dia mengaku. Lalu, Nabi memerintahkan agar perempuan itu dirajam, dan dirajamlah dia. (Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah dan Zaid bin Khalid Al-Juhani)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Hadits ini bertentangan dengan firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>dalam surat An-Nur tentang ketentuan hukuman bagi pezina,</p>
<p><strong>الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ .</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina; maka cambuklah masing-masing seratus kali cambukan. Dan janganlah rasa kasihan kepada keduanya mencegahmu untuk menegakkan agama Allah.” </em>(An-Nur: 2)</p>
<p>Dalam ayat ini, jelas-jelas disebutkan bahwa hukuman bagi orang yang berzina adalah seratus kali cambukan. Sama sekali tidak ada kata-kata yang menyebutkan bahwa orang berzina yang telah menikah hukumannya adalah rajam. Jadi, hadits di atas bertentangan Al-Qur`an!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan</strong><strong></strong></p>
<p>Demikianlah apa yang dikatakan orang-orang inkar Sunnah tentang Sunnah Nabi. Alasan dan sarana apa pun yang kira-kira bisa dipakai untuk menyerang Sunnah akan mereka lakukan. Mereka menutup mata, tidak mau tahu, dan menyelewengkan makna firman Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala,</em></p>
<p><strong>بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ .</strong><strong> </strong></p>
<p><em>“Dan Kami menurunkan Al-Qur`an kepadamu untuk menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” </em>(An-Nahl: 44)</p>
<p>Bagaimanapun juga, dengan segala keterbatasannya, manusia tidak mungkin mampu menerapkan ajaran agama ini tanpa bimbingan dan petunjuk dari Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam. </em>Termasuk, dalam memahami Al-Qur`an pun manusia membutuhkan penjelasan dan contoh konkrit dari utusan-Nya, apa maksud ayat ini dan bagaimana aplikasinya.</p>
<p>Semudah-mudahnya Al-Qur`an dipahami, tetap saja masih banyak ayat-ayat yang butuh keterangan lebih lanjut dan perincian yang lebih detil. Allah tidak mungkin meninggalkan begitu saja kepada manusia untuk menerjemahkan sesuka hatinya dalam berinteraksi dengan Al-Qur`an. Ibarat undang-undang, Al-Qur`an perlu juklak (petunjuk pelaksanaan) dalam penerapannya yang tak lain adalah Sunnah Rasul-Nya.</p>
<p>Hadits-hadits tentang shalat lima waktu, kadar zakat dua setengah persen (<em>rubu’ul ‘usyr</em>), perempuan yang haram dinikahi karena sesusuan, rajam, dan semua hadits lain yang dituduh bertabrakan dengan Al-Qur`an, tidak lain adalah penjelasan Al-Qur`an itu sendiri. Dan, Sunnah Rasul adalah juga wahyu Allah yang menjelaskan wahyu Allah dalam Al-Qur`an. Selama suatu hadits terbukti keshahihannya berasal dari Nabi, maka itu adalah juga hukum Allah yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berkaitan dengan posisi Sunnah di hadapan Al-Qur`an, DR. Salim Ali Al-Bahnasawi menyebutkan bahwa ada tiga hal dalam hal ini yang mesti diperhatikan, yaitu:<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn8">[8]</a></strong></p>
<ol start="1">
<li><strong>Terkadang Sunnah datang sebagai penega</strong>s apa yang terdapat dalam Al-Qur`an. Inilah yang biasa disebut sebagai Sunnah muakkadah. Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, bahwa Nabi bersabda, <em>“Berbuat baiklah kalian kepada istri-istri kalian.”</em><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn9">[9]</a> Hadits ini menegaskan firman Allah, <em>“Dan Perlakukanlah mereka dengan baik.”</em><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn10">[10]</a></li>
<li><strong>Terkadang Sunnah berfungsi sebagai penjelas</strong> Al-Qur`an. Inilah dia hadits-hadits yang memerinci berbagai hukum dalam Al-Qur`an yang masih bersifat global. Contohnya adalah hadits-hadits dalam masalah shalat, zakat, puasa, haji, muamalah, hudud, dan sebagainya. Sunnahlah yang menjelaskan –misalnya– berapa kali shalat dalam sehari, jumlah rakaat, waktu-waktunya, tatacaranya, dan seterusnya.</li>
<li><strong>Terkadang Sunnah pun berdiri sendiri </strong>dengan suatu hukum yang didiamkan atau tidak terdapat dalam Al-Qur`an. Contohnya adalah hukuman rajam bagi orang berzina yang sudah menikah, dimana Al-Qur`an hanya menyebutkan hukuman seratus kali dera bagi pezina yang belum menikah.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Dalam <em>A’lam Al-Muwaqqi’in, </em>Imam Ibnul Qayyim berkata, “Adapun Sunnah, ia memiliki tiga peran pokok di sisi Al-Qur`an. </strong></p>
<p>1.  membenarkan Al-Qur`an dari segala segi. Dengan demikian, Al-Qur`an dan Sunnah sama-sama berada di atas satu koridor hukum yang saling menguatkan ketika dijadikan sebagai dalil dalam berbagai permasalahan.</p>
<p>2. Sunnah menjadi penjelas sekaligus menafsirkan apa yang dimaksud oleh Al-Qur`an.</p>
<p>3. Sunnah dalam posisi mewajibkan sesuatu dimana Al-Qur`an mendiamkan kewajibannya, dan mengharamkan sesuatu yang mana dalam Al-Qur`an belum disebutkan keharamannya.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn11">[11]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>VII. Hadits Merupakan Saduran dari Umat Lain</strong><strong></strong></p>
<p>Yang mengherankan, orang-orang inkar Sunnah ini pandai sekali dalam masalah ajaran-ajaran umat sebelum kita yang termaktub dalam Bibel.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn12">[12]</a> Mereka lebih menguasai Bibel daripada Sunnah! Dalam hal ini, mereka punya satu tujuan busuk yang nyata; membuktikan bahwa Sunnah Nabi yang terdapat dalam kitab-kitab hadits adalah saduran dari umat lain. Atau katakanlah, saduran dari Bibel (Al Kitab).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejumlah contoh kasus yang sering mereka kemukakan, di antaranya yaitu:</p>
<ol start="1">
<li><strong>Kerudung Penutup Kepala</strong><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn13">[13]</a></li>
</ol>
<p>Mereka mengatakan, bahwa kerudung kepala bagi perempuan bukanlah ajaran Nabi karena tidak terdapat dalam Al-Qur`an. Yang terdapat dalam Al-Qur`an adalah perintah untuk menutup dada, bukan menutup kepala. Sebab, kepercayaan menutup kepala ini adalah saduran dari kitab Bibel yang diambil oleh para ulama Islam masa lalu dan dikatakan sebagai hadits Nabi.</p>
<p>Ajaran memakai kerudung kepala ini terdapat dalam kitab Bibel, 1 Korintus, Bab 11:</p>
<p><em>[1 Kor 11:5]</em> “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.”</p>
<p><em>[1 Kor 11:6]</em> “Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahawa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.”</p>
<p><em>[1 Kor 11:10]</em> “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.”</p>
<p><em>[1 Kor 11:13]</em> “Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?”</p>
<p>Jadi, perintah untuk perempuan supaya mereka menutupi kepalanya adalah dari Bibel. Kepercayaan ini telah meresap ke dalam kepercayaan Islam dan sekarang menjadi perkara yang wajib diamalkan. Dan malangnya, orang-orang Kristen sendiri tidak mengikuti ajaran Bibel, kaum perempuannya tidak menutup kepala. Justru oran Islamlah yang mengamalkan ajaran Bibel tersebut!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>2. Khitan</strong><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn14">[14]</a><strong> </strong></p>
<p>Menurut orang-orang inkar Sunnah yang mengaku sebagai ahlul Qur`an atau Qur`aniyyun, ajaran khitan adalah saduran dari kepercayaan umat lain. Sebab, dalam Al-Qur`an sama sekali tidak ada perintah Allah untuk berkhitan. Akan tetapi, justru ajaran khitan ini terdapat dalam Bibel. Perjanjian Penyunatan di dalam Bibel menyatakan:</p>
<p><em>[Kej 17:14]</em> “Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”</p>
<p><em>[Kej 17:24]</em> “Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya.”</p>
<p>Menurut orang inkar Sunnah, dari Perjanjian Penyunatan inilah para ulama kaum muslimin saat itu mengadopsi kepercayaan khitan ini dan memasukkannya ke dalam ajaran Islam, untuk kemudian mengatakannya sebagai hadits Nabi. Padahal, Nabi sama sekali tidak mengajarkan masalah khitan dan tidak memerintahkannya. Sebab, dalam Al-Qur`an tidak ada ayat tentang khitan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>3. Memelihara Jenggot</strong></p>
<p>Orang-orang inkar Sunnah mengatakan, bahwa memelihara janggut bagi laki-laki bukanlah ajaran agama Islam. Dalam Al-Qur`an tidak pernah disinggung masalah. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>sama sekali tidak pernah menyuruh kaum-kaum laki umat Islam untuk memelihara atau memanjangkan jenggot.</p>
<p>Ini bukanlah ajaran Al-Qur`an dan bukan pula ajaran Nabi Muhammad <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam.</em> Dalam kitab Bibel disebutkan dengan jelas:</p>
<p><em>[Imamat 1:27]</em> “Janganlah kamu mencukur tepi rambut kepalamu berkeliling dan janganlah engkau merusakkan tepi janggutmu.”</p>
<p><em>[Imamat 21:5]</em> “Janganlah mereka menggundul sebagian kepalanya, dan janganlah mereka mencukur tepi janggutnya, dan janganlah mereka menggoresi kulit tubuhnya.”</p>
<p><em>[2 Samuel 10:5]</em> “Hal ini diberitahukan kepada Daud, lalu disuruhnya orang menemui mereka, sebab orang-orang itu sangat dipermalukan. Raja berkata; Tinggallah di Yerikho sampai janggutmu itu tumbuh, kemudian datanglah kembali.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>4. Kata “Amin” </strong></p>
<p>Orang-orang inkar Sunnah mengatakan bahwa kata “amin” yang selalu kita baca ketika shalat dan berdoa adalah saduran dari Bibel. Dalam Al-Qur`an sama sekali tidak ada kata “amin,” termasuk dalam surat Al-Fatihah, tidak ada kata amin di sana.</p>
<p>Dan, Allah tidak pernah memerintahkan umat Islam untuk membacanya. Namun, justru kata “amin” ini bisa kita dapatkan dalam Bibel. Tak kurang dari 50 kali kata “amin” ini diulang dalam Bibel, yaitu di:</p>
<p>Num 5:22.27 Num 5:22.28 Deut 27:15.40 Deut 27:16.17 Deut 27:17.15 Deut 27:18.18 Deut 27:19.23 Deut 27:20.25 Deut 27:21.17 Deut 27:22.27 Deut 27:23.17 Deut 27:24.16 Deut 27:25.19 Deut 27:26.22 1Kgs 1:36.10 1Chr 16:36.18 Neh 5:13.42 Neh 8:6.14 Neh 8:6.15 Pss 41:13.13 Pss 41:13.15 Pss 72:19.15 Pss 72:19.17 Pss 89:52.7 Pss 89:52.9 Pss 106:48.19 Jer 28:6.6 Mark 16:20.24 Rom 1:25.26 Rom 9:5.26 Rom 11:36.19 Rom 15:33.9 Rom 16:27.13 1Cor 14:16.20 1Cor 16:24.10 2Cor 1:20.18 Gal 1:5.10 Gal 6:18.13 Eph 3:21.19 Phil 4:20.12 1Tim 1:17.19 1Tim 6:16.26 2Tim 4:18.25 Heb 13:21.33 Heb 13:25.7 1Pet 4:11.46 1Pet 5:11.10 2Pet 3:18.28 Jud 1:25.26 Rev 1:6.22.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn15">[15]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan </strong><strong></strong></p>
<p>Ada-ada saja tuduhan yang dilancarkan oleh kelompok sesat inkar Sunnah ini. Mereka selalu saja mencari dan mencari alasan pun apa yang bisa dipakai untuk menyerang Sunnah Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>Apa mereka tidak membaca fakta sejarah<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn16">[16]</a> bahwa Yahudi dan Kristen berasal dari sumber yang sama dengan agama Islam? Adalah wajar jika ada ajaran-ajaran yang sama antara Islam dan umat-umat lain yang datang sebelumnya.</p>
<p>Akan tetapi, hal ini sama sekali bukan berarti hadits-hadits itu merupakan saduran dari umat lain. Sebab, setiap hadits pasti ada sanadnya. Terbaca dengan jelas di sana, bahwa si perawi hadits menerima hadits dari si fulan dari si anu dan seterusnya.</p>
<p>Sekiranya rentetan pembawa berita (baca; sanad) ini terus bersambung hingga ke Nabi tanpa terputus, dan semua pembawa berita ini diakui kredilitasnya, maka itu adalah hadits shahih yang harus diterima. Adapun jika sanad hadits tersebut tidak bersambung sampai ke Nabi atau di antara orang-orang yang meriwayatkannya terdapat ada orang yang kurang kredibel,<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn17">[17]</a> maka otomatis haditsnya akan ditolak.</p>
<p>Lalu, kapan dan di mana Imam Al-Bukhari<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn18">[18]</a> (dan imam-imam hadits yang lain) mengadopsi hadits-haditsnya dari Bibel? Dan, kepada siapa Imam Al-Bukhari belajar Bibel? Kemudian, apakah kaum muslimin pada waktu itu tidak ada satu pun yang mengetahui bahwa hadits-hadits yang ditulis oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab <em>Shahih</em>nya itu adalah saduran dari Bibel?</p>
<p>Apakah hadits-hadits yang terdapat dalam <em>Shahih Al-Bukhari </em>(dan kitab-kitab hadits yang lain) semuanya adalah saduran dari Bibel ataukah hanya sebagiannya? Kalau semua hadits dalam <em>Shahih Al-Bukhari </em>adalah saduran dari Bibel; apakah Bibel itu sendiri lebih tebal dari <em>Shahih al-Bukhari?<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn19"><strong>[19]</strong></a></em></p>
<p>Kalau hanya sebagian saja hadits-hadits <em>Shahih Al-Bukhari </em>yang disadur dari Bibel; lantas yang sebagiannya lagi disadur dari mana? Terus, apakah semua yang ada dalam Bibel itu dijiplak Imam Al-Bukhari ataukah hanya sebagiannya saja? Kalau semua yang ada dalam Bibel dijiplak oleh Imam Al-Bukhari; kenapa isi <em>Shahih Al-Bukhari </em>berbeda dengan Bibel? Dan, kalau hanya sebagiannya saja yang dijiplak; kenapa kitab Al-Bukhari lebih tebal dari Bibel?</p>
<p>Maaf, di sini kami tidak hendak membahas (sanad) hadits-hadits yang dituduh sebagai saduran dari umat lain, atau dari Bibel. Sebab, hal itu tidak ada gunanya bagi mereka (inkar Sunnah). Apalagi, mereka paling hanya sanggup menyebutkan sedikit saja contoh hadits-hadits yang dianggap sebagai saduran dari Bibel.</p>
<p>Yang jelas, apa pun yang terdapat dalam hadits dan terbukti keshahihannya berasal dari Nabi, maka itu adalah Sunnah Nabi dan itulah ajaran Islam. Tidak masalah jika harus sama dengan ajaran umat lain, karena Islam tidak pernah menafikan kebaikan apa pun yang berasal dari umat lain atau terdapat dalam ajaran agama lain. Bagaimanapun juga, nilai-nilai kebaikan adalah sesuatu yang bersifat universal.</p>
<p>Apakah orang-orang yang mengaku sebagai “Qur`aniyyun” itu menutup mata bahwa ajaran-ajaran akhlak yang terdapat dalam Al-Qur`an juga terdapat dalam kitab suci agama-agama lain?!</p>
<p>Kita tahu, bahwa ajaran untuk berbuat baik kepada sesama manusia, tolong menolong dalam kebaikan, larangan membunuh, larangan mencuri, larangan berzina, dan ajaran-ajaran kebaikan lain juga terdapat dalam kitab Weda, Tripitaka, dan Bibel. Namun kita semua sepakat, bahwa semua ajaran kebaikan tersebut yang terdapat dalam Islam bukanlah saduran dari ajaran agama lain.</p>
<div align="center">
<hr align="center" size="1" width="100%" />
</div>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref1">[1]</a> Ada perbedaan perbedaan pendapat dalam masalah ada tidaknya atau boleh tidaknya Sunnah menasakh Al-Qur`an ini. Contoh yang peling sering mengemuka, adalah dalam masalah waris, dimana Nabi mengatakan <em>“Tidak ada wasiat bagi ahli waris.”</em> (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Abu Umamah Al-Bahili, dan Ahmad dan An-Nasa`i dari Amru bin Kharijah). Hadits ini menasakh ayat 180 surat Al-Baqarah. Lihat; <em>An-Nasikh wa Al-Mansukh fi Al-Ahadits/</em>Abu Hamid Ar-Razi/hlm 30/terbitan Al-Faruq Al-Haditsah, Kairo/Cetakan pertama/2002 M – 1423 H.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref2">[2]</a> Hadits tentang kewajiban shalat lima waktu ini sangat banyak sekali dan dengan berbagai perbedaan redaksi dikarenakan sering diucapkan Nabi dalam banyak kesempatan dan kepada orang yang berbeda-beda. Dan, <em>ma’lum minad-din</em> <em>bidh-dharurah</em> bahwa hadits dalam masalah ini adalah mutawatir. Sekadar contoh, cukup saya sebutkan satu saja.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref3">[3]</a> Mereka tetap menerjemahkannya dengan shalat fajar, bukan shalat subuh. Karena shalat subuh –menurut mereka– tidak ada dalam Al-Qur`an.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref4">[4]</a> Semestinya, jika mereka konsisten tidak menafsirkan Al-Qur`an kecuali dengan Al-Qur`an, mereka harus bisa menjelaskan apa arti kata “qur`an” dalam “qur`an al-fajr” dan apa arti kata “masyhuda” dalam ayat ini.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref5">[5]</a> <em>Sunan Ibni Majah/Kitab Az-Zakat/Bab Zakat Al-Waraq wa Adz-Dzahab/</em>hadits nomor 1780.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref6">[6]</a> <em>Shahih Al-Bukhari/Kitab Asy-Syahadat/Bab Asy-Syahadah ‘Ala Al-Ansab wa Ar-Radha’/</em>hadits nmor 2451. Hadits ini juga diriwayatkan oleh beberapa imam lain dari Aisyah <em>Radhiyallahu Anha</em>.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref7">[7]</a> <em>Shahih Al-Bukhari/Kitab Asy-Syuruth/Bab Asy-Syuruth Allati La Tahillu fi Al-Hudud/</em>hadits nomor 2523, dan <em>Shahih Muslim/Kitab Al-Hudud/Bab Man I’tarafa ‘Ala Nafsihi bi Az-Zina/</em>hadits nomor 3120. Hadits tentang rajam ini juga diriwayatkan oleh sejumlah imam lain dari banyak sahabat.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref8">[8]</a> <em>As-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha/</em>hlm 41.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref9">[9]</a> HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah, <em>Kitab An-Nikah/Bab Al-Wushatu bi An-Nisaa`</em>/4787.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref10">[10]</a> An-Nisaa`: 19.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref11">[11]</a> <em>A’lam (I’lam) Al-Muwaqqi’in/</em>Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah/jilid 1/juz 2/hlm 271/Penerbit Maktabah Al-Iman, Manshurah – Mesir/Cetakan Pertama 1999 M – 1419 H.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref12">[12]</a> Dalam kamus-kamus Indonesia dan Inggris, ada yang mengartikan Bibel sebagai Injil (saja), dan ada juga yang mengartikannya sebagai gabungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref13">[13]</a> Lihat; <em>Ajaran Islam Daripada Bible/</em> <a href="http://www.e-bacaan.com/artikel_IslamBible.htm">http://www.e-bacaan.com/artikel_IslamBible.htm</a>.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref14">[14]</a> Ibid.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref15">[15]</a> Lihat; <a href="http://www.angelfire.com/trek/bab/fdj4b.html">http://www.angelfire.com/trek/bab/fdj4b.html</a>.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref16">[16]</a> Dalam hal ini kita ‘dipaksa’ untuk berbicara dengan logika sejarah. Karena orang inkar Sunnah tidak mau tahu terhadap Sunnah Nabi dan pendapat para ulama.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref17">[17]</a> Entah karena lemah hafalannya, atau tercela akhlaknya (suka berbohong), atau kurang bagus agamanya, sebagaimana yang terdapat dalam ilmu <em>al-jarh wat-ta’dil.</em></p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref18">[18]</a> Imam Al-Bukhari dan Abu Hurairah adalah dua sosok yang paling dibenci oleh orang-orang inkar Sunnah. Dua nama inilah yang selalu mereka sebut-sebut dan jelek-jelekkan ketika menyerang Sunnah. Dalam hal ini, mereka sama saja dengan Syiah.</p>
<p><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftnref19">[19]</a> Ini baru perbandingan dengan satu kitab hadits saja, belum kitab-kitab hadits yang lain. Biasanya, Al Kitab (Bibel) hanya terdiri dari satu jilid saja. Sedangkan <em>Shahih Al-Bukhari</em>, terdiri dari dua sampai lima jilid. Tergantung cetakan dan terbitannya.</p>
<p><strong>VIII.  Hadits Membuat Umat Islam Terpecah-belah</strong><strong></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di antara alasan yang sering dilontarkan kenapa mereka menolak Sunnah Nabi adalah karena hadits dianggap membuat umat Islam terpecah belah. Banyaknya hadits yang berbeda satu sama lain, membuat kaum muslimin pecah menjadi sejumlah golongan. Ada Ahlu Sunnah wal Jama’ah, Syiah, Khawarij, Muktazilah, Murji`ah, Qadariyah, Jabariyah, dan lain-lain. Belum lagi pecahnya Ahlu Sunnah dengan adanya berbagai madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali, dan Zhahiriyah. Itu pun belum termasuk aliran tasawuf dengan berbagai tarekatnya.</p>
<p>Tuduhan orang inkar Sunnah dalam masalah inilah yang membuat mereka selalu mendengung-dengungkan istilah, “Satu Kitab, Satu Tuhan, dan Satu Umat!”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn1">[1]</a> Mereka mengatakan, bahwa dengan hanya berpegang teguh pada Al-Qur`an sajalah umat Islam bisa bersatu dan tidak berpecah belah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan </strong><strong></strong></p>
<p>Sebelum menjawab lebih lanjut tuduhan orang-orang inkar Sunnah ini, kami ingin mengatakan kepada mereka, bahwa bisa saja kaum muslimin berbeda pendapat dalam mengapresiasi Sunnah Nabi dalam masalah-masalah tertentu. Akan tetapi, para ulama kaum muslimin sama sekali tidak pernah berbeda pendapat bahwa orang yang menolak Sunnah Nabi yang terbukti keshahihannya –secara sanad dan matan– adalah kafir, murtad, dan telah keluar dari agama Islam!<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Menyikapi perbedaan dan perpecahan bahkan peperangan yang terjadi sesama kaum muslimin; Sunnah sama sekali tidak bisa disalahkan. Bagaimana kita mau menyalahkan Sunnah sementara mereka yang punya masalah saja tidak pernah menyalahkan Sunnah?</p>
<p>Apa orang-orang inkar Sunnah ini lebih mengetahui apa yang terjadi di antara kaum muslimin yang bertikai daripada mereka sendiri yang mengalami? Apa mereka (inkar Sunnah) memang sengaja menjadikan Sunnah sebagai kambing hitam atas perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam?</p>
<p>Berbagai perselisihan dan pertikaian yang terekam dalam sejarah, baik pada masa sahabat ataupun sesudahnya, pemicunya tidak lepas dari faktor politis, atau kesalahpahaman, kekuasaan, fanatisme kesukuan, fanatisme golongan, dan perbedaan dalam menyikapi suatu masalah.</p>
<p>Pertikaian yang terjadi antara Ali dan Aisyah dalam Perang Jamal, antara Ali dan Muawiyah dalam Perang Shiffin, antara Muawiyah dan Hujr bin Adi, antara Husain bin Ali dan Yazid bin Muawiyah, antara Marwan bin Al-Hakam (dan anaknya, Abdul Malik bin Marwan) versus Abdullah bin Az-Zubair, dan seterusnya; semuanya bukan dikarenakan Sunnah.</p>
<p>Tidak ada satu pun yang menyebutkan bahwa pertikaian mereka disebabkan Sunnah. Bahkan, sesungguhnya mereka tidak berpecah belah. Mereka tetap dalam satu kesatuan sebagai bagian dari umat Islam. Sebab, mereka tidak berselisih paham dalam masalah Al-Qur`an dan Sunnah Nabi.</p>
<p>Munculnya Khawarij, Syiah, dan Muktazilah pada saat itu pun bukan dikarenakan Sunnah. Khawarij muncul karena kekecewaan mereka atas peristiwa tahkim antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Dikarenakan kebodohan dan hawa nafsunya, Khawarij pun menyatakan diri berlepas tangan dari semua orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim.</p>
<p>Bahkan, mereka mengafirkan semua pihak yang terlibat. Padahal, banyak sahabat utama yang terlibat dalam peristiwa tahkim tersebut. Sementara itu, tidak ada satu orang sahabat pun yang ikut dalam kelompok Khawarij. Tidak heran, jika kemudian Khawarij ini menjadi golongan yang menolak Sunnah Nabi. Bagaimana tidak, jika para sahabat mereka kafirkan semuanya, lalu melalui siapa mereka mendapatkan Sunnah Nabi?</p>
<p>Dari mana mereka mendapatkan hadits-hadits Nabi? Justru, lebih tepat jika dikatakan bahwa mereka yang menolak Sunnah Nabilah (inkar Sunnah) sesungguhnya yang memecah belah umat Islam ini.</p>
<p>Demikian pula halnya dengan Syiah dan Muktazilah. Kemunculan dua kelompok ini pun bukan dikarenakan Sunnah. Bahkan, sebagaimana kami singgung dalam pembahasan awal buku ini tentang akar sejarah inkar Sunnah; bahwa Syiah dan Muktazilah (termasuk Khawarij) adalah tiga kelompok besar yang mengingkari Sunnah.</p>
<p>Tiga kelompok ini –di samping orientalis– mempunyai andil signifikan dalam kemunculan dan perkembangan inkar Sunnah babak berikutnya. Sebab, secara ide dasar, kelompok-kelompok ini mempunyai kesamaan dalam hal penolakannya terhadap Sunnah.</p>
<p>Adapun apabila yang dimaksud oleh orang-orang inkar Sunnah adalah adanya berbagai madzhab fikih dalam Ahlu Sunnah wal Jama’ah, maka yang  <strong>harus dimengerti</strong> adalah,</p>
<p>a. bahwa para imam madzhab sama sekali tidak pernah menolak Sunnah Nabi Muhammad <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em>.</p>
<p>b. para imam madzhab tidak pernah menolak suatu hadits yang terbukti keshahihannya bersumber dari Nabi.</p>
<p>c. dan ini yang terpenting, bahwasanya para imam madzhab (dan para pengikutnya) hanya berbeda pendapat dalam masalah-masalah yang bersifat <em>furu’iyah</em> (cabang) saja, bukan dalam masalah-masalah yang prinsipil.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>DR. Muhammad Abul Fath Al-Biyanuni menyebutkan empat sebab –secara global– terjadinya ikhtilaf (perbedaan) pendapat ini, yaitu:<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn3">[3]</a></strong></p>
<ol start="1">
<li>Perbedaan dalam masalah <strong>menentukan kepastian suatu hadit</strong>s apakah benar-benar bersambung <strong>sampai ke Nabi atau tidak</strong>. Sebab, terkadang ada hadits yang sampai kepada seorang imam, tetapi hadits tersebut tidak sampai kepada imam yang lain. Dan, hal ini berkaitan dengan perbedaan masing-masing imam dalam menentukan dipercaya tidaknya atau lemah tidaknya salah seorang perawi yang terdapat dalam <strong>jalur sanad.</strong></li>
<li>Perbedaan dalam <strong>memahami nash.</strong> Karena terkadang suatu nash atau hadits mengandung kata-kata tertentu yang memiliki dua makna atau lebih. Atau, terkadang di sana terdapat kata-kata tertentu yang maknanya masih global dan belum terperinci. Atau, bisa juga <strong>berpulang kepada perbedaan kemampuan dan bidang keahlian masing-masing imam.</strong></li>
<li>Perbedaan dalam <strong>cara menggabungkan dan menguatkan</strong> antara sejumlah hadits yang berbeda dalam satu masalah. Sekalipun suatu hadits sudah diketahui keshahihannya dan jelas maknanya, namun jika hadits tersebut bertentangan dengan hadits lain yang juga shahih dan jelas maknanya, maka diperlukan suatu ijtihad untuk menentukan mana hadits yang harus didahulukan. Di sinilah terkadang terjadi <strong>perbedaan persepsi di antara para imam.</strong></li>
<li>Perbedaan dalam masalah<strong> kaedah ushul fikih</strong> yang dipergunakan dalam beristimbat. Sebab, masing-masing imam berbeda dalam masalah ini. (1) Ada yang menjadikan perkataan atau fatwa sahabat sebagai hujjah. (2)  Ada yang lebih mengutamakan praktik yang dilakukan penduduk Madinah. (3) Ada yang lebih mendahulukan pendapat daripada hadits dhaif. (4) Dan ada pula yang memperhatikan perbuatan si perawi; apakah sama dengan hadits yang diriwayatkannya atau berbeda.</li>
</ol>
<p>Jadi, adanya perbedaan tersebut adalah sesuatu yang memang terjadi dikarenakan suatu sebab yang jelas. Akan tetapi, perbedaan tersebut bukanlah perpecahan dus bukan pula dikarenakan Sunnah.</p>
<p><strong>Hanya orang yang mengingkari Sunnah saja yang berani mengambinghitamkan Sunnah.</strong></p>
<p>Adapun pengikut Sunnah, maka dia tidak akan pernah menyalahkan Sunnah sebagai penyebabnya.</p>
<p>Bagaimanapun juga, perbedaan yang terjadi antarsesama manusia adalah sunnatullah. Perbedaan adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. DR. Yasir Burhami berkata, “Dalil-dalil qath’i dari Al-Qur`an dan Sunnah menegaskan bahwa perbedaan adalah sesuatu yang pasti terjadi antarsesama anak manusia. Dan, itu sudah menjadi ketentuan Allah atas mereka.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman, <em>‘</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dan tidaklah manusia itu dulunya melainkan hanya satu umat saja, tetapi kemudian mereka berselisih. Dan, kalau saja bukan karena kalimat Tuhanmu yang telah lalu, niscaya Dia akan memutuskan apa yang diperselisihkan di antara mereka.’<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn4"><strong>[4]</strong></a> </em></p>
<p>Jadi, dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kalimat-Nya yang telah lalu dan keputusan-Nya yang pertama kali ketika menciptakan makhluk, adalah tidak memutuskan (siapa benar siapa salah dalam) perbedaan yang terjadi di antara mereka saat itu juga.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Kenapa orang-orang inkar Sunnah mesti heran dengan perbedaan yang terjadi di antara kaum muslimin? Bukankah mereka mengaku ahlul Qur`an? Apakah mereka tidak menemukan dalam Al-Qur`an ayat-ayat tentang perbedaan pendapat ini?<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn6">[6]</a> Nabi Musa saja pernah berselisih dengan Nabi Harun.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn7">[7]</a> Nabi Musa juga pernah salah paham dengan Nabi Khidhr.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn8">[8]</a> Dan, Nabi Dawud juga pernah berbeda pendapat dengan anaknya, Nabi Sulaiman.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn9">[9]</a></p>
<p>Lagi pula, Sunnah sendiri menyuruh umat Islam untuk selalu bersatu dan mewanti-wanti agar jangan berpecah-belah. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em> bersabda,</p>
<p><strong>إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ . (رواه أحمد ومسلم ومالك عن أبي هريرة)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah menyukai tiga hal pada kalian dan tidak menyukai tiga hal. Dia suka jika kalian menyembah-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun (1). Hendaknya kalian berpegang teguh pada tali Allah semuanya (2) dan janganlah kalian  berpecah-belah. Dan, Dia tidak menyukai pada kalian; suka bergosip, banyak bertanya, dan boros.” </em>(HR. Ahmad, Muslim, dan Malik, dari Abu Hurairah)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Dalam hadits lain disebutkan,</p>
<p><strong>مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً . (متفق عليه عن ابن عباس)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak disukai pada pemimpinnya, maka hendaklah ia bersabar. Sebab, orang yang memisahkan diri dari jama’ah sejengkal saja, lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.” </em>(Muttafaq Alaih dari Ibnu Abbas)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn11">[11]</a></p>
<p>Dua hadits ini sekadar contoh. Betapa masih banyak hadits lain lagi yang memerintahkan kaum muslimin agar bersatu dan melarang berpecah-belah. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin Sunnah dituduh sebagai penyebab terpecah-belahnya umat?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>IX.  Hadits Membuat Umat Islam Mundur dan Terbelakang</strong><strong></strong></p>
<p>Menurut orang-orang inkar Sunnah, sesungguhnya hadits-hadits tentang mukjizat Nabi, takdir, adzab kubur, pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir, kisah-kisah yang bagaikan dongeng, cerita-cerita tentang akhir zaman, syafaat Nabi di akhirat, dan hal-hal ghaib lainnya, membuat kaum muslimin mundur dan terbelakang sehingga tidak bisa maju berkembang bersaing dengan umat-umat lain.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bantahan </strong><strong></strong></p>
<p>Bisa saja orang-orang inkar Sunnah mencari-cari alasan ini untuk menolak Sunnah, karena pada dasarnya mereka memang mengingkari Sunnah. Namun, setidaknya ada tiga hal yang mesti dipaparkan di sini untuk mematahkan tuduhan mereka. Yang pertama, tentang hadits-hadits yang dianggap membuat umat Islam mundur dan terbelakang. Kedua, penjelasan tentang apa sesungguhnya sebab-sebab yang membuat umat Islam mundur. Dan ketiga, bukti bahwa Sunnah justru mendorong kaum muslimin untuk maju, selalu menuntut ilmu, kritis, dan senantiasa cerdas dalam menganalisa suatu masalah. Dengan demikian akan terbukti bahwa sesungguhnya Sunnah sama sekali bukanlah penyebab mundurnya umat Islam.</p>
<p>Adapun tentang hadits-hadits dalam berbagai hal ghaib, mukjizat Nabi, dan yang sulit diterima oleh akal sebagaimana disebutkan di atas, maka sebetulnya Al-Qur`an pun banyak menyinggung masalah ini. Tentang mukjizat Nabi, misalnya, Al-Qur`an menyebutkan sebagiannya.</p>
<p>Di antaranya yaitu:<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn12">[12]</a></p>
<p>1. Ketika Nabi dikepung para pemuda dari berbagai suku di Makkah pada malam hijrah, namun beliau bisa lolos karena Allah membutakan mata mereka.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn13">[13]</a></p>
<p>2. Isra`nya Nabi dari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam waktu semalam.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn14">[14]</a></p>
<p>3. Terbelahnya bulan ketika penduduk Makkah meminta Nabi untuk memperlihatkan mukjizatnya kepada mereka.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn15">[15]</a></p>
<p>4. Selamatnya Nabi bersama Abu Bakar di dalam Gua Tsaur ketika hijrah padahal orang-orang kafir yang mengejar mereka sudah berada di mulut gua tetapi tidak melihat.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn16">[16]</a></p>
<p>5. Turunnya tiga ribu malaikat pada Perang Badar.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn17">[17]</a></p>
<p>- Dan lain-lain.</p>
<p>Demikian pula dalam masalah takdir, adzab kubur, syafaat Nabi, dan seterusnya. Sesungguhnya Al-Qur`an sudah menyinggungnya. Baik itu secara detil ataupun global. Jadi, tidak mengherankan sekiranya banyak hadits-hadits Nabi dalam masalah ini, mengingat posisi Sunnah yang memang mempunyai otoritas untuk itu.<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn18">[18]</a></p>
<p>Kalaupun kemudian ada sebagian kaum muslimin yang keliru dalam memahami dan mengaplikasikan hadits-hadits Nabi dalam masalah ini (masalah takdir, misalnya), sehingga membuatnya mundur dan terbelakang, maka itu berpulang kepada orang yang bersangkutan. Sama sekali bukan dikarenakan Sunnahnya.</p>
<p>Apakah hanya karena hadits-hadits itu sulit diterima oleh akal sehat lalu dijadikan kambing hitam? Memangnya, apa semua urusan agama ini harus bisa dicerna oleh akal? Sungguh, Iblis-lah makhluk yang pertama kali mencoba mengakali agama ini. Dia mencoba membandingkan bahwa dirinya yang terbuat dari api lebih baik daripada Nabi Adam <em>Alaihissalam.</em><a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn19">[19]</a></p>
<p>Umar bin Al-Khathab pernah berkata kepada hajar aswad, “Sesungguhnya aku ini tahu kalau kau ini adalah batu yang tidak bisa memberi manfaat ataupun mudharat. Demi Allah, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam </em>menciummu, aku pun tak akan menciummu.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn20">[20]</a> Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata, “Sekiranya agama ini didasarkan rasionalitas semata, niscaya bagian bawah khuf<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn21">[21]</a> lebih layak untuk diusap daripada atasnya.”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn22">[22]</a></p>
<p>DR. Yusuf Al-Qaradhawi berkata,</p>
<p>“Sunnah adalah sumber syariat kedua setelah Al-Qur`an untuk mengetahui perkara-perkara ghaib. Hal ini tidak termasuk dalam cakupan ilmu-ilmu yang bisa dianalisa melalui eksperimen, atau kontemplasi, atau melalui penelitian ilmiah. Sebab, sumber masalah ini adalah wahyu Ilahi, yang dikhususkan Allah untuk para rasul-Nya. Allah mengaruniakan pengetahuan masalah ghaib ini kepada mereka sebagaimana yang Dia kehendaki. Terkadang ada sebagian di antara perkara ghaib ini yang Dia tutupi dari seluruh makhluk-Nya, sehingga tidak ada siapa pun yang mengetahuinya, baik malaikat ataupun nabi,”<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn23">[23]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selanjutnya, masalah kemunduran dan keterbelakangan umat Islam dibandingkan umat-umat lain pada masa kini, juga bukan disebabkan Sunnah.</p>
<p>Menurut DR. Abdul Wahab Ad-Dailami,<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn24">[24]</a> ada delapan faktor yang menyebabkan kemunduran dan keterbelakangan umat Islam, yaitu :</p>
<ol start="1">
<li>Banyaknya orang Arab yang murtad sepeninggal Rasulullah <em>Shallallahu Alaihi wa Sallam</em>.</li>
<li>Munculnya fanatisme kelompok, suku, dan golongan, yang memecah kesatuan umat.</li>
<li>Penyerbuan dan penghancuran yang dilakukan Pasukan Tartar atas kaum muslimin pada masa Bani Abbasiyah.</li>
<li>Pendudukan dan penyerangan Tentara Salib dan Eropa.</li>
<li>Dibuatnya undang-undang konvensional buatan manusia, yang wajib dipatuhi warga negara setempat.</li>
<li>Perang peradaban dan pemikiran yang gencar dilakukan oleh Barat dan orientalisme.</li>
<li>Adanya pemerintahan kaum muslimin yang otoriter. Dan,</li>
<li>Lenyapnya Khilafah Islamiyah.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi, keberadaan Sunnah sebagai sumber hukum utama setelah Al-Qur`an Al-Karim sama sekali tidak menyebabkan kemunduran dan keterbelakangan umat Islam.</p>
<p>Terakhir, perlu dibuktikan di sini, bahwa Sunnah justru sangat mendorong umatnya untuk senantiasa maju dan terus berkembang. Sekadar contoh, bagaimana mungkin Sunnah membuat umat Islam mundur, sementara Sunnah mengatakan bahwa menuntut ilmu adalah wajib?</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p><strong>طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ . </strong><strong></strong></p>
<p><strong>(رواه ابن ماجه عن أنس بن مالك)</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” </em>(HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik)<a href="http://abduhzulfidar.multiply.com/journal/compose#_ftn25">[25]</a></p>
<p>Selain itu, dalam Sunnah juga terdapat hadits-hadits tentang pemeliharaan lingkungan dan kebersihan, perhatian terhadap masalah kesehatan dan kedokteran, ilmu kejiwaan, pendidikan ekonomi, pendidikan politik, strategi dan etika perang, peradaban, ajaran mendidik keluarga dengan baik, hubungan antarsesama manusia, dan lain-lain. Jadi, bagaimana mungkin Sunnah membuat kaum muslimin mundur dan terbelakang?</p>
<p>http://makmureffendi.wordpress.com/2011/02/20/argumentasi-golongan-ingkar-sunnah/</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/262/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/262/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/262/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=262&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/10/14/inkar-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>mulok</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/01/19/mulok/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/01/19/mulok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 14:53:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Melati 1.sejarah singkat Diperkirakan Melati berasal dari berbagai negara, ada yang berasal dari negeri China (Melati Primrose /Jasminum mesnyi ; Winter Jasmine/Jasminum nudiflorum ; dan Jasminum polyanthum) dan India (Melati Bintang/Jasminum multiflorum dan Arabian Jasmine/Jasminum sambac ) , ternyata Negara Papua juga diperkirakan sebagai daerah asal untuk jenis Melati Bintang/Angelwing Jasmine (Jasminum nitidum ). 2.Cara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=258&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melati</p>
<p>1.sejarah singkat</p>
<p>Diperkirakan Melati berasal dari berbagai negara, ada yang berasal dari negeri China (Melati Primrose /<em>Jasminum mesnyi</em> ; <em>Winter Jasmine/Jasminum nudiflorum</em> ; dan <em>Jasminum polyanthum)</em> dan India (Melati Bintang/<em>Jasminum multiflorum</em> dan Arabian Jasmine/<em>Jasminum sambac</em> ) , ternyata Negara Papua juga diperkirakan sebagai daerah asal untuk jenis Melati Bintang/Angelwing Jasmine (<em>Jasminum nitidum</em> ).</p>
<p>2.Cara menanam</p>
<p>Pembibitan Teknik Penyemaian Benih<br />
Tancapkan tiap stek pada medium semai 10–15 cm/sepertiga dari panjang stek. Tutup permukaan wadah persemaian dengan lembar plastik bening (transparan) agar udara tetap lembab.<br />
Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian<br />
a) Penyiapan tempat semai: – Siapkan tempat/wadah semai berupa pot berukuran besar/polybag, medium semai (campuran tanah, pasir steril/bersih).<br />
- Periksa dasar wadah semai dan berilah lubang kecil untuk pembuangan air yang berlebihan.<br />
- Isikan medium semai ke dalam wadah hingga cukup penuh/setebal 20–30 cm. Siram medium semai dengan air bersih hingga basah.</p>
<p>3.Melati sebagai TO</p>
<p><strong>﻿﻿﻿</strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="500">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="3" width="245"></td>
<td width="455" valign="top">
<h2><strong>Melati</strong></h2>
<p><em><strong>(Jasminum sambac, Ait.)</strong></em></td>
</tr>
<tr>
<td width="245"><strong>Sinonim :</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="455"><strong>Familia :</strong><br />
<strong>Oleranceae</strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"><strong>Uraian :</strong><br />
<strong>Melati   (jasminum sambac) termasuk tanaman yang mempunyai banyak manfaat. Bunganya   berwarna putih mungil dan berbau harum, sering digunakan untuk berbagai   kebutuhan. Melati, dapat berbunga sepanjang tahun dan dapat tumbuh subur pada   tanah yang gembur dengan ketinggian sekitar 600 atau 800 meter diatas   permukaan laut, asalkan mendapatkan cukup sinar matahari. Melati dapat   dikembangbiakkan dengan cara stek. Tunas-tunas baru akan tampak setelah   berusia sekitar 6 minggu.</strong></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"><strong>Nama Lokal :</strong><br />
<strong>Jasmine   (Inggris), Jasmin (Perancis), Yasmin (Arab); Melati (Indonesia), Melur (Jawa), Malati (Sunda);   Malate (Madura), Menuh (Bali);</strong>&nbsp;</p>
<p><strong>Komposisi :</strong><strong><br />
<strong>KANDUNGAN KIMIA : Melati   mengandung senyawa-senyawa unsur kimia yang besar manfaatnya untuk   pengobatan. Kandungan kimia yang ada tersebut antara lain indol, benzyl,   livalylacetaat.</strong></strong></p>
<p><strong>Penyakit Yang Dapat Diobati :</strong><strong><br />
<strong>Kelebihan ASI, Sakit   mata, Demam, Sakit Kepala, Sesak Napas; Pemanfaatan :</strong></strong></p>
<p><strong>Bahan: 1 genggam bunga melati</strong><br />
<strong>Cara   membuat: bahan tersebut diremas-remas sampai halus</strong><br />
<strong>Cara   menggunakan: ditempel pada bagian yang disengat lebah.</strong></p>
<p><strong>4. Demam dan sakit kepala</strong><br />
<strong>Bahan: 1   genggam daun melati, 10 bunga melati</strong><br />
<strong>Cara   membuat: bahan tersebut diremas-remas dengan tangan, </strong><br />
<strong>kemudian   direndam dengan air dalam rantang</strong><br />
<strong>Cara   menggunakan: air rendaman ini digunakan untuk kompres dahi</strong></p>
<p><strong>5. Sesak napas</strong><br />
<strong>Bahan: 20   lembar daun melati dan garam secukupnya</strong><br />
<strong>Cara   membuat: bahan tersebut direbus dengan 3 gelas air sampai </strong><br />
<strong>mendidih   hingga tinggal 2 gelas dan disaring.</strong><br />
<strong>Cara   menggunakan: ditempel di seputar buah dada, setiap pagi </strong><br />
<strong>sebelum   mandi.</strong></p>
<p>﻿﻿﻿﻿﻿</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>CABE</p>
<p>1.sejarah</p>
<p>Cabe (Capsicum Annum varlongum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terong‐terongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara‐negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia.</p>
<p>Tanaman cabe banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya.<br />
Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni Cabe besar, cabe keriting, cabe rawit dan paprika. Secara umum cabe memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C.</p>
<p>2.cara menanam</p>
<p><strong>Pedoman Teknis Budidaya</strong></p>
<p>Penyiapan Benih Benih cabe dapat dibuat sendiri dengan cara sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Pilih buah cabe yang matang (merah)</li>
<li>Bentuk sempurna, segar</li>
<li>Tidak cacat dan tidak terserang      penyakit.</li>
<li>Kemudian keluarkan bijinya dengan      mengiris buah secara memanjang</li>
<li>Cuci biji lalu dikeringkan.</li>
<li>Kemudian pilih biji yang bentuk,      ukuran dan warna seragam, permukaan kulit bersih, tidak keriput dan tidak      cacat.</li>
</ul>
<p>Bila kesulitan membuat sendiri, benih cabe dapat dibeli di took pertanian setempat. Benih yang akan ditanam diseleksi dengan cara merendam dalam air, biji yang terapung dibuang.</p>
<p><strong>Persemaian</strong></p>
<p>Sebelum tanam di tempat permanen, sebaiknya benih disemai dulu dalam wadah semai yang dapat berupa bak plastik atau kayu dengan ketebalan sekitar 10 cm yang dilubangi bagian dasarnya untuk pengaturan air(drainase).<br />
Persiapannya adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Isikan dalam wadah semai media      berupa tanah pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Untuk      menghilangkan gangguan hama      berikan pestisida sistemik di tanah dengan takaran 10 gr/m2. Media ini      disiapkan 1 minggu sebelum penyemaian benih.</li>
<li>Benih yang akan ditanam, sebelumnya      direndam dalam air hangat (50 derajat Celcius) selama semalam, Tambahkan      MiG‐6PLUS saat perendaman dengan dosis 10ml : 1 liter air.</li>
<li>Tebarkan benih secara merata di      media persemaian, bila mungkin beri jarak antar benih 5 x 5 cm sehingga      waktu tanaman dipindah/dicabut, akarnya tidak rusak. Usahakan waktu benih      ditanam diatasnya ditutup selapis tipis tanah. Kemudian letakkan wadah      semai tersebut di tempat teduh dan lakukan penyiraman secukupnya agar      media semai tetap lembab.</li>
</ol>
<p><strong>Pembibitan</strong></p>
<ul>
<li>Benih yang telah berkecambah atau      bibit cabe umur 10‐14 hari (biasanya telah tumbuh sepasang daun) sudah      dapat dipindahkan ke tempat pembibitan.</li>
<li>Siapkan tempat pembibitan berupa      polybag ukuran 8 x 9 cm atau bumbungan dari bahan daun pisang sehingga      lebih murah harganya. Masukkan ke dalamnya campuran tanah, pasir dan pupuk      kandang.</li>
<li>Pindahkan bibit cabe ke wadah      pembibitan dengan hati‐hati. Pada saat bibit ditanam di bumbungan, tanah      di sekitar akar tanaman ditekan‐tekan agar sedikit padat dan bibit berdiri      tegak. Letakkan bibit di tempat teduh dan sirami secukupnya untuk menjaga      kelembabannya.</li>
</ul>
<p>Pembibitan ini bertujuan untuk meningkatkan daya adaptasi dan daya tumbuh bibit pada saat pemindahan ke tempat terbuka di lapangan atau pada polybag Pemindahan bibit baru dapat dilakukan setelah berumur 30‐40 hari.<br />
<strong>Persiapan Media Tanam dalam Polybag</strong></p>
<ol>
<li>Siapkan polybag tempat penanaman      yang berlubang kiri kanannya untuk pengaturan air.</li>
<li>Masukkan media tanam ke dalamnya      berupa campuran tanah dengan pupuk kandang 2 : 1 sebanyak 1/3 volume      polybag. Tambahkan pestisida sistemik 2‐4 gr/tanaman untuk mematikan hama pengganggu      dalam media tanah.</li>
<li>Masukkan campuran tanah dan pupuk      kandang ke dalam polybag setinggi 1/3 nya.</li>
<li>Tambahkan pupuk buatan sebagai      pupuk dasar yaitu 10 gr SP 36, 5 gr KCl dan 1/3 bagian dari campuran 10 gr      Urea + 20 gr ZA per tanaman (2/3 bagiannya untuk pupuk susulan). Biarkan      selama 3 hari, kemudian siram dengan larutan pupuk hayati MiG‐6PLUS dengan      dosis 10ml : 1 liter air.</li>
</ol>
<p><strong>Penanaman di Lapangan</strong></p>
<ul>
<li>Siapkan bedengan yang dicampur      dengan pupuk kandang</li>
<li>Jika pH tanah rendah (4‐5) maka      lakukan terlebih dahulu pengapuran. Pengapuran dilakukan bersamaan dengan      pembuatan bedengan sebarkan kapur, aduk rata, biarkan selama 3 minggu.</li>
<li>Semprotkan larutan pupuk hayati      MiG‐6PLUS merata pada permukaan bedengan. Tahap ini kebutuhan pupuk hayati      MiG‐6PLUS adalah 2 liter per hektar.</li>
<li>Tutup bedengan dengan mulsa      plastik.</li>
<li>Gunakan kaleng yang diberi arang      untuk melubanginya.</li>
<li>Pindahkan hati‐hati bibit ke dalam      lubang tanam.</li>
</ul>
<p>CABAI RAWIT SEBAGAI  TO</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="500">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="3" width="245"></td>
<td width="455" valign="top"><em>(Capsicum frutescens L.)</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="245"><strong>Sinonim :</strong><br />
C. ,fastigiatum BL, C. minimum Roxb.</td>
</tr>
<tr>
<td width="455"><strong>Familia :</strong><br />
solanaceae.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"><strong>Uraian :</strong><br />
Tanaman budidaya, kadang-kadang ditanam di   pekarangan sebagai tanaman sayur atau tumbuh liar di tegalan dan tanah kosong   yang terlantar. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik, menyukai daerah   kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl. Perdu setahun,   percabangan banyak, tinggi 50-100 cm. Batangnya berbuku-buku atau bagian atas   bersudut. Daun tunggal, bertangkai, letak berselingan. Helaian daun bulat   telur, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip,   panjang 5-9,5 cm, lebar 1,5-5,5 cm, berwarna hijau. Bunga keluar dari ketiak   daun, mahkota bentuk bintang, bunga tunggal atau 2-3 bunga letaknya   berdekatan, berwarna putih, putih kehijauan, kadang-kadang ungu. Buahnya buah   buni, tegak, kadang-kadang merunduk, berbentuk bulat telur, lurus atau   bengkok, ujung meruncing, panjang 1-3 cm, lebar 2,5-12 mm, bertangkai   panjang, dan rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, putih kehijauan,   atau putih, buah yang masa.k berwarna merah terang. Bijinya banyak, bulat   pipih, berdiameter 2-2,5 mm, berwarna kuning kotor. Cabai rawit terdiri dari   tiga varietas, yaitu cengek leutik yang buahnya kecil, berwarna hijau, dan   berdiri tegak pada tangkainya; cengek domba (cengek bodas) yang buahnya lebih   besar dari cengek leutik, buah muda berwarna putih, setelah tua menjadi   jingga; dan ceplik yang buahnya besar, selagi muda berwarna hijau dan setelah   tua menjadi merah. Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan   asinan. Daun muda dapat dikukus untuk lalap.Cabal rawit dapat diperbanyak   dengan biji.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"><strong>Nama Lokal :</strong><br />
NAMA DAERAH Sumatera: leudeuaarum, l. pentek   (Gayo), situdu langit, lacina sipane (Simelungmz), lada limi (Nias), l. mutia   (Melayu). Jawa: cabe rawit, c. cengek (SLCnda), lombok jempling, l. jemprit,   l. rawit, l. gambir, l. setan, l. cempling (Jawa), cabhi letek, c. taena   manok (Madc,rra). Nusa Tenggara: tabia krinyi (Bali),   kurus(Alor). Sulawesi: kaluya kapal (bent.), mareta dodi (Mongond.), malita   diti (Gorontalo), m. didi (Buol), lada masiwu (Baree), l. marica, l. capa,   laso meyong (Mak.),1. meyong, ladang burica, l. marica (Bug.), rica halus, r.   padi (Manado).   Maluku: Abrisan kubur (Seram), karatupa batawe (Elpaputi), katupu walata   (Waraka), araputa patawe (Atamano), kalapita batawi (Amahai), karatuba   manesane (Nuaulu), karatupa. batawi (Sepcc), maricang kekupe (Weda), rica   gufu (Ternate). Irian: metrek wakfoh   (Sarmi), basen tanah (Barik). NAMA ASING La jiao (C), cayenne peper (B),   piment de cayenne (P), piment enrage, guineapfeffer (J), pasites, sili   (Tag.), cayenne, chilli (I). NAMA SIMPLISIA Capsici frutescentis Fructus   (buah cabe rawit).&nbsp;</p>
<p><strong>Komposisi :</strong><br />
Buahnya mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid asiri, resin,   minyak menguap, vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas pada   cabai, berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pematirasa kulit. Biji   mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan   steroid saponin (kapsisidin). Kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotik.<br />
<strong>Penyakit Yang Dapat   Diobati :</strong><br />
Cabai rawit rasanya pedas, sifatnya panas, masuk meridian jantung dan   pankreas. Tumbuhan ini berkhasiat tonik, stimulan kuat untuk jantung dan   aliran darah, antirematik, menghancurkan bekuan darah (antikoagulan),   meningkatkan nafsu makan (stomakik), perangsang kulit (kalau digosokkan ke   kulit akan menimbulkan rasa panas. Jadi, digunakan sebagai campuran obat   gosok), peluruh kentut (karminatif), peluruh keringat (diaforetik), peluruh   liur, dan peluruh kencing (diuretik). Ekstrak buah cabai rawit mempunyai daya   hambat terhadap pertumbuhan Candida albicans. Daya hambat ekstrak cabal rawit   1 mg/ml setara dengan 6,20 mcg/ml nistatin dalam formamid (Tyas Ekowati   Prasetyoningsih, FF UNAIR, 1987).</p>
<p><strong>Pemanfaatan :</strong></p>
<p>BAGIAN YANG DIGUNAKAN<br />
Seluruh bagian tumbuhan dapat digunakan sebagai   tanaman obat, seperti buah, akar, daun, dan batang.</p>
<p>INDIKASI<br />
Cabal rawit digunakan untuk :<br />
menambah nafsu makan,<br />
menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas,<br />
batuk berdahak,<br />
melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis,<br />
migrain.</p>
<p>CARA PEMAKAIAN<br />
Untuk obat yang diminum, buah cabai rawit digunakan   sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini cabai rawit dapat direbus atau dibuat   bubuk dan pil.<br />
Untuk pemakaian luar, rebus buah cabai rawit   secukupnya, lalu uapnya dipakai untuk memanasi bagian tubuh yang sakit atau   giling cabai rawit sampai halus, lalu turapkan ke bagian tubuh yang sakit,   seperti rematik, jari terasa nyeri karena kedinginan (frosbite). Gilingan   daun yang diturapkan ke tempat sakit digunakan untuk mengobati sakit perut   dan bisul.</p>
<p>CONTOH PEMAKAIAN DI MASYARAKAT</p>
<p>Kaki dan tangan lemas (seperti lumpuh)<br />
Sediakan 2 bonggol akar cabai rawit, 15 pasang kaki   ayam yang dipotong sedikit di atas lutut, 60 g kacang tanah, dan 6 butir hung   cao. Bersihkan bahan-bahan tersebut dan potong-potong seperlunya. Tambahkan   air dan arak sama banyak sampai bahan-bahan tersebut terendam seluruhnya   (kira-kira 1 cm di atasnya). Selanjutnya, tim ramuan tersebut. Setelah   dingin, saring dan air saringannya diminum, sehari dua kali, masing-masing   separo dari ramuan.</p>
<p>Sakitperut<br />
Cuci daun muda segar secukupnya, lalu giling sampai   halus. Tambahkan sedikit kapur sirih, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan   tersebut pada bagian perut yang sakit.</p>
<p>Rematik<br />
Giling 10 buah cabai rawit sampai halus. Tambahkan   1/2 sendok teh kapur sirih dan air perasan sebuah jeruk nipis, lalu aduk   sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian tubuh yang sakit.</p>
<p>Frosbite<br />
Buang biji beberapa buah cabai rawit segar, lalu   giling sampai halus, kemudiam balurkan ke tempat yang sakit.</p>
<p>Catatan:<br />
Penderita penyakit saluran pencernaan, sakit   tenggorokan, dan sakit mata dianjurkan untuk tidak mengonsumsi cabai rawit.<br />
Rasa pedas di lidah menimbulkan rangsangan ke otak   untuk mengeluarkan endorfin (opiat endogen) yang dapat menghilangkan rasa   sakit dan menimbulkan perasaan lebih sehat.<br />
Hasil penelitian terbaru, cabai rawit dapat   mengurangi kecenderungan terjadinya penggumpalan darah (trombosis),   menurunkan kadar kolesterol dengan cara mengurangi produksi kolesterol dan   trigliserida di hati.<br />
Pada sistem reproduksi, sifat cabai rawit yang   panas dapat mengurangi rasa tegang dan sakit akibat sirkulasi darah yang   buruk. Selain itu, dengan kandungan zat antioksidan yang cukup tinggi   (seperti vitamin C dan beta karoten), cabai rawit dapat digunakan untuk   mengatasi ketidaksuburan (infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat proses   penuaan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>WORTEL</p>
<p>.1. Sejarah Singkat</p>
<p>Wortel/carrots (Daucus carota L.) bukan tanaman asli Indonesia, berasal dari negeri yang beriklim sedang (sub-tropis) yaitu berasal dari Asia Timur Dekat dan Asia Tengah. Ditemukan tumbuh liar sekitar 6.500 tahun yang lalu. Rintisan budidaya wortel pada mulanya terjadi di daerah sekitar Laut Tengah, menyebar luas ke kawasan Eropa, Afrika, Asia dan akhirnya ke seluruh bagian dunia yang telah terkenal daerah pertaniannya.</p>
<p>2.PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</p>
<p>Persyaratan Benih</p>
<p>Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sumber benih yang menjadi bibit harus memenuhi syarat sebagai berikut:<br />
a) Tanaman tumbuh subur dan kuat.<br />
b) Bebas hama dan penyakit/sehat.<br />
c) Bentuknya seragam.<br />
d) Dari jenis yang berumur pendek.<br />
e) Berproduksi tinggi.</p>
<p>3.1.2. Penyiapan Benih</p>
<p>Wortel diperbanyak secara generatif dengan biji-bijinya. Biji (benih) wortel dapat dibeli di toko-toko saran produksi pertanian terdekat, tetapi dapat pula membenihkan sendiri, terutama atas jenis/varietas wortel lokal dan non hibrida.</p>
<p>Para petani di sentra produksi sayuran sudah umum mempraktekan pembenihan (pembijian) wortel lokal dengan tahap-tahap pekerjaan sebagai berikut :</p>
<p>1. Pilih tanaman wortel yang umurnya cukup tua (± 3 bulan), tumbuhnya subur dan sehat. Bongkar (cabut) tanaman wortel pilihan tadi, kemudian amati umbinya Umbi wortel yang baik dan sehat jadikan pohon induk, bentuk normal (tidak cacat), warna kulit mengkilap kuning/jingga dan halus.<br />
2. Potong ujung umbi wortel maksimal sepertiga bagian, pangkas pula tangkai daun bersama daunnya, sisakan 10 cm yang lekat pada umbi.<br />
3. Siapkan lahan untuk kebun pembibitan wortel dapat bentuk bedengan-bedengan yang diolah secara sempurna (dipupuk kandang optimal).<br />
4. Buat lubang tanam dengan alat bantu cangkul/tunggal pada jarak tanam 40-60 cm x 40-60 cm.<br />
5. Tanam umbi wortel pada lubang tanam, padatkan tanahnya perlahan-lahan hingga menutup bagian leher batang.<br />
6. Buat alur-alur dangkal disepanjang barisan tanaman (umbi) wortel sejauh ± 5 cm dari batang (dalam bentuk lubang pupuk oleh tugal).<br />
7. Lakukakan pemberian pupuk buatan berupa campuran ZA+SP+KCL (1:2:2) sebanyak 10 gr/tanaman, kemudian pupuk tersebut segera ditutup dengan tanah tipis .<br />
8. Pelihara kebun bibit wortel selama ± 3 bulan hingga menghasilkan tangkai buah dan biji dalam jumlah banyak.<br />
9. Petik tangkai buah wortel yang sudah tua (kering), lalu jemur hingga kering untuk diambil biji-bijinya.</p>
<p>Wortel sebagai tanaman obat</p>
<p>﻿﻿﻿</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="500">
<tbody>
<tr>
<td width="455"></td>
<td width="455"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" width="245"></td>
<td width="455" valign="top"><em> (Daucus carota, Linn.)</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="245"><strong>Sinonim   :</strong><br />
Daucus carota, Linn.</td>
</tr>
<tr>
<td width="455"><strong>Familia   :</strong><br />
Apiaceae</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"><strong>Uraian :</strong><br />
Wortel (Daucus carota) adalah tumbuhan sayur yang ditanam sepanjang tahun.   Terutama di daerah pegunungan yang memiliki suhu udara dingin dan lembab,   kurang lebih pada ketinggian 1200 ineter di atas permukaan laut. Tumbuhan   wortel mernbutuhkan sinar matahari dan dapat turnbuh pada sernua musim.   Wortel mempunyai batang daun basah yang berupa sekumpulan pelepah (tangkai   daun) yang muncul dari pangkal buah bagian atas (umbi akar), mirip daun   seledri. Wortel menyukai tanah yang gembur dan subur. Menurut para botanis,   wortel (Daucus carota) dapat dibedakan atas beberapa jenis, di antaranya:   WORTEL (Daucus carota, Linn.) &#8211; jenis imperator, yakni wortel yang memiliki   umbi akar berukuran panjang dengan ujung meruncing dan rasanya kurang manis.   &#8211; jenis chantenang, yakni wortel yang memiliki umbi akar berbentuk bulat   panjang dan rasanya manis. &#8211; jenis mantes, yakni wortel hasil kornbinasi dari   jenis wortel imperator dan chantenang. Umbi akar wortel berwarna khas oranye.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"><strong>Nama Lokal :</strong><br />
Carrot (Inggris), Carotte (Perancis), Bortel (Belanda); Wortel (Indonesia),   Bortol (Sunda), Wortel, Ortel (Madura); Wortel, Wortol, Wertol, Wertel,   Bortol (Jawa);&nbsp;</p>
<p><strong>Komposisi :</strong><br />
KANDUNGAN KIMIA : Wortel (Daucus carota) mempunyai nilai kandungan Vitamin A   yang tinggi yaitu sebesar 12000 SI. Sementara komposisi kandungan unsur yang   lain adalah kalori sebesar 42 kalori, protein 1,2 gram, lemak 0,3 gram,   hidrat arang 9,3 gram, kalsium 39 miligram, fosfor 37 miligram, besi 0,8   miligram, vitamin B 1 0,06 miligram, dan vitamin C 6 miligram. Komposisi di   atas diukur per 100 gram.</p>
<p><strong>Penyakit Yang Dapat Diobati :</strong><br />
Kejang Jantung, Eksim, Cacing Kremi, Mata minus; <strong>Pemanfaatan :</strong></p>
<p>1. Kejang Jantung<br />
Bahan: umbi wortel, 2 sendok madu, dan 1 potong   gula aren;<br />
Cara membuat: wortel diparut dan diperas dengan 2   gelas air,<br />
kemudian dioplos dengan bahan lainnya sampai   merata;<br />
Cara menggunakan: diminum 1 kali sehari.</p>
<p>2. Eksim<br />
a. Bahan:1 umbi wortel dan 1 sendok teh kapur   sirih;<br />
Cara membuat: wortel diparut dan dicarnpur dengan   kapur sirih<br />
sampai merata;<br />
Cara menggunakan: ditempelkan pada bagian yang   sakit dan<br />
dibalut dengan verban.</p>
<p>b. Bahan: 3 umbi wortel;<br />
Cara membuat: diparut dan disedu dengan 2 gelas air   masak;<br />
Cara menggunakan:  diminum 2 kali sehari.</p>
<p>3. Cacing Kremi<br />
Bahan: 5-7 umbi wortel, garam dan santan kelapa   secukupnya;<br />
Cara membuat: wortel diparut, kemudian ditambah   dengan bahan<br />
lainnya;<br />
Cara menggunakan: diperas dan disaring, kemudian   diminum<br />
menjelang tidur malam.</p>
<p>4.   Mata Minus<br />
Bahan: umbi wortel secukupnya;<br />
Cara membuat: diparut dan diperas untuk diambil airnya;<br />
Cara menggunakan: diminurn setiap pagi hari secara teratur.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>PARE</p>
<p>Tanaman satu ini terkenal karena buahnya yang pahit. Toh, meski pahit, tanaman pare ternyata memiliki banyak khasiat. Tanaman satu ini memang pahit. Tapi, di balik rasa pahit itu ternyata tersimpan sejuta manfaat untuk kesehatan. Coba perhatikan kandungan kimia yang terdapat pada tanaman pare. Buahnya mengandung albiminoid, karbohidrat, dan zat warna, daunnya mengandung momordisina, momordina, karantina, resin, dan minyak lemak, sementara akarnya mengandung asam momordial dan asam oleanolat. Bijinya mengandung saponin, alkaloid, triterprenoid, dan asam momordial.</p>
<p>Tanaman pare (Momordica charabtia) berasal dari kawasan Asia Tropis, namun belum dipastikan sejak kapan tanaman ini masuk ke wilayah Indonesia. Saat ini tanaman pare sudah dibudidayakan di berbagai daerah di wilayah Nusantara. Umumnya, pembudidayaan dilakukan sebagai usaha sampingan. Pare ditanam di lahan pekarangan, atau tegalan, atau di sawah bekas padi sebagai penyelang pada musim kemarau.</p>
<p>Ada sederetan penyebutan nama tanaman pare, misalnya: paria, parea, pepareh, popare, papari, pepare, pariane, kambeh, paya, prieu, foria, pariak, paliak, truwuk, paita, poya, pudu, pentoe, beleng-gede, pania, pepule, kakariano, dan taparipong. Ini menunjukka, tanaman pare sudah tersebar di pelosok daerah. Hanya saja, masih banyak belum diketahui, pare ternyata bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan beberapa penyakit maupun meningkatkan kesehatan manusia.</p>
<p>Pare tergolong tanaman semak semusim, yang hidupnya menjalar atau merambat, dengan sulur berbentuk spiral. Daunnya tunggal, berbulu, berbentuk lekuk tangan, dan bertangkai sepanjang 10 cm. Bunganya berwarna kuning-muda. Batangnya masif mempunyai rusuk lima, berbulu agak kasar ketika masih muda, namun setelah tua gundul, warna hijau. Buahnya buni, bulat telur memanjang, warna hijau, kuning sampai jingga, dan rasanya pahit. Biji keras, warna cokelat kekuningan.</p>
<p><strong>Apa saja kegunaan tanaman pare?</strong></p>
<p><strong><em>Khasiat Buah</em></strong><br />
1. Disentri</p>
<p>Sediakan 2 buah pare segar, cuci lalu potong-potong. Tambahkan seperempat gelas air bersih, lalu diblender. Seduh dan peras. Silakan diminum 2 kali sehari.</p>
<p>2. Kencing Manis</p>
<p>Ambil 2 buah pare, cuci dan lumatkan. Tambahkan setengah gelas air bersih. Aduk dan peras. Minum sehari sebanyak 1 ramuan. Diulang selama 2 minggu.</p>
<p>3. Penambah ASI</p>
<p>Ambil 1 buah pare, cuci bersih, lalu rebus beberapa menit. Dipakai sebagai lalap.</p>
<p>4. Bisul</p>
<p>Buah pare dipakai sebagai obat luar. Ambil 1 buah segar lantas dilumatkan. Borehkan pada bagian yang terkenal bisul.</p>
<p>5. Bronkhitis</p>
<p>Sediakan 2-3 buah pare, lalu diambil sarinya. Berikan 1 sendok makan madu. Minum sekali sehari. Lakukan selama 3 bulan. Resep ini juga baik untuk menyembuhkan anemia, radang perut, sakit pada hati, nyeri haid, reumatik, dan melangsingkan tubuh.</p>
<p><strong>Khasiat Daun</strong><br />
1. Bisul dan cacing kremi</p>
<p>Sediakan 1 genggam daun segar, diberi seperempat cangkir air bersih, lalu blender. Saring dengan kain kasa. Jika perlu, tambahkan sedikit garam, gula aren secukupnya, dan jeruk nipis. Minum sekali sehari seperempat cangkir. Lakukan selama 1 minggu.</p>
<p>2. Demam nifas</p>
<p>Ambil 3 daun pare segar, cuci bersih, dan lumatkan. Tambahkan segelas air dan sedikit garam, lalu seduh. Peras dan saring, lalu minum 2 kali sehari sebanyak setengah gelas.</p>
<p>3. Penambah ASI</p>
<p>Sediakan 2 daun pare lalu panaskan beberapa saat. Kompreskan pada payudara.</p>
<p>4. Sakit pada hati</p>
<p>Sediakan 6 gram daun pare segar, 5 gram rimpang temulawak, dan 110 ml air. Didihkan semua bahan selama 15 menit, lalu saring dengan kain kasa, dan peras. Minumlah sekali sehari. Ulangi selama 2 minggu.</p>
<p>5. Rambut Subur</p>
<p>Ambil beberapa helai daun pare segar, cuci bersih lalu remas-remas. Cukup dioleskan ke kulit kepala anak.</p>
<p>6. Batuk</p>
<p>Pilihlah 7 daun pare segar, lantas seduh dengan 2 sendok makan air bersih. Setelah itu, peras dan saring. Minum 2 kali sehari.</p>
<p>7. Bekas luka</p>
<p>Cuci bersih segenggam daun pare segar, lalu lumatkan. Tambahkan air panas sedikit, lalu peras. Campur air perasan dengan 2 sendok makan tepung beras, lalu aduk sampai merata. Borehkan pada bagian bekas luka setiap hari.</p>
<p>8. Wasir</p>
<p>Ambil 5 daun pare segar, tambahkan seperempat gelas air, didihkan dan peras. Ambil 3 sendok air perasan ini, lalu dicampur dengan segelas yoghurt cair. Minum setiap pagi.</p>
<p>9. Kemandulan</p>
<p>Sediakan 27 gram sari daun pare segar, 7 butir lada hitam, 3 siung bawang putih, dan 27 gram gula jawa. Semua bahan dilumatkan, lalu tambahkan segelas air bersih. Didihkan dan peras. Minum air perasan setiap hari selama 3-4 bulan.</p>
<p>10. Penyakit kulit</p>
<p>Buatlah 1 cangkir sari daun pare. Caranya, ambil 3 helai daun pare ditambah satu setengah cangkir air. Didihkan dan peras. Campur air perasan berupa sari ini dengan sesendok air jeruk. Minum sekali sehari.</p>
<p>11. Rabun malam</p>
<p>Sari daun pare dioleskan di sekitar mata.</p>
<p><strong>Khasiat Akar</strong><br />
1. Disentri Amoeba</p>
<p>Ambil segenggam akar pare, tambahkan segelas air bersih. Didihkan dan peras. Minum sekali sehari.</p>
<p>2. Ambeien</p>
<p>Ambil akar pare, cuci bersih, lantas lumatkan. Oleskan ramuan ini pada ambeien.<br />
Kandungan gizi buah pare dalam 100 gram:</p>
<p>No. Kandungan gizi Jumlah</p>
<ol>
<li>Kalori 29,00 kal</li>
<li>Protein 1,10 gr</li>
<li>Lemak 0,30 gr</li>
<li>Karbohidrat 6,60 gr</li>
<li>Kalsium 45,00 mg</li>
<li>Fosfor 64,00 mg</li>
<li>Zat besi 1,40 mg</li>
<li>Vitamin A 180,00 SI</li>
<li>Vitamin B 0,08 mg</li>
<li>Vitamin C 52,00 mg</li>
<li>Air 91,20 gr</li>
</ol>
<p>Sejarah pinang<a href="http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-pinang.html"></a></p>
<h3><strong><em><a href="http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-pinang.html">Mengenai daerah asal tanaman pinang, belum bisa dipastikan darimana asalnya tanaman ini. Ada yang menyebutkan pinang berasal dari Semenanjung Tanah Melayu. Ada pula yang mengatakan berasal dari Filipina. Namun, justru dahulu hutan pinang yang luas ditemukan di Aceh dan Sumatera Utara, sehingga pantai utara Aceh dulu terkenal sebagai Pantai Pinang. Selama ini, tanaman pinang (Areca catechu) dikenal sebagai komoditas andalan ekspor yang kebanyakan dimanfaatkan untuk bahan pengikat warna kain dan selain konsumsi makanan tradisional seperti ramuan sirih.</a></em></strong>&nbsp;</p>
<p><strong><em><a href="http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-pinang.html">Pinang yang pertama berkembang di negara Filipina dan selain dijumpai juga di beberapa kawasan Asia Tenggara itu, sudah lama dikonsumsi masyarakat di Nang-groe Aceh Darussalam untuk ramuan makan sirih, terutama buah pinang yang sudah tua.<strong>Budidaya Pinang</strong><strong> </strong></a></em></strong></h3>
<p>Posted by <a href="http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/budidaya-pinang.html">crew_cerianet</a></p>
<p>Tanaman pinang (Areca catechu L.) Sudah dimanfaatkan sejak lama terutama daerah-daerah Asia selatan dan Timur sampai daerah Kepulauan Pasifik. Komoditi yang termasuk subsektor perkebunan banyak yang berpotensi untuk diekspor. Salah satunya adalah pinang. Tanaman ini sudah menyebar di seluruh pelosok wilayah Indonesia. Namun, dibanding dengan komoditas perkebunan lainnya yang dapat memberikan devisa negara, pinang masih ketinggalan.</p>
<p>Tanaman pinang (Areca catechu L.) termasuk dalam famili Arecaceae, merupakan tanaman yang sekeluarga dengan kelapa. Salah satu jenis tumbuhan monokotil ini tergolong palem-paleman. Secara rinci, sistimatika tanaman pinang dapat diuraikan seperti berikut :</p>
<p>Divisi : Plantae<br />
Kelas : Monokotil<br />
Ordo : Arecales<br />
Famili : Arecaceae atau Palmae (palem-paleman)<br />
Genus : Areca<br />
Spesies : Areca catechu L.</p>
<p>Pinang termasuk jenis tanaman yang sudah dikenal luas di masyarakat karena secara alami penyebarannya cukup luas di berbagai daerah. Ada beberapa jenis pinang diantaranya pinang biru, pinang hutan, pinang irian, pinang kelapa, dan pinang merah.</p>
<p>Salah satu jenis pinang yang sudah dikenal masyarakat adalah pinang sirih yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:</p>
<p>1). Pohon tumbuh satu-satu, tidak berumpun seperti jenis palem umumnya.</p>
<p>2). Batang lurus agak licin tinggi dapat mencapai 25 cm.</p>
<p>3). Diameter batang atau jarak antar-ruas batang sekitar 15 cm</p>
<p>4). Garis lingkaran batang tampak jelas.</p>
<p>5). Bentuk buah bulat telur, mirip telur ayam, dengan ukuran sekitar 3,5 – 7,7 cm serta berwarna hijau waktu muda dan berubah merah jingga atau merah kekuningan saat masak atau tua.</p>
<p>SYARAT TUMBUH TANAMAN PINANG</p>
<p>Setiap tanaman memerlukan syarat tumbuh yang berbeda, bila penanaman dilakukan di tempat yang sesuai dengan syarat tumbuhnya maka akan memberikan dampak yang baik sehingga menghasilkan pertumbuhan dan produksi yang optimal. Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan di dalam penanaman pinang antara lain :</p>
<p>1. Tinggi Tempat</p>
<p>Tanaman Pinang dapat berproduksi optimal pada ketinggian 0–1.000 m dpl (meter diatas permukaan laut). Tanaman pinang idialnya ditanam pada ketinggian dibawah 600 m diatas permukaan laut.</p>
<p>2. Tanah</p>
<p>Tanah yang baik untuk pengembangan pinang adalah tanah beraerasi baik, solum tanah dalam tanpa lapisan cadas, jenis tanah laterik, lempung merah dan aluvial.</p>
<p>Keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman pinang sekitar pH 4 &#8211; 8.</p>
<p>3. Curah Hujan</p>
<p>Curah hujan yang dikehendaki tanaman pinang antara 750-4.500 mm/tahun yang merata sepanjang tahun atau hari hujan sekitar 100 &#8211; 150 hari.</p>
<p>Tanaman pinang sangat sesuai pada daerah yang bertipe iklim sedang dan agak basah dengan bulan basah 3 &#8211; 6 bulan/tahun dan bulan kering 4 &#8211; 8 bulan/tahun.</p>
<p>4. Suhu dan Kelembaban</p>
<p>Tanaman pinang dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimum antara 20º &#8211; 32º C. Tanaman pinang menghendaki daerah dengan kelembaban udara antara 50 – 90 %.</p>
<p>5. Penyinaran.</p>
<p>Penyinaran yang sesuai untuk tanaman pinang berkisar antara 6-8 jam/hari. Pengaruh cahaya matahari terhadap tanaman pinang sebagai berikut :</p>
<p>1). Ruas batangnya lebih pendek dibanding tanaman yang terlindung.</p>
<p>2). Tanaman tidak cepat tinggi.</p>
<p>3). Fisik tanaman lebih kuat.</p>
<p>4). Persentase bunga untuk menjadi buah lebih besar.<br />
Beberapa tindakan budidaya tanaman yang menyangkut faktor penyinaran adalah pengaturan tanam, jarak tanam, sistem intercropping, penggunaan naungan dan pohon pelindung, serta penambahan cahaya.</p>
<p>BAHAN TANAMAN</p>
<p>Bibit bermutu berasal dari benih terpilih yang berasal dari pohon induk terpilih. Seleksi pohon induk dapat dilakukan pada individu pohon, yaitu melalui seleksi sebagai berikut:</p>
<p>a. Pohon induk tumbuh tegar, batang lurus, mahkota pohon berbentuk setengah bulat dan pertumbuhan daun terbagi rata.</p>
<p>b. Pohon bebas dari serangan hama dan penyakit</p>
<p>c. Umur pohon lebih dari 10 tahun dan telah stabil berproduksi, yaitu sekitar 4-5 tahun.</p>
<p>d. Lingkar batang lebih dari 45 cm (diukur pada ketinggian 1 m dari permukaan tanah).</p>
<p>e. Daun yang terbuka penuh lebih dari 8 helai,</p>
<p>f. Jumlah tandan lebih dari 4 buah,</p>
<p>g. Jumlah buah per tandan lebih dari 50 butir.</p>
<p>TEKNIK BUDIDAYA.</p>
<p>Untuk budidaya tanaman pinang agar mendapatkan tanaman yang baik harus melalui beberapa tahap yaitu :</p>
<p>A. Persiapan Bibit.</p>
<p>Perbanyakan tanaman pinang dilakukan dari penyemaian biji. Kerugian pembibitan dengan biji adalah akan terjadi segregasi (penurunan kualitas keturunan) secara genetik pada tanaman yang bersifat heterosigous dan jangka waktu untuk berproduksinya akan sangat lama.</p>
<p>1). Jumlah bibit.</p>
<p>Kebutuhan biji untuk disemaikan sebaiknya dicadangkan sebanyak 50 % dari jumlah bibit yang diharuskan ditanam dalam setiap hektar areal tanam. Untuk jarak tanam 2,7 m X 2,7 m, akan diperoleh sebanyak 1.300 tanaman/Ha. Oleh karena itu disiapkan sebanyak 1.950 biji pinang untuk disemaikan.</p>
<p>2). Kriteria buah untuk bibit.</p>
<p>Beberapa kriteria tentang buah pinang yang baik untuk dijadikan bibit, yaitu ukuran, berat, dan umur buah. Khusus untuk ukuran buah, sangat tergantung pada varietas pinang. Ukuran buah pinang bervariasi dari ukuran kecil sampai besar.</p>
<p>Kriteria untuk ukuran buah besar adalah sebagai berikut:</p>
<p>a. Sebaiknya buah diambil yang mempunyai ukuran besar dan seragam, buah yang besar berpotensi menghasilkan buah yang besar.</p>
<p>b. Berat buah yang dijadikan bibit sekitar 60 buah/kg. Semakin sedikit jumlah per kilogramnya maka bijinyapun semakin baik dijadikan benih.</p>
<p>c. Umur Pohon yang baik untuk bibit.</p>
<p>Umur pohon lebih dari 10 tahun dan telah stabil berproduksi, yaitu sekitar 4-5 tahun. Buah untuk benih harus matang sempurna (warna oranye) dengan bobot di atas 35 g.</p>
<p>3). Perlakuan buah</p>
<p>Dalam pembibitan pinang ada yang tanpa perlakuan langsung menyemaikan buah dan ada yang diberi perlakuan terlebih dahulu sebelum disemai dengan merendam buah selama 24 jam. Air sangat mempengaruhi percepatan perkecambahan biji selain suhu, oksigen dan cahaya.</p>
<p>* Sebaiknya perendaman buah dalam air jangan terlalu lama<br />
* Suhu yang tinggi akan memacu percepatan perkecambahan sejalan dengan naiknya suhu.<br />
* Oksigen sangat diperlukan untuk respirasi. Dengan sistem drainase dan pengolahan pengaturan bedengan yang baik akan mempercepat perkecambahan karena aerasi berjalan dengan baik. Aerasi yang baik ini terjadi karena kebutuhan oksigen terjamin.</p>
<p>4). Persiapan lahan.</p>
<p>Sebelum dilakukan kegiatan perkecambahan biji, lahannya perlu disiapkan terlebih dahulu agar pertumbuhan optimal. Untuk kebutuhan bibit pada penanaman di lahan seluas 1 ha maka luas perkecambahan yang diperlukan sekitar 4-5 m² atau sekitar 400 biji/m². Langkah-langkah menyiapkan lahan sebagai berikut :</p>
<p>1. Pilih lokasi lahan yang cukup baik atau subur dan aman dari ganggguan orang, ternak, dan organisme pengganggu lainya.</p>
<p>2. Bersihkan lahan dari rumput terlebih dahulu dengan cara dicangkul.</p>
<p>3. Buat bedengan memanjang sesuai keadaan lahan dengan lebar 1 m. Caranya dengan menggali saluran drainase di antara dua bedengan dan tanah galiannya diuruk ke tengah sambil diratakan. Sebaiknya saluran drainase dirapikan.</p>
<p>5). Perkecambahan</p>
<p>Setelah lahan disiapkan, tahap selanjutnya adalah menyemai biji-biji yang sudah dipilih. Proses perkecambahan biji ini akan berlangsung sekitar 1,5-2 bulan. Saat itu akar atau tunas dari biji sudah bermunculan, tahapan perkecambahan biji adalah sebagai berikut :</p>
<p>1). Susun biji pinang terpilih pada bedengan dengan posisi horizontal. Penyusunan harus rapat agar daya tampung bedengan menjadi maksimal.</p>
<p>2). Tutup biji pinang tersebut dengan lapisan tanah subur setebal 0,5 cm.</p>
<p>3). Bedengan diberi naungan agar kelembaban terjaga dan terhindar dari sinar matahari langsung. Penyiraman dilakukan pada setiap pagi dan sore hari.</p>
<p>4). Bedengan diberi pagar agar terhindar dari gangguan hewan piaraan.</p>
<p>B. Cara Pembibitan.</p>
<p>Setelah biji berkecambah, kegiatan selanjutnya adalah pembibitan. Pembibitan ini dibagi dua tahap sebagai berikut :</p>
<p>1. Pembibitan tahap pertama.</p>
<p>Pada tahap pembibitan pertama ini kecambah biji dibibitkan pada lahan dengan lebar 1 m dan panjang disesuaikan dengan kondisi lapangan dan bedengan diberi dinding keliling dari papan setinggi polybag ( 15 Cm). Tujuan agar polybag dapat disusun tegak dan rapi.</p>
<p>Setelah lahan pembibitan siap, kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan polybag untuk pembibitan. Polybag yang digunakan berukuran volume 1 kg atau setinggi 15 cm. Polybag harus memiliki lubang di bagian bawahnya agar drainasenya baik. Kemudian isi polybag dengan tanah hingga setinggi ¾ bagian, lalu dipadatkan.</p>
<p>Polybag diisi dengan kecambah biji pinang, pengambilan kecambah ini harus hati-hati agar tunas dan akarnya tidak rusak. Biji kecambah dibenamkan sedalam 4 Cm atau posisi rata dengan permukaan tanah, setiap polybag berisi satu kecambah, kecambah ini ditutupi dengan tanah secukupnya agar kelihatan rapi.</p>
<p>Agar terhindar dari sengatan matahari bedengan diberi naungan. Tinggi tiang naungan sekitar 2,5 m. Sebagai atap bisa dari daun kelapa, nipah dan alang-alang , naungan mulai dikurangi setelah bibit berumur 1,5 bulan. Pengurangan ini dilakukan hingga bibit akan dipindahkan pada pembibitan kedua atau sudah berumur 5 bulan.</p>
<p>Agar bibit dapat tumbuh baik perlu dipelihara seperti berikut :</p>
<p>1). Penyiraman dilakukan setiap pagi atau sore hari sebanyak 0,25 l/polybag.</p>
<p>2). Penyiangan gulma dilakukan bila di dalam dan disekitar polybag tumbuh gulma. Jika ada penyusutan tanah sebaiknya ke dalam polybag ditambahkan tanah baru.</p>
<p>3). Pemupukan di polybag diberi pupuk NPK dengan dosis 4 g/polybag. Bila menggunakan urea, dosis sekitar 2 g/l air, lalu disemprotkan ke daun, batang, dan tanah.</p>
<p>4). Pencegahan hama dan penyakit dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan fungisida.</p>
<p>5). Seleksi bibit yang baik adalah bibit yang berpangkal batang relatif besar mirip botol dan helai daun melengkung. Bibit yang lurus ke atas adalah bibit jantan yang tidak akan pernah berbuah.</p>
<p>2. Pembibitan tahap ke dua.</p>
<p>Untuk pembibitan tahap ke dua jarak antar polybag sekitar 30 cm X 30 cm. Keadaan lahannya harus datar agar polybag bibit tidak rebah.</p>
<p>Polybag yang disiapkan bervolume sekitar 6 kg media tanam. Ke dalam polybag diisi tanah subur 2/3 bagian. Selain tanah subur, ke dalam polybag pun dapat diisi dengan kompos plus. Dari 2/3 bagian polybag yang akan diisi dengan media tanam, 50 % adalah kompos plus(pada bagian bawah) dan 50 % sisanya diisi tanah biasa (pada bagian atas).</p>
<p>Setelah media tanamnya dimasukan didalam polybag besar, bibit dari polybag kecil pada pembibitan tahap pertama dapat dipindahkan. Caranya dengan menyobek polybag kecil, lalu bibit ditanam dalam polybag besar. Tanahnya harus relatif padat dan pangkal batang bibit tepat pada permukaan polybag.</p>
<p>Agar pertumbuhan tanaman dalam polybag lebih sempurna pertumbuhannya perlu dilakukan pemupukan NPK dengan dosis 20 g setiap polybag.</p>
<p>Pada areal pembibitan ke dua ini tidak perlu ada pelindung dari sinar matahari, karena sinar matahari sangat diperlukan bibit untuk pertumbuhannya.</p>
<p>Lokasi pembibitan sebaiknya diberi pagar keliling untuk menghindari gangguan dari hewan peliharaan, sebaiknya lokasi pembibitan dekat dengan sumber air.</p>
<p>Pemeliharaan tahap ke dua ini dilakukan selama tujuh bulan atau hingga bibit berumur satu tahun terhitung dari pembibitan tahap pertama. Dan bibit siap di tanam.</p>
<p>C. Persiapan Lahan Penanaman</p>
<p>Tahapan yang harus dilakukan setelah lokasi tanam di tentukan lahan perlu dilakukan pengolahan lahan dari pembukaan lahan sampai dengan pembuatan lobang tanam.</p>
<p>1. Pembukaan lahan.</p>
<p>* Lahan yang dapat ditanami tanaman pinang adalah lahan semak belukar, lahan tidur, dan pekarangan.</p>
<p>a. Lahan semak belukar.<br />
Lahan ini biasanya didominasi oleh semak belukar dan pohon berkayu atau pohon lain yang dianggap tidak berguna dapat di tebang, membersihkan gulma sebaiknya dengan herbisida, terlebih kalau arealnya cukup luas. Herbisida yang dapat digunakan antara lain Pelithapon, Dalapon, Round-Up, Gramoxone S, Para-Col, Spak, Dual, Ronstar, Polaris, Basta, dan Dawpon.</p>
<p>b. Lahan Pekarangan.</p>
<p>Lahan pekarangan umumnya ditanami beragam jenis tanaman baik tanaman yang produktif maupun tanaman yang tidak produktif. Untuk tanaman yang tidak produktif perlu di ganti dengan tanaman produktif. Tanaman yang tidak produktif disingkirkan dan dengan cara di tebang dan gulma yang tumbuh perlu di cabut.</p>
<p>c. Lahan tidur</p>
<p>Lahan tidur adalah lahan yang peruntukannya belum direncanakan, untuk lahan yang belum atau sudah pernah di tanami namun gagal sehingga ditinggalkan dan dibiarkan sehingga tumbuh gulma atau pohon yang tidak diinginkan tumbuh. Lahan tidur inipun cocok untuk ditanami pinang dengan terlebih dahulu dibersihkan. Bila lahan sering tergenang air, perlu dibuatkan saluran drainase.</p>
<p>d. Lahan Pertanaman Kelapa</p>
<p>Penanaman di lahan pertanaman kelapa (pinang sebagai tanaman sela) dapat dilakukan pada lahan pertanaman kelapa yang memiliki jarak tanam 9 x 9 meter segi empat. Tanaman pinang dapat ditanam diantara dua baris tanaman kelapa dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 meter segi empat</p>
<p>2. Penentuan jarak tanam</p>
<p>Jarak tanam yang biasa di tanam dilapangan adalah 2,7 m X 2,7 m. Jarak tanam ini dianggap cukup efisian untuk pertumbuhan tanaman.</p>
<p>Diantara tanaman dalam barisan dapat ditanami dengan tanaman lain seperti tanaman palawijo sebagai tanaman tumpang sari.<br />
3. Pemancangan Tiang Ajir</p>
<p>Pemancangan dilakukan setelah lahan penanaman bersih. Dengan pemancangan akan memudahkan penentuan letak lubang tanam dengan jarak teratur.</p>
<p>Pemancangan didasarkan pada kerapatan pohon per hektar, jarak tanam, dan topografi daerah setempat. Pemancangan di areal rata dilakukan sesuai jarak tanam. Sedangkan dilahan berbukit atau berkontur, pemancangan dilakukan dengan arah barisan menurut kontur lahan dan jarak antar barisan menurut proyeksi jarak antar barisan.</p>
<p>Alat yang digunakan untuk melakukan pemancangan adalah tali nylon (tali polythylene). Tali nylon disiapkan sepanjang 100 m. Pada tali tersebut diberi tanda (diikat diikat dengan benang) batas setiap panjang 3 m. Sebaiknya ada perbedaan mencolok antara warna tali nylon dengan benang. Fungsi tanda tersebut adalah memudahkan penancapan ajir di areal.</p>
<p>Ajir biasanya dibuat dari bambu dengan diameter minimal 2 cm. Tinggi anjir sekitar 1,5 m. Jumlah ajir yang disiapkan sesuai jumlah tanaman yang seharusnya disiapkan untuk luasan tertentu. Dengan jarak tanam 2,7 m x 2,7 m maka yang perlu disiapkan sekitar 1.300 ajir (untuk luasan 1 hektar). Agar ajir mudah ditancapkan ketanah bagian pangkalnya diruncingkan.</p>
<p>Setelah alat dan ajir disiapkan, pemancangan dapat segera dilakukan. Tancapan satu ajir di sudut tertentu dari lahan, misalnya sudut sebelah timur dan ikatkan tali nylon pada ajir tersebut. Tarik tali seluruhnya kearah sudut lainnya (barat). Beri ajir disudut barat dan ikat tali pada ajir tersebut. Tarikan tali ini nantinya akan merupakan barisan pertama. Tali harus ditarik lurus ke arah sudut lain. Penancapan ajir tersebut dapat disesuaikan dengan lahan terpanjang walaupun tanpa arah.</p>
<p>Setelah itu, tancapan ajir satu per satu sesuai tanda pada tali. Bila sudah selesai, tali dapat dipindahkan pada barisan di sebelahnya atau barisan kedua yang sebelumnya sudah diukur dengan jarak 2,7 m. Lakukan pemancangan ajir seperti pada barisan pertama, demikian seterusnya hingga seluruh lahan diberi ajir. Setiap selesai pemancangan ajir pada satu barisan.</p>
<p>4. Strip clearing</p>
<p>Strip clearing merupakan kegiatan pembersihan kayu-kayu di sepanjang jalur antara setiap dua barisan ajir atau tiang pancang. Jalur ini nantinya akan dijadikan jalan. Lebar jalan cukup 1 M. Tunggul atau batang kayu yang masih ada dijalur tersebut sebaiknya dipotong atau dimusnahkan. Strip clearing berfungsi jika pada areal tersebut ditanami rumput penutup tanah (kacang-kacangan), tetapi tidak berguna jika pada sela-sela barisan tanaman pinang ditanami tanaman tumpang sari. Ini disebabkan rumput penutup tanah atau kacang-kacangan akan tumbuh menutupi tanah atau kacang-kacangan akan tumbuh menutupi tanah, bahkan dapat memanjat atau menggulung hingga ke tanaman pokok. Akibatnya seluruh areal pertanaman akan dapat tertutupi oleh tanaman pokok maka di areal tersebut perlu dibuat jalan, minimal lebarnya 60 cm. Kalau tidak ada jalan, tanaman penutup tanah ataupun kacang-kacangan akan terinjak-injak saat melakukan kegiatan perawatan.</p>
<p>Sebaliknya kalau yang ditanam adalah tanaman sela maka jalan tidak perlu dibuat. Ini disebabkan tanaman sela tidak akan menutupi tanah. Di antara tanaman sela tersebut kita masih bisa berjalan. Contoh tanaman sela yang dapat ditanam pada areal pertanaman pinang adalah jagung atau kacang tanah.</p>
<p>Pinang sebagai tanaman obat</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="500">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="3" width="245"></td>
<td width="455" valign="top">
<h2>Pinang</h2>
<p><em>(Areca catechu L.)</em></td>
</tr>
<tr>
<td width="245"><strong>Sinonim   :</strong><br />
= A. hortensis, Lour.</td>
</tr>
<tr>
<td width="455"><strong>Familia   :</strong><br />
Arecaceae</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700"><strong>Uraian   :</strong><br />
Pinang umumnya ditanam di pekarangan, di   taman-taman atau dibudidayakan, kadang tumbuh liar di tepi sungai dan   tempat-tempat lain, dapat ditemukan dari 1-1.400 m dpl. Pohon berbatang   langsing, tumbuh tegak, tinggi 10-30 m, diameter 15-20 cm, tidak bercabang   dengan bekas daun yang lepas. Daun majemuk menyirip tumbuh berkumpul di ujung   batang membentuk roset batang. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang 80 cm,   tangkai daun pendek. Panjang helaian daun 1-1,8 m, anak daun mempunyai   panjang 85 cm, lebar 5 cm, dengan ujung sobek dan bergigi. Tongkol bunga   dengan seludang panjang yang mudah rontok, keluar dari bawah roset daun,   panjang sekitar 75 cm, dengan tangkai pendek bercabang rangkap. Ada 1 bunga betina pada   pangkal, di atasnya banyak bunga jantan tersusun dalam 2 baris yang tertancap   dalam alur. Bunga jantan panjang 4 mm, putih kuning, benang sari 6. Bunga   betina panjang sekitar 1,5 cm, hijau, bakal buah beruang satu. Buahnya buah   buni, bulat telur sungsang memanjang, panjang 3,5-7 cm, dinding buah berserabut,   bila masak warnanya merah oranye. Biji satu, bentuknya seperti kerucut pendek   dengan ujung membulat, pangkal agak datar dengan suatu lekukan dangkal,   panjang 15-30 mm, permukaan luar berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan,   agak berlekuk-lekuk menyerupai jala dengan warna yang lebih muda. Umbutnya   dimakan sebagai lalab atau acar, sedang buahnya merupakan salah satu ramuan   untuk makan sirih, dan merupakan tanaman penghasil zat samak. Pelepah daun   yang bahasa Sundanya disebut upih, digunakan untuk pembungkus makanan, bahan   campuran untuk pembuatan topi, dsbnya. Perbanyakan dengan biji.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" width="700">&nbsp;</p>
<p><strong>Nama   Lokal :</strong><br />
Jambe, penang, wohan (Jawa). pineng, pineung, pinang,; Batang mayang, b.   bongkah, b. pinang, pining, boni (Sumtra); Gahat, gehat, kahat, taan, pinang   (Kalimanantan). alosi; mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo,   amongon.(Sul.); Bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm (Maluku). bua, winu,;</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="1" cellspacing="1" cellpadding="0" width="500">
<tbody>
<tr>
<td width="500"><strong>Penyakit Yang Dapat Diobati :</strong><br />
Cacingan, Perut kembung, Luka, Batuk berdahak, Diare, Kudis; Koreng,   terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, difteri; Tidak nafsu makan,   Sembelit, Sakit pinggang, gigi dan gusi,;&nbsp;</p>
<p><strong>Pemanfaatan :</strong><br />
<textarea cols="55" rows="15">BAGIAN  YANG DIPAKAI: Biji, daun, sabut.   KEGUNAAN:  Biji (Binglang):  &#8211; Cacingan: taeniasis, fasciolopsiasis.  &#8211; Perut kembung akibat gangguan pencernaan.  &#8211; Bengkak karena retensi cairan (edema).  &#8211; Rasa penuh di dada.  &#8211; Luka.  &#8211; Batuk berdahak.  &#8211; Diare.  &#8211; Terlambat haid, Keputihan.  &#8211; Beri-beri, edema. Malaria.  &#8211; Memperkecil pupil mata (miosis) pada glaucoma.   Daun:  &#8211; Tidak napsu makan.  &#8211; Sakit pinggang (lumbago).   Sabut:  &#8211; Gangguan pencernaan (dyspepsia).  &#8211; Sembelit.  &#8211; Edema dan beri-beri.   PEMAKAIAN:  Untuk minum: 5-10 g biji kering atau 5-10 g sabut, rebus.  Pemakaian luar : Biji secukupnya direbus, airnya untuk mencuci luka dan  infeksi kulit lainnya.   CARA PEMAKAIAN:  1. Cacingan:      30 g serbuk biji pinang direbus dengan 2 gelas air, didihkan      perlahan-lahan seiama 1 jam. Setelah dingin disaring, minum      sekaligus sebelum makan pagi.   2. Luka: Biji ditumbuk halus, untuk dipakai pada luka.   3. Kudis:      Biji pinang digiling halus, tambahkan sedikit air kapur sirih sampai       menjadi adonan seperti bubur. Dipakai untuk memoles bagian tubuh      yang kudis.   4. Koreng:      Pinang, gambir, kapur sirih masing-masing sebesar telur cecak,      tembakau sebesar ibu jari dan 1 lembar daun sirih segar.      Bahan-bahan tersebut dicampur ialu digiling halus. Lumurkan pada      koreng yang telah dibersihkan.   5. Disentri:      Buah pinang yang warnanya kuning muda dicuci lalu direndam dalam      1 gelas air selama beberapa jam. Minum air rendaman pinang.   6. Membersihkan dan memperkuat gigi dan gusi:     Biji pinang diiris tipis-tipis. Kunyah setiap hari selama beberapa      menit, lalu ampasnya dibuang.   7. Sakit pinggang:      Daun secukupnya dicuci bersih, lalu digiling halus. Tambahkan      minyak kelapa secukupnya, panaskan sebentar di atas api. Hangat-     hangat dipakai untuk mengompres bagian pinggang yang sakit.   8. Difteri:      1 butir biji pinang kering digiling halus, seduh dengan 3/4 cangkir     air panas dan 1 sendok makan madu. Setelah dingin dipakai untuk      kumur-kumur di tenggorokan selama 2-3 menit, lalu dibuang.      Lakukan 3 kali sehari.   Efek samping:  Senyawa alkaloid yang dikandung pada buah cukup berbahaya untuk sistem  syarat. Yang umum terjadi adalah mual dan muntah (20-30%), sakit perut,  pening dan nervous. Untuk mengurangi kejadian muntah, minumlah rebusan  obat setelah dingin. Efek samping yang jarang terjadi adalah luka pada  lambung yang disertai muntah darah.  Tanda-tanda kelebihan dosis: Banyak keluar air liur (qalivation),  muntah, mengantuk dan seizure.  Pengobalan: Cuci lambung dengan larutan potassium permanganate dan  injeksi atropine. Untuk mengurangi efek racunnya, pemakaian biji pinang  sebaiknya yang telah dikeringkan, atau lebih baik lagi bila biji pinang  kering direbus dahulu sebelum diminum. Kebiasaan mengunyah biji pinang,  dapat meningkatkan kejadian kanker-mukosa pipi (buccal cancer). </textarea></p>
<p><strong>Komposisi :</strong><br />
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Biji: Pahit, pedas, hangat. Obat cacing   (anthelmintic), peluruh kentut (antiflatulent), peluruh haid, peluruh kencing   (diuretik), peluruh dahak, memperbaiki pencernaan, pengelat (astringen),   pencahar (laksan). Daun: Penambah napsu makan. Sabut: Hangat, pahit.   Melancarkan sirkulasi tenaga, peluruh kencing, pencahar. KANDUNGAN KIMIA:   Biji mengandung 0,3-0,6% alkaloid, seperti Arekolin (C8 H13 NO2),   arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasine. Selain itu juga   mengandung red tanin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic,   caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung   kira-kira 50% lebih banyak alkaloid, dibandingkan biji yang telah diproses.   Arekolin: Obat cacing dan berkhasiat sebagai penenang.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p>MELATI                                                         WORTEL</p>
<p><a href="http://4.bp.blogspot.com/_OluBZAOzkw0/SUUjrirOUnI/AAAAAAAAAEM/wBe1B47ca48/s1600-h/pare2.jpg"> border=0 v:shapes=&#8221;BLOGGER_PHOTO_ID_5279665369111220850&#8243;&gt; </a></p>
<p>CABAI RAWIT                                             PARE</p>
<p><a href="http://3.bp.blogspot.com/_5lrjAf4LGLQ/SUU9OsNV4kI/AAAAAAAAAIc/9HOJt7bFx1k/s1600-h/Pinang.jpg"></a></p>
<p>pinang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/258/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/258/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/258/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=258&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2011/01/19/mulok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>2011, Nilai Rapor bakal Ikut Tentukan Kelulusan Siswa</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/12/27/2011-nilai-rapor-bakal-ikut-tentukan-kelulusan-siswa/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/12/27/2011-nilai-rapor-bakal-ikut-tentukan-kelulusan-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2010 05:11:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[2011, Nilai Rapor bakal Ikut Tentukan Kelulusan Siswa&#160; Kamis, 23 Desember 2010 16:07 WIB Penulis : Haryanto &#60;!&#8211;&#160; &#8211;&#62;&#60;!&#8211;YAHOO! BUZZ&#8211;&#62; SEMARANG&#8211;MICOM: Regulasi penyelenggaraan ujian nasional (UN) pada 2011 mungkin sekali  akan kembali berubah. Di antaranya, hasil rapor juga menentukan kelulusan siswa. &#8220;Berdasarkan arahan Menteri Pendidikan Nasional belum lama ini, regulasi penyelenggaraan UN 2011 akan berbeda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=240&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>2011, Nilai Rapor  bakal Ikut Tentukan Kelulusan Siswa&nbsp;</p>
<div>Kamis,  23 Desember 2010 16:07 WIB</div>
<div>Penulis : Haryanto</div>
</div>
<div>&lt;!&#8211;&nbsp;</p>
<p style="height:112px;"><a href="http://www.xl.co.id" target="_blank"><img src="http://www.mediaindonesia.com/public/imgs/xl_logo.gif" border="0" alt="XL - Jangkauan Luas" align="right" /></a></p>
<p>&#8211;&gt;&lt;!&#8211;<a href="#"><img src="http://www.mediaindonesia.com/public/imgs/ic_c_y.gif" alt="" />YAHOO! BUZZ</a>&#8211;&gt;</p>
</div>
<p>SEMARANG&#8211;MICOM:  Regulasi penyelenggaraan ujian nasional (UN) pada 2011 mungkin sekali   akan kembali berubah. Di antaranya, hasil rapor juga menentukan  kelulusan siswa.</p>
<p>&#8220;Berdasarkan arahan Menteri Pendidikan Nasional belum lama ini,  regulasi penyelenggaraan UN 2011 akan berbeda dengan yang tahun ini,&#8221;  kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah Kunto Nugroho, di Semarang,  Jawa Tengah, Kamis (23/12).</p>
<p>Beberapa hal yang berubah dalam sistem penyelenggaraan ini, kata  Kunto, di antaranya penentuan kelulusan yang tidak hanya akan didasarkan  atas hasil ujian nasional. &#8220;Penentuan kelulusan tidak hanya akan  didasarkan atas hasil ujian selama tiga hari, namun juga melalui nilai  rapor,&#8221; kata Kunto.</p>
<p>Ia menuturkan, besaran persentase pembagian antara kontribusi nilai  UN dan rapor terhadap poin kelulusan masih dalam pengkajian Kementerian  Pendidikan. Selain itu, lanjut Kunto, standar kelulusan tidak lagi  ditentukan secara nasional oleh pemerintah.</p>
<p>&#8220;Standar kelulusan oleh sekolah masing-masing. Dengan demikian,  masyarakat dapat menilai langsung kualitas suatu sekolah, didasarkan  atas standar kelulusan yang ditetapkan,&#8221; kata Kunto.</p>
<p>Dengan kondisi semacam ini, menurut Kunto, tidak akan ada lagi UN ulangan bagi siswa yang gagal.</p>
<p>Menurut dia, perubahan tersebut dilakukan untuk mengakomodasi  tuntutan masyarakat yang mendukung dan menentang atas penyelenggaraan  ujian ini.</p>
<p>Ia juga menyampaikan mengenai penghapusan Tim Pemantau Independen  ujian nasional, yang akan digantikan pengawas dari internal sekolah.</p>
<p>Ia menjelaskan, perubahan regulasi ini dilakukan sebagai upaya untuk  memberikan kenyamanan bagi masyarakat serta penyelenggara pendidikan.  (Ant/HT/OL-11)</p>
<p>http://www.mediaindonesia.com/read/2010/12/23/190320/88/14/2011-Nilai-Rapor-bakal-Ikut-Tentukan-Kelulusan-Siswa/ya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=240&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/12/27/2011-nilai-rapor-bakal-ikut-tentukan-kelulusan-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.mediaindonesia.com/public/imgs/xl_logo.gif" medium="image">
			<media:title type="html">XL - Jangkauan Luas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.mediaindonesia.com/public/imgs/ic_c_y.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PLASTIK</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/08/11/plastik/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/08/11/plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 03:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[PLASTIK Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Istilah plastik mencakup produk polimerisasi sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari kondensasi organik atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang termasuk plastik. Plastik dapt dibentuk menjadi film atau fiber sintetik. Nama ini berasal dari fakta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=220&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PLASTIK</strong></p>
<p>Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas</p>
<p>Istilah <strong>plastik</strong> mencakup produk <a title="Polimerisasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polimerisasi">polimerisasi</a> sintetik atau semi-sintetik. Mereka terbentuk dari <a title="Reaksi  kondensasi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Reaksi_kondensasi&amp;action=edit&amp;redlink=1">kondensasi</a> <a title="Kimia  organik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kimia_organik">organik</a> atau penambahan polimer dan bisa juga terdiri dari zat lain untuk meningkatkan performa atau ekonomi. Ada beberapa polimer alami yang termasuk plastik. Plastik dapt dibentuk menjadi <a title="Film" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Film">film</a> atau <a title="Fiber sintetik (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fiber_sintetik&amp;action=edit&amp;redlink=1">fiber sintetik</a>. Nama ini berasal dari fakta bahwa banyak dari mereka &#8220;malleable&#8221;, memiliki properti <a title="Keplastikan (fisika) (halaman  belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keplastikan_%28fisika%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">keplastikan</a>. Plastik didesain dengan varias yang sangat banyak dalam properti yang dapat menoleransi panas, keras, &#8220;reliency&#8221; dan lain-lain. Digabungkan dengan kemampuan adaptasinya, komposisi yang umum dan beratnya yang ringan memastikan plastik digunakan hampir di seluruh bidang industri.</p>
<p><strong>Plastik</strong> dapat juga menuju ke setiap barang yang memiliki karakter yang deformasi atau gagal karena <a title="Shear stress (halaman belum  tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Shear_stress&amp;action=edit&amp;redlink=1">shear stress</a>- lihat <a title="Keplastikan (fisika) (halaman belum  tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keplastikan_%28fisika%29&amp;action=edit&amp;redlink=1">keplastikan (fisika)</a> dan <a title="Ductile (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ductile&amp;action=edit&amp;redlink=1">ductile</a>.</p>
<p>Plastik dapat dikategorisasikan dengan banyak cara tapi paling umum dengan melihat tulang-belakang polimernya (vinyl{chloride}, polyethylene, acrylic, silicone, urethane, dll.). Klasifikasi lainnya juga umum.</p>
<p>Plastik adalah <a title="Polimer" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polimer">polimer</a>; rantai-panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau &#8220;monomer&#8221;. Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga berdasar <a title="Silikon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Silikon">silikon</a>). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan &#8220;bergantung&#8221; dari tulang-belakang (biasanya &#8220;digantung&#8221; sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup &#8220;pendant&#8221; telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan <a title="Abad 21" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_21">abad 21</a> dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut.</p>
<p>Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, &#8220;shellac&#8221;) sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, &#8220;nitrocellulose&#8221;) dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene).</p>
<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>SEJARAH</strong></p>
<p>Plastik merupakan material yang baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20 yang berkembang secara luar biasa penggunaannya dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun <a title="2005" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005">2005</a>. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara <a title="Eropa Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa_Barat">Eropa Barat</a> mencapai 60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di <a title="India" href="http://id.wikipedia.org/wiki/India">India</a> hanya 2kg/orang/tahun.<sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Plastik#cite_note-nvp-0">[1]</a></sup></p>
<p><strong>JENIS-JENIS PLASTIK</strong></p>
<p>Plastik dapat digolongkan berdasarkan:</p>
<ul>
<li><strong>Sifat fisikanya</strong>
<ul>
<li><em>Termoplastik</em>.       Merupakan jenis plastik yang bisa didaur-ulang/dicetak lagi dengan proses       pemanasan ulang. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS), ABS,       polikarbonat (PC)</li>
<li><em>Termoset</em>.       Merupakan jenis plastik yang tidak bisa didaur-ulang/dicetak lagi.       Pemanasan ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-molekulnya. Contoh:       resin epoksi, bakelit, resin melamin, urea-formaldehida</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Kinerja dan penggunaanya</strong>
<ul>
<li><em>Plastik komoditas</em>
<ul>
<li>sifat mekanik tidak terlalu bagus</li>
<li>tidak tahan panas</li>
<li>Contohnya: PE, PS, ABS, PMMA, SAN</li>
<li>Aplikasi: barang-barang elektronik, pembungkus        makanan, botol minuman</li>
</ul>
</li>
<li><em>Plastik teknik</em>
<ul>
<li>Tahan panas, temperatur operasi di atas 100 °C</li>
<li>Sifat mekanik bagus</li>
<li>Contohnya: PA, POM, PC, PBT</li>
<li>Aplikasi: komponen otomotif dan elektronik</li>
</ul>
</li>
<li><em>Plastik teknik khusus</em>
<ul>
<li>Temperatur operasi di atas 150 °C</li>
<li>Sifat mekanik sangat bagus (kekuatan tarik di atas        500 Kgf/cm²)</li>
<li>Contohnya: PSF, PES, PAI, PAR</li>
<li>Aplikasi: komponen pesawat</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Berdasarkan jumlah rantai karbonnya</strong>
<ul>
<li>1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)</li>
<li>5 ~ 11 Cair (bensin)</li>
<li>9 ~ 16 Cairan dengan <a title="Viskositas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Viskositas">viskositas</a> rendah</li>
<li>16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)</li>
<li>25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)</li>
<li>1000 ~ 3000 <strong>Plastik</strong> (<a title="Polistiren" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Polistiren">polistiren</a>, polietilen, dll)</li>
</ul>
</li>
<li><strong>Berdasarkan sumbernya</strong>
<ul>
<li>Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas,       karet alam, rambut</li>
<li>Polimer sintetis:
<ul>
<li>Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester,        polipropilen, polistiren</li>
<li>Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan:        karet sintetis</li>
<li>Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane        (bahan dasarnya dari selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara        radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya)</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>sumber:wikipedia.com</p>
<p><strong>BAHAN-BAHAN UNTUK MEMBUAT PLASTIK</strong><br />
1. Additive &#8211; Antioksidan: mencegah oksidasi yang memutus rantai polimer<br />
- Agen antistatik: menarik kelembaban permukaan supaya konduktif<br />
- Pewarna: memberi warna atau efek seperti iluminasi<br />
- Coupling agents: memudahkan untuk menempel ke bahan lain<br />
- Curing agents: mempermudah penggabungan monomer kepolimer<br />
- Flame retardants: mempersulit plastik terbakar<br />
- Foaming/blowing agents: memberi gelembung udara atau foam<br />
- Penstabil panas: mengurangi pemecahan polimer karena panas<br />
- Penstabilan benturan: menguatkan plastik dari benturan<br />
- Pelumas: mengurangi gesekan plastik keperalatan dan tidak lengket<br />
- Nucleating agents: membantu pengkristalan polimer<br />
- Plasticizer: menambah fleksibilitas, menurunkan titik leleh, dan encer<br />
- Pengawetan: menjaga dari mikroorganisme<br />
- Pembantu proses: menaikkan produksi, memperbaiki permukaan (anti lengket)<br />
- Penstabil UV: mengurangi kerusakan akibat sinar Ultra Violet</p>
<p>2. Reinforcement<br />
Bahan yang ditambahkan ke resin dan polimer untuk menambah kekuatan, daya tahan terhadap benturan, dan kekerasan plastik. Reinforcement dibagi menjadi 2:<br />
- Lamina: memberi lapisan seperti fiber glas, kain, atau lembaran material sehingga menjadi seperti roti sanwidch.<br />
- Fibrous: mencampur dengan beberapa bahan seperti serat kaca, carbonaceous, serat polymer, serat inorganic, serat logam, dan serat hybrids.</p>
<p>3. Filler<br />
Digunakan untuk mengisi sela-sela polimer dan mengurangi harga, tetapi kadang-kadang harga filler lebih mahal dari polimer.</p>
<p>Polietilena tereftalat<br />
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas<br />
PETE atau PET (polyethylene terephthalate)<br />
Polietilena tereftalat (disingkat <strong>PET</strong>, <strong>PETE</strong> atau dulu <strong>PETP, PET-P</strong>) adalah suatu resin polimer plastik termoplast dari kelompok poliester. PET banyak diproduksi dalam industri kimia dan digunakan dalam serat sintetis, botol minuman dan wadah makanan, aplikasi <em>thermoforming</em>, dan dikombinasikan dengan serat kaca dalam resin teknik. PET merupakan salah satu bahan mentah terpenting dalam kerajinan tekstil.</p>
<p>Struktur kimia polietilena tereftalat<br />
PET dapat berwujud padatan amorf (transparan) atau sebagai bahan semi-kristal yang putih dan tidak transparan, tergantung kepada proses dan riwayat termalnya. Monomernya dapat diproduksi melalui esterifikasi asam tereftalat dengan etilen glikol, dengan air sebagai produk sampingnya. Monomer PET juga dapat dihasilkan melalui reaksi transesterifikasi etilen glikol dengan dimetil tereftalat dengan metanol sebagai hasil samping. Polimer PET dihasilkan melalui reaksi polimerasi kondensasi dari monomernya. Reaksi ini terjadi sesaat setelah esterifikasi/transesterifikasinya dengan etilen glikol sebagai produk samping (dan etilen glikol ini biasanya didaur ulang.</p>
<p>Kebanyakan (sekitar 60%) dari produksi PET dunia digunakan dalam serat sintetis, dan produksi botol mencapai 30% dari permintaan dunia. Dalam penggunaannya di bidang tekstil, PET biasanya disebut dengan <em>poliester</em> saja.</p>
<p>http://www.attayaya.net/2008/09/all-about-plastic-k.html</p>
<p><strong>KODE NOMOR PADA PLASTIK</strong></p>
<p><strong>Kode nomor 1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) </strong>biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/ tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Boto-botol dengan bahan pada nomor 1 dan 2 direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.</p>
<p><strong>Kode nomor 2. HDPE (high density polyethylene)</strong> biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu. Sama seperti nomor 1 PET, plastik ini juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.</p>
<p><strong>Kode nomor 3. V atau PVC (polyvinyl chloride)</strong> adalah plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila<br />
dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.</p>
<p><strong>Kode nomor 4. LDPE (low density polyethylene)</strong> biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode 4 baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat, namun plastik jenis ini sulit untuk di daur ulang. Barang dengan kode 4 bisa dibilang tidak dapat dihancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.</p>
<p><strong>Kode nomor 5. PP (polypropylene)</strong> adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.</p>
<p><strong>Kode nomor 6. PS (polystyrene)</strong> biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.</p>
<p><strong>Kode nomor 7. Other (biasanya polycarbonate)</strong> bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan plastik Polycarbonate.</p>
<p>sumber:http://mazziwan.blog.friendster.com/</p>
<p><strong>BAHAYA PLASTIKBAGI LINGKUNGAN DAN KESEHATAN</strong></p>
<p>NETIZEN&#8211;Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup  yang sampai saat ini masih tetap menjadi &#8220;PR&#8221; besar bagi bangsa  Indonesia adalah faktor pembuangan limbah sampah plastik. Kantong  plastik telah menjadi sampah yang berbahaya dan sulit dikelola.<br />
Diperlukan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk membuat sampah bekas  kantong plastik itu benar-benar terurai. Namun yang menjadi persoalan  adalah dampak negatif sampah plastik ternyata sebesar fungsinya juga.<br />
Lalu apakah anda tahu bahaya apa saja yang disebabkan kantong plastik  bagi lingkungan hidup?<br />
Dibutuhkan waktu 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah secara  terdekomposisi atau terurai dengan sempurna. Ini adalah sebuah waktu  yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel plastik akan mencemari  tanah dan air tanah.<br />
Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang  berbahaya bagi kesehatan yaitu jika proses pembakaranya tidak sempurna,  plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin. Senyawa ini sangat  berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu penyakit  kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf dan memicu  depresi.<br />
Kantong plastik juga penyebab banjir, karena menyumbat saluran-saluran  air, tanggul. Sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak  turbin waduk.<br />
Diperkirakan, 500 juta hingga satu miliar kantong plastik digunakan di  dunia tiap tahunnya. Jika sampah-sampah ini dibentangkan maka, dapat  membukus permukaan bumi setidaknya hingga 10 kali lipat! Coba anda  bayangkan begitu fantastisnya sampah plastik yang sudah terlampau  menggunung di bumi kita ini.  Dan tahukah anda? Setiap tahun, sekitar  500 milyar – 1 triliyun kantong plastik digunakan di seluruh dunia.  Diperkirakan setiap orang menghabiskan 170 kantong plastik setiap  tahunnya (coba kalikan dengan jumlah penduduk kotamu!)<br />
Lebih dari 17 milyar kantong plastik dibagikan secara gratis oleh  supermarket di seluruh dunia setiap tahunnya. Kantong plastik mulai  marak digunakan sejak masuknya supermarket di kota-kota besar.<br />
Sampah plastik dapat menyebabkan perubahan iklim?<br />
Sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik  mengemisikan gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan produksi plastik  membutuhkan sekitar 12 juta barel minyak dan 14 juta pohon setiap  tahunnya. Proses produksinya sangat tidak hemat energi. Pada tahap  pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah plastik mengeluarkan  gas rumah kaca.<br />
Lantas, apa solusinya mengatasi sampah kantong plastik?<br />
Berbagai upaya menekan penggunaan kantong plastik pun dilakukan oleh  beberapa Negara. Salah satunya dengan melakukan upaya kampanye untuk  menghambat terjadinya pemanasan global. Sampah kantong plastik telah  menjadi musuh serius bagi kelestarian lingkungan hidup. Jika sampah  bekas kantong plastik itu dibiarkan di tanah, dia akan menjadi polutan  yang signifikan. Kalau dibakar, sampah-sampah itu pun akan secara  signifikan menambah kadar gas rumah kaca di atmosfer.<br />
Apa yang harus kita lakukan?<br />
Kurangi penggunaan kantong plastik sekarang juga dan gunakan tas kain  setiap kali berbelanja. Jika hanya membeli sedikit, masukan barang  belanjaan ke dalam tas. Ingatkan orang rumah atau teman kamu untuk  selalu membawa tas kain saat belanja. Hubungi supermarket, mall dan toko  buku langganan kamu untuk berhenti memberikan kantong plastik.<br />
Namun seperti diungkapkan anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan  dan lingkungan Tatar Sunda (DPLKTS) Sobirin, pengolahan sampah menjadi  solusi terbaik. Jika rumah tangga atau komunitas terkecil di lingkungan  belum bisa mengolahnya, di daur ulang, maka pemilahan menjadi langkah  kecil terbaik.<br />
Terlepas dari usaha dan upaya tersebut, menurut pendapat saya pribadi  semuanya akan berpulang kembali kepada individu-individu masing-masing.  Dan kesadaran dirilah yang menentukan berjalan atau tidaknya  langkah-langkah yang telah di anjurkan.<br />
Saat berbagai Negara mulai melarang dan merespon terhadap bahaya  penggunaan kantong plastik, seperti di Kenya dan Uganda malah sudah  secara resmi melarang penggunaan kantong plastik. Sejumlah Negara mulai  mengurangi penggunaan kantong plastik diantaranya Filipina, Australia,  Hongkong, Taiwan, Irlandia, Skotlandia, Prancis, Swedia, Finlandia,  Denmark, Jerman, Swiss, Tanzania, Bangladesh, dan Afrika Selatan.  Singapura, sejak April 2007 berlangsung kampanye ‘Bring Your Own Bag’  (bawa langsung kantong anda sendiri), digelar oleh The National  Environment Agency (NEA). Dan Pemerintahan China juga telah mengeluarkan  rancangan undang-undang (RUU) mengatasi kantong plastik. Dan reaksi  yang telah disiapkan antara lain pelarangan penggunaan tas plastik di  Departement Store.Para pembeli akan dikenakan bayaran untuk kantong  plastik dan akan diberlakukan standardisasi produksi tas plastik.<br />
Sedangkan bagaimana dengan Indonesia sendiri? Pemerintah belum secara  nyata membuat kebijakan tersebut. Menyadari dengan kondisi Indonesia  yang sekarang ini maka terinspirasilah dari berbagai informasi tentang  pelarangan penggunaan kantong plastic dari berbagai Negara. Mahasiswa  Teknik Lingkungan (HMTL) ITB sejak sebulan terakhir mulai menjalankan  kampanye untuk ‘memusuhi’ kantong plastik, seperti yang dilakukan oleh  Negara Singapura.<br />
HMTL berupaya membangun komunitas yang benar-benar sadar akan bahaya  penggunaan plastik secara berlebihan. Acara “Plastic Phobia” yang  merupakan rangkaian akhir dari “Anti Plastic Campaign Bag” atau Kampanye  Anti Kantong Plastik itu diwarnai oleh “happening art” dan aksi seni  instalasi dari mahasiswa Design Grafis ITB.<br />
“Semangat merubah budaya penggunaan kantong plastik perlu dilakukan dari  individu masing-masing. Upaya ini sangat positif untuk menghentikan  bencana lingkungan akibat kantong plastik di masa depan” kata Rektor ITB  Prof. Dr. Joko Santoso di sela-sela acara kampanye itu. Menurut Joko,  sudah selayaknya kawula muda lebih peduli dan ramah kepada lingkungan,  karena generasi muda akan menentukan penyelamatan lingkungan di masa  mendatang.<br />
Jadi ingat, jangan membakar sampah plastik karena jika sampah itu di  bakar racun yang ada dalam sampah tersebut akan membuat polusi di udara  termasuk pada udara yang kita hirup yang dapat membuat kita sakit.  Jangan mengubur sampah plastik karena racun yang ada di dalam sampah  akan meresap atau merembes kedalam tanah dan membuat air yang ada dalam  tanah akan tercemar begitu juga lingkungan di sekitarnya. Jangan  membuang sampah plastik, karena racun yang ada dalam sampah dapat  mencemari lingkungan di sekitar kita, makhluk hidup dan lingkungan kita  akan mengalami kerusakan dan racun akan terus bertambah dimana-mana.</p>
<p>http://clubbing.kapanlagi.com/showthread.php?t=17579</p>
<p>3R+R<br />
- <em>Replace</em>, dengan mengganti/menggunakan barang yang bisa dipakai kembali. Misalnya, dari kantong keresek, beralih ke paperbag<br />
- <em>Reduce</em>, dengan mengurangi pemakaian barang yang dapat menjadi sampah anorganik. Misalnya, kalo agan beli sampo, sekalian aja yang kemasan gede, jangan yang sachet-an, itumah sama aja bikin sampah makin menggunung<br />
- <em>Reuse</em>, sama nih gan kaya replace. Intinya dia lebih ke cara, make lagi sampah-sampah yang masih layak pake.<br />
- <em>Recycle</em>, yang ini pasti agan udah tau. Mendaur ulang sampah untuk dipakai kembali. Sayangnya, ini agak ribet gan. Soalnya, masyarakat kita gak biasa misahin sampah basah sama sampah kering</p>
<p>http://koranbaru.com/cara-menangani-limbah-untuk-indonesia-kita/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=220&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/08/11/plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PROJECT POOP-BOHONG</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/08/05/project-poop-bohong/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/08/05/project-poop-bohong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 09:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Home &#62; P &#62; Project POP &#62; Project Pop – Bohong Project Pop – Bohong Dec 12th, 2009 by evacantika. Dm     G    Em   Am dengarlah sayangku Dm     G      Em         Am janganlah kau bersedih lagi Dm       G aku bisa mengerti mengapa E           Am             Dm kau memilih tuk tinggalkanku G dan pergi dengannya Dm   G    Em   Am [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=229&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --></p>
<div id="wp_page_numbers">
<p><ins><ins></ins></ins></p>
</div>
<div><!-- Breadcrumb NavXT 3.5.1 --> <a title="Go to Home." href="http://www.liriklagu.info/">Home</a> &gt; <a title="Go to the P category archives." href="http://www.liriklagu.info/p">P</a> &gt; <a title="Go to the  Project POP category archives." href="http://www.liriklagu.info/p/project-pop">Project POP</a> &gt;  Project Pop – Bohong</div>
<h1>Project Pop – Bohong</h1>
<div><abbr title="2009-12-12T08:53:08+0000">Dec 12th, 2009</abbr></p>
<address>by <a href="http://www.liriklagu.info/p/project-pop/project-pop-bohong.html">evacantika</a>. </address>
</div>
<p><!-- Begin: KlikSaya.com --> <!-- End: KlikSaya.com -->Dm     G    Em   Am<br />
dengarlah sayangku<br />
Dm     G      Em         Am<br />
janganlah kau bersedih lagi<br />
Dm       G<br />
aku bisa mengerti mengapa<br />
E           Am             Dm<br />
kau memilih tuk tinggalkanku<br />
G<br />
dan pergi dengannya</p>
<p>Dm   G    Em   Am<br />
jujurmu padaku<br />
Dm     G    Em    Am<br />
sudah cukup bukti bagiku<br />
Dm           G<br />
kini ku bisa cari pacar<br />
E            Am          Dm<br />
yang sudah antri menungguku<br />
G<br />
sedari dulu</p>
<p>[chorus]<br />
D        Bm<br />
sesungguhnya hatiku<br />
Em      A<br />
ingin menahanmu<br />
F#          Bm<br />
kamu jangan pergi<br />
Em          A<br />
kamu jangan pergi<br />
D        Bm         Em     A<br />
sesungguhnya jiwaku bisa gila<br />
F#       Bm<br />
jika hidup tanpamu<br />
Em         A         D<br />
aku terlalu mencintaimu</p>
<p>[spoke] Am G F Em Dm G</p>
<p>Dm   G     Em    Am<br />
pergilah sayangku<br />
Dm    G     Em        Am<br />
janganlah menoleh padaku<br />
Dm       G<br />
aku hanya menangis bahagia<br />
E              Am       Dm     G   A<br />
ku tak mau kau melihat air mataku huu</p>
<p>[chorus]<br />
D        Bm<br />
sesungguhnya hatiku<br />
Em      A<br />
ingin menahanmu<br />
F#          Bm<br />
kamu jangan pergi<br />
Em          A<br />
kamu jangan pergi<br />
D        Bm         Em     A<br />
sesungguhnya jiwaku bisa gila<br />
F#       Bm<br />
jika hidup tanpamu<br />
Em         A<br />
aku terlalu mencintaimu</p>
<p>G<br />
tidakkah kau sadari<br />
F#m<br />
dari hari ke hari<br />
Bm<br />
ku memujamu, memanjakanmu<br />
Am<br />
dengan sepenuh hati<br />
G<br />
tetapi yang terjadi<br />
F#m                A<br />
hancurlah mimpi-mimpi<br />
ku dapati dirimu tlah pergi</p>
<p>[int] E C#m A B 2x</p>
<p>[chorus]<br />
E        C#m<br />
sesungguhnya hatiku<br />
F#m      B<br />
ingin menahanmu<br />
G#          C#m<br />
kamu jangan pergi<br />
F#m         B<br />
kamu jangan pergi<br />
E        C#m        F#m    B<br />
sesungguhnya jiwaku bisa gila<br />
G#       C#m<br />
jika hidup tanpamu<br />
F#m        B          C#m B<br />
aku terlalu mencintaimu<br />
F#m        B          C#m B<br />
aku terlalu mencintaimu<br />
F#m        B         E<br />
aku terlalu mencintaimu</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=229&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/08/05/project-poop-bohong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>fhoto bareng di Grand Hotel pada perlombaan OSN</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/07/07/fhoto-bareng-di-grand-hotel-pada-perlombaan-osn/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/07/07/fhoto-bareng-di-grand-hotel-pada-perlombaan-osn/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 07:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[sumber:facebook.com<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=215&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tagging_instructions">
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="center">
<div>
<div id="tagging_instructions">
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="center">
<div id="tagging_instructions">
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="center">
<div id="tagging_instructions">
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="center">
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="center"></td>
<td valign="middle"><label></label></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div id="photoborder">
<div id="photo_container"><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?op=1&amp;view=global&amp;subj=100000576438528&amp;pid=271037&amp;id=100000253965452"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs581.snc3/30639_128696190482179_100000253965452_271026_7259872_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</td>
<td valign="middle"><label></label></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="photoborder">
<div id="photo_container"><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?op=1&amp;view=global&amp;subj=100000576438528&amp;pid=271037&amp;id=100000253965452"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs561.snc3/30639_128696217148843_100000253965452_271028_2537445_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</td>
<td valign="middle"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="photoborder">
<div id="photo_container"><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?op=1&amp;view=global&amp;subj=100000576438528&amp;pid=271037&amp;id=100000253965452"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs581.snc3/30639_128696210482177_100000253965452_271027_110394_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</td>
<td valign="middle"><label></label></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="photoborder">
<div id="photo_container"><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?op=1&amp;view=global&amp;subj=100000576438528&amp;pid=271037&amp;id=100000253965452"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs561.snc3/30639_128699247148540_100000253965452_271034_6047522_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</div>
<div id="tagging_instructions">
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="center"></td>
<td valign="middle"><label></label></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="photoborder">
<div id="photo_container"><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?op=1&amp;view=global&amp;subj=100000576438528&amp;pid=271037&amp;id=100000253965452"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs521.ash1/30639_128699257148539_100000253965452_271035_6029547_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</td>
<td valign="middle"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="photoborder">
<div id="photo_container"><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?op=1&amp;view=global&amp;subj=100000576438528&amp;pid=271037&amp;id=100000253965452"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs521.ash1/30639_128699263815205_100000253965452_271036_5976766_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div id="tagging_instructions">
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="center">
<div id="tagging_instructions">
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="100%" align="center"></td>
<td valign="middle"><label></label></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="photoborder">
<div id="photo_container"><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?op=1&amp;view=global&amp;subj=100000576438528&amp;pid=271037&amp;id=100000253965452"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs561.snc3/30639_128699267148538_100000253965452_271037_3655499_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
</td>
<td valign="middle"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="photoborder">
<div id="photo_container"><a id="myphotolink" href="http://www.facebook.com/photo.php?op=1&amp;view=global&amp;subj=100000576438528&amp;pid=271037&amp;id=100000253965452"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs521.ash1/30639_128699270481871_100000253965452_271038_4821701_n.jpg" alt="" width="640" height="480" /></a></div>
<div></div>
<div>sumber:facebook.com</div>
<div></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/215/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/215/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/215/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=215&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/07/07/fhoto-bareng-di-grand-hotel-pada-perlombaan-osn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs581.snc3/30639_128696190482179_100000253965452_271026_7259872_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs561.snc3/30639_128696217148843_100000253965452_271028_2537445_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs581.snc3/30639_128696210482177_100000253965452_271027_110394_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs561.snc3/30639_128699247148540_100000253965452_271034_6047522_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs521.ash1/30639_128699257148539_100000253965452_271035_6029547_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs521.ash1/30639_128699263815205_100000253965452_271036_5976766_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs561.snc3/30639_128699267148538_100000253965452_271037_3655499_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs521.ash1/30639_128699270481871_100000253965452_271038_4821701_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>KOLOID</title>
		<link>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/05/20/koloid/</link>
		<comments>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/05/20/koloid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 08:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sartikahinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sartikahinata.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Koloid Kata Kunci: koloid, Sistem Dispersi Ditulis oleh Ratna dkk pada 19-04-2009 Pada bab sebelumnya, kita sudah belajar tentang larutan, campuran yang homogen antara dua macam zat atau lebih. Pada bab ini, kita akan mempelajari koloid. Sistem koloid sebenarnya terdiri atas dua fase, yaitu fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat yang didispersikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=210&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Koloid</h1>
<p><strong>Kata Kunci:</strong> <a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/koloid/">koloid</a>, <a href="http://www.chem-is-try.org/kata_kunci/sistem-dispersi/">Sistem Dispersi</a></p>
<p>Ditulis oleh <a title="Posts by Ratna dkk" href="http://www.chem-is-try.org/author/ratnadkk/">Ratna dkk</a> pada 19-04-2009</p>
<p>Pada bab sebelumnya, kita sudah belajar tentang larutan, campuran yang homogen antara dua macam zat atau lebih. Pada bab ini, kita akan mempelajari koloid. Sistem koloid sebenarnya terdiri atas dua fase, yaitu fase terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi sedangkan sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium pendispersi.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari kita sering bersinggungan dengan sistem koloid sehingga sangat penting untuk dikaji. Sebagai contoh, hampir semua bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid, seperti protein, karbohidrat, dan lemak. Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. Dalam bidang farmasi, kebanyakan produknya juga berupa koloid, misalnya krim, dan salep yang termasuk emulsi.</p>
<p>Dalam industri cat, semen, dan industri karet untuk membuat ban semuanya melibatkan sistem koloid. Semua bentuk seperti spray untuk serangga, cat, hair spray, dan sebagainya adalah juga koloid. Dalam bidang pertanian, tanah juga dapat digolongkan sebagai koloid. Jadi sistem koloid sangat berguna bagi kehidupan manusia.</p>
<p>Contoh larutan, koloid, dan suspensi</p>
<h4>Sistem Dispersi</h4>
<p>Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi dijelaskan dalam Tabel 6.1</p>
<p>Tabel Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi</p>
<p><a href="http://www.chem-is-try.org/">http://www.chem-is-try.org</a></p>
<p><strong> kegunaan sisem koloid</strong><strong> </strong></p>
<p>Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi dalam skala besar.</p>
<p>Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid:</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="295" valign="top">Jenis   industri</td>
<td width="295" valign="top">Contoh   aplikasi</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">Industri   makanan</td>
<td width="295" valign="top">Keju,   mentega, susu, saus salad</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">Industri   kosmetika dan perawatan tubuh</td>
<td width="295" valign="top">Krim,   pasta gigi, sabun</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">Industri   cat</td>
<td width="295" valign="top">Cat</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">Industri   kebutuhan rumah tangga</td>
<td width="295" valign="top">Sabun,   deterjen</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">Industri   pertanian</td>
<td width="295" valign="top">Peptisida   dan insektisida</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">Industri   farmasi</td>
<td width="295" valign="top">Minyak   ikan, pensilin untuk suntikan</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid:</p>
<p>1.       Pemutihan Gula</p>
<p>Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna putih.</p>
<p>2.       Penggumpalan Darah</p>
<p>Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al<sup>3+</sup> dan Fe<sup>3+. </sup>Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah dilakukan.</p>
<p>3.         Penjernihan Air</p>
<p>Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-partikel koloid tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara menambahkan tawas (Al<sub>2</sub>SO<sub>4</sub>)<sub>3</sub>.Ion Al<sup>3+</sup> yang terdapat pada tawas tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)<sup>3</sup> yang bermuatan positif melalui reaksi:</p>
<p>Al<sup>3+ </sup> +   3H<sub>2</sub>O     à    Al(OH)<sub>3 </sub> +      3H<sup>+</sup></p>
<p>Setelah itu, Al(OH)<sub>3</sub> menghilangkan muatan-muatan negatif dari partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur. Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga mengendap karena pengaruh gravitasi. Berikut ini adalah skema proses penjernihan air secara lengkap:</p>
<p><a href="http://sistemkoloid.tripod.com/">http://sistemkoloid.tripod.com</a></p>
<p>﻿</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sartikahinata.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sartikahinata.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sartikahinata.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sartikahinata.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sartikahinata.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sartikahinata.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sartikahinata.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sartikahinata.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sartikahinata.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sartikahinata.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sartikahinata.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sartikahinata.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sartikahinata.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sartikahinata.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sartikahinata.wordpress.com&amp;blog=8763864&amp;post=210&amp;subd=sartikahinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sartikahinata.wordpress.com/2010/05/20/koloid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66def00109b9433f96b225356c4a1cfe?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sartikahinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
