RSS

strategi pembelajaran PAI tingkat SMP

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Strategi dan sumber mengajar bagian yang sangat penting dalam pengembangan kurikulum agar apa yang direncanakan dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dengnan adanya perencanaan yang cermat mengenai strategi dan sumber mengajar lebih terjamin bahwa kurikulum dapat diwujudkan dan apa yang diajarkan dikuasai dan dimiliki siswa. Dalam kenyataan justru inilah yang paling diabaikan dan kurang ditangani secara serius. Ibaratnya suatu alat seperti senjata, computer, mesin harus ditangani menurut prosedur tertentu agar tercapai efisiensi dan efektivitas maksimal dan bila pemakainnya salah, maka akan dialami kerugian.
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas kuliah juga agar mahasiswa mengetahui bagaimana strategi mengajar untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud denga strategi mengajar?
2. Bagaimana praktek penggunaan metode mengajar?
3. Strategi yang seperti apa yang digunakan untuk pembelajaran anak tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Strategi Mengajar
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Strategi mengajar adalah tindakan guru melaksanakan rencana mengajar. Artinya, usaha guru dalam menggunakan beberapa variable pengajaran agar dapat mempengaruhi para siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian, strategi mengajar pada dasarnya adalah tindakan nyata dari guru atau praktek guru melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu, yang dinilai lebih efektif dan lebih efisien. Dengan perkataan lain strategi mengajar adalah politik atau taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan/praktek mengajar di kelas. Politik atau taktik tersebut hendaknya menceermikan langkah-langkah secara sistemik dan sistematik. Sistemik mengandung pengertian bahwa setiap komponen belajar mengajar saling berkaitan satu sama lain sehingga terorganisasikan secara terpadu dalam mencapai tujuan. Sedangkan sistematik mengandung pengertian bahwa langkah-langkah yang dilakukan guru pada waktu mengajar berurutan secara rapi dan logis sehingga mendukung tercapainya tujuan.
Strategi mengajar bertambah kompleks bergantung pada:
1. Tinggi tingkat tujuan kognitif, afektif, dan keterampilan yang ingin dicapai.
2. Banyak dan cermatnya persiapan yang harus diadakan.
3. Tingkat kemampuan berpikir yang diperlukan.
4. Kompleksitas manajemen kelas yang harus dijalankan.
5. Sulitnya hasil belajar dinilai.

B. Praktek Penggunaan Metode Mengajar
Proses belajar mengajar yang baik hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode mengajar secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain. Masing-masing metode ada kelemahan serta keuntungannya. Tugas guru ialah memilih berbagai metode yang tepat untuk menciptakan proses belajar mengajar. Ketepatan penggunaan metode mengajar tersebut sanngat bergantung kepada tujuan, isi proses belajar-mengajar dan kegiatan belajar mengajar.
Dalam prakteknya, metode mengajar tidak digunakan sendiri-sendiri tetapi merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar.
1. Ceramah, tanya jawab, dan tugas
Mengingat ceramah banyak segi yang kurang menguntungkan, maka penggunaanya harus didukung dengan alat dan media atau dengan metode lain. Oleh sebab itu setelah guru selesai memberikan ceramahmaka dipandang dipandang perlu untuk memberikan kesempatan kepada muridnya untuk mengadakan tanya jawab. Tanya jawab ini diperlukan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap apa yang telah disampaikan guru melalui metode ceramah.
Untuk lebih memantapkan penguasaaan siswa terhadap bahan/materi yang telah disampaikan, maka pada tahap selanjutnya siswa diberi tugas, misalnya membuat kesimpulan/generalisasi hasil ceramah, mengerjakan pekerjaan rumah, dan lain-lain. Tabel berikut adalah kegiatan yang mungkin dapat dilaksanakan dari ketiga jenis metode tersebut di atas.
No. Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.
2.

3. Persiapan
Pelaksanaan

Evaluasi 1. Menciptakan kondisi belajar siswa.
2. Penyajian, tahap guru menyampaikan bahan/materi pelajajaran (metode ceramah)
3. Asosiasi/komparasi, artinya memberi ke-sempatan kepada siswa untuk meng-hubungkan dan membandingkan materi ceramah yang telah diterimanya, melalui tanya jawab (metode tanya jawab)
4. Generalisasi/kesimpulan, memberikan tu-gas kepada siswa untuk membuat ke-simpulan melalui hsasil ceramah (metode tugas).
5. Mengadakan penilaian terhadap pemaham-an siswa mengenai bahan yang telah diterimanya, melalui tes lisan dan tulisan atau tugas lain.

2. Ceramah, diskusi, dan tugas
Penggunaan ketiga jenis metode mengajar ini dapat dilakukan diawali dengan pemberian informasi kepada siswa tentang materi/bahan yang didiskusikan oleh siswa lalu memberikan masalah untuk didiskusikan, kemudian diikuti dengan tugas-tugas yang harrus dilakukan siswa.
Ceramah dimaksudkan untuk memberikan penjelasan/informasi mengenai bahan yang akan dibahas dalam diskusi, sehingga diskusi dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Pada akhir kegiatan diskusi siswa diberikan beberapa tugas yang harus dikerjakan saat itu juga. Maksudnya untuk mengetahui hasil yang dicapai siswa melalui diskusi tersebut. Dengan demmikian, tugas ini sekaligus merupakan umpan balik bagi guru terhadap hasil diskusi yang dilakukan siswa. Jenis kegiatan yang mungkin dapat dilakukan adalah seperti terlihat pada tabel berikut.
No. Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.

2.

3. Persiapan

Pelaksanaan

Evaluasi/tindak lanjut 1. Mempersiapkan kondisi belajar siswa
2. Memberikan informasi/penjelasan tentang masalah tugas dalam diskusi (ceramah).
3. Mempersiapkan sarana prasarana untuk melakukan diskusi (tempat, peserta, dan waktu).
4. Siswa melakukan diskusi:
– Guru merangsang seluruh peserta ber-partisipasi dalam diskusi.
– Memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk aktif.
– Mencatat tanggapan/saran dan ide-ide yang penting.
5. Memberikan tugas kepada siswa untuk:
– Membuat kesimpulan diskusi.
– Mencatat hasil diskusi.
– Menilai hasil diskusi.
– Dan sebagainya.

3. Ceramah, demonstrasi, dan eksperimen
Penggunaan metode demonstrasi selalu diikuti dengan eksperimen. Apapun yang didemonstrasikan baik oleh guru maupun oleh siswa tanpa diikuti dengan eksperimen tidak akan mencapai hasil yang efektif.
Dalam pelaksanaannya, metode demonstrasi dan eksperimen dapat digabungkan, artiya setelah dilakukan demonstrasi kemudian diikuti dengan eksperimen dengan disertai penjelasan secara lisan (ceramah). Kegiatan yang mungkin dilakukan adalah seperti yang tercantum pada tabel berikut.
No. Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.

2.

3. Persiapan

Pelaksanaan

Evaluasi/tindak lanjut 1. Menciptakan kondisi belajar siswa untuk melaksanakan demonstrasi dengan:
– Menyediakan alat-alat demonstrasi.
– Tempat duduk siswa.
2. Mengajukan masalah kepada siswa (cera-mah). Melaksanakan demonstrasi:
– Menjelaskan dan mendemonstrasikan sesuatu prosedur atau proses.
– Usahakan seluruh murid dapat meng-ikuti/mengamati demonstrasi dengan baik.
– Beri penjelasan yang padat tapi singkat.
– Hentikan demonstrasi kemudian adakan tanya jawab.
3. Beri kesempatan kepada siswa untuk men-coba melakukan sendiri (eksperimen).
4. Membuat kesimpulan hasil demonstrasi.
5. Mengajukan pertanyaan pada siswa.

4. Ceramah, sosiodrama, dan diskusi
Sebelum metode sosiodrama digunakan, terlebih dahulu harus diawali dengan penjelasan dari guru tentang situasi social yang akan didramatisasikan oleh para pelaku. Tanpa diberikan penjelasan tersebut, anak tidak akan dapat melakukan peranannya dengan baik. Sosiodrama akan menarik bila pada situasi yang sedang memuncak, kemudia dihentikan. Selanjutnya diadakan diskusi bagaimana jalan cerita seterusnya, atau pemecahan masalah selanjutnya. Langkah-langkah yang mungkin dilakukan dalam menggunakan ketiga metode ini adalah seperti tercantum pada tabel berikut.
No. Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.

2.

3. Persiapan

Pelaksanaan

Evaluasi 1. Menentukan dan menceritakan situasi so-sial yang akan didramatisasikan (ceramah).
2. Memilih para pelaku.
3. Mempersiapkan pelaku untuk menentukan peranan masing-masing.
4. Siswa melakukan sosiodrama.
5. Guru menghentikan sosiodrama pada saat situasi sedang memuncak (tegang).
6. Akhiri sosiodrama dengan diskusi tentang jalan cerita, atau pemecahan masalah se-lanjutnya.
7. Siswa diberi tugas untuk menilai/memberi tanggapan terhadap pelaksanaan sosio-drama.
8. Siswa diberi kesempatan untuk membuat kesimpulan hasil sosiodrama.

5. Ceramah, problem solving, dan tugas
Pada saat guru memberikan pelajaran kepada siswa, adakalanya timbul suatu persoalan/masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan hanya penjelasan secara lisan melalui ceramah. Untuk itu guru perlu menggunakan metode pemecahan masalah atau problem solving sebagai jalan keluarnya. Kemudian akhiri dengan tugas-tugas, baik individu maupun tugas kelompok sehingga siswa melakukan tukar pikiran dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Adapun langkah-langkah yang mungkin dilakukan dalam menggunakan ketiga metode ini adalah seperti tercantum pada tabel berikut.
No. Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.

2.

3. Persiapan

Pelaksanaan

Evaluasi 1. Menentukan dan menjelaskan masalah (ce-ramah)
2. Menyediakan alat/buku-buku yang relevan dengan masalah tersebut.
3. Mengadakan identifikasi masalah.
4. Merumuskan hipotesis dalam memecahkan masalah tersebut.
5. Mengumpulkan data atau keterangan yang relevan dengan masalah.
6. Menguji hipotesis (siswa berusaha me-mecahkan masalah yang dihadapinya de-ngan data yang ada).
7. Membuat kesimpulan pemecahan masalah.
8. Memberi tugas kepada siswa untuk men-catat hasil pemecahan masalah.

6. Ceramah, demonstrasi dan latihan
Metode latihan umumnya digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan atau keterampilan dari bahan yang dipelajarinya. Oleh sebab itu metode ceramah dapat digunakan sebelum maupun sesudah latihan dilakukan. Tujuan dari ceramah untuk member penjelasan pada siswa mengenai bentuk keterampilan tertentu yang hendak dilakukannya.
Sedangkan demonstrasi disini dimaksudkan untuk memperagakan atau mempertunjukkan suatu keterampilan yang akan dipelajari siswa. Langkah serta jenis kegiatan yang dapat dilakukan adalah seperti tercantum pada tabel berikut.
No. Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1.

2.

3. Persiapan

Pelaksanaan

Evaluasi 1. Menyediakan paeralatan yang diperlukan.
2. Menciptakan kondisi anak untuk belajar.
3. Memberikan pengertian/penjelasan sebe-lum latihan dimulai (ceramah).
4. Demonstrasikan proses/prosedur tersebut oleh guru dan siswa mengamatinya.
5. Siswa diberi kesempatan mengadakan la-tihan.
6. Siswa membuat kesimpulan dari latihan yang ia lakukan.
7. Guru bertanya kepada siswa.

C. Model Pembelajaran yang digunakan Untuk anak Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Pada tingkatan SMP yakni rata-rata usia 12-15 tahun, ini masuk dalam golongan Pra-Remaja. Dalam fase ini ditandai dengan semakin meningkatnya sikap sosial pada anak. Gejala yang dominan pada masa ini adalah kecenderungan untuk bersaing yang berlangsung antara teman sebaya dan lingkungan jenis kelamin yang sama. Pada periode ini ada kesempatan yang sangat baik untuk membantu anak, disamping menguasai ilmu dan teknologi yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Juga menumbuhkan sikap tanggung jawab dan menghargai nilai-nilai, terutama yang bersumber dari agama Islam.
Untuk tingkat SMP cara penyampaiannya diperluas yaitu dengan mengemukakan alsan-alasan/dalil-dalil baik naqli maupun aqli, sehingga anak didik yang telah meningkat remaja itu dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikirannya. Dan selanjutnya dapat memahami alasan-alasan tersebut dan menjadikan sebuah keyakinan. (http://banjirembun.blogspot.com/2012/07/model-pembelajaran-pai-di-sd-smp-dan.html, 19 Desember 2012)
Dari sekian banyaknya model-model pembelajaran, secara umum ada tiga model pembelajaran yang dapat digunakan untuk karakteristik anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), yaitu:
1. Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction )
Pengetahuan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu: pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural. Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan tentang sesuatu konsep. Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana seseorang melakukan sesuatu. Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan procedural maupun pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari langkah demi langkah. Metode yang digunakan dalam model pembelajaran ini yang lebih dominan adalah metode Tanya Jawab, metode Ceramah, dan lain-lain. Model ini harus dikemas melibatkan terjadinya interaksi multi arah. Model pembelajaran langsung mempunyai fase-fase penting diantaranya:
Fase pendahuluan, pada fase ini guru menyampaikan kompetensi apa yang harus dicapai siswa setelah proses pembelajaran,memotivasi belajar, mengingatkan materi prasyarat. Fase Presentasi materi, guru dengan menggunakan metode ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan Tanya Jawab). Kemudian fase terakhir guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih, menyimpulkan hasil belajar dan memberikan umpan balik terhadap keberhasilan siswa. Fase tersebut dapat disajikan pada tabel berikut :
Fase Peran guru
Pendahuluan Menyampaikan kompetensi yang harus dikuasai siswa,memotivasi, mengingatkan materi sebelumnya, dan mem-persiapkan siswa.
Presentase materi Mendemonstrasikan ketrampilan atau menyajikan informasi tahap demi tahap dengan metode ceramah dan resitasi.
Membimbing pelatihan Memberikan latihan terbimbing.
Memberikan umpan baik Mengecek kemampuan siswa dan memberikan umpan balik.
kesimpulan Merangkum dengan Tanya Jawab dan memberikan tugas.

2. Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja dalam suatu tim untuk menyelesaikan masalah, menyelesaikan tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama. Model kooperatif merupakan model pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk mencapai kompetensinya dengan menekankan kerjasama antar siswa. Dengan demikian, metode mengajar yang digunakan guru adalah diskusi kelompok. Adapun ciri-ciri model pembelajaran kooperatif antara lain :
a. Untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan, siswa belajar dalam kelompok.
b. Kelompok dibentuk dari siswa dengan memperhatikan kemampuan, gender, ras, budaya dan suku.
c. Penghargaan diutamakan pada kerja kelompok daripada perorangan.
Pembelajaran kooperatif mempunyai tujuan penting, yaitu :
1) Hasil Belajar Akademik Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan proses konstruksi siswa terhadap pengetahuan yang dipelajarinya.
2) Penerimaan terhadap keberagaman Menumbuhkembangkan interaksi sosial bagi siswa. Siswa akan lebih mudah menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam perbedaan latar belakang.
3) Pengembangan ketrampilan sosialMengembangkan saling percaya dengan berbagi tugas dalam kelompok, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mempresentasikan dan lain-lain.
Langkah dan kegiatan guru dalam Model Pembelajaraan Kooperatif.
Fase Indicator Kegiatan guru
1. Apersepsi Guru menyampaikan kompetensi yang harus ditunjukkan siswa, memotivasi siswa, meng-ingatkan materi prasyarat.
2. Menyajikan informasi Guru menyampaikan informasi secukupnya, be-rupa cara kerja, atau cara menyelesaikan tugas.
3. Membentuk kelompok Guru memberikan arahan cara membentuk ke-lompok.
4. Membimbing kelompok kerja Guru memberikan bimbingan kepada kelompok yang memerlukan.
5. Evaluasi Guru melakukan kesimpulan akhir, evaluasi proses maupun hasil belajar.
6. Memberikan penghargaan Guru memberikan penghargaan kepada setiap kelompok maupun individual.

3. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah ( Problem Based Instruction )
Model Problem Based Instruction adalah suatu metode yang diajarkan dengan melihat fakta yang berkembang atau berdasarkan masalah yang ada kemudian akan dilakukan diskusi dan pemecahan masalah tersebut. Model Pembelajaran berdasarkan pada masalah tertentu, bertujuan untuk:
a. Membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan memecahkan masalah.
b. Belajar menjadi peranan sebagai orang dewasa.
c. Belajar Mandiri.

Pelaksanaan model pembelajaran berdasarkan masalah sebagai berikut :
1. Penetapan TujuanGuru mendeskripsikan tujuan model pembelajaran masalah.
2. Merancang situasi masalahGuru merumuskan masalah yang akan dipelajari/ diselidiki siswa. Masalah tersebut harus otentik, dan bermakna bagi siswa. (http://id.scribd.com/doc/26566827/Identitas-Dan-Karakteristik-Siswa-Smp-Serta-Metode-Pembelajarannya, 19 Desember 2012)

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Pada tingkatan SMP yakni rata-rata usia 12-15 tahun, ini masuk dalam golongan Pra-Remaja. Dalam fase ini ditandai dengan semakin meningkatnya sikap sosial pada anak. Gejala yang dominan pada masa ini adalah kecenderungan untuk bersaing yang berlangsung antara teman sebaya dan lingkungan jenis kelamin yang sama. Pada periode ini ada kesempatan yang sangat baik untuk membantu anak, disamping menguasai ilmu dan teknologi yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Juga menumbuhkan sikap tanggung jawab dan menghargai nilai-nilai, terutama yang bersumber dari agama Islam.
Untuk tingkat SMP cara penyampaiannya diperluas yaitu dengan mengemukakan alsan-alasan/dalil-dalil baik naqli maupun aqli, sehingga anak didik yang telah meningkat remaja itu dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam pikirannya. Dan selanjutnya dapat memahami alasan-alasan tersebut dan menjadikan sebuah keyakinan.

B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amin.
DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Cet III. Jakarta: Rineka Cipta.
Nasution. 2006. Kurikulum dan Pengajaran. Cet IV. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2004. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Cet VII. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
http://id.scribd.com/doc/26566827/Identitas-Dan-Karakteristik-Siswa-Smp-Serta-Metode-Pembelajarannya
http://banjirembun.blogspot.com/2012/07/model-pembelajaran-pai-di-sd-smp-dan.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 17, 2013 in metode dan strategi pembelajaran

 

strategi pembelajaran PAI tingkat SMA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kiranya tidak asing lagi apabila mendengar guru-guru Agama yang menyatakan keluhan-keluhan tentang pengajaran materi pendidikan agama, khususnya di sekolah-sekolah umum. Hal ini disebabkan karena adanya faktor ketakutan dari siswa itu sendiri yang menganggap materi pendidikan agama adalah materi yang paling menyulitkan untuk dipelajari. Ketika seorang guru memberikan materi pendidikan agama saat itu juga siswa merasa kurang berminat, kurang termotivasi untuk mempelajari atau untuk menerimanya. Akibatnya, dapat mengurangi keefektifan proses belajar mengajar.
Faktor lain adalah karena basic (dasar) dari siswa. Mayoritas siswa yang belajar di sekolah-sekolah umum memiliki dasar yang minim sekali tentang pendidikan agama. Atau mereka bisa dikatakan orientasinya kepada pendidikan agama kurang. Akibatnya, ketika siswa dihadapkan pada materi agama khususnya baca Al-Qur’an, siswa akan mengalami kesulitan pada proses belajarnya.
B. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui strategi yang bagaimana yang cocok untuk Pendidikan Agama Islam tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).
C. Rumusan Masalah
1. Metode apa yang dapat diterapkan untuk Pendidikan Agama Islam tingkat SMA?
2. Apa saja jenis bahan pengajaran Pendidikan Agama Islam?
3. Bagaimana penggunaan metode driil untuk anak SMA?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Strategi Belajar Mengajar
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai saasarn yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagi pola-pola umum kegatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang tujuan yang telah digariskan.
Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal berikut:
1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
2. Memilih sistem pendekatan belajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknikbelajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakuan evaluasi hasil kegiatan hasil kegiatan belajar mengajar yng selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.

B. Macam-macam Metode Mengajar
Macam-macam jumlah metode mengajar mulai yang paling tradisonal sampai yang paling modern, sesungguhnya banyak dan hampir tidak dapat dihitung dengan jari-jari tangan.
Berikut ini beberapa metode yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, diantaranya:
1. Metode Ceramah
Metode ceramah ialah sebuah metode mengajar dengan menyampiakan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Dalam hal ini biasanya guru memberikan uraian mengenai topik tertentu di tempat tertentu dan dengan alokasi tertentu pula.
Dalam pengajaran yang menggunakan metode ceramah, perhatian terpusat pada guru sedangkan para siswa hanya menerima secara pasif, mirip anak balita yang sedang disuapi. Dalam hal ini, timbul kesan siswa hanya sebagai objek yang selalu menganggap benar apa-apa yang disampaikan guru. Padahal, posisi siswa selain sebagai penerima pelajaran, ia juga menjadi subjek pengajaran dalam arti individu yang berhak untuk aktif mencari dan memperoleh sendiri pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.
Metode ini hanya cocok digunakan untuk menyampaikan informasi, kalau bahan itu cukup diingat sebentar, untuk memberi pengantar dan untuk menyampiakn materi yang berkenaan dengan pengertian-pengertian atau konsep-konsep.
2. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang untuk berpikir dan membimbing peserta didik dalam mencapai kebenaran.
3. Metode Diskusi
Salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya. Tujuan penggunaan metode diskusi ialah untuk memotivasi dan memberi stimulasi kepada siswa agar berpikir dengan renungan yang dalam.
4. Metode Demonstrasi
Demonstrasi dalam hubungannya denganopenyajian informasi dapat diartikan sebagai upaya peragaan tentang suatu cara melakukan sesuatu. Metode demonstrasi ini adalah metode mangajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun pen penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahsan yang sedang disajikan.
Tujuan pokok penggunaan metode ini dalam proses pembelajaran adalah untuk memperjelas pengertian konsep dan memperlihatkan cara melakukan sesuatu atau proses terjadinya sesuatu.
5. Metode Karyawisata
Metode karyawisata adalah metode dalam proses belajar mengajar siswa perlu diajak keluar sekolah, untuk meninjau tempat tertentu atau objek yang mengandung sejarah, hal ini bukan rekreasi, tetapi untuuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat langsung ataau kenyataan.
Beragam manfaat atau faedah yang dapat dipetik dari kegiatan karyawisata, di antaranya: menyegarkan tubuh, menambah kesehatan, melatih anak-anak agar kuat, mampu menahan lapar dan dahaga, para pembimbing atau pendidik menganjurkan agar memperhatikan tingkah laku anak-anak dan sikap mereka dalam menghadapi berbagai hal yang beragam dan berbeda.
6. Metode Pemahaman dan Penalaran
Metode ini dilakukan dengan membangkitkan akal dan kemempuan berpikir anak didik secara logis. Metode ini adalah metode mendidik dengan membimbing anak didik untuk dapat memahami problema yang dihadapi dengan menemukan jalan keluar yang benar dari berbagai macam kesulitan dengan melatih anak didik menggunakan pikirannya dalam mendata dan menginventarisasi masalah, dengan cara memilah-milah , membuang mana yang salah, meluruskan yang bengkok, dan mengambil yang benar.
7. Metode Praktek
Dimaksudkan supaya mendidik dengan memberikan materi pendidikan baik menggunakan alat atau benda, seperti diperagakan, dengan harapan anak didik menjadi jelas dan mudah sekaligus dapat mempraktekkan materi yang dimaksud.
8. Metode Kerja Sama
Metode kerja sama ialah upaya saling membantu antara dua orang atau lebih, antara individu dengan kelompok lainnya dalam melaksanakan tugas atau menyelesaikan problema yang dihadapi dan menggarap berbagai program yang bersifat prospektif, guna mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan bersama.
9. Metode Tulisan
Metode mendidik dengan huruf atau simbol apapun, ini merupakan suatu hal yang sangat penting dan merupakan jembatan untk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
10. Metode Penugasan
Metode penugasan tidak sama dengan istilah pekerjaan rumah, tapi jauh lebih luas. Tugas dilaksanakan dirumah, di sekolah, di perpustakaan, dan tempat lainnya. Metode penugasan untuk merangsang anak aktif belajar baik secara individual atau kelompok. Oleh karena itu, tugas dapat dikerjakan secara individual maupun secara komunal (kelompok).
C. Macam-macam Pengajaran PAI
Bahan pelajaran agama tidak diragukan lagi mengandung nilai-nilai bagi pembentukan pribadi muslim tetapi kalau diberikan dengan cara yang kurang wajar misalnya anak disuruh menghafal secara mekanis apa yang disampaikan oleh guru atau yang terdapat di dalam buku-buku pelajaran, tidak mustahil akan timbul pada diri anak, murid merasa tidak senang dengan guru agamanya. Oleh karena itu, diperlukan metode yang tepat untuk setiap jenis bahan memerlukan jenis belajar sendiri. Pada umumnya dikenal jenis bahan dan jenis belajar yang sesuai dengannya.
1. Bahan yang memerlukan pengamatan. Pengetahuan yang dimiliki oleh anak pada umumnya diperoleh melalui pengamatan/alat indera. Contoh pengetahuan tentang shalat dan pelaksanaannya. Dengan mendengar uraian guru murid dapat mengetahui belai indera pendengar, dan begitu juga dengan membaca maka indera penglihatan yang berfungsi dari contoh di atas maka metode yang cocok adalah metode ceramah metode resitasi atau metode proyek (dalam hal ini proyek tentang shalat)
2. Bahan yang memerlukan keterampilan atau gerakan tertentu. Untuk mengusai bahan sejenis ini seseorang terutama harus belajar secara motoris (motor type of learning) contoh bahan pelajaran tentang jenazah (mengkafani jenazah) untuk mengusai keterampilan itu guru harus memberi kesempatan kepada murid melakukan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan gerakan-gerakan atau keterampilan mengukur, menggunting, membungkus serta keterampilan membaca doa atau bacaan yang berhubungan dengan jenazah. Dari contoh di atas maka metode yang relevan adalah metode demonstrasi dan drill.
3. Bahan yang mengandung materi hafalan. Bahan pelajaran agama yang seperti ini termasuk cukup banyak dan segera harus diketahui dan dihafalkan karena akan digunakan dalam beribadah dan beramal untuk mempelajari bahan hafalan ini diperlukan jenis belajar menghafal (memory type of learning). Belajar dengan menghafal sering menimbulkan penyakit verbalisme yaitu anak tahu cara penyebutan kata-kata, definisi dan sebagainya, tetapi tidak dipahami. Untuk menghindari anak dari penyakit tersebut perlu diperhatikan prinsip-prinsip berikut : Bahan yang akan diajarkan hendaknya diusahakan agar dipahami benar-benar oleh anak. Dan Bahan hafalan hendaknya merupakan suatu kebulatan jadi untuk materi hafalan metode yang relevan adalah metode resitasi dan tanya jawab.
4. Bahan yang mengandung unsur emosi. Bahan yang mengandung emosi seperti kejujuran, keberanian, kesabaran, kegembiraan, kasih sayang dan sebagainya. Bahan seperti ini memerlukan jenis belajar tersendiri yang disebut emosional type of learning, dibandingkan dengan jenis belajar yang lain, jenis belajar emosi ini belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena jenis belajar ini kurang dipahami dan pelaksanaannya tidak mudah.
D. Penggunaan Metode Driil dalam Pembelajaran Tingkat SMA
Metode drill adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari. Dengan demikian terbentuklah pengetahuan-siap atau ketrampilan-siap yang setiap saat siap untuk di pergunakan oleh yang bersangkutan.
Bentuk- bentuk Metode Drill dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk teknik, yaitu sebagai berikut:
• Teknik Inquiry (kerja kelompok). Teknik ini dilakukan dengan cara mengajar sekelompok anak didik untuk bekerja sama dan memecahakan masalah dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan.
• Teknik Discovery (penemuan). Dilakukan dengan melibatkan anak didik dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, diskusi.
• Teknik Micro Teaching. Digunakan untuk mempersiapkan diri anak didik sebagai calon guru untuk menghadapi pekerjaan mengajar di depan kelas dengan memperoleh nilai tambah atau pengetahuan, kecakapan dan sikap sebagai guru.
• Teknik Modul Belajar. Digunakan dengan cara mengajar anak didik melalui paket belajar berdasarkan performan (kompetensi).
• Teknik Belajar Mandiri. Dilakukan dengan cara menyuruh anak didik agar belajar sendiri, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Beberapa metode yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, diantaranya:

a. Metode Ceramah
b. Metode Tanya Jawab
c. Metode Diskusi
d. Metode Demonstrasi
e. Metode Karyawisata
f. Metode Pemahaman Dan Penalaran
g. Metode Praktek
h. Metode Kerja Sama
i. Metode Tulisan
j. Metode Penugasan

Macam-macam pengajaran Pendidikan Agama Islam:
a. Bahan yang memerlukan pengamatan.
b. Bahan yang memerlukan keterampilan atau gerakan tertentu.
c. Bahan yang mengandung materi hafalan.
d. Bahan yang mengandung unsur emosi.
Metode drill adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, agar siswa memiliki ketangkasan atau ketrampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.
B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Cet III. Jakarta: Rineka Cipta.
Fathurrohman, Pupuh dan Sobry Sutikno.2011. Strategi Belajar Mengajar Melalui Penamaan Konsep Umum dan Konsep Islami. Cet V. Bandung: Revika Aditama.
http://jawaposting.blogspot.com/2010/12/metode-pembelajaran-pendidikan-agama.html
http://www.sarjanaku.com/2011/09/ptk-pai-sma-kelas-xi-pendidikan-agama.html

 

MUTLAQ & MUQAYYAD, MANTUQ & MAFHUM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Qur’an kaya akan makna. Dalam menafsirkan Al-Qur’an, kita harus dapat mengetahui kaedah-kaedahnya. Apalagi untuk menetapkan suautu hukum. Dalam ilmu ushul fiqh, pemaknaan lafal Al-Qur’an yang digunakan untuk menentukan suatu hukum ada empat, yaitu mutlaq, muqayyad, mantuq, dan mafhum.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makaqlah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu ushul fiqh, juga agar mahasiswa mampu mengetahui pemaknaan lafal ayat Al-Qur’an yang akan dijadikan hujjah suatu hukum dari mutlaq, muqayyad, mantuq, dan mafhum, serta mengetahui bentuk dan pembagian mutlaq, muqayyad, mantuq, dan mafhum.
C. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan mutlaq, muqayyad, mantuq, dan mafhum?
2. Bagaimana bentuk mutlaq dan muqayyad?
3. Apa saja jenis-jenis mamntuq dan mafhum?

BAB II
PEMBAHASAN
MUTLAQ & MUQAYYAD, MANTUQ & MAFHUM

A. Mutlaq dan Muqayyad
1. Pengertian Mutlaq
Kata mutlaq secara bahasa, berarti tidak terkait dengan ikatan atau syarat tertentu. Secara istilah, lafal mutlaq didefinisikan ahli ushul fiqh sebagai lafal yang memberi petunjuk terhadap maudhu’-nya (sasaran penggunaan lafal) tanpa memandang kepada satu, banyak atau sifatnya, tetapi memberi petunjuk kepada hakikat sesuatu menurut apa adanya. Sedangkan Abdul Karim Zaidan mendefinisikan lafal mutlak sebagai lafal yang menunjukkan suatu satuan dalam jenisnya. Dengan kata lain, lafal mutlak adalah lafal yang menunjukkan untuk suatu satuan tanpa dijelaskan secara tertentu. Misalnya, rajulun (seorang laki-laki), rijalun, (banyak laki-laki), kitabun (buku).
Contoh lafal mutlaq dalam nash dapat diamati dari lafal raqabah yang terdapat dalam firman Allah surat al-Mujadalah, 58:3:

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekan seseorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercambur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat ini menjelaskan tentang kaffarat zihar bagi suami yang menyerupakan isterinya dengan ibunya dengan memerdekannya budak. Ini dipahami dari ungkapan ayat “maka merdekakanlah seorang budak” Mengingat lafal raqabah (budak) merupakan lafal mutlaq, maka perintah untuk membebaskan budak sebagai kaffarat zihar tersebut meliputi pembebasan seorang budak yang mencakup segala jenis budak, baik yang mukmin atau yang kafir. Pemahaman ini didukung pula pemakaian kata raqabah pada ayat di atas merupakan bentuk nakirah dalam konteks positif.
2. Pengertian Muqayyad
Secara bahasa, kata muqayyad berarti terikat. Sementara secara istilah, muqayyad adalah lafal yang menunjukkan suatu satuan dalam jenisnya yang dikaitkan dengan sifat tertentu. Misalnya, ungkapan rajulun Iraki (seorang laki-laki asal Irak), hamba sahaya yang beriman.
Contoh: firman Allah surat al-Nisa’, 4:92:
ﻣﻦﻗﺘﻞﻣﺆﻣﻨﺎﻓﺘﺤﺮﻳﺮﺭﻗﺒﺔﻣﺆﻣﻨﺔ
Barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.
Kata raqabah dalam ayat ini memakai qayyid dalam bentuk sifat, yaitu, mu’minah (beriman). Jadi, ayat ini memerintahkan kepada orang yang membunuh seorang mukmin secara tidak sengaja untuk memerdekan hamba sahaya yang beriman dan tidak sah memerdekan hamba yang tidak beriman.
Dari penjelasan sebelumnya diketahui bahwa perbedaan antara mutlaq dengan muqayyad, bahwa mutlaq menunjuk kepada hakikat sesuatu tanpa ada suatu keterangan yang mengikatnya dan tanpa memperhatikan satuan serta jumlah. Misalnya, lafal raqabah yang terdepat dalam surat al-Mujadalah, 58:3 di atas adalah bentuk mutlaq karena tidak diikuti sifat apapun. Jadi, ayat ini memerintahkan memerdekakan budak dalam bentuk apapun, baik mukmin atau bukan mukmin. Sementara muqayyad menunjuk kepada hakikat sesuatu, tetapi mempertimbangkan beberapa hal, yaitu jumlah (kuantitas), sifat atau keadaan, seperti pada contoh di atas.
3. Bentuk-bentuk Mutlaq dan Muqayyad
Kaidah lafazh mutlaq dan Muqayyad dapat dibagi dalam lima bentuk:
a. Suatu lafazh dipakai dengan mutlaq pada sauatu nash, sedangkan pada nash lain digunakan dengan muqayyad; keadaan ithlaq dan taqyid-nya bergantung pada sebab hukum.
b. Lafazh mutlaq dan muqayyad berlaku sama pada hukum dan sebabnya.
c. Lafazh mutlaq dan muqayyad yang berlaku pada nash itu berbeda, baik dalam hukumnya ataupun sebab hukumnya.
d. Mutlaq muqayyad berbeda dalam hukumnya, sedangkan sebab hukumnya salam.
e. Mutlaq dan muqayyad sama dalam hukumnya, tetapi berbeda dalam sebabnya.
4. Hukum Lafadh Mutlaq dan Muqayyad
Pada prinsipnya para ulama sepakat bahwa hukum lafazh mutlaq itu wajib diamlkan kemutlakannya, selama tidak ada dalik yang membatasi kemutlakannya. Begitu juga hukum lafazh muqayyad itu berlaku pada kemuqayyadannya. Yang menjadi persoalan di sini adalah mutlaq dan muqayyad yang terbentuk pada lima bentuk tersebut, ada yang disepakati dan ada yang diperselisihkan. Yang disepakati ialah:
a. Hukum dan sebabnya sama, di sini para ulama sepakat bahwa wajibnya membaawa lafazh mutlaq kepada muqayyad.
b. Hukum dan sebabnya berbeda. Dalam hal ini, para ulama sepakat wajibnya memberlakukan masing-masing lafazh, yakni mutlaq tetap pada kemutlakannya dan muqayyad tetap pada kemuqayyadannya.
c. Hukumnya berbeda sedangkan sebabnya sama. Pada bentuk ini, para ulama sepakat pula bahwa tidak boleh membawa lafazh mutlaq kepada muqayyad, masing-masing tetap berlaku pada kemutlakannya dan kemuqayyadannya.
5. Hal-hal yang Diperselisihkan dalam Mutlaq dan Muqayyad
a. Kemutlaqan dan kemuqayyadan terdapat pada sebab hukum. Namun, masalah (maudu’) dan hukumnya sama. Menurut Jumhur Ulama dari kalangan Syafi’iyah, Malikiyah, dan Hanafiyah, dalam masalah ini wajib membawa mutlaq kepada muqayyad.
b. Mutlaq dan muqayyad terdapat pada nash yang sama hukumnya, namun sebabnya berbeda. Masalah ini juga diperselisihkan. Menurut Ulama Hanafiyah tidak boleh membawa mutlaq pada muqayyad, melainkan masing-masingnya berlaku sesuai dengan sifatnya.
Alasan Masing-masing Golongan
a. Alasan Hanafiyah
Merupakan suatu prisip bahwa kita melaksanakan adalah lafazh atas semua hukum yang dibawa saja, sesuai dengan sifatnya, sehingga lafazh muthlaq tetap pada kemuthlaqannya dan lafazh muqayyad tetap pada kemuqayyadannya. Tiap-tiap nash merupakan hujjah yang berdiri sendiri. Pembatasan terhadap keluasan makna yang terkandung pada mutlaq tanpa dalil dari lafazh itu sendiri berarti mempersempit yang bukan dari perintah syara’. Berdasarkan pada ini, lafazh muthlaq tidak bisa dibawa pada muqayyad, kecuali apabila terjadi saling menafikan antara dua hukum, yakni sekiranya mengamalkan salah satunya membawa pada tanaqud (saling bertentangan). (Al-Bazdawy, 1307, II:290)

b. Alasan Jumhur
Al-Qur’an itu merupakan kesatuan hukum yang utuh dan antara satu ayat dengan ayat lainnya berkaitan, sehingga apabila ada suatu kata dalam Al-Qur’an yang menjelaskan hukum berarti hukum itu sama pada setiap tempat yang terdapat kata itu. (Asy-Syafi’i). Alasan kedua, muqayyad itu harus menjadi dasar untuk menafikan dan menjelaskan maksud lafazh mutlaq. Sebab mutlaq itu kedudukannya bisa dikatakan sebagai orang dian, yang tidak menyebut qayyi. Di sini ia tidak menunjukkan adanya qayyid, dan tidak pula menolaknya, sedangkan muqayyid sebagai orang yang berbicara, yang menjelaskan adanya taqyid. Di sini tampak jelas adanya kewajiban memakai qayyid ketika adanya dan menolaknya apabila tidak adanya. Sehingga kedudukannya sebagai penafsir. Oleh sebab itu, ia lebih baik dijadikan sebagai dasar untuk menjelaskan maksud mutlaq. (Al-Amidi, 1968, II : 112).(rachmat Syafi’I,2007.212)
B. Mantuq dan Mafhum
1. Pengertian Mantuq dan Mafhum
Mantuq adalah lafal yang hukumnya memuat apa yang diucapkan (makna tersurat), sedang mafhum adalah lafal yang hukumnya terkandung dalam arti dibalik manthuq (makna tersirat). Menurut kitab mabadiulawwaliyah, mantuq adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh suatu lafadz dalam tempat pengucapan, sedangkan mafhum adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh suatu lafadz tidak dalam tempat pengucapan.
Jadi mantuq adalah pengertian yang ditunjukkan oleh lafadz di tempat pembicaraan dan mafhum ialah pengertian yang ditunjukkan oleh suatu lafadz tidak dalam tempat pembicaraan, tetapi dari pemahaman terdapat ucapan tersebut. Seperti firman Allah SWT
…ﻓﻼﺗﻘﻞﻟﻬﻤﺎﺍﻑﻭﻻﺗﻨﻬﺮﻫﻤﺎ…

Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” (Q.S Al-Isra’ ayat 23)
Dalam ayat tersebut terdapat pengertian mantuq dan mafhum, pengertian mantuq yaitu ucapan lafadz itu sendiri (yang nyata = uffin) jangan kamu katakan perkataan yang keji kepada kedua orang tuamu. Sedangkan mafhum yang tidak disebutkan yaitu memukul dan menyiksanya (juga dilarang) karena lafadz-lafadz yang mengandung kepada arti, diambil dari segi pembicaraan yang nyata dinamakan mantuq dan tidak nyata disebut mafhum.
2. Pembagian Mantuq
Pada dasarnya mantuq ini terbagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Nash, yaitu suatu perkataan yang jelas dan tidak mungkin di ta’wilkan lag.
2. Zahir, yatiu suatu perkataan yang menunjukkan sesuatu makna, bukan yang dimaksud dan menghendakinya kepada penta’wilan. Seperti firman Allah SWT
ﻭﺍﻟﺴﻤﺎﺀﺑﻨﻴﻨﻬﺎﺑﺎﻳﺪﻭﺍﻧﺎﻟﻤﻮﺳﻌﻮﻥ
”dan langit yang kami bangun dengan tangan” (Q.S. Adz-zariyat: 47)
Kalimat tangan ini diartikan dengan kekuasaan karena mustahil Allah mempunyai tangan seperti manusia.
3. Pembagian Mafhum
Mafhum dibedakan menjadi dua bagian, yakni:
1) Mafhum Muwafaqah, yaitu apabila hukum yang dipahamkan sama dengan hukum yang ditunjukkan oleh bunyi lafadz. Mafhum muwafaqah ini dibagi menjadi dua bagian:
a) Fahwal Khitab
Yaitu apabila yang dipahamkan lebih utama hukumnya daripada yang diucapkan. Seperti memukul orang tua tidak boleh hukumnya, firman Allah SWT yang artinya: jangan kamu katakan kata-kata yang keji kepada kedua orangtua. Kata-kata yang keji saja tidak boleh apalagi memukulnya.
b) Lahnal Khitab
Yaitu apabila yang tidak diucapkan sama hukumnya dengan diucapkan. Seperti memakan (membakar) harta anak yatim tidak boleh berdasarkan firman Allah SWT:
ﺍﻥﺍﻟﺬﻳﻦﻳﺎﻛﻠﻮﻥﺍﻣﻮﺍﻝﺍﻟﺘﻤﯽﻅﻠﻤﺎﺍﻧﻤﺎﻳﺎﻛﻠﻮﻥﻓﯽﺑﻂﻮﻧﻬﻢﻧﺎﺭﺍ
Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya.
(Q.S An-Nisa ayat 10)
Membakar atau setiap cara yang menghabiskan harta anak yatim sama hukumnya dengan memakan harta anak tersebut ang berarti dilarang (haram)
2) Mafhum Mukhalafah, yaitu pengertian yang dipahami berbeda daripada ucapan, baik dalam istinbat (menetapkan) maupun Nafi (meniadakkan). Oleh sebab hal itu yang diucapkan. Seperti firman Allah SWT:
apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli
Dari ayat ini dipahami bahwa boleh jual beli dihari Jum’at sebelum azan dikumandangkan dan sesudah mengerjakan shalat Jum’at. Dalil Khitab ini dinamakan juga mafhum mukhalafah.
Macam-macam mafhum mukhalafah
a. Mafhum Shifat
Yaitu menghubungkan hukum sesuatu kepada syah satu sifatnya. Seperti firman Allah SWT.
ﻭﺧﻠﺌﻞﺍﺑﻨﺎﺋﻜﻢﺍﻟﺬﻳﻦﻣﻦﺍﺻﻠﺒﻜﻢ……
…(dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu)…(QS.An-Nisa’(4):23)
b. Mafhum ’illat
Yaitu menghubungkan hukum sesuatu menurut ’illatnya. Mengharamkan minuman keras karena memabukkan.
c. Mafhum ’adad
Yaitu memperhubungkan hukum sesuatu kepada bilangan tertentu. Firman Allah SWT:
ﻓﺎﺟﻠﺪﻭﻫﻢﺛﻤﻨﻴﻦﺟﻠﺪﺓ……
…Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, (Q.S. An-Nur ayat 4)
d. Mafhum ghayah
Yaitu lafaz yang menunjukkan hukum sampai kepada ghayah (batasan, hinggaan), hingga lafaz ghayah ini adakalnya ”ilaa” dan dengan ”hakta”. Seperti firman Allah SWT.
…ﺍﺫﺍﻗﻤﺘﻢﺍﻟﯽﺍﻟﺼﻠﻮﺓﻓﺎﻏﺴﻠﻮﺍﻭﺟﻮﻫﻜﻢﻭﺍﻳﺪﻳﻜﻢﺍﻟﯽﻟﻤﺮﺍﻓﻖ
ﻭﺍﻣﺴﺤﻮﺍﺑﺮﺀﻭﺳﻜﻢﻭﺍﺭﺟﻠﻜﻢﺍﻟﯽﻛﻌﺑﻴﻦ…
apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku.
(Q.S Al-Maidah ayat 6)
Firman Allah SWT
dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci (Q.S. Al-Baqarah ayat 222)
e. Mafhum Laqaab
Yaitu petunjuk yang diberikan oleh karena digantungkan hukum dengan sesuatu isim jamid kepada meniadakan hukum tersebut dari selainnya. Atau menetapkan hukum sebaliknya dari hukum yang ditetapkan pada isim ‘alam atau isim jenis dalam suatu nash.contoh:
ﻓﯽﺍﻟﺒﺮﺻﺪﻗﺔ Pada gandum dikenakan zakat.
Dengan mafhum laqab maka ditetapkan hukum zakat tidak dikenakan kepada selain gandum. Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah sepakat tidak memakai mafhum laqab, yakni tidak menggantungkan hukum kepada isim itu saja.
4. Mafhum Mukhalafah dijadikan Hujjah
Ulama Hanafiyah tidak memandang mafhum mukhalafah sebagai salah satu metode penafsiran nash-nash syara’. Tegasnya menurut mereka, mafhum mukhalafah itu bukan suatu metode untuk penetapan hukum. Alasannya :
1. Sesungguhnya banyak nash syara’ yang apabila diambil mafhum mukhalafah akan rusak pengertiannya, antara lain seperti ayat mengatakan bahwa berbuat zalim diharamkan hanya pada empat bulan tersebut saja, sedangkan diluar itu tidak haram. Padahal berbuat zalim itu diharamkan pada tiap saat.
2. Sifat- sifat yang terdapat pada nash syara’, dalam banyak hal bukan untuk pembatasan hukum, melainkan untuk targib dan tarhib. Misalnya ayat yang mengatakan Sifat anak tiri, adalah anak tiri yang ada dalam pemeliharaan. Apabila diambil mafhum mukhalafah-nya, hal itu berarti mengawini anak tiri yang diluar pemeliharaan adalah halal. Padahal syara’ tetap mengharamkan.
3. Seandainya mafhum mukhalafahnya itu dapat dijadikan hujjah syara’ maka suatu nash yang telah menyebut suatu sifat tidak perlu lagi disebut nash yang menerangkan hukum kebalikan hukum dari sifat tersebut. Pada kenyataannya penyebutan seperti itu banyak ditemukan.
Menurut jumhur ushuliyyin, mafhum mukhalafah dapat dijadikan sebagai hujjah syara’. Alasannya antara lain :
1. Berdasarkan logika, setiap syarat atau sifat tidak mungkin dicantumkan tanpa tujuan dan sebab. Sebabnya itu tidak lain adalah untuk qayyid (pembatasan) hukum selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa dicantumkannya suatu sifat itu untuk tarqib, tarhib, dan tanfir.
2. Sikap Rasulullah yang tidak menyalahkan Umar Ibnu Khathab dalam memahami mafhum mukhalafah dari ayat 101 An-Nisa’ Namun, Rasulullah menjelaskan bahwa qasar shalat dalam perjalanan diperbolehkan sekalipun dalam keadaan aman.
Dengan syarat :
1. Mafhum mukhalafah-nya itu tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat, seperti Mantuq atau mafhum muwafaqah. Contoh yang berlawanan dengan dalil mantuq:
“Jangan kamu bunuh anak-anakmu karena takut kemiskin¬an”
(Q. S Isra’ ayat 31).
Mafhumnya, kalau bukan karena takut kemiskinan di¬bunuh, tetapi mafhum mukhalafah ini berlawanan dengan dalil manthuq, ialah:
“Jangan kamu membunuh manusia yang dilarang Allah kecuali dengan kebenaran (Q.S Isra’ ayat 33)”
Contoh yang berlawanan dengan mafhum muwafaqah:
“Janganlah engkau mengeluarkan kata yang kasar kepada orang tua, dan jangan pula engkau hardik (Q.S Isra’ ayat 23).
Yang disebutkan, hanya kata-kata yang kasar mafhum mukhalafahnya boleh memukuli. Tetapi mafhum ini berla¬wanan dengan mafhum muwafaqahnya, yaitu tidak boleh memukuli.
2. Yang disebutkan (manthuq) bukan suatu hal yang biasanya terjadi.
Contoh:
“Dan anak tirimu yang ada dalam pemeliharaanmu” (Q.S An-Nisa’ ayat 23).
Dan perkataan “yang ada dalam pemeliharaanmu” tidak boleh dipahamkan bahwa yang tidak ada dalam peme¬liharaanmu boleh dikawini. Perkataan itu disebutkan, se¬bab memang biasanya anak tiri dipelihara ayah tiri karena mengikuti ibunya.
3. Tidak ada dalil khusus yang membatalkan mafhum mukhalafah itu, seperti ayat:
Laki-laki tidak wajib diqisas apabila ia membunuh wanita, dibatalkan dengan ayat 45 surat Al-Ma’idah.
4. Yang disebutkan (manthuq) bukan dimaksudkan untuk menguatkan sesuatu keadaan.
Contoh:
“Orang Islam ialah orang yang tidak mengganggu orang-¬orang Islam lainnya, baik dengan tangan ataupun dengan lisannya (Hadits)”.
Dengan perkataan “orang-orang Islam (Muslimin) tidak dipahamkan bahwa orang-orang yang bukan Islam boleh diganggu. Sebab dengan perkataan tersebut dimaksudkan, alangkah pentingnya hidup rukun dan damai di antara orang-orang Islam sendiri.

BAB III
KESIMPULAN
Lafal mutlaq didefinisikan ahli ushul fiqh sebagai lafal yang memberi petunjuk terhadap maudhu’-nya (sasaran penggunaan lafal) tanpa memandang kepada satu, banyak atau sifatnya, tetapi memberi petunjuk kepada hakikat sesuatu menurut apa adanya.
muqayyad adalah lafal yang menunjukkan suatu satuan dalam jenisnya yang dikaitkan dengan sifat tertentu.
Mantuq adalah lafal yang hukumnya memuat apa yang diucapkan (makna tersurat), sedang mafhum adalah lafal yang hukumnya terkandung dalam arti dibalik manthuq (makna tersirat).
mantuq ini terbagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Nash
2. Zahir
Pembagian Mafhum:
1. Mafhum muwafaqah
2. Mafhum mukhalafah


DAFTAR PUSTAKA

Jumantono Totok, Munir Amin Samsul.2005.Kamus Ilmu Ushul Fiqh.Amzah.
Syafe’i Rahmat.2007.Ilmu Ushul Fiqh.Bandung: Pustaka Setia.
Yunus Mahmud.2002.Tafsir Quran Karim.Jakarta: Hidakarya Agung.
http://suherilbs.wordpress.com/fiqih/ushul-fiqih/
http://ridwan202.wordpress.com/2008/08/14/mantuq-dan-mafhum-dalam-ilmu-ushul-fiqh/
http://ridwan202.wordpress.com/2008/08/14/mantuq-dan-mafhum-dalam-ilmu-ushul-fiqh/
http://muhdar-ahmad.blogspot.com/2011/12/mutlaq-dan-muqayyad.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 17, 2013 in ushul fiqh

 

Ijtihad pada Masa Imam Mazhab dan Sesudahnya

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ijtihad mengalami masa perkembangan yang paling pesat pada abad kedua sampai dengan abad keempat Hijriah. Masa itu dikenal dengan periode pembukuan sunah serta fiqih dan munculnya mujtahid-mujtahid terkemuka yang kemudian dikenal sebagai imam-imam mazhab, yaitu Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali).
Ijtihad pasca imam mazhab, secara langsung melàlui tangan para murid yang telah berhasil menyusun hasil Ijtihadnya dalam bentuk kitab fiqh sebagai panduan beramal. Ijtihad merupakan kunci untuk menyelesaikan problem yang dihadapi oleh umat Islam sekarang dan yang akan datang, ia merupakan sumber ketiga ajaran Islam setelah Al-,Quran dan Hadis, inilah yang membuat Islam dinamis, sesuai dengan tempat dan zaman (shalihun likulli zaman wa makan).
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini ialah agar mahasiswa mengetahui bagaimana perkembangan ijtihad pada masa imam mazhab dan sesudahnya serta kebangkitan kembali daya ijtihad.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan ijtihad pada masa imam Mazhab?
2. Bagaimana perkembangan ijtihad pada masa sesudah imam mazhab?
3. Apakah pintu ijtihad masih dibuka?

BAB II
PEMBAHASAN
Ijtihad pada Masa Imam Mazhab dan Sesudahnya

A. Sekilas Pandang Tentang Ijtihad dan Mujtahid
Secara etimologis, ijtihad berakar pada kata : “ja ha da” yang berarti: kesulitan atau “kesusahan” Kata ijtihad berasal dari kata “aljuhdu” (dengan dhammah atau fathah huruf jiim berarti kemauan dan kesulitan “masyaqqah”; kata ini sepola dengan naf’ah. Misalnya ungkapan “wajtahid fil amri” yang berarti mencurahkan kemampuan dan daya mencapai sesuatu guna mencapai apa yang diinginkan yang berupa tujuan akhir.
Para ushuliyyun (pakar ushul fiqh) dan fuqaha dalam mendefinisikan ijtihad berkata, “Ijtihad adalah mencurahkan segenap upaya untuk mendapatkan hukum syari’at dari sumber aslinya.”.
Adapun Pembagian mujtahid yaitu sebagai berikut.
a. Mujtahid Muthlaq, yaitu orang yang mampu menggali atau mengambil hokum-hokum cabang dari dalil-dalilnya, dan mampu pula menerapkan metode dan dasar-dasar pokok yang ia susun sebagai landasan ijtihajnya.Mujtahid ini terbagi menjadi dua ya’ni mujtahid mutlaq mustaqil dan mujtahid mutlaq muntasib.
b. Mujtahid Mazhab, Mujtahid ini juga terbagi menjadi dua macam, ya’ni mujtahid takhrij dan mujtahid tarjih.
B. Ijtihad Pada Masa Imam Mazhab
Ijtihad mengalami masa perkembangan yang paling pesat pada abad kedua sampai dengan abad keempat Hijriah. Masa itu dikenal dengan periode pembukuan sunah serta fikih dan munculnya mujtahid-mujtahid terkemuka yang kemudian dikenal sebagai imam-imam mazhab, yaitu Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali).
1. Imam abu hanifah (Imam Hanafi)
Nama lengkapnya ialah Nu’man bin Tsabit bin Zautha. Diahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H = 699 M. Beliau wafat pada tahun 150 H bertepatan dengan lahirnya Imam Syafi’i R.A. Beliau lebih dikenal dengan sebutan : Abu Hanifah An Nu’man. Imam Abu Hanifah adalah pemikir dibidang fiqh yang kemudian hasil-hasil pemikirannya disebut dengan Mazhab Hanafi. Oleh karena itu ia disebut sebagai pendiri Mazhab Hanafi. Ia dikenal sebagai imam Ahlurra’yi serta faqih dari Irak yang banyak dikunjungi oleh berbagai ulama di zamannya.
Imam Hanafi atau Imam Abu Hanifah dikenal banyak menggunakan ra’yu, qiyas, dan istihsan. Dalam memperoleh suatu hukum yang tidak ada dalam nash, kadang-kadang ulama mazhab ini meninggalkan qaidah qiyas dan menggunakan qaidah istihsan. Alasannya, qaidah umum (qiyas) tidak bisa diterapkan dalam menghadapi kasus tertentu. Mereka dapat mendahulukan qiyas apabila suatu hadits mereka nilai sebagai hadits ahad.
Yang menjadi pedoman Ijtihad dalam menetapkan hukum Islam (fiqh) di kalangan Mazhab Hanafi adalah Al-Qur’an, sunnah Nabi SAW, fatwa sahabat, qiyas, istihsan, ijma’i. Sumber asli dan utama yang digunakan adalah Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW, sedangkan yang lainnya merupakan dalil dan metode dalam meng-istinbat-kan hukum Islam dari kedua sumber tersebut.
2. Imam Maliki (Malik Ibn Anas)
Nama lengkap dari pendiri mazhab ini ialah : Malik bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 M = 712 M di Madinah. Imam Malik dikenal sebagai pelopor tebentuknya Mazhab Maliki. Mazhab Maliki adalah merupakan kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Malik dan para penerusnya di masasesudah beliau meninggal dunia. Ia dikenal luas oleh ulama sezamannya sebagai seorang ahli hadits dan fiqh terkemuka serta tokoh Ahlulhadits.
Pemikiran fiqh dan usul fiqh Imam Malik dapat dilihat dalam kitabnya al-Muwaththa’ yang disusunnya atas permintaan Khalifah Harun ar-Rasyid dan baru selesai di zaman Khalifah al-Ma’mun. Kitab ini sebenarnya merupakan kitab hadits, tetapi karena disusun dengan sistematika fiqh dan uraian di dalamnya juga mengandung pemikiran fiqh Imam Malik dan metode istinbat-nya, maka buku ini juga disebut oleh ulama hadits dan fiqh belakangan sebagai kitab fiqh. Berkat buku ini, Mazhab Maliki dapat lestari di tangan murid-muridnya sampai sekarang.
Dasar Ijtihad Imam Malik adalah Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, Ijma’, Tradisi penduduk Madinah (statusnya sama dengan sunnah menurut mereka), Qiyas, Fatwa Sahabat, al-Maslahah al-Mursalah, ‘Urf; Istihsan, Istishab, Sadd az-Zari’ah, dan Syar’u Man Qablana. Pernyataan ini dapat dijumpai dalam kitab al-Furuq yang disusun oleh Imam al-Qarafi (tokoh fiqh Mazhab Maliki). Imam asy-Syatibi menyederhanakan dasar fiqh Mazhab Maliki tersebut dalam empat hal, yaitu Al-Qur’ an, sunnah Nabi SAW, ijma’, dan rasio. Alasannya adalah karena menurut Imam Malik, fatwa sahabat dan tradisi penduduk Madinah di zamannya adalah bagian dari sunnah Nabi SAW. Yang termasuk rasio adalah al-Maslahah al-Mursalah, Sadd az-Zari’ah, Istihsan, ‘Urf; dan Istishab. Menurut para ahli usul fiqh, qiyas jarang sekali digunakan Mazhab Maliki. Bahkan mereka lebih mendahulukan tradisi penduduk Madinah daripada qiyas.
3. Imam syafi’i
Nama lengkapnya ialah Muhammad bin Idris Asy Syafi’I, seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib. Beliau lahir di Guzah tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Mazhab yang pertama. Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekah. Imam Syafi’i sanggup hafal Al Qur-an pada usia sembilan tahun. Setelah beliau hafal Al Qur-an barulah mempelajari bahasa dan syi’ir ; kemudian beliau mempelajari hadits dan fiqh.
Prinsip dasar Mazhab Syafi’i dapat dilihat dalam kitab usul fiqh ar-Risalah. Dalam buku ini asy-Syafi’i menjelaskan kerangka dan prinsip mazhabnya serta beberapa contoh merumuskan hukum far’iyyah (yang bersifat cabang). Dalam berijtihad menetapkan hukum Islam, Imam asy-Syafi’i pertama sekali mencari alasannya dari Al-Qur’an. Jika tidak ditemukan maka ia merujuk kepada sunnah Rasulullah SAW. Apabila dalam kedua sumber hukum Islam itu tidak ditemukan jawabannya, ia melakukan penelitian terhadap ijma’ sahabat. Ijma’ yang diterima Imam asy-Syafi’i sebagai landasan hukum hanya ijma’ para sahabat, bukan ijma’ seperti yang dirumuskan ulama usul fiqh, yaitu kesepakatan seluruh mujtahid pada masa tertentu terhadap suatu hukum, karena menurutnya ijma’ seperti ini tidak mungkin terjadi. Apabila dalam ijma’ tidak juga ditemukan hukumnya, maka ia menggunakan qiyas, yang dalam ar-Risalah disebutnya sebagai ijtihad. Akan tetapi, pemakaian qiyas bagi Imam asy-Syafi ‘i tidak seluas yang digunakan Imam Abu Hanifah, sehingga ia menolak istihsan sebagai salah satu cara meng-istinbat-kan hukum syara’.
4. Imam Hanbali
Beliau adalah pendiri Mazhab Hanbali. Nama lengkapnya ialah Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani. Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H. Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain : Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrsh. Dan beliau dapat menghimpun sejumlah 40.000 hadis dalam kitab Musnadnya. Ia terkenal sebagai ulama fiqh dan hadits terkemuka di zamannya dan pernah belajar fiqh Ahlurra’yi kepada Imam Abu Yusuf dan Imam asy-Syafi’i.
Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziah, prinsip dasar Mazhab Hanbali adalah sebagai berikut:
a) An-Nusus (jamak dari nash), yaitu Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, dan Ijma’;
b) Fatwa Sahabat;
c) Jika terdapat perbedaan pendapat para sahabat dalam menentukan hukum yang dibahas, maka akan dipilih pendapat yang lebih dekat dengan Al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW;
d) Hadits mursal atau hadits daif yang didukung oleh qiyas dan tidak bertentangan dengan ijma’; dan
e) Apabila dalam keempat dalil di atas tidak dijumpai, akan digunakan qiyas. Penggunaan qiyas bagi Imam Ahmad bin Hanbal hanya dalam keadaan yang amat terpaksa. Prinsip dasar Mazhab Hanbali ini dapat dilihat dalam kitab hadits Musnad Ahmad ibn Hanbal. Kemudian dalam perkembangan Mazhab Hanbali pada generasi berikutnya, mazhab ini juga menerima istihsan, sadd az-Zari’ah, ‘urf; istishab, dan al-maslahah al-mursalah sebagai dalil dalam menetapkan hukum Islam.
Metode istinbath Imam Ahmad bin Hanbal lebih banyak menyandarkan pada hadits dan atsar dari pada menggunakan ra’yu (ijtihad). Beliau lebih menyukai berhujjah dengan hadis dhaif untuk masalah furu’iyah daripada menggunakan Qiyas.
C. Ijtihad Pasca Imam Mazhab
Masa pasca masa Imam Mazhab ini terbagi menjadi 2 ya’ni; masa taklid dan konsolidasi mazhab atau pada fase disintegrasi dan masa periode masa stagnasi dan kemunduran tasyri’dan kebangkitan(periode pasca runtuhnya baghdad) hingga masa sekarang atau modern.
1. Masa taklid dan konsolidasi mazhab atau pada fase disintegrasi (IV-VII H)
1) Masa Taklid.
Semangat dan kemerdekaan ijtihad yang marak mewarnai aktifitas tasyri’ di berbagai periode sebelumnya, seolah-olah lenyap dan diganti dengan semangat dan jiwa baru yang justru menjadi titik awal kemunduran tasyri’, ya’ni taklid. Kalaupun ditemukan, adanya hanya praktek ijtihad yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tasyri’ generasi ini, namun yang ada hanyalah mujtahid muqoyyad atau mazhab. Mujtahid ini terbagi menjadi dua bagian, yakni Mujtahid Takhrij (Mujtahid Asbab al- Wurud), dan Mujtahid Tarjih (Mujtahid Fatwa).
a.Tradisi taklid .
Yang dimaksud dengan taklid disini adalah totalitas penerimaan rumusan hokum syari’at Islam dari seorang imam tertentu, dan anggapan bahwa ketetapan itu muthlak harus di ikuti oleh muqollid, seolah-olah ada dalil nash yang mewajibkan hal itu.
Dalam mendeskripsikan kondisi tasyri’ di periode ini, al-Hajwi berkata,”tradisi taklid telah menguasai para ‘ulama’. Mereka cukup puas dengan hanya bertaklid. Dan kondisi ini terus berkembang, sebaliknya ijtihad kian hari semakin menghilang. Puncaknya terjadi pada pertengaahan abad ke IV H. karena pada saat itu mayoritas ‘ulama’ tela puas dengan mendasari fiqh mereka pada fiqh Abu Hanifah, Malik, al-Syafi’i, dan Hanbal……. Kontribusi pemikiran imam-imam tersebut di nilai menyamai nash al-Qur’an dan as-sunnah yang tidak berani mereka tentang”.
Senada dengan al-Hajwi, Farouq Abu Zaid mengatakan, “Kondisi rapuh yang menimpa dunia Islam semenjak pertengahan abad ke IV H sampai runtuhnya kekuasaan Abbasiyah di Baghdad membawa dampak yang hebat bagi rapuhnya fiqh. Akibatnya, tertutuplah pintu ijtihad dan terbelenggunya pemikiran. Berkembanglah kemudian semangat taklid di kalangan pakar fiqh. Dalam menyikapi berbagai permasalahan dan fenomena masyarakat, mereka tidak lagi melakukan isthinbath al-ahkam secara langsung dari sumber hokum, al-Qur’an hadis. Mereka lebih suka mengikat diri dengan pemikiran-pemikiran atau pendapat-pendapat pendahulunya.
b. Sebab-Sebab Taklid
Tumbuh dan berkembangnya mentalitas taklid pada periode ini di sebabkan oleh beberapa faktor, baik internal atau eksternal. Diantara sebagian kecil faktor tersebut ialah:
(1) Instabilitas sosial politik.
(2) Rumusan hokummazhab fiqh dianggap sudah pari purna.
(3) Fanatisme bermazhab(Ta’ashshub).
(4) Melemahnya semangat ijtihad.
(5) Tertutupnya pintu ijtihad.
2). Konsolidasi Mazhab.
Dalam hal ini, Khudlori Bik menyebutkan tiga fokus aktifitas tasyri’ ilmiyah pakar-pakar fiqh periode ini; pertama, menganalisa alasan hokum(illat) yang dideduksikan oleh imam mazhab;kedua, mentarjih(menyeleksi) berbagai pendapat mazhab ;ketiga, pembelaan terhadap eksistensi mazhab.
Fokus pertama lebih sering di lakukan ulama’-ulama’ Hanafiyah, dengan cara: memanfaatkan pengetahuan tentang illat hukum, menganalogiskan kasus baru dengan permasalahan yang pernah terjamah hukumnya oleh pemikiran imam mazhab, serta memanfaatkan kaidah ushul yang menjadi pedoman imam mazhab dalam berijtihad.
Fokus kedua adalah tarjih atau penyelesaian pendapat, yang di lakukan dengan dua pendekatan, yakni dari segi periwayatan dan dari segi diroyah(analisa substansi hukum). Dari kedua corak ini, dalam fiqh kemudian dikenal dengan ahl al-tarjih atau mujtahij tarjih. diantara ulama’ ini adalah; al-Qadwari dan Abu Bakr ibn ‘Abd al-Jalil al-Marghainaini, pemilik buku induk mazhab Hanafi yang terkenal, ya’ni al-Hidayah. Sedangkan dari mazhab Syafi’I di antaranya adalah Imam al-Haramain.
Fokus ketiga adalah upaya mengukuhkan eksistensi mazhab(konsolidasi mazhab) dengan cara mengekspos atau mempublikasikan keunggulan dan kelebihan imam mazhab serta dengan mengetahkan argument sebagai bukti akurasi hasil ijtihad imam mazhab dan mencari titik kelemahan pendapat hokum yang bersebrangan dengan imam masing-masing.
2. Periode masa stagnasi dan kemunduran (656 -Abad 15 H/ 1258-Abad 21M).
1). Periode masa stagnasi dan kemunduran tasyri’
Periode masa stagnasi, sebagai kelanjutan dari tradisi taklid yang tumbuh pada masa sebelumnya , di susul kemudian dengan masa kebangkitan atas kesadaran umat dari ketertinggalan mereka di berbagai bidang. Masa stagnasi yang berlangsung hingga kisaran abad ke 12 merupakan masa ketika umat Islam hanya mengandalkan pemikiran imam-imam mazhab terdahulu. Khudlari bik mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang(pasca periode imam mazhab) yang mencapai skill mujtahid kecuali hanya sedikit dari mereka”. Ulama’ yang bisa menggantikan mereka di antaranya; ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam(w.660H), Ahmad Ibn Taimiyah(w.728H), Taqi al-Din al-Subqi(w.756H), Taj al-Din al-Subqi(w.756H), Ibn al-Qayyim al-Jauziyah(w.751H), Jalal al-Din al-Mahalli(w.864), Jalal al-Din al-Suyuthi(w.911H),dan lain sebagainya.
a) Hal-hal yang menyebabkan stagnasi
(a) Hancurnya Baghdad.
Secara praktis karena kota Baghdad dihancurkan oleh tentara mongol yang merupakan kota kebudayaan dan pengetahuan Islam, berpengaruh hebat bagi kemunduran Islam pada periode berikutnya, di samping itu juga, buju-buku perpustakaan dibakar dan juga karena adanya kendali di bawah orang-orang komunis.
(b) Miskomunikasi ulama’.
Kondisi semacam ini sangat kontras di era ini, Ulama’ Mesir jarang yang kenal dengan Ulama’ Syam, begitu juga sebaliknya, di samping itu juga semangat berbagi keilmuan mulai berkurang, di samping pancaran cahaya yang sudah mulai meredup.

(c) Intervensi ilmu-ilmu non-syari’at
Masuknya penjajah Eropa menjadikan dikotomi antar Negara dan syari’at (sekularisme), begitu juga undang-undang Islam diganti dengan undang-undang versi barat, hal ini berlangsung hingga kini kecuali segelintir dari Negara-negara Islam, seperti Saudi Arab (Hanbali), Pakistan (Hanafi), Iran (Syi’ah Ja’fari).
2). Periode masa kebangkitan
Munculnya tokoh-tokoh besar seperti, al-Nawawawy, Ibnu al-Taimiyyah, dan al-Syaukany-tanpa menghilangkan rasa hormat pada mereka, ternyata belum mampu membangkitkan ghairah umat untuk bangkit dari keterpurukan tersebut.
Walhasil kebangkitan mulai terlihat pada abad 12 hingga sekarang , yakni ketika intelektual Islam mulai melihat realitas yang menunjukkan bahwa hasil rumusan imam-imam masa lalu meskipun banyak yang masih relevan namun banyak pula yang perlu ditinjau ulang. Hal itu dilakukan demi terciptanya rumusan-rumusan hukum yang bisa menyesuaikan dengan realitas kekinian . mulalah diadakan diskusi-diiskusi membahas perubahan dalam mazhab-mazhab fiqih. Sehingga muncul beberapa tokoh pembaharu Islam seperti Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahab, Muhammad ‘Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Hasan al-Banna, Abu al-A’la al-Maududi, Wahbah al-Zuhaili,Yusuf Qardhawi, dan lain sebagainya.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Secara etimologis, ijtihad berakar pada kata : “ja ha da” yang berarti: kesulitan atau “kesusahan” Kata ijtihad berasal dari kata “aljuhdu” (dengan dhammah atau fathah huruf jiim berarti kemauan dan kesulitan “masyaqqah”; kata ini sepola dengan naf’ah. Misalnya ungkapan “wajtahid fil amri” yang berarti mencurahkan kemampuan dan daya mencapai sesuatu guna mencapai apa yang diinginkan yang berupa tujuan akhir.
Para ushuliyyun (pakar ushul fiqh) dan fuqaha dalam mendefinisikan ijtihad berkata, “Ijtihad adalah mencurahkan segenap upaya untuk mendapatkan hukum syari’at dari sumber aslinya.”.
Ijtihad mengalami masa perkembangan yang paling pesat pada abad kedua sampai dengan abad keempat Hijriah. Masa itu dikenal dengan periode pembukuan sunah serta fikih dan munculnya mujtahid-mujtahid terkemuka yang kemudian dikenal sebagai imam-imam mazhab, yaitu Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali).
Masa pasca masa Imam Mazhab ini terbagi menjadi 2 ya’ni; masa taklid dan konsolidasi mazhab atau pada fase disintegrasi dan masa periode masa stagnasi dan kemunduran tasyri’dan kebangkitan(periode pasca runtuhnya baghdad) hingga masa sekarang atau modern.

DAFTAR PUSTAKA

Syafe’i Rahmat.2007.Ilmu Ushul Fiqh.Bandung: Pustaka Setia.
http://altsubuty.blogspot.com/2009/02/terbukanya-pintu-ijtihad.html
http://irzeqrozeqqi.blogspot.com/2011/04/ijtihad-dan-ittiba-dalam-pengembangan.html
http://tarbiyyah-blog.blogspot.com/2012/05/ijtihad-pasca-imam-madzhab.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 17, 2013 in ushul fiqh

 

papan tulis sebagai media pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan
Papan tulis, merupakan “alat” yang sangat diperlukan disetiap sekolah dan di kelas. Bahkan papan tulis dikatakan fasilitas yang mutlak diperlukan, seperti halnya diperlukan meja dan kursi. Dengan papan tulis, pengajar dapat menulis dan menjelaskan materi pelajaran secara efektif dan efisien, sehingga pembelajar dapat menerima pelajaran dengan baik. Papan tulis dapat di gunakan secara baik, dengan memperhatikan prinsip-prinsip penggunanaan papan tulis.Papan tulis, belum dapat dikategori sebagai “media pembelajaran”, tetapi sebagai alat pelajaran. Papan tulis dapat dikategori sebagai media pembelajaran, apabila “papan tulis” tersebut telah difungsikan atau digunakan untuk memberikan informasi atau digunakan untuk menjelaskan meteri pelajaran atau papan tulis itu sendiri fungsinya telah memberikan informasi kepada penerima pesan atau “pembelajar”.
Papan tulis merupakan alat yang lazim digunakan, tetapi pertanyaannya bagaimana saudara dapat menggunakan papan tulis dengan baik, efektif, dan efisien dalam menjelaskan pelajaran di kelas?
B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar para mahasiswa khususnya calon guru mengetahui sejarah papan tulis, kelebihan dan keunggulan serta mengoptimalkan penggunaan papan tulis sebagai media pembelajaran.
C. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah mahasiswa mengetahui kelemahan dan kekurangan papan tulis sebagai media pembelajaran, serta bagaimana cara mengoptimalkan penggunaannya. Dengan begini mahasiswa dan calon guru mampu menguasai papan tulis sebagai media pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Papan Tulis
Papan hitam pada zaman dahulu hanyalah sekeping batu untuk mencatat nota di atasnya tanpa menggunakan kapur tulis karena pada masa itu kapur tulis masih belum wujud lagi. Kanak-kanak hanya menggunakan batu kecil untuk menulis di atasnya. Tulisan dengan mudahnya dipadam menggunakan sehelai kain buruk.
Pada lewat kurun ke-18 dan awal kurun ke-19, ‘’papan batu’’ ini sering digunakan di sekolah-sekolah di Amerika Serikat dan beberapa negara lain. ‘’Papan batu’’ ini ditambat pada rangka kayu untuk membantu mengukuhkannya dan mengelakkannya daripada retak. Pada masa itu, kertas amat mahal dan sukar untuk didapati dan oleh sebab itu, ‘’papan batu’’ ini amat sesuai sebagai pengganti.
Namun, pada suatu ketika, ‘’papan batu’’ ini mulai digunakan dengan kaedah terbaru. Seorang guru geografi yang bekerja di Scotland dilaporkan telah mengambil ‘’papan batu’’ daripada pelajar-pelajarnya dan menggantungkannya pada dinding. Dia kemudiannya menggunakannya untuk membuat papan tulis yang boleh diubah untuk menulis maklumat geografi yang membolehkan pelajarnya membaca bersama-sama. Revolusi papan hitam bermula dari sini.
Idea ini diaplikasikan dengan cepat. Penggunaan papan hitam dalam cara ini yang pertama sekali direkodkan ialah di benua Amerika Utara, yaitu apabila papan hitam digunakan di Akademi Ketenteraan Amerika Syarikat di West Point. Akademi ketenteraan yang lain juga kemudiannya mengikut kaedah penggunaan papan hitam ini dan akhirnya, kaedah ini telah tersebar di semua sekolah-sekolah yang lain.
Pada sekitar 1850-an, sekolah-sekolah telah dilengkapkan dengan papan hitam bersama-sama dengan beberapa perkakas lain seperti dapur (yang menggunakan kayu untuk memasak) dan bangku. Walau bagaimanapun, penggunaan papan hitam masih lagi belum menjadi sesuatu yang biasa.
Apabila teknologi semakin maju, batu yang digunakan untuk menulis pada papan hitam telah digantikan dengan kapur tulis. Kapur tulis yang lembut ini lebih mudah untuk digunakan pada papan hitam dan juga lebih mudah untuk dibersihkan. Kain buruk yang pernah digunakan untuk memadam tulisan pada papan hitam telah digantikan dengan pemadam papan hitam yang baru, yang mana mampu menyerap lebih banyak habuk kapur tulis dan mengelakkannya daripada berterbangan di udara. Papan hitam juga tidak lagi diperbuat daripada ‘’papan batu’’ tetapi kepingan besi dengan porselin.
Sejak kebelakangan ini, banyak sekolah telah menggantikan papan hitam dengan papan putih karena bimbang dengan masalah kesehatan yang mungkin timbul akibat habuk kapur tulis.
B. Proses Penggunaan Papan Tulis Sebagai Media Pembelajaran
Papan tulis, merupakan “alat” yang sangat diperlukan disetiap sekolah dan di kelas. Bahkan papan tulis dikatakan fasilitas yang mutlak diperlukan, seperti halnya diperlukan meja dan kursi. Dengan papan tulis, pengajar dapat menulis dan menjelaskan materi pelajaran secara efektif dan efisien, sehingga pembelajar dapat menerima pelajaran dengan baik. Papan tulis dapat di gunakan secara baik, dengan memperhatikan prinsip-prinsip penggunanaan papan tulis. Papan tulis, belum dapat dikategori sebagai “media pembelajaran”, tetapi sebagai alat pelajaran. Papan tulis dapat dikategori sebagai media pembelajaran, apabila “papan tulis” tersebut telah difungsikan atau digunakan untuk memberikan informasi atau digunakan untuk menjelaskan meteri pelajaran atau papan tulis itu sendiri fungsinya telah memberikan informasi kepada penerima pesan atau “pembelajar”.
keterampilan menggunakan papan tulis perlu dipelajari dan karena itu pengajar-pengajar lulusan tenaga kepengajaran akan dapat menggunakan papan tulis secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Ada tekhnik khusus yang harus dikuasai oleh seorang guru dalam menggunakan papan tulis agar tujuan pembelajaran bisa di capai dengan baik, diantaranya :
1. penyajian tulisan harus benar-benar jelas,agar semua siswa dapat melihatnya secara merata dan jelas.
2. Menyajikan materi secara terperinci.
3. Menulis dan menggambar haruslah berbentuk sederhana.
4. Menjelaskan hal-hal yang terdapat dalam papan tulis kepada siswa apabila ada yang masih belum dimengerti.
5. Setelah itu usahakan murid untuk mencoba kedepan kelas tentang materi pelajaran yang sedang berlangsung.
C. Keunggulan Papan Tulis
Penggunaan papan tulis pada saat menjelaskan materi pelajaran, memiliki nilai manfaat yang sangat penting, antara lain :
1. Tidak memerlukan banyak pekerjaan dan persiapan.
2. Penyajian pelajaran dapat dilakukan dengan jelas oleh pengajar selangkah demi selangkah dan secara sistematis.
3. Dapat menjelaskan hal-hal sesaat (misalnya untuk menjawab pertanyaan).
4. Apabila terdapat kekeliruan atau kesalahan dapat dilihat dan segera diperbaiki oleh pengajar secara langsung.
5. Merangsang pembelajar untuk dapat belajar secara efektif.
6. Pembelajar dapat melihat dan dapat membaca dengan jelas apa yang ditulis oleh pengajar di papan tulis.
7. Memotivasi pembelajar untuk terbiasa bekerja pada papan tulis.
D. Kelemahan Papan Tulis
Manfaat dan nilai penggunaan papan tulis dalam proses pembelajaran di kelas sangat besar, tetapi ada beberapa hal yang secara langsung atau tidak langsung dapat membatasi pengajar menggunakan papan tulis, yaitu:
1. Ada sebagian pengajar merasa tidak tenang apabila menggunakan papan tulis. Merasa tidak mempunyai kecakapan menulis, menggambar yang bagus dan indah di papan tulis. Hal ini menyebabkan keragu-raguan dan timbul rasa segan untuk menggunakan papan tulis sebagai media pembelajaran.
2. Pengajar segan untuk mempersiapkan dan membersihkan papan tulis sebelum mengajar, karena takut tangan kotor terkena debu kapur. Atau untuk mempersiapkan suatu demonstrasi melalui papan tulis memerlukan waktu dan meminta perhatian, ketekunan tersendiri dari pengajar. Akibatnya dapat menimbulkan rasa segan ketika menggunakan papan tulis.
3. Adanya alat-alat modern yang mulai digunakan dalam proses pembelajaran di kelas, seperti slide, kaca terbus cahaya, film, vidio, VCD, LCD, dll.
4. Banyak buku-buku pelajaran yang dapat dibeli dan dimiliki oleh pembelajar, dari pada mencatat pelajaran dari papan tulis.
5. Pembelajar tidak selalu dapat melihat pelajaran dengan mudah di papan tulis, karena mungkin pengajar berdiri di depan papan tulis dan menutupi tulisan di papan tulis.
6. Apabila pembelajar diberi kesempatan untuk menggunakan papan tulis, maka memerlukan waktu yang banyak, mengurangi jumlah bahan yang akan diajarkan, dan membosankan.
7. Demonstrasi dan ilustrasi yang disajikan pengajar pada papan tulis, seringkali tidak dapat ditangkap pembelajar dengan jelas, sukar dilihat dan kemungkinan tidak dimengerti pembelajar, karena pengajar berdiri di depan papan tulis.
8. Debu kapur, dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan pengajar, yaitu sakit paru-paru, tenggerokan, gangguan kulit, dan pernapasan. Apalagi ventilasi ruangan tidak begitu baik .

E. Mengoptimalkan Penggunaan Media Papan Tulis
Di tengah makin banyaknya media pendidikan modern dengan berbagai kecanggihannya, seperti proyektor, televisi, ataupun komputer, kehadiran, papan tulis tetap diperlukan.Ruangan kelas tanpa papan tulis pasti akan terasa berbeda sekali, layaknya sayur tanpa garam yang terasa hambar. Begitu pentingnya keberadaan papan tulis sehingga media yang satu ini tetap ada di ruangan-ruangan kelas sampai sekarang.
Sayangnya, sering kali papan tulis yang telah menjadi ikon dari suatu kelas malah sering dibiarkan begitu saja, tidak kita manfaatkan atau mungkin kita sering memanfaatkannya namun hanya sekadar untuk kita isi dengan berbagai coretan-coretan, gambar-gambar, atau kata-kata yang justru malah semakin membingungkan siswa. Padahal papan tulis jika kita tahu cara menggunakannya, akan sangat membantu kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Tentunya agar kehadiran papan tulis di ruangan kelas kita ini tidak sisa-sia maka kita perlu mempelajari beberapa cara menggunakan papan tulis yang baik. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengoptimalkan penggunaan media papan tulis.
Pertama, biasakan mengawali pelajaran dengan keadaan papan tulis bersih. Papan tulis yang bersih akan membantu menghemat waktu ketika kita akan menuliskan sesuatu di papan tulis ketika kita mengajar sekaligus papan tulis yang berada dalam keadaan bersih menunjukkan bahwa kita siap mengajar siswa dan siswi.
Kedua, tuliskan topik pelajaran di bagian atas papan tulis dan biarkan untuk bisa terus dilihat oleh siswa selama mungkin sampai pelajaran kita berakhir. Menuliskan topik pelajaran sangat berguna supaya siswa bisa terus mengingat akan apa yang ia sedang pelajari, ini penting karena setiap hari siswa dan siswi kita biasa belajar lebih dari satu mata pelajaran. Selain itu, dengan menuliskan topik pelajaran di papan tulis akan berguna ketika ada siswa yang terlambat masuk, tidak perlu lagi bertanya-tanya kepada temannya dan lantas menimbulkan kegaduhan di kelas.
Ketiga, sediakan tempat yang kosong di papan tulis agar kita bisa menuliskan kata-kata kunci. Jika kita menuliskan seluruh bahan pelajaran di papan tulis, akan lebih banyak waktu yang dipergunakan siswa untuk mencatat apa yang terpampang di papan tulis daripada memperhatikan penjelasan kita.
Keempat, untuk beberapa mata pelajaran yang sering kali perlu menuliskan perhitungan maka kita bisa menuliskannya di bagian sudut papan tulis.
Kelima, hindarkan memenuhi papan tulis dengan terlalu banyak coretan, garis, gambar yang bisa membuat siswa bingung. Usahakan agar seluruh yang kita tulis di papan tulis dapat dibaca dengan jelas oleh seluruh siswa.
Keenam, hindari selalu berdiri di depan apa yang kita tuliskan di papan tulis karena hal ini akan menghalangi siswa yang akan mencatat apa yang kita tuliskan.
Ketujuh, hapuslah seluruh kata-kata, gambar, bagan di papan tulis yang memang akan kita hapus agar tidak membuat siswa kebingungan.
Kedelapan, pada saat kita menulis di papan tulis biasakanlah untuk tidak menulis sambil berbicara, kita baru berbicara setelah kita selesai menulis.
Kesembilan, menimbulkan kesan positif dan daya tarik sehingga dapat membuat daya ingat jangka panjang siswa berkembang, misalnya menggunakan warna.
Untuk mengecek sudah seberapa jauh kita berhasil mengoptimalkan penggunaan media papan tulis ini maka kita bisa mengeceknya dengan melihatnya dari jarak-jarak tertentu di sela-sela waktu kita mengajar.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada lewat kurun ke-18 dan awal kurun ke-19, ‘’papan batu’’ ini sering digunakan di sekolah-sekolah di Amerika Serikat dan beberapa negara lain. ‘’Papan batu’’ ini ditambat pada rangka kayu untuk membantu mengukuhkannya dan mengelakkannya daripada retak. Pada masa itu, kertas amat mahal dan sukar untuk didapati dan oleh sebab itu, ‘’papan batu’’ ini amat sesuai sebagai pengganti.
Namun, pada suatu ketika, ‘’papan batu’’ ini mulai digunakan dengan kaedah terbaru. Seorang guru geografi yang bekerja di Scotland dilaporkan telah mengambil ‘’papan batu’’ daripada pelajar-pelajarnya dan menggantungkannya pada dinding. Dia kemudiannya menggunakannya untuk membuat papan tulis yang boleh diubah untuk menulis maklumat geografi yang membolehkan pelajarnya membaca bersama-sama. Revolusi papan hitam bermula dari sini.
Kelebihan papan tulis:
a. Tidak memerlukan banyak pekerjaan dan persiapan.
b. Penyajian pelajaran dapat dilakukan dengan jelas oleh pengajar selangkah demi selangkah dan secara sistematis.
c. Dapat menjelaskan hal-hal sesaat (misalnya untuk menjawab pertanyaan).
d. Apabila terdapat kekeliruan atau kesalahan dapat dilihat dan segera diperbaiki oleh pengajar secara langsung.
e. Merangsang pembelajar untuk dapat belajar secara efektif.
f. Pembelajar dapat melihat dan dapat membaca dengan jelas apa yang ditulis oleh pengajar di papan tulis.
g. Memotivasi pembelajar untuk terbiasa bekerja pada papan tulis.

Kelemahan papan tulis:
a. Adanya keragu-raguan dan timbul rasa segan untuk menggunakan papan tulis sebagai media pembelajaran.
b. Untuk mempersiapkan suatu demonstrasi melalui papan tulis memerlukan waktu dan meminta perhatian, ketekunan tersendiri dari pengajar.
c. Adanya alat-alat modern yang mulai digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.
d. Banyak buku-buku pelajaran yang dapat dibeli dan dimiliki oleh pembelajar, dari pada mencatat pelajaran dari papan tulis.
e. Pembelajar tidak selalu dapat melihat pelajaran dengan mudah di papan tulis, karena mungkin pengajar berdiri di depan papan tulis dan menutupi tulisan di papan tulis.
f. Debu kapur, dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan pengajar, yaitu sakit paru-paru, tenggerokan, gangguan kulit, dan pernapasan. Apalagi ventilasi ruangan tidak begitu baik .
B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amin.
DAFTAR PUSTAKA

http://ber-guru.blogspot.com/2011/10/mengenal-berbagai-media-bag-1.html
http://dinbakir.wordpress.com/2009/05/30/media-pembelajaran/
http://mothekcuyy.blogspot.com/2012/04/sejarah-papan-tulis.html
http://ms.wikipedia.org/wiki/Papan_hitam
http://peningkatanmutupembelajaran.blogspot.com/2011/02/optimalisasi-penggunaan-papan-tulis.html

http://www.stt-kharisma.org/index.php?option=com_content&view=article&id=34:-mengoptimalkan-media-papan-tulis&catid=5:artikel-pendidikan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 17, 2013 in media pembelajaran

 

filsafat pancasila

BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Pancasila Sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final. Namun walaupun pancasila saat ini telah dihayati sebagai filsafat hidup bangsa dan dasar negara, yang merupakan perwujudan dari jiwa bangsa,sikap mental,budaya dan karakteristik bangsa, saat ini asal usul dan kapan di keluarkan/disampaikannnya Pancasila masih dijadikan kajian yang menimbulkan banyak sekali penafsiran dan konflik yang belum selesai hingga saat ini.
Namun dibalik itu semua ternyata pancasila memang mempunyai sejarah yang panjang tentang perumusan-perumusan terbentuknya pancasila, dalam perjalanan ketata negaraan Indonesia. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan berkepanjangan baik mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila.
B. TUJUAN
Agar mahasiswa mengetahui tentang pancasila, baik dari segi pengertian, sejarah perumusan, fungsi, serta landasan pancasila.
C. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pancasila itu?
2. Bagaimana sejarah perumusan pancasila hingga terbentuk rumusan pancasila yang sekarang ada pada UUD 1945?
3. Apa saja fungsi dan landasan pancasila?

BAB II
PEMBAHASAN
FILSAFAT PANCASILA

A. PENGERTIAN PANCASILA
Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
B. PERUMUSAN PANCASILA
Rumusan I: Muh. Yamin
Pada sesi pertama persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada 29 Mei – 1 Juni 1945 beberapa anggota BPUPKI diminta untuk menyampaikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan rancangan “blue print” Negara Republik Indonesia yang akan didirikan. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muh. Yamin menyampaikan usul dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI.
Baik dalam kerangka uraian pidato maupun dalam presentasi lisan Muh Yamin mengemukakan lima calon dasar negara yaitu:
1. peri kebangsaan
2. peri kemanusiaan
3. peri ke-Tuhanan
4. peri kerakyatan
5. kesejahteraan rakyat
Selain usulan lisan Muh Yamin tercatat menyampaikan usulan tertulis mengenai rancangan dasar negara. Usulan tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI oleh Muh Yamin berbeda dengan rumusan kata-kata dan sistematikanya dengan yang dipresentasikan secara lisan, yaitu:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kebangsaan Persatuan Indonesia
3. Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Rumusan II: Ir. Soekarno
Usul ini disampaikan pada 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila. Usul Sukarno sebenarnya tidak hanya satu melainkan tiga buah usulan calon dasar negara yaitu lima prinsip, tiga prinsip, dan satu prinsip. Sukarno pula- lah yang mengemukakan dan menggunakan istilah “Pancasila” (secara harfiah berarti lima dasar) pada rumusannya ini atas saran seorang ahli bahasa (Muh Yamin) yang duduk di sebelah Sukarno. Oleh karena itu rumusan Sukarno di atas disebut dengan Pancasila, Trisila, dan Ekasila.
Rumusan
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme,-atau peri-kemanusiaan
3. Mufakat, atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. ke-Tuhanan yang berkebudayaan

Rumusan Trisila
1.Socio-nationalisme
2.Socio-demokratie
3.ke-Tuhanan

Rumusan Ekasila
1.Gotong-Royong

Rumusan III: Piagam Jakarta
Usulan-usulan blue print Negara Indonesia telah dikemukakan anggota-anggota BPUPKI pada sesi pertama yang berakhir tanggal 1 Juni 1945. Selama reses antara 2 Juni – 9 Juli 1945, delapan orang anggota BPUPKI ditunjuk sebagai panitia kecil yang bertugas untuk menampung dan menyelaraskan usul-usul anggota BPUPKI yang telah masuk.
Pada 22 Juni 1945 panitia kecil tersebut mengadakan pertemuan dengan 38 anggota BPUPKI dalam rapat informal. Rapat tersebut memutuskan membentuk suatu panitia kecil berbeda (kemudian dikenal dengan sebutan “Panitia Sembilan”) yang bertugas untuk menyelaraskan mengenai hubungan Negara dan Agama.
Dalam menentukan hubungan negara dan agama anggota BPUPKI terbelah antara golongan Islam yang menghendaki bentuk teokrasi Islam dengan golongan Kebangsaan yang menghendaki bentuk negara sekuler dimana negara sama sekali tidak diperbolehkan bergerak di bidang agama. Persetujuan di antara dua golongan yang dilakukan oleh Panitia Sembilan tercantum dalam sebuah dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar”.
Dokumen ini pula yang disebut Piagam Jakarta (Jakarta Charter) oleh Mr. Muh Yamin. Adapun rumusan rancangan dasar negara terdapat di akhir paragraf keempat dari dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” (paragraf 1-3 berisi rancangan pernyataan kemerdekaan/proklamasi/ declaration of independence).

Rumusan ini merupakan rumusan pertama sebagai hasil kesepakatan para “Pendiri Bangsa”.
Rumusan
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
2. Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Rumusan IV: BPUPKI
Pada sesi kedua persidangan BPUPKI yang berlangsung pada 10-17 Juli 1945, dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” (baca Piagam Jakarta) dibahas kembali secara resmi dalam rapat pleno tanggal 10 dan 14 Juli 1945.
Rumusan yang diterima oleh rapat pleno BPUPKI tanggal 14 Juli 1945 hanya sedikit berbeda dengan rumusan Piagam Jakarta yaitu dengan menghilangkan kata “serta” dalam sub anak kalimat terakhir. Rumusan rancangan dasar negara hasil sidang BPUPKI, yang merupakan rumusan resmi pertama, jarang dikenal oleh masyarakat luas.
Rumusan
1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
2. Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Rumusan V: PPKI
Menyerahnya Kekaisaran Jepang yang mendadak dan diikuti dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diumumkan sendiri oleh Bangsa Indonesia (lebih awal dari kesepakatan semula dengan Tentara Angkatan Darat XVI Jepang) menimbulkan situasi darurat yang harus segera diselesaikan. Sore hari tanggal 17 Agustus 1945, wakil-wakil dari Indonesia daerah Kaigun (Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan), diantaranya A. A. Maramis, Mr., menemui Sukarno menyatakan keberatan dengan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” untuk ikut disahkan menjadi bagian dasar negara.
Untuk menjaga integrasi bangsa yang baru diproklamasikan, Sukarno segera menghubungi Hatta dan berdua menemui wakil-wakil golongan Islam. Semula, wakil golongan Islam, diantaranya Teuku Moh Hasan, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Ki Bagus Hadikusumo, keberatan dengan usul penghapusan itu. Setelah diadakan konsultasi mendalam akhirnya mereka menyetujui penggantian rumusan “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sebuah “emergency exit” yang hanya bersifat sementara dan demi keutuhan Indonesia.
Pagi harinya tanggal 18 Agustus 1945 usul penghilangan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dikemukakan dalam rapat pleno PPKI. Selain itu dalam rapat pleno terdapat usulan untuk menghilangkan frasa “menurut dasar” dari Ki Bagus Hadikusumo.
Rumusan dasar negara yang terdapat dalam paragraf keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar ini merupakan rumusan resmi kedua dan nantinya akan dipakai oleh bangsa Indonesia hingga kini. UUD inilah yang nantinya dikenal dengan UUD 1945.
Rumusan
1. ke-Tuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. Persatuan Indonesia
4. Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rumusan VI: Konstitusi RIS
Pendudukan wilayah Indonesia oleh NICA menjadikan wilayah Republik Indonesia semakin kecil dan terdesak. Akhirnya pada akhir 1949 Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta (RI Yogyakarta) terpaksa menerima bentuk negara federal yang disodorkan pemerintah kolonial Belanda dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) dan hanya menjadi sebuah negara bagian saja.
Walaupun UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 tetap berlaku bagi RI Yogyakarta, namun RIS sendiri mempunyai sebuah Konstitusi Federal (Konstitusi RIS) sebagai hasil permufakatan seluruh negara bagian dari RIS. Dalam Konstitusi RIS rumusan dasar negara terdapat dalam Mukaddimah (pembukaan) paragraf ketiga. Konstitusi RIS disetujui pada 14 Desember 1949 oleh enam belas negara bagian dan satuan kenegaraan yang tergabung dalam RIS.
Rumusan
1. ke-Tuhanan Yang Maha Esa,
2. perikemanusiaan,
3. kebangsaan,
4. kerakyatan
5. dan keadilan sosial

Rumusan VII: UUD Sementara
Segera setelah RIS berdiri, negara itu mulai menempuh jalan kehancuran. Hanya dalam hitungan bulan negara bagian RIS membubarkan diri dan bergabung dengan negara bagian RI Yogyakarta.
Pada Mei 1950 hanya ada tiga negara bagian yang tetap eksis yaitu RI Yogyakarta, NIT, dan NST. Setelah melalui beberapa pertemuan yang intensif RI Yogyakarta dan RIS, sebagai kuasa dari NIT dan NST, menyetujui pembentukan negara kesatuan dan mengadakan perubahan Konstitusi RIS menjadi UUD Sementara.
Perubahan tersebut dilakukan dengan menerbitkan UU RIS No 7 Tahun 1950 tentang Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara (LN RIS Tahun 1950 No 56, TLN RIS No 37) yang disahkan tanggal 15 Agustus 1950. Rumusan dasar negara kesatuan ini terdapat dalam paragraf keempat dari Mukaddimah (pembukaan) UUD Sementara Tahun 1950.
Rumusan
1. ke-Tuhanan Yang Maha Esa,
2. perikemanusiaan,
3. kebangsaan,
4. kerakyatan,
5. dan keadilan sosial

Rumusan VIII: UUD 1945
Kegagalan Konstituante untuk menyusun sebuah UUD yang akan menggantikan UUD Sementara yang disahkan 15 Agustus 1950 menimbulkan bahaya bagi keutuhan negara. Untuk itulah pada 5 Juli 1959 Presiden Indonesia saat itu, Sukarno, mengambil langkah mengeluarkan Dekrit Kepala Negara yang salah satu isinya menetapkan berlakunya kembali UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 menjadi UUD Negara Indonesia menggantikan UUD Sementara.
Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945 maka rumusan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD kembali menjadi rumusan resmi yang digunakan. Rumusan ini pula yang diterima oleh MPR, yang pernah menjadi lembaga tertinggi negara sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat antara tahun 1960-2004, dalam berbagai produk ketetapannya, diantaranya:

1.Tap MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara, dan
2.Tap MPR No III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan.

Rumusan
1. Ketuhanan Yang Maha Esa,
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. Persatuan Indonesia
4. Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5. Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

C. LANDASAN PANCASILA
1. Landasan historis
Bangsa Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang mulai jaman kerajaan sampai datangnya penjajah.bangsa Indonesia memiliki prinsip yang tersimpul dalam pandangan hidup serta filsafat hidupdimana didalamnya tersimpul cirri khas,karakter bangsa yang berbeda dengan bangsa lain.
Dalam era reformasi bangsa Indonesia harus memiliki nasionalisme yang kuat,hal ini dapat terlaksana dengan kesadaran berbangsa yang berakar pada sejarah bangsa.
Secara historis nilai – nilai pancasila tersebut tidak lain adalah dari bangsa Indonesia sendiri,atau bangsa Indonesia sebagai kausa materialis pancasila.
2. Landasan Kultural
Bangsa Indonesia mendasarkan pandangan hidupnya dalam masyarakat,berbangsa dan bernegara pada suatu asas cultural yang dimiliki dan melekat pada bangsa itu sendiri.
3. Landasan Filosofis
Pancasila sebagai dasar filsafat Negara dan pandangan filosofis bangsa Indonesia.Secara filosofis bangsa Indonesia sebelum mendirikan Negara adalah sebagai bangsa yang berketuhanan dan berkemanusiaan,hal ini berdasarkan kenyataan obyektif bahwa manusia adalah Tuhan YME.
D. FUNGSI PANCASILA
1.Pancasila sebagai Dasar Negara
 Pancasila sebagai Dasar Negara atau sering juga disebut sebagai Dasar Falsafah Negara ataupun sebagai ideologi Negara, hal ini mengandung pengertian bahwa Pancasila sebagai dasar mengatur penyelenggaraan pemerintahan. Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai kaidah Negara yang fundamental atau mendasar, sehingga sifatnya tetap, kuat dan tidak dapat dirubah oleh siapapun, termasuk oleh MPR/DPR hasil pemilihan umum.
 Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia atau Dasar Falsafah Negara atau Philosofis Granslog. Dalam hal ini Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan Negara, atau pancasila digunakan sebagai dasar untuk mengatur penyelenggaraan Negara yang sesuai dengan bunyi pembukaan Undang-undang Dasar 1945
2.Pancasila sebagai Jiwa dan Kepribadian Bangsa Indonesia
 Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia. diwujudkan dalam sikap mental dan tingkah laku serta amal perbuatan sikap mental. Sikap mental dan tingkah laku mempunyai ciri khas, artinya dapat dibedakan dengan Bangsa lain. Ciri Khas inilah yang dimaksud dengan kepribadian.
 menurut AG. Pringgodigdo bahwa Pancasila sebagai jiwa bangsa lahir bersamaan adanya Bangsa Indonesia. Jadi Pancasila lahir dari jiwa kepribadian bangsa Indonesia yang terkristalisasi nilai-nilai yang dimilikinya.
3.Pancasila sebagai Pandangan hidup Bangsa Indonesia
 Pancasila sebagai Pandangan Hidup bangsa atau Way of Life mengandung makna bahwa semua aktifitas kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari harus sesuai dengan sila-sila daipada Pancasila, karena Pancasila juga merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki dan bersumber dari kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Nilai-nilai yang dimiliki dan bersumber dari kehidupan bangsa Indonesia sendiri.
 Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia. Artinya Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk hidup sehari-hari dan juga merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisah antara satu dengan yang lain.
4.Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia.
 Cita-cita luhur Negara Indonesia tegas dimuat dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Karena pembukaan Undang-undang Dasar 1945 merupakan penuangan jiwa proklamasi yaitu jiwa Pancasila, sehingga Pancasila merupakan cita-cita dan tujuan bangsa indonesia. Cita-cita luhur inilah yang akan disapai oleh Bangsa Indonesia.
5.Pancasila sebagai palsafah hidup yang mempersatukan Bangsa.
 Pancasila merupakan sarana yang ampuh untuk mempersatukan Bangsa Indonesia. Karena Pancasila adalah palsafah hidup dan kepribadian Bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang oleh Bangsa Indonesia diyakini paling benar, adil, bijaksana dan tepat bagi Bangsa Indonesia untuk mempersatukan Rakyat Indonesia.
 Bangsa Indonesia yang pluralis dan wilayah Nusantara yang terdiri dari berbagai pulau-pulau, maka sangat tepat apabila Pancasila dijadikan Pemersatu Bangsa, hal ini dikarenakan Pancasila mempunyai nilai-nilai umum dan universal sehingga memungkinkan dapat mengakomodir semua
perikehidupan yang berbhineka dan dapat diterima oleh semua pihak.
6.Pancasila sebagai Sumber Hukum Dasar Nasional
 Dalam ilmu hukum istilah sumber hukum berarti sumber nilai-nilai yang menjadi penyebab timbulnya aturan hukum. Jadi dapat diartikan Pancasila sebagai Sumber hukum dasar nasional, yaitu segala aturan hukum yang berlaku di negara kita tidak boleh bertentangan dan harus bersumber pada Pancasila.
 Pancasila sebagai sumber dari segala sumber Hukum. atau sumber tertib hukum bagi Negara Republik Indonesia. Sumber tertib hukum Republik Indonesia adalah pandangan hidup, kesadaran, cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kejiwaan serta watak Bangsa Indonesia. Cita-cita itu meliputi cita-cita mengenai kemerdekaan Individu, kemerdekaan Bangsa, perikemanusiaan, keadilan sosial dan perdamaian Nasional. Cita-cita politik mengenai sifat, bentuk dan tujuan negara. Cita-cita moral mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan.
7.Pancasila sebagai Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia
 Pada saat bangsa Indonesia bangkit untuk hidup sendiri sebagai bangsa yang merdeka, bangsa Indonesia telah sepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara. Kesepakatan itu terwujud pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan disahkannya Pancasila sebagai Dasar Negara oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mewakili seluruh bangsa Indonesia.
 Pancasila sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia. Pada saat bangsa Indonesia mendirikan negara atau Proklamasi 17 Agustus 1945. Bangsa Indonesia belum mempunyai Undang-undang Dasar Negara yang tertulis. 18 Agustus 1945 disahkan pembukaan dan batang tubuh Undang-undang Dasar 1945 oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). PPKI merupakan penjelmaan atau wakil-wakil seluruh rakyat Indonesia yang mengesahkan perjanjian luhur itu untuk membela Pancasila untuk selama-lamanya.
8.Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara RI
 Pancasila sebagai ideologi bangsa berakar pada pandangan hidup dan budaya bangsa dan bukannya mengambil ideologi dari bangsa lain.
 Pancasila sebagai Ideologi Negara merupakan tujuan bersama Bangsa Indonesia yang diimplementasikan dalam Pembangunan Nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dalam wadah Negara Kesatuan RI yang merdeka, berdaulat, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yang aman, tentram, tertib dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yang merdeka, bersahabat, tertib dan damai.
9.PANCASILA SEBAGAI SUMBER NILAI
 pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi penyelenggaraan negara Indonesia.
 Pancasila berisi lima sila yang pada hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental. Nilai-nilai dasar dari pancasila tersebut adalah nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Nilai Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, nilai Persatuan Indonesia, nilai Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalan permusyawaratan/perwakilan, dan nilai Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Rumusan Pancasila yang satu dengan rumusan yang lain ada yang berbeda namun ada pula yang sama. Secara berturut turut rumusan tersebut yaitu rumusan dari Muh Yamin, Sukarno, Piagam Jakarta, Hasil BPUPKI, Hasil PPKI, Konstitusi RIS, UUD Sementara, UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959), Versi Berbeda, dan Versi populer yang berkembang di masyarakat.
Landasan pancasila:
1. Landasan historis
2. Landasan Kultural
3. Landasan Filosofis
Fungsi pancasila:
1. Pancasila sebagai Dasar Negara
2. Pancasila sebagai Jiwa dan Kepribadian Bangsa Indonesia
3. Pancasila sebagai Pandangan hidup Bangsa Indonesia
4. Pancasila sebagai cita-cita dan tujuan Bangsa Indonesia.
5. Pancasila sebagai palsafah hidup yang mempersatukan Bangsa.
6. Pancasila sebagai sumber hukum dasar nasional
7. Pancasila sebagai Perjanjian Luhur Bangsa Indonesia
8. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara RI
9. Pancasila sebagai sumber nilai

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila
http://madrilitas.wordpress.com/2011/01/10/landasan-pancasila/
http://itsmysoulin3.blogspot.com/2011/07/fungsi-fungsi-pancasila.html
http://www.gudangmateri.com/2010/05/sejarah-perumusan-pancasila.html

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 17, 2013 in civic education

 

ketahanan negara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap bangsa dalam rangka mempertahankan eksistensi dan mewujudkan cita-citanya perlu memiliki pemahaman mengenai geopolitik dan geostrategi. Geopolitik bangsa Indonesia di terjemahkan dalam konsep Wawasan Nusantara, sedangkan geostrategi bangsa Indonesia dirumuskan dalam konsep Ketahanan Nasional.
B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui apa yang dimaksud dengan ketahanan nasional, sejarah terbentuknya, unsur-unsurnya, dan upaya pembelaan negara.
C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud ketahanan nasional?
2. Bagaimana sejarah lahirnya ketahanan nasional?
3. Bagaimanan ketahanan nasional dalam GBHN?
4. Apa saja unsur-unsur ketahanan nasional?
5. Apa yang dimaksud bela negara?
6. Bagaimana bentuk bela negara itu?

BAB II
PEMBAHASAN
KETAHANAN NASIONAL SEBAGAI GEOSTRATEGI INDONESIA

A. Pengertian Geostrategi dan Ketahanan Nasional
Geostrategi adalah suatu cara atau pendekatan dalam memanfaatkan kondisi lingkungan untuk mewujudkan cita-cita proklamasi dan tujuan nasional. Ketahanan nasional sebagai geostrategi bangsa Indonesia memiliki pengertian bahwa konsep ketahanan nasional merupakan pendekatan yang digunakan bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya.
Terdapat tiga persepektif atau sudut pandang terhadap konsepsi ketahanan nasional. Ketiga persepektif tersebut sebagai berikut.
1. Ketahanan nasional sebagai kondisi. Persepektif ini melihat ketahanan nasional sebagai suatu penggambaran atas keadaan yang seharusnya dipenuhi. Keadaan atau kondisi ideal demikian memungkinkan suatu negara memiliki kemampuan mengembangkan kekuatan nasional sehingga mampu menghadapi segala macam ancaman dan gangguan bagi kelangsungan hidup bangsa yang bersangkutan.
2. Ketahanan nasional sebagai sebuah pendekatan, metode atau cara dalam menjalankan suatu kegiatan khususnya pembangunan negara. Sebagai suatu pendekatan, ketahanan nasional menggambarkan pendekatan yang integral dalam arti pendekatan yang mencerminkan antara segala aspek atau isi, baik pada saat membangun maupun pemecahan masalah kehidupan. Dalam hal pemikiran, pendekatan ini memliki pemikiran kesisteman (sistem thinking).
3. Ketahanan nasional sebagai doktrin. Ketahanan nasional merupakan salah satu konsepsi khas Indonesia yang berupa ajaran konseptual tentang pengaturan dan penyelenggaraan bernegara. Sebagai doktrin dasar nasional, konsep ketahanan nasional di masukkan dalam GBHN agar setiap orang, masyarakat, dan penyelenggara menerima dan menjalankannya.

B. Sejarah Lahirnya Ketahanan Nasional di Indonesia
Gagasan tentang ketahanan nasional bermula pada awal tahun 1960-an pada kalangan militer angkatan darat di SSKAD yang sekarang bernama SESKOAD. Masa itu adalah sedang meluasnya pengaruh komunisme yang berasal dari Uni Sovyet dan Cina. Pengaruh komunisme menjalar sampai kawasan Indo Cina sehingga satu persatu kawasan Indo Cina menjadi negara komunis seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja. Bahkan infiltrasi komunis mulai masuk ke Thailand, malaysia, dan Singapura.
Tahun 1960-an terjadi gerakan komunis di Filipina, Malaya, Singapura, dan Thailand. Bahkan, gerakan gerakan komunis Indonesia berhasil mengadakan pemberontakan pada 30 september 1965, namun akhirnya dapat diatasi. Menyadari atas berbagai kejadian tersebut, semakin kuat gagasan pemikiran tentang kekuatan apa yang seharusnya ada dalam masyarakat dan bangsa Indonesia agar kedaulatan dan keutuhan bangsa Indonesia terjamin di masa-masa mendatang. Jawaban atas eksploratif tersebut adalah adanya kekuatan nasional yang antara lain berupa unsur kesatuan dan persatuan serta kekuatan nasional.
Pengembangan atas dasar pemikiran awal di atas semakin kuat stelah berakhirnya gerakan G 30 S PKI. Pada hun 1968, pemikiran di lingkungan SSKAD tersebut dilanjutkan oleh Lemhanas ( Lembaga Pertahanan Nasional). Tantangan dan ancaman trhadap bangsa harus diujudkan dalam bentuk tameng yang terdiri dari unsur-unsur ideologi, ekonomi, sosial, dan militer. Tameng yang dimaksud adalah sublimasi dari konsep kekuatan sebagai manifestasi konsep dari SSKAD.
Dalam pemikiran Lemhanas tahun 1968 tersebut telah ada kemajuan konseptual berupa ditemukannya unsur-unsur dari tata kehidupan nasional yang berupa ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan militer. Pada tahun 1969, lahirlah istilah ketahanan nasional. Konsepsi ketahanan nasional waktu itu dirumuskan sebagai keuletan dan daya tahan suatu bangsa yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional yang ditujukan untuk menghadapi segala ancaman dan kekuatan yang membahayakan kelangsungan hidup negara dan bangsa Indonesia.
C. Ketahanan Nasional Dalam GBHN
Rumusan mengenai ketahanan nasional dalam GBHN 1998 adalah sebagai berikut.
1. Untuk tetap memungkinkan berjalannya pembangunan nasional yang selalu harus menuju ketujuan yang ingin dicapai dan agar dapat secara efektif dielakkan dari hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan yang timbul baik dari luar maupun dari dalam makapembangunan nasional diselenggarakan melalui pendekatan ketahanan nasional yang mencerminkan keterpaduan antara segala aspek kehidupan nasional bangsa secara utuh dan menyeluruh.
2. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis yang merupakan integrasi dari kondisi tiap aspek kehidupan bangsa dan negara. Pada hakikatnya ketahanan nasional adalah kemampuan dan ketangguhan suatu bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara. Berhasilnya pembangunan nasioinal akan meningkatakan ketahanan nasional. Selanjutnya ketahanan nasional yang tangguh akan mendorong pembangunan nasional.
3. Ketahanan nasional meliputi ketahanan ideologi, ketahanan politik, ketahanan ekonomi, kethanan sosoial budaya, dan ketahanan pertahanan keamanan.
a. Ketahahanan ideologi adalah kondisi mental bangsa Indonesia yang berlandaskan keyakinan akan kebenaran ideologi Pancasila yang mengandung kemampuan untuk menggalang dan memelihara persatuan dan kesatuan nasional dan kemampuan menangkal penetrasi ideologi asing serta nilai-nilai yang tidak sesuai dengan jepribadian bangsa.
b. Ketahanan politik adalah kondisi kehidupan politik bangsa Indonesia yang berlandaskan demokrasi politik berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang mengandung kemampuan memelihara sistem politik yang sehat dan dinamis serta kemampuan menerapkan politik lusr negeri yang bebas dan aktif.
c. Ketahanan ekonomi adalah kondisi kehidupan perekonomian bangsa yang berlandaskan demokrasi ekonomi yang berdasarkan Pancasila yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas ekonomi yang sehat dan dinamis serta kemampuan menciptakan kemandirian ekonomi nasional dengan daya saing yang tinggi dan mewujudkan kemakmuran rakyat yang adil dan merata.
d. Ketahanan sosial budaya adalah kondisi kehidupan sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berdasarkan Pancasila yang mengadung kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan sosial budaya manusia dan masyarakat Indonesia.
e. Ketahanan pertahanan keamanan adalah kondisi daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela negara seluruh rakyat yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas pertahanan keamanan negara yang dinamis, mengamankan pembangunan dan hasil-hasilnya serta kemampuan mempertahnkan kedaulatan negara dan menangkal segala bentuk ancaman.

D. Unsur-Unsur Ketahanan Nasional
1. Penduduk
Penduduk suatu negara menentukan kekuatan atau ketahanan nasional negara yang bersangkutan. Faktor yang berkaitan dengan penduduk negara meliputi dua hal berikut :
1) Aspek kualitas mencakup tingkat pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan kepribadian.
2) Aspek kuantitas mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan, dan perimbangan penduduk di tiap wilayah negara.
2. Wilayah
Wilayah turut pula menentukan kekuatan nasional negara. Dalam kaitannya dengan wilayah negara, pada masa sekarang ini perlu dipertimbangkan adanya kemajuan teknologi, kemajuan informasi dan komunikasi. Suatu wilayah yang pada awalnyasama sekali tidak mendukung kekuatan nasional, karena penggunaan teknologi maka wilayah itu kemudian menjadi unsur kekuatan nasional negara. Misal, wilayah kering dibuat saluran atau sungai buatan.
3. Sumber daya alam
Hal-hal yang berkaitan dengan unsur sumber daya alam sebagai elemen ketahanan nasional meliputi:
1) Potensi sumber daya alam wilayah yang bersangkutan mencakup sumber daya alam hewani, nabati, dan tambang.
2) Kemempuan mengeksplorasi sumber daya alam.
3) Pemanfaatan sumber daya alam dengan memperhitungkan masa depan dan lingkungan hidup.
4) Kontrol atas sumber daya alam

4. Bidang Ideologi
Ideologi adalah seperangkat gagasan, ide, cita dari sebuah masyarakat tentang kebaikan bersama yang dirumuskan dalam bentuk tujuan yang harus di capai dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu. Ideologi mendukung ketahanan suatu bangsa oleh karena ideologi bagi suatu bangsa memiliki dua fungsi pokok, yaitu:
1) Sebagai tujuan atau cita-cita dari kelompok masyarakat yang bersangkutan,
2) Sebagai sarana pemersatu dari masyarakat yang bersangkutan.

5. Bidang politik
Politik penyelenggaraan bernegara amat mempengaruhi kekuatan nasional suatu negara. Penyelenggaraan bernegara dapat di tinjau dari beberapa aspek, seperti:
1) Sistem politik yang dipakai apakah sistem demokrasi atau nondemokrasi.
2) Sistem pemerintahan yang di jalankan apakah sistem presidensiil atau parlementer.
3) Bentuk pemerintahan yang dipilih apakah republik atau kerajaan.
4) Susunan negara yang dibentuk apakah sebagai negara kesatuan atau negara serikat.

6. Bidang ekonomi
Ekonomi yang di jalankan oleh suatu negara merupakan kekuatan nasional negara yang bersangkutan terlebih di era global sekarang ini. Bidang ekonomi berperan langsung dalam upaya pemberian dan distribusi kebutuhan warga negara. Kemajuan pesat di bidang ekonomi tenntu saja menjadikan negara yang bersangkutan tumbuh sebagai kekuatan dunia. Contoh, Jepang dan Cina.
7. Bidang sosial budaya
Unsur budaya di masyarakat juga menentukan kekuatan nasional suatu negara. Hal-hal yang dialami sebuah bangsa homogen tentu saja akan berbeda dengan yang dihadapi bangsa yang heterogen (plural) dari segi sosial budaya masyarakatnya. Contoh bangsa Indonesia yang heterogen berbeda dengan bangsa Israel atau bangsa Jepang yang relatif homogen.
8. Bidang pertahanan keamanan
Pertahanan keamanan suatu negara merupakan unsur pokok terutama dalam menghadapi ancaman militer negara lain. Oleh karena itu, unsur utama pertahanan keamanan berada di tangan tentara (militer). Pertahanan keamanan negara juga merupakan salah satu fungsi pemerintahan negara.
Negara dapat melibatkan rakyatnya dalam upaya pertahanan negara sebagai bentuk dari hak dan kewajiban warga negara dalam membela negaran. Supaya melibatkan rakyat maenggunakan cara yang berbeda-beda sesuai dengan sistem dan politik pertahanan yang dianut oleh negara.
E. Pembelaan Negara
Terdapat hubungan antara ketahanan nasional suatu negara dengan pembelaan negara. Kegiatan pembelaan negara pada dasrnya merupakan usaha dari warga negara untuk mewujudkan ketahanan nasional.
Membela negara merupakan kewajiban sebagai warga negara. Membela negara ternyata bukan hanya kewajiban tetapi juga hak setiap warga negara terhadap negaranya. Membela negara Indonesia adalah hak dan kewajiban dari setiap arga negara Indonesia. Hal ini tercantum secara jelas dalam pasal 27 ayat 3 UUD 1945 perubahan kedua yang berbunyi “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. Setiap warga negara juga berhak dan wajib ikut serta dalam pertahanan negara. Hal demikian sebagaimana tercantum dalam pasal 30 UUD 1945 Perubahan Kedua bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara.
Konsep Bela Negara dapat diuraikan secara fisik maupun nonfisik. Secara fisik yaitu dengan cara “memanggul bedil” menghadapi serangan atau agresi musuh. Bela negara secara fisik dilakukan untuk menghadapi ancaman dari luar. Adapun bela negara secara nonfisik dapat di definisikan sebagai “segala upaya untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan cara meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan terhadap tanah air serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara”.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

ketahanan nasional merupakan pendekatan yang digunakan bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya. Terdapat tiga persepektif atau sudut pandang terhadap konsepsi ketahanan nasional.
4. Ketahanan nasional sebagai kondisi.
5. Ketahanan nasional sebagai sebuah pendekatan.
6. Ketahanan nasional sebagai doktrin.
Gagasan tentang ketahanan nasional bermula pada awal tahun 1960-an pada kalangan militer angkatan darat di SSKAD yang sekarang bernama SESKOAD.
Unsur-unsur ketahanan nasional:
9. Penduduk
10. Wilayah
11. Sumber daya alam
12. Bidang Ideologi
13. Bidang politik
14. Bidang ekonomi
15. Bidang sosial budaya
16. Bidang pertahanan keamanan
Membela negara merupakan kewajiban sebagai warga negara. Membela negara ternyata bukan hanya kewajiban tetapi juga hak setiap warga negara terhadap negaranya. Konsep Bela Negara dapat diuraikan secara fisik maupun nonfisik.

DAFTAR PUSTAKA

Winarno, 2009, Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta:Bumi Aksara

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 17, 2013 in civic education

 
 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.