SISTEM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ada dua bentuk kegiatan pendidikan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dari kalangan ahli pendidikan Islam di Indonesia. Bentuk-bentuk itu hampir pasti mendukung usaha pendidikan agama Islam di Indonesia. Kegiatan pendidikan itu mempengaruhi orang untuk beragama Islam dan atau meningkatkan keislaman seseorang. Bentuk-bentuk yang dimaksud ialah pesantren kilat dan perguruan silat tenaga dalam.
Kedua bentuk ini mungkin saja pada suatu ketika akan berkembang sebagai suatu sistem pendidikan. Bentuk pertama lebih jelas sistemnya daripada bentuk kedua. Kedua bentuk ini sebenarnya amat menarik perhatian. Pesantren kilat berkembang secara luar biasa sejak tahun 1980-an. Bentuk ini semakin berkembang kearah pendidikan pesantren gaya lama, suatu perkembangan yang bukan mustahil menuju arah yang lebih benar. Perguruan silat tenaga dalam mengandung persoalan-persoalan yang amat pelik; diperlukan kacamata khusus untuk memahaminya, katakanlah diperlukan paradigma khusus untuk menelitinya: paradigma mistik.
B. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini yaitu mengetahui apa yang dimaksud sistem pendidikan agama Islam serta bagaimana sistemnya.
C. Rumusan Masalah
1. Apakah sistem pendidikan agama Islam itu?
2. Apa saja bentuk-bentuk sistem pendidikan agama Islam?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sistem Pendidikan Islam
Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “sistema” yang artinya: suatu keseluruhan yang tersusun dari banyak bagian (whole compounded of several parts). Di antara bagian-bagian itu terdapat hubungan yang berlangsung secara teratur. Definisi sistem yang lain dikemukakan Anas Sudjana yang mengutip pendapat Johnson, Kost dan Rosenzweg sebagai berikut “Suatu sistem adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks.” Sedangkan Campbel menyatakan bahwa sistem itu merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
Dalam Islam, istilah pendidikan diyakini berasal dari bahasa Arab yaitu tarbiyah yang berbeda dengan kata ta’lîm yang berarti pengajaran atau teaching dalam bahasa Inggris. Kedua istilah (tarbiyah danta’lîm) berbeda pula dengan istilah ta’dzîb yang berarti pembentukan tindakan atau tatakrama yang sasarannya manusia. Walaupun belum ada kesepakatan di antara para ahli, dalam kajian ini yang dimaksud pendidikan Islam adalah al-tarbiyah, istilah bahasa Arab yang menurut penulis dapat meliputi kedua istilah di atas. Hal yang sama dikemukakan oleh Azyumardi Azra bahwa pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks Islam inhern dalam konotasi istilah tarbiyah, ta’lîm danta’dzîb yang harus dipahami secara bersama-sama.
Dari pemaparan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa pendidikan Islam berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sarana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara sesuai dengan ajaran Islam. Rumusan ini sesuai dengan pendapat Endang Saefudin Anshari yang dikutip Azra bahwa pendidikan Islam adalah proses bimbingan oleh pendidik terhadap perkembangan fisik dan psikis siswa dengan bahan-bahan materi tertentu dengan metoda tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu sesuai dengan ajaran Islam.
Berdasarkan uraian di atas, yang dimaksud sistem pendidikan Islam yaitu suatu kesatuan komponen yang terdiri dari unsur-unsur pendidikan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan sesuai dengan ajaran Islam.
(http://tutorialpai.mkdu.upi.edu/definisi-sistem-pendidikan-islam/)
B. Bentuk Sistem Pendidikan Islam Di Indonesia
1. Pesantren Kilat
Istilah pesantren pasti sudah dikenal oleh orang Indonesia. Itu adalah nama lembaga pendidikan Islam yang paling tua di Indonesia. Pada lembaga pesantren biasanya ada kiai, ada santri, ada kegiatan membaca kitab kuning, ada pondokan santri, ada masjid, itulah kira-kira syarat untuk disebut pesantren.
Pada sekitar tahun 1970-an orang-orang di Departemen Agama Pusat mengirimkan anak mereka ke pesantren Gontor bila datang saat libur sekolah. Disana mereka mondok dan belajar agama selama libur tersebut. Kemudian sejak tahun 1980-an, di kota bandung banyak sekali orang yang mennyelenggarakan pesantren kilat. Menjelang libur orang-orang mengedarkan pengumuman, kadang-kadang lewat surat kabar, bahwa akan di buka pesantren kilat yang umumnya diadakan di masjid. Lamanya berkisar 7 sampai 30 hari. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.120). Disana di ajarkan membaca al-Qur’an, keimanan Islam, fikh, dan akhlak. Pokoknya materi-materi pelajaran yang sering disebut bahan pengajaran agama.
Peserta itu dibagi menurut tingkat kemampuannya, mulai dari kelompok pemula yang belajar membaca al-Qur’an dan amalan agama sehari-hari sampai kelompok lanjutan yang belajar membaca kitab kuning dan diskusi dalam masalah-masalah Islamyang kontemporer.
Motif para orang tua memasukkan anaknya ke pesantren kilat antara lain:
Pertama, agar anaknya tidak nakal. Orangt tua sekarang khawatir sekali terhadap perkembangan akhlak anaknya. Sudah banyak gejala kenakalan anak remaja. Misalnya sering berkelahi, minunm-minuman keras, narkotika, kenakalan seksual, dan lain-lain. Kenakalan ini ada yang berujung pada tindakan kejahatan misalnya mencuri kecil-kecilan yang pada akhirnya berujung pada perampok.
Orang tua anak tidak ingin anaknya demikian. Dalam hal ini mereka memasukkan anaknya ke pesantren kilat denga tujuan agar anaknya tidak nakal seperti gambarn diatas.
Kedua, motif mengisi waktu. Disini orang tua memasukkan anaknya ke pesantren kilat dengan maksud mengisi waktu luang (karena libur). Rupanya orang tua tahu bahwa waktu luang bagi anak dan remaja adalah waktu yang amat berbahaya bila tidak diisi dengan atau dialihkan pada kegiatan positif.
Anak remaja adalah orang yang kelebihan energi. Bila tidak disalurkan dengan tepat, itu akan sangat berbahaya. Tatkala sekolah tidak libur, energi itu digunakan untuk belajar disekolah. Malam belajar, pagi-pagi berangkat kesekolah, di sekolah belajar, pulang dari sekolah badan dan mental mereka sudah payah, lantas istirahat, malamnya kembali mengerjakan pekerjaan rumah, begitu suterusnya. Energi remaja itu terpakai semuanya. Bila tatkala libur, penyaluran energui itu dapat saja ke hal-hal yang negatif. Untuk mengantisipasinya orang tua itu memasukkan anaknya ke pesantren kilat.
Ketiga, menutupi kekurangan pendidikan agama di sekolah. Ada juga orang tua yang memasukkan anaknya ke pesantren kilat karena merasa pendidikan agama Islam yang diperoleh anaknya di sekolah masih kurang. Misalnya anak belum mampu membaca al-Qur’an, belum dapat membaca do’a, belum dapat berkhotbah, dan lain-lain. Lantas anak itu di masukkan ke pesantren kilat dengan tujuan agar penngetahuan agama anaknya menjadi semakin lengakap dan mengamalkan ajaran agamnya itu sehari-hari.
Beberapa yang sebaiknya di perhatikan oleh penyelenggara pesantren kilat:
a. Hendaknya pesantren kilat diadakan di pesantren. Artinya, pesantren mengadakan pesantren kilat. Tempatnya di pesantren, mereka mondok di pesantren, tata caranya tata cara pesantren. Inilah bentuk pesantren kilat yang terbaik.
b. Aturan di pesantren kilat kilat hendaknya di atur persis seperti aturan kehidupan di pesantren.aturan yang terpenting ialah hidup sederhana, melayani dir sendiri, melaksanakan ibadah tepat waktu dan gembira, menghormati guru, pergaulan Islami, dan kerja sama.
c. Tradisi pesantren di terapkan pada santri pesantren kilat. Misalnya bangun malam untuk mandi dan shalat, wirid, atau pepujian.
d. Kurikulum pesantren kilat cukup di bagi dua macam, yang berlaku umum dan yang berlaku khusus sesuai dengan tingkat kematangan peserta.
e. Biaya pesantren kilat jangan terlalu rendah.
f. Kebersihan tempat dan makanan perlu di perhatikan.
g. Kehidupan sederhana benar-benar harus di tuntun tanpa pilih bulu. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.125)

Untuk meningkatkan menfaat pesantren kilat di luar pesantren mungkin dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Usahakan agar santri mendapat pemondoakan selama kegiatan pesantren kilat berlangsung.
b. Usahakan agar di tegakkan tata kehidupan Islami yang mirip dengan di pesanren.
c. Kurikulum dapat diatur seperti kurikulum pesantren kilat di pesantren sekalipun tidak mungkin persis sama. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.127).

2. Perguruan Silat Tenaga Dalam
Secara gampang tenaga dalam ialah tenaga gaib. Disini kata “tenaga” itu mempunyai arti yang cukup luas, lebih luas daripada pengertian tenaga yang dikenal dalam fisika. Tenaga dalam agaknya tidak dapat dipahami dengan akal saja; tenaga dalam terutama dipahami dengan cara “mengalaminya”. Pada silat tenaga dalam, tenaga dalam itu kehilatan dalam rupa seseorang dijatuhkan dari jauh, yaitu yang menjatuhkan tidak menyentuh orang yang dijatuhkannya. Akan tetapi, agaknya itu hanyalah salah satu bentuk tenaga dalam. Kemampuan supranatural seperti pada permainan debus kelihatannya termasuk kedalam rumpun tenaga dalam. Sihir, guna-guna, pelet, dan sejenisnya, termasuk jampi-jampi dan doa dapat di golongkan sebagai tenaga dalam.
Sebagian besar tenaga dalam tidak dapat dipahami lewat akal. Diperlukan paradigma tersendiri untuk memahaminya. Paradigma itu barangkali dapat disebut paradigma mistik., yaitu paradigma yang bukan empiris dan bukan logis. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.128).
Inti pengajaran tenaga dalam ialah mencari perlindungan dari bahaya dengan tidak menggunakan tenaga fisik. Belum diketahui secara pasti seperti apa tenaga dalam itu sebenarnya. Baiklah, tetapi dimana kegiatan silat tenaga dalam yang bernilai pendidikan agama Islam itu? Ikuti kasus berikut.
Kasus pertama. Seorang anggota kelompok anak nakal mendapat ancaman, mungkin dari boss-nya atau dari kelompok lain. Ia mencari guru yang dapat memberikan kepadanya ilmu yang dapat melindunginya. Lantas seseorang mengatakan ia harus berguru kepada si Anu yang mengajarkan tenaga dalam. Lalu ia datang kesana. Disana ia diterima dengan baik, lantas diberi ilmu. Setelah itu, guru memberi nasihat seperti ini:

– Ilmu ini tidak dapat digunakan untuk menyerang.
– Ilmu ini hanya melindungi kamu selama kamu percaya kepada Tuhan.
– Orang yang percaya kepada Tuhan wajib menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.
– Pantangan keras ilmu ini adalah minuman keras dan zina.
– Semakin patuh kamu kepada Tuhan, semakin dilindungi kamu oleh ilmu ini.
Kasus kedua. Ada seorang remaja yang ingin memperoleh jadi dirinya. Itu menurut pendapatnya, harus memiliki ilmu ghaib, seperti ilmu kebal, menjatuhkan orang dari jarak jauh, memanggil teman dari jarak jauh, dan sebagainya. Anak-anak begini adalah yang banyak gagal dalam kehidupan, kurang berprestasi disekolah, gagal dalam percintaan dan pergaulan. Ia ingin memperlihatkan siapa dirinya. Ia memilih perguruan tenaga dalam, dan belajar disana. Memang, kelihatannya apa yang diinginkannya akan dapat diperolehnya, tetapi sang guru tidak akan begitu saja memberikan ilmu kepadanya. Ia harus berjuang lebih dahulu, umpamanya harus membersihkan dirinya lebih dahulu dan menghaluskan tenaga batin. Sang guru berkata bahwa semua ilmu milik Allah dan akan diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Penuntut ilmu haruslah orang yang berjalan dijalan Allah. Ilmu tidak akan digunakan untuk kejahatan. Selanjutnya, seperti tadi ia harus bertobat, shalat, meninggalkan dosa, terutama zina dan minuman keras.
Tak pelak lagi, kasus manapun dari kedua kasus tadi yang dilewati, orang akan memperoleh peluang untuk menjadi muslim yang baik. Coba saja, orang harus bertobat, harus shalat, harus meninggalkan dosa, terutama meninggalkan minnuman keras dan zina, orang harus merasa dekat dengan Tuhan dan pertolongan Tuhan. Ini adalah rumusan-rumusan singkat untuk menuju kepada Tuhan. (Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, hal.129).
Mula-mula pasti atau hampir pasti motivasinya bukan karena Allah, melainkan karena menginginkan kekuatan tenaga dalam atau tenaga ghaib. Akan tetapi sang guru berangsur-angsur mengalihkan niat tersebut kearah niat yang benar, yaitu karena Allah. Akhirnya ia menjadi orang yang baik, Muslim yang taat.
Ada kelebihan yang patut diperhatikan pada pendidikan ini. Pertama, gurunya tidak terlalu banyak bicara, tetapi contohlah yang banyak diberikannya. Kedua, pendidikan agama seperti ini dapat menjangkau murid yang liar, yang tadinya tidak terjangkau oleh mubalig yang terkenal sekalipun.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
sistem pendidikan Islam yaitu suatu kesatuan komponen yang terdiri dari unsur-unsur pendidikan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan sesuai dengan ajaran Islam.
Bentuk sistem pendidikan Islam yaitu:
1. Pesantren kilat
2. Perguruan silat tenaga dalam

B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini kami sebagai penulis mengakui adanya kekurangan dalam makalah ini. Untuk itu kami sangat membutuhkan kritik serta sarannya guna memperbaiki kekurangan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Tafsir Ahmad, 2004, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://tutorialpai.mkdu.upi.edu/definisi-sistem-pendidikan-islam/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s