Aqidah Islam Sebagai Suatu yang di wahyukan Allah

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Filsafat-fisafat Yunani dan lainnya telah berusaha mempelajari ke-Tuhanan, maka mereka pun mengemukakan pendapat-pendapat yang saling bertentangan sebagaimana para ulama di zaman ini berbeda pendapat dalam menafsirkan ke-Tuhanan. Sementara para nabi datang membawa kepastian dalam penafsiran dan penentuan kekuatan Ilahi dengan pendapat yang menentramkan akal.
Andaikata akal mannusia bertindak sendirian dalam memahami kebenaran-kebenaran ini, maka tidak akan dapat menjangkaunya, khususnya dalam perkara-perkara ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia dan pengetahuan tanpa wahyu yang disampaikan Allah kepada nabi-nabi. Begitu pula dengan aqidah Islam.

2. TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui bahwa aqidah Islam itu merupakan suatu yang diwahyukan oleh Allah SWT.

3. RUMUSAN MASALAH

1. Dari mana sumber aqidah Islam?
2. Apakah aqidah Islam merupakan suatu yang diwahyukan oleh Allah SWT?

BAB II
PEMBAHASAN
AQIDAH ISLAM SEBAGAI SUATU YANG DIWAHYUKAN ALLAH SWT

Kehadiran wahyu di ranah makhluk yang profan, merupakan perwujudan dari sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim sang Khalik yang Maha Sakral. Ia dihadirkan sebagai perangkat bagi manusia untuk menggapai fitrahnya, yang mencakup iman (aspek akidah), islam (aspek syariat) dan ihsan (aspek akhlak), dalam sebuah kemasan yang kita kenal sebagai agama.
Wujud ‘aqidah Islam adalah wahyu yang konkritnya adalah al-Qur’an al-Kariim dan as-Sunnah ash-shahihah al-maqbuulah, (sunnah yang shahih dan dapat diterima sebagai dasar beragama) dan mengikat kita yang mengaku beragama Islam.
Orang Islam itu , kepercayaannya, ucapannya, dan perbuatannya terikat oleh ‘aqidah yang wujudnya adalah (al-Qur’an dan as-Sunnah ash-shahihah al-maqbulah), tidak bebas semau-maunya.
Aqidah Islam merupakan aqidah yang sangat istimewa, jauh berbeda dengan keyakinan umat manapun di dunia ini.Hal ini tidak mengherankan, karena aqidah Islam merupakan aqidatun naqiyyatun ( aqidah yang bersih, murni ) terambil dari wahyu yang tidak tersentuh sedikit pun oleh kebatilan dari manapun datangnya. Berikut ini ada beberapa keistimewaan Aqidah Islam yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Ibrahim al-Hamd dalam bukunya “ Mukhtashar Aqidah Ahlus-Sunnah Wal-Jama’ah “ ).
01. Sumber Pengambilannya Murni
Aqidah Islam sumbernya sangat jelas, yakni bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ Salafush shalih. Jadi, air aqidah Islam bersumber dari hulu yang jernih, bening, bersih dan jauh dari kekeruhan hawa nafsu dan syahwat umat manusia. Keistimewaan seperti ini tidak dimiliki dalam agama lain, baik madzhab, ideology maupun keyakinan di luar aqidah Islam. Orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah.
Kaum sufi mengambil ajarannya dari kasyaf (terbukanya tabir antara makhluk dengan Tuhan), dari ilham, hadas (tebakan), dan dari mimpi-mimpin penganutnya.
Para ahli ilmu kalam mengambil ajarannya dari akal (rasio). Sementara itu para penganut madzhab-madzhab pemikiran dan aliran-aliran sesat lainnya, seperti Komunisme dari pemikiran Karl Marx, dan tokoh-tokoh kumunis dunia. Ajaran Liberlisme , Sekularisme, dan Konghucu, semuanya berdasarkan kepada pemikiran tokoh-tokoh mereka yang sarat dengan syahwat dan hawa nafsu para pendirinya. Sedangkan aqidah Islam selamat dan bersih dari kebohongan, kepalsuan dan syahwat-hawa nafsu umat manusia, karena dibawa oleh Nabi yang ummi dan Rasulullah SAW. Oleh karena itu Aqidah Islam bukanlah “Muhammadanism“ paham Muhammad, sebagaimana yang dituduhkan oleh para Orientalis barat. Aqidah Islam adalah fitrah Allah yang sesuai dengan ciptaan manusia.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (الروم : ٣٠)

Artinya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan ( sedikit pun ) pada fitrah Allah itu. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( QS 30 : 30 )
02. Berdiri di atas Pondasi Penyerahan Diri kepada Allah dan Rasul-Nya
Dasar aqidah Islam itu keyakinan kepada Allah yang bersifat ghaib. Keyakinan yang bersifat ghaib harus bertumpu pada penyerahan diri ( Islam ) kepada Zat yang ghaib itu. Jadi agama Islam tidak akan berdiri tegak selain berdiri di atas pondasi penyerahan diri dan kepasrahan kepada Allah. Jadi, beriman kepada yang ghaib merupakan salah satu sifat terpenting bagi umat Islam dan orang-orang mukmin yang sangat dipuji oleh Allah dalam Al-Qur’an :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (البقرة : ٢-٣)

Artinya:
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Yakni, mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” ( QS 2 : 2 – 3 )
Kenapa aqidah Islam bertumpu pada penyerahan diri kepada Allah. Karena akal manusia tidak mampu memikirkan Zat yang maha pencipta itu. Oleh karena itu manusia disuruh oleh Allah memikirkan, merenungkan dan bahkan mengkreasi makhluk ciptaan-Nya. Tapi jangan sekali-kali memikirkan Zat maha pencipta itu. Sebab, akal manusia tidak mampu memahami Zat yang maha ghaib itu, karena kelemahan dan keterbatasan akal itu sendiri. Pendengaran, penglihatan dan alat panca indra manusia sangat terbatas, maka akal manusia pun terbatas. Sehingga tidak ada pilihan lain selain beriman kepada yang ghaib dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla.
Sementara aqidah-aqidah yang lain tidak memiliki sandaran ajaran penyerahan diri kepada Allah dan Rasul- Nya, melainkan tunduk kepada rasio, akal, dan hawa nafsu. Padahal sejatinya, sumber kerusakan umat/bangsa dan agama tidak lain karena mendahulukan rasio daripada wahyu, mendahulukan hawa nafsu daripada petunjuk Allah dan mendahulukan kepentingan golongan dari pada kepentingan syari’at Allah.
03. Aqidah Islam itu Mudah, Terang dan Jelas
Aqidah Islam sangat mudah, terang dan jelas, sejelas dan seterang matahari di siang hari. Tidak ada kekaburan sedikit pun, kerumitan, kerancuan, maupun kebengkokan di dalamnya. Karena, lafazh-lafazhnya begitu jelas dan makna-maknanya demikian terang, sehingga bisa dipahami oleh orang sekolahan, para sarjana berilmu pengetahuan maupun orang awam, anak kecil maupun orang tua. Karena Rasulullah SAW yang membawa aqidah ini berada dalam kondisi putih bersih, sehingga beliau dipanggil sebagai “ Al-Amin “ sang kejujuran.
Begitu nyata dan pastinya aqidah ini, sehingga Al-Qur’an yang menjadi sumber ajaran Islam ini ibarat air yang menyuburkan kehidupan mulai dari anak-anak, bayi, orang kuat, orang lemah sampai kepada hewan ternak dan tetumbuhan di muka bumi ini mengambil manfaat dari Al-Islam. Karena kehidupan ini bagaikan air hujan yang turun dari langit, menyuburkan tanaman, menyegarkan udara dan mendorong lahirnya kehidupan yang baru. Itulah Al-Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا (الكهف : ٤٥)

Artinya:
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan di dunia ini bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, maha kuasa atas segala sesuatu.” ( QS 18 : 45 )
04. Aqidah Islam itu Bebas dari Kerancuan Paradoks dan Kekaburan
Dalam aqidah Islam tidak ada tempat untuk rancu, kabur dan bertentangan satu sama lain. Karena aqidah Islam adalah wahyu Allah yang tidak mungkin dimasuki oleh kebatilan. Allah SWT telah berjanji akan memelihara Al-Qur’an ini dengan cara tersystem. Sejak dari masa turunnya ( abad ke VI masehi ) Al-Qur’an itu dihafal oleh para sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in sampai pada hari ini. Tidak ada celah untuk menodai dan merusak Al-Qur’an. Jika itu terjadi akan cepat ketahuan oleh system yang Allah ciptakan sendiri.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)

Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran itu, dan sesungguhnya Kami pula-lah yang memeliharanya.” ( 15 : 9 )
BAB III
KESIMPULAN

Aqidah Islam merupakan aqidah yang sangat istimewa, jauh berbeda dengan keyakinan umat manapun di dunia ini.Hal ini tidak mengherankan, karena aqidah Islam merupakan aqidatun naqiyyatun ( aqidah yang bersih, murni ) terambil dari wahyu yang tidak tersentuh sedikit pun oleh kebatilan dari manapun datangnya.
keistimewaan Aqidah Islam
 Sumber Pengambilannya Murni
 Berdiri di atas Pondasi Penyerahan Diri kepada Allah dan Rasul-Nya
 Aqidah Islam itu Mudah, Terang dan Jelas
 Aqidah Islam itu Bebas dari Kerancuan Paradoks dan Kekaburan

DAFTAR PUSTAKA

http://danusiri.dosen.unimus.ac.id/materi-kuliah/fk/hub-antara-aqidah-dan-iman/
http://www.masjidagungalazhar.com/index_r.php?module=tasy&sub=detailtasy&idt=105&judul=TAUSIYAH&ver=0
http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2043197-kehadiran-wahyu/#ixzz1pGYw51PH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s