AQIDAH ISLAM TIDAK BERBEDA DENGAN YANG DIAJARKAN PARA NABI DAN RASUL TERDAHULU

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Ajaran yang tertera pada aqidah Islam yaitu mengesakan Allah. Bahwa tidak ada yang disembah kecuali Allah SWT, dan tidak melakukan syirik (menyekutukan Allah). Firman Allah:
“Dan sesengguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan) niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S 39:65)

2. TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu mahasiswa mengetahui bahwa aqidah Islam yang diajarkan para nabi terdahulu tidak ada perbedaan.

3. RUMUSAN MASALAH
Apakah aqidah Islam yang diajarkan nabi dan rasul terdahulu tidak berbeda?

BAB II
PEMBAHASAN
AQIDAH ISLAM TIDAK BERBEDA DENGAN YANG DIAJARKAN PARA NABI DAN RASUL TERDAHULU

Iman kepada Allah adalah fitrah dalam jiwa manusia.
Maka setiap manusia mendapatkan dirinya dikuasai oleh suatu kekuatan yang vlebih tinggi dari kekuatannya, akan tetapi banyak manusia yang berbeda dalam pnentuan kekuatan itu. Diantaranya ada yang menafsirkan sebagai kekuatan alam dan ada yang menafsirkan sebagai berhala-berhala yang mereka buat dan yang lain menafsirkannya selain itu.
Maka datanglah nabi-nabi membetulkan kesesatan-kesesatan ini dan membimbing akal kearah iktikad akan adanya Allah dan ke-Esaan-Nya.
Dakwah pertama dari nabi dan tujuan mereka yang terbesar disetiap zaman dalam setiap lingkungan adalah pembetulan aqidah mengenai Allah Ta’ala dan pembetulan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Juga mengajak kepada penngikhlasan agama bagi Allah semata, bahwa Dialah yang mendatangkan manfaat dan bahaya. Kepada-Nya manusia berdoa dan berlindung serta beribadah.
Missi para nabi dipusatkan dan diarahkan kepada pemberantasan berhala di masa-masa mereka, yang tercermin dalam bentuk penyembahan patung-patung, berhala-berhala, dan orang-orang suci, baik yang masih hidup maupun sudah mati.
Andaikata akal manusia bertindak sendirian dalam memahami kebenaran-kebenaran ini, maka tidak akan dapat menjangkaunya, khususnya dalam perkara-perkara ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia dan pengetahuan tanpa wahyu yang disampaikan Allah kepada nabi-nabi.1
1Zaed Husein Alhamid.Kisah 25 Nabi dan Rasul.Pustaka Amani.Jakarta.1995.h.vii
Sehubungan dengan ini tentulah berbagai wahyu Allah kepada para nabi-Nya itu baik yang dibukukan maupun tidak adalah menyuarakan irama yang sama, terutama dalam hal ajaran pokok berupa larangan dan suruhan. Larangan berzina, membunuh orang tanpa hak, syirik, mencuri, menipu, durhaka pada orang tua, dan lain-lain merupakan ajaran universal yang disampaikan para nabi. Begitu pula suruhan nabi untuk menyembah Allah semata, menikah, taat pada orang tua, bersifat jujur, dan lain-lain, adalah ajaran yang disampaikan secara estafet oleh para rasul pada umat manusia. Pokok-pokok ajaran itu bersifat tetap dan permanen, tidak berubah. Yang mungkin bisa berubah adalah pola dan teknis pelaksanaannya, karena perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi para nabi yang bersangkutan.2
Para nabi dan rasul Allah sejak nabi adam as. Sampai nabi muhammad saw. Tidak ada perbedaan dalam mengajarkan aqidah kepada umatnya.
Nabi dan rasul bertugas menyampaikan ajaran-ajaran Allah, oleh karena sumber ajaran yang dibawakan oleh para nabi/rasul itu adalah satu yaitu berasal dari Allah swt., maka isi ajaran (aqidah) yang diajarkan sejak nabi adam as. Sampai nabi muhammad saw. Adalah sama , yaitu islam. Sehingga diantara mereka tidak ada perbedaan dalam mengajarkan aqidah keumatnya.
Firman Allah dalam Qur’an Surat al Anbiya’ [21]; ayat 25:
ﻭﻣﺎ ﺍﺭﺳﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﻗﺒﻠﻚ ﻣﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻻﻧﻮﺣﲕ ﺍﻟﻴﻪ ﺍﻧﻪ
ﻻﺍﻟﻪ ﺍﻻ ﺍﻧﺎ ﻓﺎﻋﺒﺪﻭن
Artinya:

2Kaelany.Islam dan Aspek-aspek kemasyarakatan.Bumi Aksara.Jakarta.2005.h.21
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) selainkan Aku, sebab itu, sembahlah Aku.”
Sifat islam dalam masa sebelum risalah Muhammad SAW diperuntukkan bagi masyarakat kalangan tertentu secara lokal atau nasional. Rasul-rasul diutus untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan bangsa dan daerah tertentu serta terbatas pula periodenya. Sejarah dan Al-Qur’an memberi informasi kepada kita bahwa terdapat beberapa nabi disuatu masa di tempat dan lokasinya yang berbeda. Al-Qur’an mencatat umpamanya, pada zaman Nabi Musa hidup nabi-nabi: Syu’aib, Khaidir, dan lain-lain. Para nabi itu tidak bertentangan, bahkan saling mendukung karena misi yang disampaikan tidak berbeda.
Untuk memperkuat posisi dalam rangka menyampaikan risalah kenabian terdapat beberapa nabi dan rasul yang hidup dalam suatu periode ditempat dan daerah yang sama, seperti: Nabi Daud dan Sulaiman (ayah dan anak); Musa dan Harun (adik dan kakak); Ya’qub dan Yusuf (ayah dan anak); Ibrahim, Ismail, dan Ishaq (ayah dan dua anaknya). Semua nabi itu saling mendukung menyampaikan satu misi dari sumber yang sama; dalam satu nada mereka menyerukan “Penyembahan semata hanya kepada Allah.”3
Kita ambil contoh dari kisah-kisah beberapa nabi berikut.
1. Nabi Hud as
Hud mengajak kaumnya ( Aad) untuk menyembah Allah saja dan meninggalkan penyembahan berhala, karena hal itu hal itu adalah jalan untuk menghindarkan siksa pada hari kiamat.4
Surat Hud [11]; ayat 50:

3Kaelany, op.cit., h.22
4Zaid Husein Alhamid, op.cit., h.26
ﻭﺍﱃ ﻋﺎد ﺍﺧﺎﻫﻢ ﻫﻮدﺍ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻋﺒﺪﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎﻟﻜﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻪ ﻏﲑﻩ ﺍن ﺍﻧﺘﻢ ﺍﻻ ﻣﻔﱰﻭ
Artinya:
“ (Telah kami utus) kepada kaum ‘Ad seorang saudaranya, Hud. Ia berkata Hai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada bagimu Tuhan, selain daripadaNya. Kamu tidak lain, hanya orang yang mengada-adakan.”
2. Nabi Ibrahim as
Nabi Ibrahim as mempunyai ayah bernama Azar yang kafir, sedangkan ibunya adalah orang yang beriman secara diam-diam. Ibrahim dilahirkan dalam masa pemerintahan Raja Namrud yang perkasa. Ia seorang penyembah berhala dan mengaku Tuhan, maka orang yang menyembahnya lantaran takut kepadanya.
Ketika Ibrahim menginjak dewasa ia pun mengejutkan bapaknya dengan perkataannya:
“Apakah engkau menjadikan berhala itu sebagai Tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”
Kemudian Ibrahim berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah Tuhanmu.”
Ketika Namrud mendengar hal itu, ia pun menghadirkan Ibrahim dan berkata kepadanya: “Akulah yang menciptakanmu dan memberi rezeki kepadamu.”
Ibrahim menjawab: “Engkau berdusta, Tuhankulah yang menciptakan aku lalu memberi petunjuk kepadaku dan memberi makan serta minum aku, dan apabila aku sakit Dialah yang menyembuhan dan mematikan aku, kemudian menghidupkan aku dan yang kuharapkan untuk mengampuni dosaku pada hari kiamat.”5
3. Nabi Syu’aib as
Nabi Syu’aib adalah salah satu dari empat nabi bangsa Arab, yaitu Hud, Shaleh, Syu’aib, dan Muhammad SAW. Telah diriwayatkan mengenai , bahwa ia dijuluki juru pidato nabi-nabi dalam kefasihan dan kebolehannya dalam berdakwah kepada kaumnya supaya mereka beriman kepada risalahnya.6
Surat Al-A’raaf [7]; ayat 85:
ﻭ ﺍﱃ ﻣﺪﻳﻦ ﺍﺧﺎﻫﻢ ﺷﻌﻴﺒﺎ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻡ ﺍﻋﺒﺪﻭﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺎﻟﻜﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻪ ﻏﲑ
Artinya:
“(Kami utus) ke Madyan seorang saudaranya, Syu’aib. Ia berkata : Hai kaumku sembahlah Allah, tidak ada bagimu Tuhan, selain daripadaNya.”

5Zaid Husein Alhamid, op.cit., h.36
6Zaid Husein Alhamid, op.cit., h.7
BAB III
KESIMPULAN

Para nabi dan rasul Allah sejak nabi adam as. Sampai nabi muhammad saw. Tidak ada perbedaan dalam mengajarkan aqidah kepada umatnya. Sejarah dan Al-Qur’an memberi informasi kepada kita bahwa terdapat beberapa nabi disuatu masa di tempat dan lokasinya yang berbeda. Al-Qur’an mencatat umpamanya, pada zaman Nabi Musa hidup nabi-nabi: Syu’aib, Khaidir, dan lain-lain. Para nabi itu tidak bertentangan, bahkan saling mendukung karena misi yang disampaikan tidak berbeda.
Untuk memperkuat posisi dalam rangka menyampaikan risalah kenabian terdapat beberapa nabi dan rasul yang hidup dalam suatu periode ditempat dan daerah yang sama, seperti: Nabi Daud dan Sulaiman (ayah dan anak); Musa dan Harun (adik dan kakak); Ya’qub dan Yusuf (ayah dan anak); Ibrahim, Ismail, dan Ishaq (ayah dan dua anaknya). Semua nabi itu saling mendukung menyampaikan satu misi dari sumber yang sama; dalam satu nada mereka menyerukan “Penyembahan semata hanya kepada Allah.”

DAFTAR PUSTAKA

Kaelany.2005.Islam dan Aspek-aspek Kemasyarakatan.Bumi Aksara: Jakarta
Zaid Husein Alhamid.1995.Kisah 25 Nabi dan Rasul.Pustaka Amani: Jakarta
http://ajaransuci.blogspot.com/2012/01/materi-uambn-man-akidah-11-12.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s