kisah-kisah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah ajaran yang selalu Allah pesankan tidak hanya kepada Rasulullah SAW, melainkan juga kepada nabi-nabi terdahulu. Dalam surat Al Baqarah: 83 Allah berfirman: Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak…”. Dalam An Nisa’ 36: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak…” Dalam Al An’am:151: Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap ibu bapak…”.
Akan tetapi bagaimana bila salah satu kedua orang tua berbeda agama? Apakah kita akan mengikuti perintahnya untuk memeluk agama yang dia anut?
Bagaimana dengan perilaku perempuan di zaman sekarang? Sangat banyak perempuan-perempuan hamil tanpa suami. Dan itu dianggap sesuatu yang biasa saja. Jadi, sungguh banyak manusia yang berperilaku binatang. Banyak juga orang tua yang karena sangat cinta kepada anaknya, juga tidak mau menanggung malu akibat perbuatan tercela anaknya. Lalu anak itu dinikahkan dalam keadaan hamil. Biasanya ia dinikahkan dengan laki-laki yang telah menghamilinya, atau bahkan ada yang mencarikan laki-laki lain yang tidak menghamili anak gadisnya itu agar mau menikahinya, karena laki-laki yang telah menghamilinya telah menghilang entah kemana. (Dan biasanya sangat sulit ditemukan laki-laki yang tidak menghamili namun ia bersedia menikahinya).

B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah aqidah akhlaq, juga agar mahasiswa mengetahui kewajiban menghormati orang tua serta bagaimana bersikap bila salah satu dari orang tua kita berbeda agama. Dan juga mengetahui bagaimana kelakuan kita di zaman sekarang begitu menurun sampai-sampai derajat hewan bisa lebih tinggi daripada wanita dalam suatu hal tertentu.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana jalan cerita dari kisah Sang Pemula dan Wanita dan Sapi Hamil?
2. Apa hikmah yang dapat diambil dari kedua kisah tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kisah 1: Sang Pemula
Sa’ad bin Abi Waqqas sangat berbakti kepada ibunya yang bernama Hamnah binti Sufyan bin Abi Umayyah. Ia tidak pernah membangkang, apapun yang dihendaki ibunya. Tiap pagi bersama saudara-saudara yang lain ia selalu makan sama-sama.
Tetapi, hari itu wajah Sa’ad kelihatan muram. Ia telah mendengar, tokoh Quraisy yang sangat dipujanya, Abu Bakar telah memeluk agama yang dibawa Muhammad, kemenakan Abu Thalib. Begitu pula Ali dan Zaid bin Haritsah. Dari Abu Bakar ia telah memperoleh keterangan sejelas-jelasnya tentang agama itu, bagaimana caranya beribadah yang benar, memuji Tuhan yang benar, yaitu Allah swt. Dan akalnya yang cerdas ikut membenarkan agama itu. Sudah lama ia merasa tersiksa kalau bersama ibunya menyembah-nyembah berhala dan patung-patung yang membisu. Mana mungkin Lata, Manata, Uzza, betapun raksasanya arca mereka, dapat berkuasa untuk dipuja. Padahal arca-arca itu dibikin manusia dan diperjualbelikan. Apakah mungkin Tuhan yang diperjualbelikan bisa mengatur kehidupan?
Karena itu, secara diam-diam ia pun memeluk agama Islam. Ia tidak berani terang-terangan untuk menjaga perasaan ibunya yang sangat setia kepada agama nenek moyang.
Namun, pada suatu hari, ketika ia sedang bersujud ditikar sembahyang, beribadah kepada Allah, ibunya yang dicintainya itu tidak sengaja memergokinya. Dengan mata terbelalak murka ibunya menegur, “Anakku, Apa yang kamu lakukan itu?”
Sa’ad belum selesai shalat. Karena itu ia tidak menjawab. Setelah selesai, barulah ia menghadap ibunya dan menjawab, “saya sedang beribadah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Ibu.”
Hammah makin berang dan berduka cita. “Jadi, engkau telah meninggalkan agama nenek moyang? Tidakkah engkau takut dikutuk para berhala?”
“Berhala-berhala itu cuma patung yang kita bikin sendiri, Ibu. Mereka tidak memberi manfaat, dan tidak pula menyebabkan bahaya atas kita,” jawab Sa’ad.
“Anak durhaka. Aku tidak rela anakku menjadi pengikut Muhammad.”
Dengan halus Sa’ad menyahut, “Maaf, Ibu. Muhammad adalah utusan Allah. Dan Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang sebenarnya, yakni Allah azza wa jalla. Ia sendiri. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”
Ibu Sa’ad kian marah. Ia mengancam, apabila Sa’ad tidak mau kembali kepada kepercayaan lama, ia akan mogok makan dan minum. Ia akan menyiksa diri sampai mati. Kecuali Sa’ad bersedia keluar dari agama Muhammad. Ancaman ini ternyata bukan bual kosong belaka. Ibu Sa’ad benar-benar tidak mau makan dan minum selama beberapa hari. Sampai badannya kurus kering dan matanya kuyu. Sa’ad sudah membujuk-bujuknya tiap hari, dan menyediakan makan-minumnya dengan penuh kasih sayang, namun ibunya bersikeras pada pendiriannya.
Sa’ad memang tidak teragukan kecintaan dan kebaktiannya kepada orang tua. Namun, cinta dan baktinya kepada Allah jauh lebih besar dari apapun di dunia ini. Maka pada suatu hari berikutnya, tatkala dengan nafas tersengal-sengal ibunya berkata, “Sa’ad, kalau engkau masih membandel juga tidak mau menyembah Lata, Manata, dan Uzza, biarkanlah aku mati sekarang juga,” pemuda itu menunduk. Dengan bibir gemetar ia menjawab, “Ibu, didunia ini tidak ada yang lebih berharga bagi Sa’ad kecuali Ibu. Tetapi, untuk lingkar dari Islam, walaupun misalnya Ibu mempunyai seratus nyawa dan nyawa itu keluar satu demi satu, jangan harapkan saya saya bergeser dari keyakinan dan keimanan saya, bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwa Tuhan yang patut disembah hanyalah Allah. Sekarang terserah, bagaimana keputusan serta kebijaksanaan Ibu sendiri.”
Hammah menangis tersedu-sedu. Kejadian ini pun terdengar oleh Rasulullah. Beliau ikut berduka. Sampai akhirnya turun firman Allah melalui surah Luqman ayat 14 dan 15 yang isinya mewajibkan seiap anak berbakti kepada orang tuanya meskipun mereka tidak mau seagama dan seiman, terutama kepada Ibu yang telah mengandungnya dengan susuah payah hingga menyusuinya selama dua tahun.
Dengan turunnya ayat itu, Sa’ad lalu bersujud di kaki ibunya sambil memohon ampun. Diceritakannya ayat tersebut kepada Ibunya, bahwa selama ini sikapnya dianggap salah oleh Tuhan.
Mendengar keterangan Sa’ad tersebut, dan menyadari alangkah mulianya ajaran Islam yang disebarkan oleh Muhammad, sampai demikian tingginya menghormati kedudukan kaum Ibu, Hammah binti Sufyan bin Umayyah pun luntur hatinya. Dengan penuh kesadaran ia memeluk agama Islam dan hidup sejahtera bersama anak-anaknya.
B. Hikmah Kisah 1
     •                                •             
Artinya:
14. dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 15. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Allah tidak bosan mengulang-ngulang pesan keharusan berbuat baik kepada kedua orang tua di berbagai kesempatan dalam Al Qur’an. Mengapa? Mari kita lihat bahwa ternyata kecintaan dan tanggung jawab orang tua kepada anak adalah fitrah yang Allah tanamkan dalam diri setiap orang tua. Makanya, capek bagaimanapun orang tua tetap berjuang untuk mengandung, menyusui dan membesarkan anaknya. Bahkan mereka seringkali merasa senang sekalipun harus mengorbankan waktu tidurnya di tengah malam saat enak-enaknya tidur. Ini adalah sunnatullah yang sudah Allah tetapkan demi berlangsungnya kehidupan di bumi. Tetapi kecintaan dan ketaatan seorang anak kepada orang tua, butuh kesadaran. Untuk mencapai kesadaran ini butuh peringatan yang terus-menerus bahwa mentatati orang tua adalah suatu kewajiaban. Dari sini Nampak rahasia mengapa sampai sebegitu rupa Allah menggambarkan getir perjuangan seorang ibu terhadap anaknya. Itu tidak ada lain, agar anak tersentuh lalu tersadar, dan seteleh itu tergerakkan untuk menjalankan kewajibannya kepada kedua orangtuanya dengan sungguh-sungguh.
Sebagai suatu kewajiban maka tentu tidak ada perbedaan fiqih dalam hal ini. Semua ulama bersepakat akan wajibnya mengabdi kepada kedua orang tua. Kecuali jika suatu saat kelak salah seorang dari kedua orang tua memerintahkan untuk berbuat syirik, maka kartu hak untuk ditaati seperti yang kita sebutkan tadi tidak bisa dipergunakan. Dan dalam kontek inilah ayat di atas di selipkan. Supaya tidak menimbulkan paham bolehnya mengkultuskan orang tua sampai ketingkat keharusan mentaatinya sekalipun harus melanggar ajaran Allah SWT. Tidak, orang tua memang harus dihormati dan ditaati, tetapi dalam hal pilihan antara mengikuti ajaran Allah dan RasulNya atau ajakan orang tua kepada kemusyrikan, maka yang harus diutamakan adalah tetap ajaran Allah dan RasulNya. Sikap Sa’ad ra. seperti yang telah disebutkan tadi adalah cerminan yang menguatkan pemahaman ini.
Sikap keharusan mengutamakan ajaran Allah kian terlihat ketika Allah berfirman pada ayat selanjutnya: anisykurly waliwalidayka, di sini keharusan bersyukur kepada Allah lebih di dahulukan penyebutannya. Kata anisykurly artinya “kau harus bersyukur kepadaKu”. Perhatikan ketegasan ungkapan ini, mengapa li (untuk Allah) didahulukan atas waliwalidaykum (untuk orang tuamu)? Allah adalah pemberi nikmat hakiki dan apa yang diberikan orang tua kepada anaknya tidak lebih dari karunia Allah kepadanya. Benar, orang tua telah sangat berjasa dan berbuat baik kepada anaknya. Tetapi semua jasa baik itu adalah karena karunia Allah. Seandainya Allah tidak menghendaki hal itu, tentu akan terjadi yang sebaliknya. Bukankah sudah banyak buktinya bahwa seorang ibu membunuh cabang bayinya. Seorang ayah membunuh anaknya dan lain sebagainya. Dari sini jelas bahwa sikap baik orang tua bagaimanapun adalah karena karunia Allah. Oleh sebab itu Allah-lah Pemberi karunia yang hakiki. Dan Karena itu Ia harus diutamakan di atas segala-galanya. Sampaipun harus melanggar keinginan orang tua atau seorang Ibu yang telah mengandung dan menyusuinya selama beberapa waktu tertentu sesuai dengan takdir-Nya.
C. Kisah 2: Wanita dan Sapi Hamil
Suatu hari, Nashruddin pergi kepasar hendak menjual sapinya. Namun tak seorangpun mau membelinya. Tiba-tiba salah seorang teman Nashruddin melihatnya dan bertanya kepadanya, “Mengapa sampai saat ini sapimu belum juga laku?” Nashruddin menjawab, “Ya, aku sudah membawannya ke sana- ke mari, namun belum ada juga yang mau membelinya.”
Temannya berkata, Bawalah sapi itu ke sini. Biar aku yang menawarkannya pada orang-orang!” Maka orang itupun menawarkan sapi Nashruddin kepada orang-orang sambil berkata, “Sapi ini masih perawan dan hamil enam bulan”.
Dengan segera datanglah para pembeli, lalu akhirnya sapi itu dibeli oleh seseorang dengan harga yang lebih tinggi dari yang diharapkan Nashruddin. Dan Nashruddin pun berterima kasih pada temannya, dan ia pun langsung kerumah dengan bahagia.
Beberapa hari kemudian, Nashruddin di kunjungi beberapa orang ibu untuk melihat anak gadisnya. Karena itu, isterinya meminta Nashruddin untuk masuk kamar sejenak. Lalu ia menemui mereka, memperlihatkan anak perempuannya, dan menunjukkan beberapa kelebihan dan kecantikan puterinya itu. Tentu saja, ia melakukan itu agar mereka mau meminangnya untuk anak mereka.
Tak lama kemudian, Nashruddin memanggil isterinya dan berkata kepadanya, “Buka mulutmu dan ucapkan sebuah kalimat, karena aku telah menemukan sebuah cara baru untuk membuat laris barang dagangan yang tidak laku”. Ya, cara itu akan di terapkan Nashruddin pada anak gadisnya, agar orang-orang berdatangan melamar anaknya itu. Isteri Nashruddin berkata dalam hati, “Mungkin suamiku ini telah menemukan cara baru dan terbaik.”
Setelah itu, isteri Nashruddin keluar dan menemui ibu-ibu yang datang dan anak perempuannya itupun ikut keluar pula. Anak itu memberi hormat dan mencium tangan mereka dengan ramah. Lalu isteri Nashruddin berkata kepada mereka. “Ibu-ibu yang mulia. Ada sepatah kata, yang akan disampikan oleh ayah gadis ini. Oleh karena itu, kami harap agar anda semua sedikit bersembunyi.”
Kemudian Nashruddin keluar dan berkata kepada mereka, “Wahai ibu-ibu yang mulia, saya tidak akan berbicara panjang lebar. Saya hanya ingin menyampaikan sepatah kata yang singkat, bahwasanya putriku ini, masih perawan dan sedang hamil enam bulan. Sekian ”.
Mendengar itu, ibu-ibu yang hadir saling menatap satu sama lain. Lantas, sambil bergegas, mereka pergi meninggalkan rumah Nashruddin tanpa berbicara sepatah kata pun.
D. Hikmah Kisah 2
Tidak diragukan lagi, bahwa manusia lebih mulia dari hewan. Itu sesuatu yang sudah pasti. Tapi ternyata, dalam hal-hal tertentu hewan lebih memiliki harga daripada manusia. Contohnya adalah melalui pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Nashruddin diatas, yang sebenarnya hanyalah sindiran keras bagi perilaku dan cara hidup manusia tertentu.
Bahwa, “ Jika anda menjual sapi yang sedang hamil tua, maka orang-orang akan berebutan membelinya, bahkan mungkin dengan harga yang lebih tinggi dari yang anda perkirakan. Mengapa? Sebab sebentar lagi sapi itu akan melahirkan, ia akan mempunyai anak, dan orang yang membeli sapi itu akan mendapatkan keuntungan dua kali, membeli seekor sapi, tidak lama lagi akan memperoleh seekor lagi, yaitu anak sapi, tanpa perlu keluar duit tambahan.”
Tapi sebaliknya, “Jika anda menawarkan kepada laki-laki bujangan, ataukah kepada para orang tua agar mau menikahi atau bersedia menikahkan anak laki-laki mereka dengan anak gadis anda yang sedang hamil enam bulan (di luar nikah), maka orang akan menolak permintaan Anda itu agar mau menikahi atau bersedia menikahkan anak laki-laki mereka dengan anak gadis anda yang sedang hamil enam bulan (di luar nikah), maka orang akan menolak permintaan Anda itu, bahkan Anda dan anak gadis Anda akan dicemooh, karena anak anda telah melakukan perbuatan tercela, berzina hingga hamil, dan orang-orang tidak akan menanggung malu (aib), akibat perbuatan anak gadis Anda itu.”
Jadi, ternyata sapi yang hamil tua, lebih berharga daripada wanita yang hamil enam bulan diluar nikah. Sapi yang keadaannya seperti itu akan mendatangkan keuntungan, sedangkan wanita dalam keadaan seperti itu, akan mendatangkan cela, memalukan.
Bila sapi itu melahirkan, maka orang yang membeli tidak bertanya, siapa yang menghamili sapi ini? Karena, memang hal-hal semacam itu tidak berlaku di dalam kehidupan sapi dan semua binatang lainnya.
Akan tetapi, bila seorang wanita belum bersuami hamil enam bulan, pasti orang-orang akan bertanya, siapa laki-laki yang telah menghamilinya? Orang-orang juga pasti akan bertanya-tanya, siapakah ayah dari anak yang dilahirkannya?, jika kelak wanita itu melahirkan anak yang dikandungnya.
Tidak pernah ada kejadian, sapi atau binatang lain, yang karena hamil diluar nikah (memang binatang tidak menikah), yang melahirkan anak, kemudian menjadi pembunuh, karena membunuh anak yang dilahirkannya, sebab tidak mau menanggung malu, akibat yang telah dilahirkannya tidak mempunyai ayah. Tapi banyak kejadian, wanita yang hamil diluar nikah, lalu melahirkan anak, kemudian anak itu dibuang atau dibunuh, sebab ia tidak mau menanggung malu, akibat anak yang dilahirkannya itu tidak mempunyai ayah. Wanita itu jadi pembunuh. Kalau yang seperti ini, memang kejahatan berlipat-lipat, sudah hamil diluar nikah, melahirkan tanpa ayah, jadi pembunuh pula.
Di zaman sekarang, sangat banyak perempuan-perempuan hamil tanpa suami. Dan itu dianggap sesuatu yang biasa saja. Jadi, sungguh banyak manusia yang berperilaku binatang. Banyak juga orang tua yang karena sangat cinta kepada anaknya, juga tidak mau menanggung malu akibat perbuatan tercela anaknya. Lalu anak itu dinikahkan dalam keadaan hamil. Biasanya ia dinikahkan dengan laki-laki yang telah menghamilinya, atau bahkan ada yang mencarikan laki-laki lain yang tidak menghamili anak gadisnya itu agar mau menikahinya, karena laki-laki yang telah menghamilinya telah menghilang entah kemana. (Dan biasanya sangat sulit ditemukan laki-laki yang tidak menghamili namun ia bersedia menikahinya).
Banyak pula orang tua yang memeriahkan perkawinan anak yang sudah lebih dulu hamil itu dengan pesta besar, untuk menutup aib, padahal pengantin perempuan yang bersanding perutnya sudah membuncit.
Lalu, apa yang bisa saja terlintas didalam benak adik-adik dari perempuan itu? “Ah, nanti kalau kelak kita juga hamil sebelum nikah, pasti akan dinikahkan dan dipestakan besar-besaran oleh ayah dan ibu.”
Jika ingin memelihara kemuliaan diri sebagai manusia, maka jauhilah perbuatan zina. Bila tidak sanggup mengendalikan keinginan untuk memenuhi kebutuhan seksual, maka menikahlah.
Rasulullah SAW bersabda, “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kamu yang sanggup menikah, maka menikahlah. Sebab nikah itu akan menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Siapa yang belum sanggup menikah, maka puasalah, sebab puasa itu adalah perisai.”
Hindarilah jalan yang bisa mengantarkan kepada zina, seperti memandang lawan jenis dengan syahwat, jangan berduaan dengan wanita (laki-laki) yang bukan muhrim. Jangan suka berkhayal yang mendorong syahwat. Hindari membaca majalah, tabloid (selain majalah/tabloid islami), buku porno, jangan menonton film-film porno, jangan sering-sering menonton sinetron picisan yang isinya hanya mengajarkan tentang mengumbar nafsu, dan sebaginya.
Perhatikan firman Allah SWT berikut:
         

Artinya:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra:32)
Juga firman Allah SWT di bawah ini:
• •  •                         
Artinya:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (Q.S. An-Nur:2)

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kita wajib mengabdi kepada kedua orang tua. Kecuali jika suatu saat kelak salah seorang dari kedua orang tua memerintahkan untuk berbuat syirik, maka kartu hak untuk ditaati seperti yang kita sebutkan tadi tidak bisa dipergunakan.
Tidak diragukan lagi, bahwa manusia lebih mulia dari hewan. Itu sesuatu yang sudah pasti. Tapi ternyata, dalam hal-hal tertentu hewan lebih memiliki harga daripada manusia. Seperti pada contoh kisah 2 tersebut. Untuk itu, janganlah mendekati zinah.
B. Saran
Setelah Penulis dapat menyelesaikan makalah ini, kami harapkan saran dan kritik dari bapak pembimbing dan rekan-rekan sekalian demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi yang membaca. Amin.
DAFTAR PUSTAKA

Yunus Mahmud, 2002, Tafsir Quran Karim, Jakarta: Hidakarya Agung.
Arroisi Abdurrahman, 2001, 30 Kisah Teladan Jilid , Remaja Rosdakarya.
Amin Muhammad Rusli, 2006, Canda-canda Sufistik Tersenyum Sambil Mencerahkan Hati, Jakarta: Al-mawardi Prima.
http://almudarris.multiply.com/journal/item/16?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s